
“Sayang!” bentak Kailla, dengan suara penuh amarah tertahan. Wajahnya cemberut, asam kecut. Sampai tidak mempan tertusuk jarum.
Sejurus menatap tajam pada suaminya yang berjongkok berduaan dengan gadis manis di depan ruang ganti.
Mendengar teriakan Kailla, buru-buru Pram berdiri. Dia bisa melihat sendiri tatapan istrinya yang siap menerkamnya. Tanpa berani menoleh pada gadis manis yang masih sibuk membereskan pakaian yang berantakan, Pram menurut.
“Dengar Sayang, aku hanya membantunya,” bisik Pram, menjelaskan sebelum Kailla memberondongnya dengan pertanyaan. Khawatir Kailla akan membuat keributan seperti sebelumnya, Pram langsung meraih tangan Kailla yang memeluk gaun seksinya dan membawa istrinya itu bergegas menuju kasir.
“Sayang, kamu tidak mau membeli tas?” tawar Pram, berusaha mencari cara untuk melunakan Kailla. Kalau dia membuat kesalahan sedikit saja, Pram tahu apa akibatnya.
Bukannya menjawab, sebaliknya Kailla menatap tajam. Menelanjanginya dari ujung rambut sampai ujung kaki.
“Sayangku,” bisik Pram, bergidik ngeri. Hilang sudah kantuk, bosan dan lelahnya. Berganti perasaan was-was.
“Kamu!” panggil Kailla, menatap gadis mungil yang saat ini sudah berdiri.
“Iya Tante. Aku Lolita,” sahut sang gadis, sontak membuat Kailla meradang dipanggil Tante.
Lolita mengulurkan tangannya, mengantung menunggu Kailla menyambutnya.
“Sejak kapan aku menikah dengan Om-mu?!” tanya Kailla, menahan kesal.
Si Lolita bukannya gentar, sebaliknya malah menjadi. Pram yang berdiri di dekat keduanya hanya bisa mengaruk kepala, melihat Kailla menemukan lawan sebanding. Biasanya istrinya itu yang akan mendominasi. Sebaliknya, saat ini gadis lawan itu hampir selevel dengan istrinya.
“Om ini bukan suami tante?” todong gadis itu bertanya dengan santai. Berusaha mengorek segala informasi.
Kailla bukannya menjawab, kata Tante membuat emosinya kian terpancing. “Kurang ajar! Kamu memanggilku apa tadi? Coba ulangi!” pinta Kailla. Dia sudah menyingsingkan lengan bajunya, siap mengajak gadis yang umurnya lebih kecil darinya itu bertarung.
Sebaliknya Lolita tersenyum. Bahagia rasanya mendengar Kailla tidak menikahi Pram. Kesempatannya terbuka lebar.
“Jangan-jangan, dia juga hanya peliharaan Om ini,” duga Lolita dalam hati.
“Ternyata gadis ini msih satu server denganku,” gumamnya dalam hati.
Pandangan Lolita menelusuri bentukan Kailla dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tidak ada yang terlewatkan. Senyumnya terkembang saat berhasil menarik kesimpulan.
“Maafkan aku, sepertinya kita sama-sama satu aliran, satu sekte. Sebaiknya memang tidak saling menyerobot,” ucap Lolita tersenyum sumringah.
“Aku tidak menyangka, kamu juga sugar baby sepertiku,” bisik Lolita terus terang.
Pernyataan Lolita sontak membuat bola mata Pram membulat. Bukannya dia tidak paham apa yang diucapkan gadis manis di depan matanya. Gadis yang diperkirakan Pram masih berusia belasan tahun.
Berbeda dengan Pram, Kailla yang jarang bergaul tidak tahu menahu istilah yang dilontarkan Lolita.
“Sugar baby?” ulang Kailla kebingungan. Mencoba mencerna apa yang didengarnya.
“Tentu saja, bagi laki-laki ini, aku adalah bayinya yang manis,” ucap Kailla dengan polos merengkuh tangan Pram dengan manjanya, mengartikan sebisanya istilah sugar baby yang diucapkan gadis lawan tandingnya. Sugar artinya gula yang berarti manis dan baby artinya bayi,
Namun, senyuman manis dan perlakuan manja Kailla tidak berlangsung lama. Saat mata keduanya beradu pandang, Pram langsung menciut. Kailla melotot padanya, tidak semanis kala memamerkan kemesraan di depan Lolita.
