
Kailla masih menangis tersedu, duduk di anak tangga depan gedung pertemuan tempat acara wisudanya. Bersandar di pilar beton, memeluk rangkaian bunga raksasa yang dikirim Ditya untuknya melalui Matt, sang asisten.
Sam tampak berdiri, masih lengkap dengan toga yang rasanya enggan dilepasnya, bertolak pinggang di depan Kailla. Sejak tadi dia sudah duduk berdiri berulang kali, berusaha membujuk dengan segala cara dan upaya agar majikannya itu mau pulang ke rumah.
“Ayo Non, kita pulang. Pak Pram pasti ada urusan penting. Kalau tidak, mana mungkin sampai tidak menghadiri wisuda Non Kailla,” bujuk Sam. Kali ini, dia duduk di samping Kailla, menepuk lembut pundak yang bergetar hebat dengan wajah sembab karena kebanyakan menangis.
“Momen ini adalah momen yang ditunggu keluarga kita. Semuanya pasti akan berusaha untuk datang. Pak Pram juga pasti begitu. Aku yakin tidak ada unsur kesengajaan di sini,” ucap Sam, mulai berdiplomasi.
“Non tahu. Jangankan Pak Pram, kemarin aku video call dengan Michael di kampung. Aku cerita kalau hari ini, aku wisuda. Kalau Michael bisa naik bus sendiri ke Jakarta. Aku yakin dia juga akan berusaha datang menghadiri acara wisudaku.”
Kailla menoleh, menatap asistennya dengan heran.
“Michael?” tanya Kailla, mengerutkan dahinya. Baru kali ini mendengar nama sahabat Sam di kampung ada yang bernama Michael. Biasanya Surip, Paijo, Maman atau yang lebih keren sedikit Budi. Namun, belum pernah Sam bercerita tentang Michael.
"Iya Non. Menurut Pak RT, tetanggaku di kampung, tempat aku menitipkan Michael. Begitu selesai video call dan mendengar aku akan wisuda, Michael tidak berhenti mengembek sepanjang malam. Bahkan sampai pagi,” jelas Sam dengan wajah seriusnya.
Kailla menggelengkan kepala. Dia mengenal kegilaan Sam, tetapi tidak menyangka sedikit pun, kegilaan Sam sampai sejauh ini. Michael yang dimaksud ternyata kambing peliharaannya.
“Non tidak percaya?” tanya Sam lagi.
“Ini aku jujur ya Non. Kemarin sewaktu aku mengabarkan Pak RT, kalau hari ini aku akan wisuda dan mendapat gelar sarjana. Warga kampung langsung berbondong-bondong berkumpul di rumah Pak RT, mengucapkan selamat padaku.”
“Non tahu, aku adalah orang pertama di kampungku yang mendapat gelar sarjana. Sarjana tukang gambar kalau kata mereka. Aku mengatakan design interior mereka tidak paham, jadi aku menjelaskan semudah mungkin agar mereka mengerti.”
Kailla terbelalak. Kailla ini tangisnya mulai mereda. Cerita Sam mulai menghiburnya.
“Nih, aku sudah meminta Ricko merekam prosesi pemindahan tali toga kita tadi, Non. Lengkap tidak dipotong. Punya Non juga ada,” cerita Sam, sembari menunjukan video yang tersimpan di galeri ponselnya.
“Aku sudah berjanji dengan Pak RT di kampungku kemarin akan mengirimkan padanya nanti. Warga kampungku akan menggelar acara nonton bersama prosesi wisudaku di balai desa malam ini pukul tujuh waktu Tasik ,” cerita Sam lagi.
Kali ini Kailla benar-benar terperanjat. “Astaga Sam!” Kailla berkata sembari menutup mulutnya yang ternganga.
“Aku serius. Nih, Ricko juga merekam emak dan bapakku sewaktu di dalam gedung tadi.” Sam kembali menunjukan potongan video kepada Kailla, saat emak dan bapak Sam melambaikan tangan ke kamera.
“Bapakku baru kali ini memakai jas, Non. Bibir emak juga baru kali ini menyentuh lisptik. Biasanya di kampung, emak cuma pakai sirih dicampur pinang,” lanjut Sam lagi.
Mendengar cerita emak dan bapak Sam, tangis Kailla mulai kencang kembali. Teringat dengan nasibnya yang tidak punya siapa-siapa.
“Aku..aku tidak punya siapa-siapa. Mama tidak ada, daddy sedang koma. Hanya tertinggal suamiku saja. Bahkan suamiku juga tidak bisa datang,” lirih Kailla, kembali dua bulir air mata itu terjatuh kembali.
Sam kembali menepuk hangat pundak Kailla. “Pak Pram juga pasti ingin datang ke sini, Non. Hanya saja mungkin dia ada urusan yang mendesak.”
