
Kailla terlihat duduk di sofa kamar bayinya, menatap dua buah tempat tidur bayi yang berjejer di salah satu sisi kamar. Ruangan yang diperuntukan untuk bayi kembarnya itu lumayan luas, hampir seukuran kamar tidurnya. Di dalamnya sudah lengkap dengan peralatan bayi, dari meja tempat memandikan dan mengganti popok sampai teras mungil tempat menjemur bayi-bayi mereka, yang bisa diakses langsung dari dalam kamar.
Selain akses menuju ke teras, kamar itu juga dilengkapi dengan pintu menuju ke luar ruangan, di mana kedua pengasuh bisa keluar masuk dengan leluasa tanpa melewati kamar mereka. Kamar mandi yang dibuat untuk kenyamaan anak-anaknya dan walk in closet berukuran mini untuk menyimpan pakaian baby twins. Pram benar-benar memikirkan kenyamanan untuk Kailla dan bayi kembarnya.
Tampak smart TV berukuran raksasa tergantung di dinding yang sengaja dipasang Pram. Khusus untuk kamar anak-anaknya, pria itu mengizinkan televisi masuk ke dalam kamar dengan alasan mengusir kebosanan dan stres istrinya. Pram yakin Kailla akan menghabiskan sebagian besar waktunya di sana dan membutuhkan hiburan.
Apalagi, dia meminta Kailla memberikan asi eksklusif yang artinya ruang gerak Kailla akan semakin terbatas dengan dua bayi laki-laki yang akan mengekor ke mana- mana.
"Bin, itu pakaian bayi sudah bersih semua, kan?" tanya Kailla pada salah satu pengasuh.
"Sudah, Nyonya. Bapak sudah mengurus semuanya. Nyonya hanya tinggal melahirkan. Koper juga sudah dimasukan ke mobil. Kami juga sudah diminta bersiap," jelas pengasuh yang diberi nama panjang Binara oleh Kailla.
Kailla mengangguk.
"Apa? Kalian diminta bersiap ke mana?" tanya Kailla, otaknya baru terkoneksi dengan jawaban Binara setelah beberapa saat.
"Bapak minta kami berdua ikut menginap di rumah sakit. Selama Nyonya dirawat, Bapak meminta kami yang menangani bayinya. Nyonya hanya menyusui saja. Bapak takut kedua bayinya rewel dan Nyonya akan terganggu waktu istirahatnya."
"Maksudnya?" Kailla masih belum paham.
"Aku sudah booking dua kamar di rumah sakit. Satu untukmu dan satu untuk mereka berdua," sahut Pram tiba-tiba. Pria dengan setelan casual itu melangkah masuk ke dalam kamar bayi, menjatuhkan bokongnya tepat di samping Kailla.
"Selama pemulihan, biarkan mereka yang mengurusi bayi-bayi itu setiap malam. Mereka akan mengantarnya padamu ketika bayi-bayi itu kelaparan," lanjut Pram.
Kailla mengangguk.
"Sayang, kamu tidak ke kantor? Bukannya tadi izin mau ke kantor?" tanya Kailla, heran.
"Cuma sebentar, ada berkas yang harus aku tanda tangani." Tangan kirinya sudah menarik Kailla supaya mendekat padanya.
"Aku meminta Stella membeli mobil untuk kita." Pram menjawab dengan santai. Tatapan tertuju pada dua orang pengasuh yang sedang sibuk merapikan pakaian jagoan kecilnya.
"Untuk apa?" tanya Kailla heran.
"Mobil di garasi sudah banyak, sampai harus membuat basement karena tidak muat lagi," lanjut Kailla.
"Kemarilah!" Pram mendekap erat tubuh Kailla, merasakan aroma feminim itu begitu dekat dengannya.
"Sebelumnya aku adalah penggila mobil sport. Begitu banyak koleksi mobil di garasi, apalagi Bentley. Itu mobil kesayanganku. Namun, sekarang setelah ada anak-anak, bagaimana mungkin kita bisa keluar hanya dengan sedan Bentley. Kita butuh mobil dengan ukuran lebih besar."
"Jadi kita butuh mobil itu untuk keluarga besar kita," jelas Pram.
"Anak hanya dua. Bagaimana bisa dibilang keluarga besar?" tanya Kailla, menggelengkan kepala.
Pram tergelak.
"Anak dua, pengasuh dua, asisten dua. Belum termasuk asistenmu dan asistenku. Mesti pesan truk gandeng sepertinya." Lagi-lagi Pram terbahak.