“Kai, kamu paham yang dimaksudnya sugar baby?” tanya Pram pelan.
Lolita yang mendengar pertanyaan Pram, tersenyum manis. Belum sempat Kailla menjawab, dia sudah bersuara, mendayu-dayu dengan kerlingan mata membuat Pram terpaksa membuang pandangannya. Tidak mau terjerat pesona daun muda di depan mata istrinya.
“Say, sugar baby itu gadis peliharaan Om tampan seperti Om ini,” sahut Lolita, mengedipkan matanya, menebar pesonanya di depan Pram.
“Seperti yang tadi kamu lakukan, Say. Kita bisa shopping sepuasnya, Om sugar daddy ini bisa membayarnya. Kita bisa ke salon, belanja, kumpul-kumpul sama teman, dibelikan apartemen mewah, jalan keluar negri. Di biayain kuliah, cuma harus dibayar dengan...” Lolita tidak melanjutkan ucapannya, tetapi dia membisikan sesuatu di telinga Kailla.
Mendengar itu, Kailla langsung berteriak. “Jangan coba-coba mendekatinya!” ancam Kailla, menunjuk ke arah Lolita. Amarahnya langsung memuncak. Bukannya dia tidak tahu kalau Lolita mengejar suaminya. Air liur Lolita nyaris menetes memandang Pram sejak tadi.
“Kamu tidak tahu, aku sudah menjadi sugar babynya sejak aku lahir!” lanjut Kailla, menjawab dengan suara kencang, membuat beberapa pengunjung menoleh padanya.
“Lelaki ini sudah memeliharaku sejak kecil! Berani mendekatinya, kamu akan berhadapan denganku!” ucap Kailla.
“Kalau kamu mau, kamu bisa mendekati Om yang sedang membayar belanjaanku di meja kasir. Om yang satu ini ini tidak punya apa-apa,” jelas Kailla menepuk pundak Pram.
“Berbeda dengan Om Samuel. Namanya Samuel. Dia baik hati, tidak sombong dan suka menolong. Kekayaannya puluhan kali lipat dari Om ini,” ucap Kailla, menunjuk ke arah Sam yang sedang mengantri untuk menyelesaikan pembayaran.
Deg—
Pram langsung tertunduk malu. Buru-buru menyeret Kailla menuju ke kasir, tidak mau menjadi tontonan pengunjung yang lain. Pertama kali menemani Kailla shopping, dan dia sudah terkena masalah dan mendapat tekanan yang luar biasa.
Sam yang melihat dari kejauhan hanya bisa mengulum senyuman. Menonton pertunjukan yang biasanya dia menjadi tokoh di dalamnya, menjadi tontonan. Dan sekarang dia sedang menikmati Pram yang kelabakan mengurusi istrinya.
“Sekali-kali biarkan macan tua itu merasakan sensasi naik rollcoaster. Biar dia tahu seberapa luar biasa istrinya itu saat keluar dari sangkarnya,” ucap Sam, terkekeh.
***
“Aku belum selesai!” tolak Kailla, menghempas kasar tangan suaminya.Dia bahkan belum puas bertengkar dengan gadis tadi. Masih ingin membuat perhitungan. Menarik lengan kaosnya.
Kailla sudah berdiri kembali di depan ruang ganti dengan Pram yang mengekor di belakangnya.
“Hei, keluar!” teriak Kailla, menggedor pintu. Tak lama muncul Lolita yang sudah bertelanjang dada hanya dengan bra menutup gundukan kembarnya. Gadis itu hanya menutup bagian atas tubuhnya dengan kaos, memamerkan pundak telanjangnya pada Pram yang ikut berdiri di belakang Kailla.
“Apalagi Say?” tanya Lolita, tersenyum.
“Aku belum membuat perhitungan denganmu. Beraninya kamu menebar pesona di depan laki-laki tua, mata jelalatan ini!” gerutu Kailla, ikut menunjuk ke arah Pram.
