Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 71 : Bukan Orang Biasa


Kailla membeku di tempat. Tatkala mendengar perintah Pram untuk mengikutinya ke kantor. Ingin rasanya menolak, tetapi kalau mulutnya berucap tidak pasti urusan semakin panjang dan tidak akan selesai.


“Sayang, aku pasti kebosanan di kantor,” keluh Kailla, beralasan.


Ucapan Kailla mendapatkan jawaban dengan sebuah tatapan tajam. Cemburu seorang Pram sudah di ubun-ubun. Hampir menggila dan tidak memakai logika lagi. Hasil test pack yang negatif cukup mempengaruhi semuanya. Kepercayaan diri dan kepercayaannya pada sang istri menurun.


Jarak usia yang terlampau jauh berbeda, membuatnya lebih posesif dan menjaga kelabilan Kailla dengan mengerahkan seluruh tenaganya.


“Kamu bisa membantuku menyelesaikan pekerjaan,” sahut Pram seadanya. Saat ini yang terpenting Kailla di depan matanya. Tidak peduli istrinya mau membuat kekacauan, yang terpenting dia bisa melihatnya setiap saat. Apalagi disa belum mengenal siapa musuhnya yang sedang bersembunyi. Diam-diam mengawasi istrinya.


“Aku tidak berminat dengan pekerjaanmu. Kalau memang aku berminat, kursi Presdir pasti sudah kurebut dari tanganmu,” sahut Kailla.


Pram tersenyum, menghampiri dengan belitan tangan kanan di pinggang ramping istrinya.


“Kamu tidak perlu susah-susah bekerja. Cukup duduk manis dan memikirkan suamimu yang tampan ini saja. Aku akan membawa dunia ke dalam genggamanmu. Kamu lupa dengan janji suamimu sendiri?” Pram mengingatkan.


“Bersiaplah, kita harus ke kantor sekarang,” pinta Pram. Menjatuhkan tubuhnya di sofa, menunggu Kailla bersiap.


“Tidak perlu berdandan terlalu cantik,” celetuk Pram.


“Hah?! Sejak kapan kamu jadi begini cerewet,” gerutu Kailla, memicingkan matanya.


Kedua tangannya sedang bekerja keras menurunkan gaun katun dari tubuh rampingnya dan menggantinya dengan gaun yang lain. Dengan sengaja melakukannya di depan sang suami dengan gerakan sensual menggoda, membuat kepala Pram cenat cenut menahan hasrat yang membuncah di dada.


“Jangan gila, Kai,” ujar Pram. Istrinya hanya berbalut pakaian dalam dan mendekatinya. Tanpa aba-aba, langsung duduk di pangkuannya.


“Kita harus ke kantor sekarang,” lanjutnya lagi dengan suara berat dan nafas pendek-pendek.


“Aku mau tidur saja ya. Capek kalau harus ikut ke kantor,” bujuk Kailla, jemarinya sedang memainkan daun telinga Pram, memberi sensasi menggelitik di sana.


“Tidak di kantor saja,” bujuk Pram, memberi ide.


“No...,” tolak Kailla, dengan nada manja.


“Yes!” potong Pram.


Masih terdengar perdebatan kecil diantara keduanya, tapi pada akhirnya Kailla mengalah. Menuruti semua kemauan Pram, daripada membantah seperti biasanya.


***


Mobil Bentley hitam masuk ke halaman kantor RD Group, terlihat Pram keluar lebih dulu. Merapikan kancing jasnya, kemudian mengulurkan tangannya, membantu sang nyonya melangkah turun. Senyum merekah di wajah tampannya, sembari menggandeng tangan istrinya.


“Sayang, jalannya pelan saja,” protes Kailla. Ketika dipaksa mengikuti irama langkah suaminya yang lebar-lebar.


“Hahaha, maaf aku lupa sedang membawa putri pemilik perusahaan bersamaku,” sahut Pram, menghentikan langkahnya.


Saat hendak masuk ke ruangan, tampak Stella sudah menyambut keduanya dengan senyum indahnya, sesekali melirik ke arah penyatuan gengaman tangan sang Presdir yang begitu erat, seolah takut istrinya pergi.


“Ste, minta Dave ke ruanganku.” Perintah Pram sebelum membuka pintu ruangannya.


“Baik, Presdir,” sahut Stella, kembali memamerkan deretan giginya sebelum melangkah gemulai dengan ketukan sepatu hak tinggi yang berbenturan dengan lantai. Terdengar teratur dan merdu di gendang telinga.


Saat masuk ke dalam ruang kerja suaminya, Kailla langsung mengambil posisi nyaman. Duduk di sofa dan mulai berselancar kembali dengan ponsel di tangannya. Berbeda dengan Pram, sang suami langsung duduk di kursi kebesaran, membongkar berkas menumpuk yang sudah disiapkan Stella untuknya.


“Kai, nanti malam ingatkan aku untuk menemui dokternya mama. Aku harus memastikan kalau mama sudah diperbolehkan pulang atau belum. Aku sudah tidak mau berlama-lama lagi di rumah sakit,” jelasnya.


“Mmmm,” gumam Kailla. Entah mendengar atau tidak. Dia sudah terlalu sibuk dengan ponsel di tangannya.


