
Turun di depan lobi RD Group, Pram masih harus dibantu oleh Sam dan Bayu. Kondisi kaki kanan yang belum sepenuhnya sembuh, membuat pria tampan itu belum leluasa bergerak. Namun, kondisi itu tidak sejalan dengan Kailla. Ibu hamil lima bulan itu, segera merengkuh lengan suami yang masih bertumpu pada kruk sikut di dua tangannya.
“Sayang, apa tidak salah?” tanya Pram. Tiba-tiba menghentikan langkahnya. Tersenyum geli melihat aksi Kailla. Istrinya menempel pada dirinya, merengkuh erat lengannya sembari bersandar manja.
“Kenapa, Sayang?” tanya Kailla heran. Masih saja menempel tanpa peduli. Dua bulan koma, Kailla harus menyimpan semua kemanjaannya. Dan sekarang, setelah Pram bisa berjalan kembali tentu saja dia tidak menyia-nyiakan kesempatan.
“Kamu bersandar pada suamimu, sedangkan suamimu ini sudah hampir ambruk,” jelas Pram, menunjukan dua kruk di kedua tangannya.
“Bukankah harusnya aku yang butuh sandaran saat ini.” Pram terkekeh.
“Ya, sudah. Aku bisa mencari laki-laki lain untuk bersandar kalau kamu tidak mengizinkan.” Kailla cemberut.
Tawa Pram hampir pecah saat Kailla menghentakan kaki menahan kesal.
“Terserah padamu. Kamu bebas bersandar sepuasnya padaku, Sayang. Kalau sampai ambruk, kita ambruk bersama, ya.” Pram mengedipkan sebelah matanya, menyodorkan lengannya kembali.
Tidak tega saat melihat Kailla yang mendengus manja padanya. Hal yang paling dirindukannya, di saat pria lain merindukan kedewasaan istrinya. Dia malah sebaliknya, merindukan kemanjaan Kailla.
Wanita memang harus dewasa, tetapi terlalu dewasa hidup juga terasa monoton, tak berwarna. Pram butuh wanita dengan kedewasaan sesuai porsinya, kemanjaan pada tempatnya. Terlalu mandiri juga tidak menarik, terlalu pintar juga tidak baik. Terkadang Pram butuh sisi lemah dan air matanya. Wanita yang penurut dan berontak sesuai dengan keadaan.
Berjalan beriringan diikuti Bayu dan Sam, keempatnya tiba di lantai tertinggi RD Group. Tempat ruangan presiden direktur berada. Kailla yang pagi itu tidak berani mengenakan heels-nya lagi, terlihat berjalan nyaman dengan flat shoes-nya.
Berbeda dengan hari-hari sebelumnya, tidak ada yang memarahi. Sejak Pram sadar dari koma, Kailla sudah tidak bisa leluasa lagi. Pria dewasa di sampingnya ini akan protes untuk setiap hal. Bahkan tadi sebelum berangkat ke kantor mereka sudah berdebat untuk gaun hamil dan sepatu yang dikenakan Kailla.
Begitu melewati meja Stella, terlihat Kaillla mengerutkan dahi. Wajah suram Stella, mengganggu paginya. Meredup seakan ada masalah besar di sana.
“Sayang, kamu masuk duluan, ya. Aku ada perlu dengan Stella.” Kailla melepas dekapan tangannya pada lengan Pram.
“Baiklah, segera menyusul begitu urusanmu dengan Stella selesai,” respon Pram. Berjalan masuk ke dalam ruangannya.
***
“Ada apa Ste?” tanya Kailla, menjatuhkan tubuhnya di kursi, tepat di seberang Stella. Sam tampak sibuk dengan ponsel pintarnya, berdiri di belakang Kailla.
“Tidak ada apa-apa, Nyonya.” Stella menjawab singkat. Walau bibir dengan sapuan lipstik merah delima itu berkata tidak, tetapi raut wajah sendu dengan mata tanpa binar itu tidak bisa berdusta.