“Tutup matamu!” perintah Kailla, menyadari kehadiran Pram di belakangnya.
“Kai, sudah Sayang,” pinta Pram memohon.
“Tutup matamu! Atau aku akan membuatmu menutup mata!” ancam Kailla, mengusap kasar wajah Pram, seketika membuat kelopak mata suaminya menutup.
“Aduh Say, kalau sudah tidak mau, mendingan buat aku aja. Jangan dibuat menutup mata,” komentar Lolita.
“Tampan begitu, sisaannya aku juga mau,” lanjut Lolita, tersenyum menggoda Pram.
Kailla sudah siap menyentak kasar tangan Lolita, menyeret gadis itu keluar dari ruang ganti dalam keadaan setengah telanjang. Kesal dengan gadis yang selalu saja pintar mengembalikan kata-katanya.
Namun, niat mulia Kailla belum kesampaian, tubuhnya yang sudah terbakar emosi tiba-tiba terbang ke atas, melayang ke udara begitu ringan. Pram memilih mengendong istrinya. Lebih baik malu karena kebucinannya dibanding malu karena ulah Kailla yang sembarangan.
Laki-laki itu baru menurunkan Kailla saat di depan kasir. Begitu istrinya sudah berdiri di kedua kakinya, Pram kembali memeluk erat Kailla dari belakang, tidak memberi kesempatan istrinya itu kabur.
Kailla baru saja akan protes, saat Pram membuka suara. “Masih saja mau membantah, aku akan memblokir semua kartu kreditmu!” ancam Pram.
Lelaki itu masih dalam mengunci tubuh istringa, mengeluarkan dompet dengan tangan kanannya, membelit kencang pinggang istrinya dengan tangan kiri.
“Ini Mbak,” ucap Pram, menyodorkan kartu kreditnya ke depan kasir untuk membayar semua belanjaan istrinya, kemudian buru-buru memeluk Kailla supaya tidak melangkah darinya dan membuat keributan lagi.
“Pin atau tanda tangan, Pak?” tanya sang kasir, setelah menggesek kartu itu ke mesin.
“Pin.” Pram menjawab singkat. Bersama Kailla maju selangkah untuk menekan enam digit angka di mesin.
Kailla memperhatika jari tangan Pram, yanb bermain di tombol-tombol angka. Amarahnya sedikit reda saat melihat sendiri tanggal lahirnya dijadikan pin oleh suaminya.
“Semuanya. Semua kartuku, brangkas dan data penting yang dikunci dengan pin. Semuanya sama...” ucap Pram.
“Tanggal kematian mamamu,” bisik Pram pelan di telinga Kailla.
Amarah Kailla sedikit berkurang, tetapi belum reda sepenuhnya. Rasanya masih belum puas kalau belum membuat perhitungan dengan suaminya.
***
Pram masih mengenggam tangan Kailla, berjalan keluar dari mall. Mengikuti di belakang mereka, Sam dengan belasan kantong belanjaan di kedua tangannya.
Langkah Kailla terhenti saat ponsel di dalam tas tangannya kembali berdering.
“Tunggu!” pintanya, menghentikan langkahnya sembari merogoh ponselnya dari dalam tas.
Wanita hamil itu tampak mengerutkan dahinya, saat membaca pesan masuk di ponselnya.
***Selamat siang, Kailla Riadi Dirgantara. ***
Saya hanya mengingatkan, dendam masa lalu yang sebentar lagi akan terbalaskan. Hati-hati dengan orang yang kamu cintai. Dialah yang akan menghancurkan hidupmu nanti. Suamimu harimaumu!
Terlihat pesan gambar yang masuk selanjutnya adalah foto seorang wanita muda duduk di atas kursi roda. Rambutnya acak-acakan, menatap dengan pandangan kosong. Terlihat seorang perawat berdiri tidak terlalu jauh darinya. Ada tulisan tangan di bagian bawah foto yang tidak kalah lusuhnya dibanding potongan koran yang diterimanya tadi pagi.
“Hasil karya Riadi Dirgantara, Jakarta, 1979.”
***
To be continued
Love You all
Terima kasih.