
Kamar tidur itu terasa panas seketika, peluh berbaur desah mendominasi meskipun pendingin ruangan menyala. Semburan hawa dingin yang keluar dari supply air grille di langit -langit kamar tidak sanggup membuat dua anak manusia itu kedinginan. Hembusan angin sejuk dari empat kotak persegi itu tidak mampu meredam gairah dan hasrat pasangan suami istri yang menggila di pagi buta.
Kebutuhan akan udara dingin di hunian mewahnya, Pram akhirnya menjatuhkan pilihan pada sistem HVAC atau AC sentral untuk memastikan seluruh ruangan di rumah dua lantai itu tetap mendingin seperti permintaan Kailla yang sejak awal memang tidak betah dengan udara panas. Bahasa Kailla adalah AC mall.
Napas tersengal terdengar jelas setelah penyatuan indah itu mencapai puncak. Erangan pelan dan desahan memekik indah kembali menggema, sarat dengan kenikmatan. Setelah hampir empat purnama kamar tidur utama itu senyap, kehilangan jati dirinya.
Ya, sejak Pram koma dan tidak bisa berbuat banyak dengan kaki kanan yang masih dalam proses penyembuhan, tidak ada lagi aktivitas menguras keringat di atas tempat tidur. Desahan nakal, erangan garang, semuanya lenyap. Kamar itu kehilangan semangat hidup. Bahkan Kailla memilih tidur bersama mama mertuanya.
Sedetik setelah Pram menggulingkan tubuh kekarnya ke samping Kailla, dering ponsel terdengar dari lantai kamar. Terkesan menjerit, meluapkan protes mengganggu ibu hamil yang sedang menikmati lelahnya setelah bergerilya bersama sang pahlawan hati.
“Sayang, aku terima panggilan sebentar. Sepertinya itu Stella, aku out dari meeting tiba-tiba. Pasti anak itu kelabakan,” bisik Pram, mengecup pelipis Kailla. Meraih ponselnya yang tergeletak di atas permadani bulu, bersama dengan laptop dan pakaian mereka yang berhamburan tak beraturan.
“Ya, Ste. Ada apa?” tanya Pram, napasnya naik turun dan Stella bisa mendengar jelas.
"Gila! Aki-aki ini keluar rapat hanya untuk menuntaskan hasratnya!” gerutu Stella dalam hati. Sebagai sekretaris yang menemani Pram selama lima tahun, tentu saja gadis itu sudah menamatkan banyak hal tentang atasannya itu.
“Ma-maaf Pak, rapatnya sudah selesai,” ucap Stella.
“Ya sudah, email padaku semua! Aku akan membacanya ulang setelah ini,” putus Pram. Baru saja laki-laki itu hendak mematikan sambungan ponsel, terdengar suara Stella kembali.
“Pak ....”
“Aku tidak akan ke kantor hari ini!” tegas Pram. Tanpa menunggu Stella bicara, segera memutuskan panggilannya.
Beralih menatap Kailla, istri kecilnya yang membengkak hampir dua kali lipat selama hamil. “Sayang, mau aku bantu ke kamar mandi?” tawar Pram, setelah melihat napas Kailla mulai teratur.
“Hmmm ....” gumam kecil itu terdengar dari bibir Kailla.
“Sekarang, ya?” tanya Pram.
“Ya.” Jawaban singkat Kailla, menyodorkan tangannya dengan mata terpejam.
“Setelah melahirkan, aku akan memanjakanmu dengan cara berbeda,” ungkap Pram memeluk tubuh berkeringat Kailla dan membantunya bangkit dari tidur.
***
Dua bulan berlalu begitu cepat, seperti kereta listrik yang melesat tanpa hambatan. Selama dua bulan ini Pram lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Kemanjaan Kailla yang semakin menjadi, tidak mengizinkannya pergi ke kantor. Hampir setiap hari merengek, minta ditemani.
Dan hari ini, seminggu sebelum jadwal bedah caesar Kailla, Pram masih menyempatkan diri untuk berburu perlengkapan bayi yang belum sempat dibeli sebelumnya. Bersama Kailla yang enggan ditinggal di rumah, keduanya berkeliling mall dengan bergandengan mesra.
Hampir tiga jam di luar, Kailla bisa bernapas lega saat kembali ke rumah dan bisa mengistirahatkan tubuh lelahnya.
“Sayang, apa sudah semuanya?” tanya Kailla. Ibu hamil itu sudah berbaring di ranjang empuknya setelah berganti daster rumahan.
“Hmmm, sepertinya sudah semua,” sahut Pram, berdiri di antara tumpukan perlengkapan bayi di bantu Kin dan Bin, babysitter bayi kembar mereka.
Nama yang aneh, tentu saja. Itu pemberian Kailla yang sulit menyebut nama panjang keduanya. Untuk memudahkan lidahnya, Kailla sudah memberi nama panggilan sendiri untuk dua babysitter putranya. Kin akan memegang baby K dan Bin akan bertanggung jawab pada Baby B.
“Aku sudah meminta Kin menyiapkan koper untuk menyimpan perlengkapanmu dan bayi kita untuk dibawa ke rumah sakit.” Pram menyodorkan selembar kertas pada Kailla, meminta istrinya memeriksa barang-barang yang sudah didatanya.
