Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 50 : Kecelakaan Kerja


Kailla bergidik memilih mundur, kembali ke kamar sembari menghubungi Pram.


Tapi baru saja membuka ponselnya, terlihat ada sebuah pesan masuk yang belum terbaca olehnya sejak tadi.


"Sayang, aku tidak pulang. Tidak perlu menungguku malam ini."


Kailla terkejut, hampir mau menangis. Diamnya Pram sepanjang hari ini berujung dengan tidak pulangnya laki-laki itu ke rumah malam ini.


Tidak seperti biasanya, sehebat apapun pertengkaran mereka, Pram tetap akan pulang ke rumah, walaupun tidak tidur sekamar dengannya.


"Ya sudah, kalau dia tidak mau mengalah, aku yang mengalah kali ini," batin Kailla.


Dengan panik mencari nomor ponsel suaminya.


Deg--


Dia terlalu fokus dengan pesan masuk dari Pram, sampai tidak memperhatikan puluhan panggilan tidak terjawab dari suaminya.


***


Selesai rapat, Pram memilih langsung menemui mamanya di rumah. Terlalu menghabiskan banyak waktu di jalan, harus bolak balik dari tempat rapat ke kantor lalu ke rumah mamanya.


Sebelum berangkat dia sudah memastikan tidak ada pekerjaan penting tertinggal di kantor. Dia juga sudah meminta Sam mengantar istrinya pulang.


Sambutan hangat Ibu Citra begitu melihat mobil Pram masuk ke pekarangan rumahnya. Senyum itu terkembang dan makin melebar, ketika Pram turun dengan sekotak martabak telur kesukaannya.


"Pram, kamu datang," ucap Ibu Citra memeluk erat putranya.


"Kamu datang sendiri?" tanya Ibu Citra, menatap ke arah mobil yang terparkir.


Tidak ada menantunya, hanya terlihat Bayu yang berlari menghampiri mereka.


"Kamu tidak membawa menantuku bersamamu?" tanya ibu Citra, tersenyum.


"Tidak, aku dari kantor langsung mampir kesini."


Ibu Citra mengangguk, seolah mengerti. Baginya yang terpenting saat ini putranya masih menjaga hubungan, tidak meninggalkannya. Masih mengingat keberadaannya.


Sepanjang pertemuan dengan mamanya, Pram lebih banyak diam. Setengah hatinya bersama Kailla. Memilih mendiamkan istrinya ternyata tidak membuat hatinya tenang. Entah perasaan ini dirasakan juga oleh istrinya atau tidak.


Pukul 08.00 malam, Pram undur diri. Setelah menyelesaikan acara makan malam bersama mamanya, Kinar dan Bayu, Pram pun berpamitan.


"Kita pulang Bay, aku merindukan istriku," ucap Pram tanpa malu-malu, saat sudah berada di dalam mobil.


Selama empat tahun terakhir, Bayu lah satu-satunya tempat berbagi cerita atau kisah. Bahkan Bayu tahu semua hal tentangnya dan Kailla.


"Jadi siapa yang menang, Bos?" tanya Bayu bercanda.


Melirik Pram yang sedang melonggarkan dasinya dari kaca spion. Majikannya terlihat lelah, bersandar sembari memejamkan mata.


"Memang rumah tangga menurutmu kompetisi?" Pram balik bertanya.


"Ada yang menang dan yang kalah," lanjutnya lagi.


"Hahahaha..." Bayu tertawa lepas.


Tidak biasanya Pram memilih jalan ini untuk memberi pelajaran pada istrinya. Biasanya majikannya akan memilih memakai cara halus, bahkan sampai dia sendiri salut akan kesabaran yang seperti tanpa batas.


"Rumah tangga itu berbeda dengan pertandingan Bay," ucap Pram tiba-tiba.


"Bukan berlomba-lomba untuk menang, tapi berlomba-lomba untuk mengalah. Ingat itu, semakin kamu bisa mengalah, semakin kamu bisa mempertahankannya."


Bayu diam, mencerna kata-kata Pram yang lebih senior darinya masalah rumah tangga. Bahkan sampai tadi, Kinar belum memberinya jawaban. Entah diterima atau ditolak lamarannya.


"Benturkan saja dua gelas kaca dengan keras, kalau tidak ada yang pecah. Bolehlah kalau kamu mau saling tarik urat dengan pasanganmu."


"Sangat mencintainya Bos?"


"Melebihi hidupku" Pram menjawab singkat.


"Bay, nanti tolong bangunkan aku. Aku lelah sekali," pinta Pram, mengurut batang hidungnya.


Seharian ini pekerjaannya menumpuk, harus menghadiri rapat, belum lagi masalahnya dengan Kailla.


Baru saja memejamkan matanya, tidurpun belum. Ponsel di saku jasnya berdering.


"Dave?" gumam Pram. Heran dan tidak biasanya David menghubunginya di jam segini.


"Iya Dave," sapa Pram, sesaar setelah menempelkan ponsel di telinganya.


"Presdir, ada kecelakaan kerja di proyek kita yang di Jakarta Selatan," ucap David dengan terburu-buru. Dia sedang dalam perjalanan menuju ke lokasi.


"Bagaimana bisa?" tanya Pram. Kantuk dan lelahnya hilang seketika.