“Apa yang terjadi, Ste?”
Stella menggeleng.
“Ini ada hubungannya dengan David?” tebak Kailla, lupa kalau asistennya Sam, masih setia menunggu di belakang.
Mata bening berbinar indah itu kian meredup, sampai akhirnya cairan mengkristal siap tumpah menggenang di pelupuk mata. Meski tidak ada gelengan atau anggukan, Kailla tahu jelas kalau yang diratapi oleh sekretaris presiden direktur itu adalah David.
“Mungkin Dave tidak berjodoh denganmu. Aku juga terkejut sewaktu melihat foto pernikahan Dave dan Mitha di ponsel suamiku,” cerocos Kailla.
Air mata yang berusaha di tahan Stella kini tumpah. Buru-buru gadis itu menghapusnya dengan kasar. Terselip iba di lubuk hati Kailla saat melihat semua itu. Baru saja akan menggenggam tangan Stella, tiba-tiba terdengar teriakan meraung dari arah belakang.
“Non Kailaaaaaaaaa ... Mitha serius menikah? tanya Sam dengan suara kencang.
Deg—
“Ya Tuhan, aku lupa. Ada Sam di sini,” desis Kailla pelan.
“Non! Tolong katakan sekali lagi. Non, tidak benar, kan?” Sam sudah ingin menangis sejadi jadinya saat ini juga, tetapi berusaha ditahannya.
“Sudahlah Sam. Dia bukan jodohmu,” ucap Kailla, berbalik menatap Sam yang terduduk di lantai tak bertenaga. Melemas tanpa gairah hidup.
“Non, pupus sudah harapanku. Padahal baru saja kemarin aku membeli skin care, belum sempat aku kirimkan. Aku sedang mengumpul uang untuk ongkos kirim. Pasti mahal sekali,” ucap Sam tak bertenaga.
“Astaga Sam. Bukankah aku sudah katakan, kirim mentahnya saja. Kenapa pakai repot-repot beli dari sini,” gerutu Kailla. Berulang kali mengajarkan asistennya supaya sedikit lebih pintar tetap saja otaknya masih di bawah Standar Nasional Indonesia.
“Non, kenapa nasibku jadi begini,” ucap Sam dengan wajah tidak kalah memelasnya.
“Yang sabar saja, Sam.”
“Bagaimana bisa sabar, Non,” sahut Sam. Mengabaikan bunyi pesan masuk dari Surti, pembantu tetangga sebelah rumah yang sempat membuatnya lupa daratan sejenak. Hilang sudah semangat hidupnya, semuanya hancur dalam sedetik.
***
Siang itu, setelah makan siang di luar, Pram membawa Kailla ke dokter kandungan. Kontrol bulanan, setelah absen dua bulan akhirnya pria itu kembali bisa melihat pergerakan bayi-bayi kembarnya di layar hitam putih yang tergantung di dinding ruang praktek dokter.
“Oke, tidak masalah, Pak.” Dokter wanita itu tersenyum. Dia cukup paham, alasan Pram untuk mengambil langkah ini, meskipun sebenarnya banyak juga kasus bayi kembar dilahirkan secara normal.
“Kira-kira kapan bisa menentukan tanggalnya, Dok?” tanya Pram, terlihat tidak sabar.
Dokter tersenyum. “Nanti saja, Pak. Ini baru lima bulan.”
“Sebelum aku memutuskan istriku akan melahirkan di rumah sakit ini atau tidak, aku ingin memastikan ... apakah aku diizinkan masuk, menemani istriku di dalam ruang operasi?” tanya Pram. Pria dengan setelan kerja itu terlihat duduk dengan kedua tangan menjalin di atas meja.
“Seharusnya tidak, ruang operasi itu harus steril.” Dokter menjelaskan.
“Namun, saya akan mencoba mempertimbangkannya nanti,” lanjut dokter, tersenyum.