“Buktinya, warga kampungku yang hanya kenal saja, begitu bahagia mendengar aku akan wisuda. Apalagi Pak Pram, suami Non. Pasti dia juga ingin hadir,” ucap Sam berusaha menghibur.
Kailla masih saja belum rela menghentikan tangisnya, semakin lama, semakin kencang. Namun, tiba-tiba dering ponsel membuatnya terpaksa mengusap air mata yang mengenang. Terlihat nama suaminya muncul dan berkedip di sana.
“Kenapa tidak diangkat, Non? Nanti Pak Pram khawatir,” tanya Sam bingung.
Kailla menggeleng. “Aku belum mau bicara dengannya. Aku mau menenangkan diri, menikmati nasibku yang begitu menyedihkan,” jelas Kailla.
Tangannya berusaha menutup telinganya sendiri, membiarkan ponsel itu bosan berbunyi. Dia masih larut dalam kesedihan, hingga dua buah mobil sedan hitam metalik masuk ke dalam halaman gedung, berhenti tepat di depan mereka.
Mobil hitam pertama terbuka, terlihat empat orang pria berbadan tegap keluar, mencari posisi di empat penjuru. Berdiri tegak dalam posisi siap.
Kailla terkejut, dalam hati berpikir pejabat mana gerangan yang salah alamat. Apa yang sedang dicari di gedung yang sudah sepi tidak ada penghuni lagi.
Keterkejutan Kailla terjawab sudah, saat mobil kedua terbuka. Muncul Ditya dengan setelan kerja, jas hitam dan sepatu mahal yang mengkilap, lengkap dengan kacamata keluaran Chopard dan topi bisbol yang menutupi sebagian wajahnya. Dibelakang terlihat mengekor asisten Ditya, Matt dengan sikap hormat membungkuk.
“Ternyata Singa Asia yang mau menemui macan betina,” batin Sam, setelah memastikan siapa yang turun dari dalam mobil.
Sam yang tadinya duduk di sebelah Kailla, memilih menyingkir saat melihat Ditya yang datang menemui majikannya. Diam-diam, asisten itu menghubungi Pram, melaporkan tamu yang mememui Kailla.
***
“Kai, kenapa menangis?” tanya Ditya, menaiki anak tangga hingga sampai di tempat Kailla duduk.
Lelaki itu masih belum membuka kacamata dan topinya, menarik celana supaya leluasa, duduk tepat disisi Kailla. Tersenyum saat sudut matanya menangkap rangkaian bunga yang ada di pelukan Kailla. Rangkaian bunga yang dikirimnya tadi pagi, melalui Matt.
“Congratulation!” ucap Ditya, tersenyum.
“Terimakasih,” sahut Kailla pelan.
“Suamimu tidak bisa datang?” tanya Ditya. Padahal lelaki itu sudah tahu jelas apa yang terjadi pada perempuan terisak di sampingnya.
Pertanyaan Ditya membuat Kailla menghambur di pelukan Ditya. Menangis sesengukan, menumpahkan kesedihannya.
“Sudah jangan menangis lagi,” bisik Ditya, dengan ragu mengelus lembut punggung Kailla.
Kaill melepas pelukannya, menatap lelaki di yang duduk di sampingnya itu dengan pandangan tidak percaya.
“Jangan melihatku seperti ini! Nasibku dan nasibmu tidak jauh berbeda. Aku tidak bisa bergerak leluasa.” Ditya menjelaskan, menunjuk ke arah keempat bodyguard yang sedang mengawalnya saat ini.
Kailla cukup terkejut, karena selama ini Ditya tidak pernah mengunjunginya dengan pengawalan lengkap. Biasanya setiap bertemu di rumah sakit, lelaki itu hanya terlihat sendiri.
“Jangan kaget. Inilah kehidupanku yang sebenarnya,” jelas Ditya.
“Ini sedang diluar, berbeda saat kita sedang di rumah sakit. Aku tidak perlu membawa mereka masuk. Bodyguardku hanya menunggu di parkiran,” lanjut Ditya.
Kailla menganguk, pertanda dia cukup paham dengan situasinya. Toh kehidupannya juga tidak jauh berbeda. Selalu dikawal, dimana-mana. Tidak bisa bergerak dengan leluasa.
“Aku datang hanya ingin menepati janjiku. Bukankah, aku kemarin berjanji akan menemui saat wisuda. Aku baru sempat sekarang,” ucap Ditya pelan, menarik turun topinya. Berusaha menutupi wajah dan identitasnya.
“Aku pamit dulu. Aku tidak bisa lama-lama,” ucap Ditya.
Lagi-lagi Kailla memeluk erat lelaki tampan yang sedang berusaha menyembunyikan indetitas dirinya. Memeluk dan menangis kembali.
“Hei, jangan menangis. Kamu sudah sarjana sekarang.”