"Bangunan ambrol, menimpa beberapa pekerja. Saya sedang menuju ke lokasi," jelas David.


"Bay, kamu tahu kan proyek kita yang di Jakarta Selatan?" tanya Pram.


"Siap Bos!"


"Antarkan aku kesana," perintah Pram.


"Bagaimana dengan Non Kailla?" tanya Bayu, khawatir akan terjadi pertengkaran lagi disaat Pram telat pulang.


"Istriku memang kekanak-kanakan, tapi dia mengerti dengan semua pekerjaanku. Dia bahkan paham, disaat-saat tertentu dia harus mengalah dengan urusan kantor," jelas Pram.


Dan memang Pram akui dalam hal ini, istrinya sangat dewasa. Baik hubungan Pram dengan pekerjaan atapun hubungan Pram dengan mamanya, Kailla selalu memposisikan diri di tempat seharusnya.


Raut wajahnya berubah panik, perasaannya tidak tenang. Kalau sampai David saja bergegas ke lokasi, pastilah bukan kecelakaan kerja biasa. Dan yang ditakutkan Pram adalah ada korban jiwa.


Entah harus marah pada siapa. Pengawas lapangannya benar-benar teledor kali ini. Bangunan baru bisa ambrol dan yang membuat masalah adalah menimpa pekerja.


Dalam paniknya Pram tampak menghubungi Kailla berulang kali, tapi istrinya tidak mengangkat sama sekali. Terpaksa dia mengirim pesan untuk Kailla, berharap istrinya membaca.


"Bay, hubungi Sam. Minta dia mengabari Kailla, kalau aku pulang telat atau jangan-jangan aku tidak bisa pulang malam ini," pinta Pram


Setelah hampir putus asa menghubungi Kailla dan tidak bisa-bisa.


"Jangan katakan apa-apa, nanti Kailla panik. Katakan saja ada pekerjaan kantor dan aku harus lembur," lanjut Pram.


Hampir satu jam perjalanan dan sempat terjebak macet di beberapa titik, mereka pun tiba di lokasi. Keadaan sudah ramai, bahkan ada polisi yang berjaga-jaga dan tim evakuasi yang akan membantu korban keluar dari reruntuhan.


Pram langsung menggelengkan kepala, tidak bisa berpikir lagi apa yang harus dilakukan. Keadaan sangat mengerikan. Bangunan apartemen puluhan lantai itu bisa ambruk.


Suasana ramai dengan masyarakat yang menonton. Padahal sudah dipasang police line, supaya tidak ada yang mendekat, tapi tetap saja banyak yang berusaha menonton dari dekat.


"Bagaimana Dave?" tanya Pram, setelah berhasil menemukan asistennya di tengah keramaian.


"Baru ditemukan dua korban jiwa, Presdir," ucap David, lesu. Raut wajahnya tidak jauh beda dengan atasannya. Kacau dan panik.


Di tengah perbincangannya dengan David, ponsel di tangannya bergetar. Tampak nama dan foto istrinya muncul di layar.


"Iya Sayang," sahut Pram, berteriak sembari menutup telinganya yang lain. Berjalan menjauh, menghindari kebisingan.


"Kamu dimana?" tanya Kailla, bernada curiga.


"Ada masalah di proyek. Kamu tidur saja duluan. Aku mungkin tidak bisa pulang malam ini," sahut Pram berteriak nyaring.


"Minta Ibu Ida atau Ibu Sari menemanimu," lanjut Pram lagi.


Kailla belum sempat bertanya lebih jauh, Pram sudah memutuskan panggilannya buru-buru.


****


"Huh!" dengus Kailla kesal.


Disaat dia sedang panik dan khawatir, suaminya malah memberi jawaban tidak jelas.


Teringat dengan ucapan Pram yang bercerita akan berkunjung ke tempat mamanya, membuat hati Kailla ketar-ketir.


"Apa dia menginap di tempat mama," ucap Kailla pelan.


"Tapi tadi suaranya berisik. Atau jangan-jangan dia sedang jalan-jalan dengan Kinar setelah bertengkar denganku."


Kailla segera menghubungi Sam, mengajak asistennya menyusul ke tempat mertuanya. Dia harus mencari tahu, apa yang terjadi sebenarnya.


Dia tidak akan membiarkan suaminya menginap di tempat mertuanya. Apalagi ada wanita ular yang tinggal disana. Bisa saja suaminya dipatuk saat sedang terlelap.


Hanya dengan piyama tidur dibalut jaket tebal, dia memberanikan diri turun ke lantai satu rumahnya.


Lenyap sudah rasa takutnya, walaupun jantungnya masih berdegup kencang. Tapi suaminya yang terpenting saat ini.


***


to be continued


terimakasih


Love You all


next :


Pram terkejut melihat wajah Kailla. Ada luka di sudut bibir istrinya, lengkap dengan bengkak di pelipis yang biasa dikecupnya.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Pram, meraih tubuh Kailla. Mengusap luka di wajah istrinya


Istrinya tidak menjawab, hanya memeluknya erat dan mulai menangis hebat.


"Katakan padaku, apa yang terjadi? Siapa yang membuatmu seperti ini?" tanya Pram panik.