“Sayang kenapa kamu membawa begini banyak pakaianku? Bukankah di rumah sakit aku akan mengenakan seragam pasien? tanya Kailla, mengerutkan dahi. Ada lima set pakaiannya ikut masuk ke dalam koper.
“Buat jaga-jaga, siapa tahu kamu tidak nyaman dengan pakaian dari rumah sakit.” Pram menjawab singkat. Pria itu tampak sibuk mengeluarkan barang-barang yang mungkin saja ingin dibawa Kailla ke rumah sakit. Kakinya sudah sembuh seratus persen, bahkan saat ini Pram sudah bisa lari maraton berpuluh-puluh kilometer.
“Lalu, tas mana yang akan kamu bawa, Kai?” Pram lanjut bertanya. Dia sudah siap menurunkan tas yang Kailla inginkan dari lemari penyimpanan.
“Yang pink kecil itu, Sayang,” sahut Kailla, masih nyaman berbaring di atas tempat tidur.
“Parfumnya?” tanya Pram lagi, setelah keluar dari walk in closet.
“Parfum kesukaanku, tetapi ambil yang masih di kotak saja, Sayang,” ucap Kailla, menunjuk wardrobe room, di sisi kiri kamarnya. Desain kamar utama di lantai satu ini jauh lebih mewah dibanding kamar mereka sebelumnya yang terletak di lantai dua.
Kamar mandi kaca dengan ukuran luas sengaja didesain Pram dengan alasan mudah mengawasi Kailla saat hamil besar, meskipun pada akhirnya tetap saja dia harus turun tangan sendiri setiap istrinya ke kamar mandi. Belum lagi dua buah walk in closet yang terletak berjajar di samping kiri kamar untuk memenuhi kebutuhan ruang akan tempat penyimpanan pakaian dan aksesoris miliknya dan Kailla.
Satu lagi, kamar mereka terkoneksi dengan kamar bayi sehingga Kailla dan Pram tetap bisa mengawasi bayi kembar mereka setiap saat. Pram benar-benar memikirkan kenyamanan Kailla dan anak-anaknya.
Di kamar bayi mereka bahkan Pram sudah menyiapkan satu set sofa nyaman berikut tempat tidur empuk untuk Kailla menyusui. Kamar mandi terpisah lengkap dengan walk in closet sendiri untuk putra-putranya. Dia tidak mau mendengar protes Kailla saat harus berebut kamar mandi dengan putranya atau mengeluh pakaian yang bercampur.
“Sepatumu? Sepatu yang mana yang akan kamu kenakan nanti di rumah sakit. Aku harus menyiapkannya dari sekarang,” tanya Pram.
“Yang flat shoes pink. Supaya senada dengan tasku,” ucap Kailla. Tampak Pram bergegas masuk ke dalam walk in closet dan mengambil sepatu yang dimaksud.
“Ini Sayang?” tanya Pram, menunjukannya di depan Kailla.
“Bukan yang itu. Yang satunya, yang sering aku kenakan belakangan ini.” Kailla menjawab singkat.
“Ada banyak sepatu pink di sana. Aku bingung.” Pram menjawab sambil tersenyum.
Baru saja Pram akan berbalik, tiba-tiba terhenti saat ekor matanya melihat Kailla hendak bangkit berdiri.
“Stop! Tetap berbaring di sana, Kai. Aku akan mengambilnya untukmu!” perintah Pram.
“Nanti kamu salah ambil lagi, biar aku saja,” ucap Kailla.
“Sudah, aku tahu apa yang kamu maksud.” Pram bergegas masuk ke dalam ruangan penyimpanan.
Tak lama pria itu sudah muncul dengan sepasang sepatu dan senyum hangatnya. “Ini, kan? Pasti tidak salah.” Pram tersenyum sumringah.
“Apalagi, Sayang? Make-up? Aksesoris lainnya?” tanya Pram.
“Apa aku masukan saja ke dalam koper, ya? Semua alat make-up yang sering kamu pakai.” Tanpa menunggu jawaban, Pram sudah meraup sebagian isi meja rias dan memasukannya ke dalam tas khusus sebelum menumpuknya bersama barang-barang yang akan dibawa Kailla ke rumah sakit.
“Untuk baby K dan baby B apa sudah semuanya, Sayang?” tanya Kailla.
“Sudah, kamu tidak perlu memikirkannya. Aku sudah berkoordinasi dengan dua pengasuhnya,” jelas Pram, menunjuk babysitter yang sedang melipat pakaian bayi, duduk di atas karpet lantai.
“Apa lagi yang kamu inginkan, Kai? Aku tahu kamu tidak mau terlihat berantakan saat melahirkan,” tanya Pram, berjalan mendekat. Pria itu berjongkok di samping tempat tidur, menatap Kailla yang berbaring menyamping menghadap ke arahnya.
“Aku mau ke salon, sehari sebelum melahirkan. Mau meni pedi, creambath, semua perawatan.” Kailla menjawab sambil tersenyum.
“Baiklah, aku akan membawamu ke salon,” janji Pram, mengusap lembut pipi gembul Kailla, tanpa malu-malu mengecup bibir istrinya di depan pengasuh bayi mereka.
***
TBC