“Maaf!” ucap Ditya sebelum menangkup wajah sembab Kailla dengan kedua tangannya. Ditya tampak mengeluarkan kembali kotak perhiasan yang sempat dikembalikan Pram padanya.
“Ini milikmu, kemarin terjatuh,” ucap Ditya.
“Aku pamit dulu. Segera pulang. Jangan menunggu disini.” ucap Ditya, segera bangkit dari duduknya. Dengan gagah, berjalan kembali ke mobilnya. Sebelum iringan mobil itu keluar dari halaman gedung, tampak Ditya membuka jendela mobil dan melambaikan tangannya.
***
Mobil yang dikendarai Bayu berhenti di pinggir jalan raya tepat di depan gedung tempat acara wisuda. Lelaki yang masih mengengam erat setir itu, mengerutkan dahi keheranan saat melihat dua mobil hitam berjejer terparkir tepat di depan gedung. Tidak sampai disitu, detak jantungnya nyaris berhenti saat melihat pemandangan di anak tangga. Kailla dan Ditya sedang berpelukan.
“Bos!” Bayu menoleh ke belakang.
Hal pertama yang dilihatnya adalah Pram yang sedang mengepalkan tangannya dengan otot-otot di pelipis menonjol keluar. Lelaki itu sedang memandang ke arah yang sama dengannya tadi.
“Bay, tetap disini,” perintah Pram, menghela nafas, berusaha meredam emosinya. Mata elangnya tidak beralih sedikit pun, menatap istrinya dari kejauhan tanpa berkedip. Merekam semua momen intim yang terjadi antara Kailla dan Ditya.
Setetes air mata turun, Pram segera mengusap kasar. Berusaha menyembunyikannya dari Bayu. Menyembunyikan hati dan perasaannya yang hancur dari dunia.
Tatapannya masih menerawang, memandang wajah sembab istrinya dari kejauhan. Sewaktu Sam menghubunginya, dia sudah menyiapkan hati. Namun, dia tidak menyangka, rasanya akan sesakit ini. Ada banyak rasa bekecambuk di hatinya. Rasa sakit hati, kecewa, menyesal dan sedih melihat air mata Kailla yang lagi-lagi turun karenanya.
Terdiam masih memandang di titik yang sama, Pram dikejutkan dengan dering ponsel yang mengalihkan perhatiannya. Menjerit berisik menganggu keterpakuannya.
“David!” bisiknya pelan, sebelum menerima panggilan dari asistennya itu.
“Pram! Cepat kembali ke rumah sakit. Pihak rumah sakit membutuhkan persetujuanmu untuk memindahkan mamamu ke rumah sakit lain yang memiliki fasilitas medis lebih lengkap. Dan itu membutuhkan tanda tanganmu, mengingat resiko yang bisa saja terjadi. Aku tidak berani menandatanganinya,” jelas David panik.
Lelaki itu melupakan sopan yang biasa dijaganya saat di jam kerja. Melupakan status Presdir dan asisten. Saat ini ada hal yang lebih penting dibandingkan adab dan kesopanan.
“Bay, kita kembali ke rumah sakit!” perintah Pram, masih enggan mengalihkan pandangan dari sang istri yang berduaan dengan lelaki lain.
Mobil itu baru saja bergerak maju, saat Pram membuka suara kembali. Kalimat yang terdengar pilu dan menyayat hati. Ada nada keputusasaan, kecewa dan sesal.
“Bay, aku sudah gagal menjadi seorang suami. Aku berharap, aku tidak gagal menjadi seorang anak,” ucap Pram pelan.
“Aku gagal membahagiakan istriku. Aku berharap Tuhan masih berbaik hati padaku. Tidak membuatku gagal menyelamatkan hidup mamaku,” lanjut Pram lagi.
Kembali cairan kristal itu mengalir dari mata terpejam yang bersandar menahan lelahnya. Dia belum sarapan, bahkan belum mandi sejak pagi.
Perjalanan menuju ke rumah sakit hanya diisi dengan keheningan. Pram memilih bungkam, sembari membayangkan wajah istrinya yang sedang menangis. Sampai akhirnya, dia tidak sanggup lagi menahan beban perasaaannya. Kembali menghubungi Kailla.
Pram cukup beruntung, Kailla melunak.
“Iya Sayang,” sapa Kailla dari seberang. Masih terdengar sisa-sisa isak yang terdengar jelas dari suara tertahan istrinya.
“Maafkan aku, Sayang. Mama kritis, aku tidak bisa menghadiri wisudamu,” ucap Pram, menggigit bibirnya sendiri, menahan suaranya agak tidak bergetar. Rasanya berat mengucapkan kalimat yang hanya akan menghancurkan istrinya.
“Kirimkan alamatnya. Aku akan menyusulmu ke rumah sakit,” sahut Kailla, pelan.
***
To be continued
Love You all
Terima kasih.