Tawa pria itu semakin kencang saat melihat wajah aneh Kailla.
"Kamu sudah siap melahirkan, Kai?" tanya Pram setelah menghentikan gelak tawanya. Tinggal tiga hari lagi, setelah itu perjuangan Kailla membawa kedua bayi kembar di dalam perut akan berakhir di meja operasi.
"Aku takut sebenarnya," bisik Kailla pelan.
Bagaimana bisa tenang, ini pengalaman pertamanya melahirkan dan harus melalui operasi caesar. Ingin berbagi cerita dengan Bella, tetapi sahabatnya itu melahirkan normal. Tidak ada kisah, trik dan tips yang bisa dibagi Bella untuknya.
"Tidak akan sakit, cuma sedikit ketika disuntik." Pram bercerita sambil menghadiahkan kecupan tipis pada bibir Kailla.
"Tetap saja rasanya dag dig dug, Sayang," ucap Kailla pelan. Ikut-ikutan mengecup bibir Pram sambil memainkan bulu-bulu halus di dagu suaminya dengan jemari lentik yang baru saja di nail-art dengan motif kupu-kupu bermanik.
Binara dan Kinara, pengasuh yang sejak tadi duduk di atas karpet, merapikan pakaian bayi tampak menunduk sambil mengulum senyuman. Mencuri melihat kemesraan majikannya. Empat bulan menjadi bagian dari keluarga Pram dan Kailla, tentu mereka sudah mulai terbiasa dengan kemesraan dan kegilaan pasangan suami istri yang kadang tidak tahu aturan dan tidak tahu tempat.
Pasrah saat dirinya dikuasai Kailla, Pram mengusap perut buncit Kailla yang tampak bergelombang, berguncangan sejak tadi.
"Jagoanku sedang latihan silat di dalam?" tanya Pram, terkekeh saat melihat perut Kailla yang sudah tak berbentuk saat gelombang itu datang.
"Mereka nakal sekali," keluh Kailla, ikut mengusap dan menenangkan.
"Sepertinya mereka sedang ingin berbincang dengan Daddy," ucap Pram, membungkuk dan mencoba berbicara dengan kedua bayinya.
"Hai jagoan! Bagaimana kabar kalian? Sudah tidak sabar ingin bertemu Daddy?" tanya Pram.
"Aduh!" Tiba-tiba Kailla mengeluh kesakitan. Wajahnya meringis menahan sakit.
"Ada apa, Kai?" tanya Pram, panik saat melihat raut aneh istrinya.
"Perutku sakit ... em ... tetapi sekarang sudah hilang lagi," ucap Kailla, mulai sedikit tenang. Rasa sakit yang datang tiba-tiba, tetapi menghilang dengan cepat.
***
Sampai siang, sakit perut yang menyerang Kailla itu masih tetap timbul tenggelam. Jaraknya pun semakin dekat. Di awal, datang setiap satu jam sekali, semakin ke sini jadi setiap setengah jam sekali, meskipun tidak terlalu menyakitkan, hanya melilit biasa. Kailla masih berusaha menahannya.
Tepat setelah makan siang, Kailla sudah tidak sanggup lagi. Sakit perut yang dirasakannya semakin menjadi. Tadinya dia pikir hanya kontraksi biasa seperti yang dirasakannya selama ini, tetapi semakin ke sini perasaannya jadi was-was.
“Sayang, apa aku mau melahirkan?” tanya Kailla, mendatangi Pram di ruang kerjanya.
“Ada apa, Sayang?” tanya Pram. Dia sedang meeting dengan para staffnya di depan laptop. Namun, semua teralihkan saat melihat wajah Kailla yang meringis menahan sakit.
“Perutku sakit sejak pagi. Aku pikir ini sakit biasa. Aduh!” Kailla tidak sanggup melanjutkan kalimatnya, perutnya kembali sakit.
“Jadwal operasimu masih tiga hari, kan?” tanya Pram. Ikut panik saat melihat Kailla lagi-lagi meringis kesakitan.
“Ya, tetapi ini sakit sekali, Sayang,” ungkap Kailla, sembari mengusap perutnya. Menghela napas berulang kali.
“Apa lebih cepat dari jadwal.” Pram tampak berpikir. Berusaha bersikap tenang meskipun istrinya meringis kesakitan.
“Sebentar Kai, aku pamit dari meeting dulu. Setelah ini kita ke rumah sakit,” jelas Pram. Terdengar Pram berbicara dengan Stella melalui headset sebelum akhirnya menghampiri Kailla yang sudah hampir ambruk.
***
TBC