“Sayang, aku sudah meminta Bayu untuk memindahkan mama ke ruangan lain. Dan kemungkinan malam ini kita tidak perlu menginap di rumah sakit,” jelas Pram.


Tidak ada jawaban, Kailla sudah larut dengan dunianya sendiri.


Lelaki itu masih sibuk dengan pena di tangannya, membubuhkan tanda tangan satu persatu di lembaran kertas yang tersusun di atas meja.


“Benarkah? Ah.. aku sudah rindu ranjang empuk kita, aku juga rindu mendengar deburan ombak setiap malam. Yang paling utama, aku merindukan sarapan pagi buatan Ibu Sari,” sahut Kaillaa tiba-tiba. Hampir lima menit hening, barulah dia memberi jawaban untuk pernyataaan suaminya.


“Kamu tidak merindukan pelukanku yang hangat?” tanya Pram, masih saja fokus dengan berkas di tangannya.


“Kamu tidak merindukan apartemen kita di Wina?” tanya Pram tiba-tiba.


Kailla tertegun, menatap suaminya dengan tanda tanya. Tiba-tiba Pram mengingatkannya kembali dengan kota Wina.


“Ada apa?” tanya Kailla. Dia sudah berdiri tepat di samping meja kerja.


“Kemarilah!” ajak Pram, menarik istrinya duduk di pangkuan seperti biasanya.


“Dulu di kehamilanmu yang pertama, kita mendapat kabar baik itu saat sedang berada di Kota Wina. Aku berharap, akan mendapatkannya kembali di perjalanan kita kali ini,” ucap Pram. Mengeratkan pelukannya. Membiarkan Kailla menikmati kehangatan dekapannya.


“Jangan khawatir, kita pasti mendapatkannya. Aku berjanji akan memberimu hadiah seorang bayi lucu disini,” jawab Kailla, mengusap perutnya sendiri.


Tepat disaat keduanya melempar senyuman, pintu ruangan terbuka. Muncul David dengan wajah usil, menggoda keduanya.


“Hallo Nyonya, apa kabarmu? Terlihat semakin cantik saja,” goda David, melangkah masuk ke dalam.


Kailla tidak menjawab, hanya menyunggingkan senyuman terindahnya. Bergegas kembali ke sofa, meninggalkan Pram dan asistennya.


“Dave, tolong cari tahu untukku tentang Ditya Halim Hadinata!” perintah Pram, melirik ke arah Kailla sekilas. Istrinya tidak bereaksi sama sekali.


“Wow, ada apa dengan Ditya?” tanya David heran.


“Aku sepertinya sering mendengar nama ini. Tapi dimana aku lupa. Sepertinya familiar di telingaku,” jelas Pram.


David dengan sigap mengeluarkan ponsel pintarnya. Hanya mendengar nama Halim saja, dia langsung tahu si Ditya yang dimaksud.


“Putra mahkota Halim Group. Sekarang menjabat sebagai direktur di salah satu anak perusahaan Halim Group. Perusahaan raksasa yang memiliki beberapa anak perusahaan, bergerak di bidang farmasi, suplemen, nutrisi dan layanan kesehatan. Mereka juga merupakan distributor alat-alat kedokteran,” David membaca biodata Ditya Halim Hadinata di layar ponselnya.


“Bisa dibilang, perusahaan mereka adalah salah satu perusahaan farmasi terbesar di Indonesia, berpusat di Jakarta. Selain itu, ada beberapa rumah sakit bertaraf internasional yang tersebar di kota-kota besar di Indonesia yang bernaung di bawah bendera Halim Group,” lanjut David kembali.


Pram tertegun, tidak bisa berkata-kata.


“Dimana Kailla bisa bertemu dengan lelaki sehebat ini?” batinnya dalam hati.


“Ceritakan kehidupan pribadinya?” titah Pram lagi.


David kembali menggeser layar ponselnya, mencari tahu lebih banyak tentang Ditya Halim Hadinata.


“Single, usia 34 tahun, Leo. Calon pewaris aset yang tidak bisa dihitung lagi jumlah nolnya kalau dirupiahkan. Tampan, menawan, tidak ada riwayat hubungannya dengan para wanita cantik.”


“Kelahiran Australia, besar di Jerman. Tapi menyelesaikan pendidikan sarjananya di Inggris.” Cerita David sebelum meletakan ponselnya di atas meja.


“Fotonya?” pinta Pram, saat ini matanya tertuju pada Kailla.


Tidak habis pikir kalau yang menabuh genderang perang dengannya bukanlah orang sembarangan. Rasa ingin tahu tentang sosok Ditya membuat otaknya tidak bisa bekerja. Apalagi, Ditya tidak seperti lelaki sebelum-sebelumnya. Cukup mengibaskan tangan mereka akan menyingkir. Ditya bahkan mungkin lebih hebat darinya, memiliki kekayaan jauh berlebih darinya.





Pram terpaku menatap foto-foto di ponsel David. Dia sudah menemukan titik terang, bagaimana istrinya bisa bertemu dengan laki-laki ini.


“Lelaki yang membuat Kailla menebar senyuman diam-diam,” gumamnya pelan.


***


Love You All..


Terima kasih



Kisah abang Diyta Halim Hadinata ada disini ya. Silahkan yang mau mampir. Dia masih single, lagi cari istri. CRAZY RICH MENCARI CINTA