Pram menghela napas. “Aku harus menemani istriku, Dok. Dia membutuhkanku bersamanya, selama menjalani operasi.” Pram menjelaskan.
“Ya, nanti kita bahas lagi.”
“Ini penting untuk istriku,” lanjut Pram, beralih menatap Kailla yang sejak tadi memilih diam.
“Kalau memang tidak bisa, aku harus mencari rumah sakit yang bersedia mengizinkan suaminya melakukan pendampingan di dalam kamar operasi,” lanjut Pram. Hal yang masih jauh sekali, tetapi laki-laki itu sudah mempersiapkannya dengan matang. Bahkan Pram sudah berencana memesan kamar perawatan kelas VVIP tadinya. Takut saat Kailla melahirkan mereka tidak mendapatkan kamar yang diinginkannya.
“Ini baru menginjak lima bulan, masih banyak waktu, Pak.” Dokter wanita itu lagi-lagi tersenyum. Cukup mengerti, mengingat ini adalah bayi-bayi pertama pasiennya.
“Untuk melakukan persalinan dengan caesar, apa yang harus dipersiapkan istriku?” tanya Pram lagi. Saat ini, Pram benar-benar ingin menyiapkan dirinya dan Kailla, supaya semuanya berjalan lancar.
“Tidak ada, Pak. Yang terpenting ibu dan bayi-bayinya sehat. Kurangi makanan asin ya, Bu,” ucap sang dokter. Kali ini tersenyum menatap Kailla.
“Ya, Dok.” Kailla bersuara pad akhirnya.
“Ada lagi yang ingin ditanyakan?”
Baik Pram maupun Kailla mengeleng.
***
Pagi itu, suasana di kediaman Pram terlihat ramai. Di halaman depan rumah tampak Sam duduk di tanah kotor sambil memeluk skin care yang baru saja kemarin dulu dibelinya. Sejak semalam tidak bisa tidur memikirkan Mitha, Sam makin menggila saat dikirimi langsung foto pernikahan gadis itu dengan Dave.
“Sudah Sam! Ayo bangun. Untuk apa kamu meratapi perempuan itu!” omel Donny. Menarik tangan Sam agar segera berdiri.
“Kalian bisa bicara seperti ini, karena tidak mengalami patah hati yang aku rasakan.” Kembali berteriak histeris, menangisi Mitha. Kedua kakinya menendang tak beraturan di atas tanah berbatu. Meratapi nasib yang tidak berpihak padanya.
“Mitha ... kenapa tega pada Aa Samuel. Padahal ....” Sam tidak melanjutkan kalimatnya, kembali asisten itu meraung sembari mendekap erat skin care. Segala bujuk rayu rekannya untuk menyudahi, diabaikan. Ricko, Donny dan Bayu hampir putus asa meladeni kegilaan Sam.
Berguling di halaman rumah hampir setengah jam menangisi nasib dan meratapi Mitha, tiba-tiba Sam menyudahi semuanya saat sebuah taksi berhenti di depan gerbang rumah. Asisten dengan skin care di dekapan itu segera bangkit berdiri saat dua orang gadis cantik dengan seragam kombinsi putih dan pink turun dari taksi.
“Maaf, apa di sini kediaman Pak Reynaldi Pratama?” tanya salah satunya dengan suara merdu mendayu.
Sontak memancing jiwa kejombloan para asisten yang memang memiliki nasib tragis soal wanita itu untuk bergerak mendekat. Tak terkecuali Sam.
“Ya, Mbak. Ada yang bisa dibantu?” tanya Ricko, mendahului Donny.
“Masuk dulu, Ladies!” ajak Donny.
Sam, tentu saja tidak mau ketinggalan. Lupa dengan ratapannya semenit yang lalu. Matanya berbinar, berkilat menatap dua orang gadis manis yang melangkah semakin dekat.
“Kenalkan, namaku Sammy. Panggil Aa Sam saja.” Sam menghadang keduanya sambil mengajak berkenalan.
***
TBC