Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 179 : Berkantor pertama kalinya


Kailla keluar dari ruang ICU dengan raut kesedihan terlihat nyata. Mata berair dengan ujung hidung memerah, terisak pelan.


Bersandar di pintu kaca ruang ICU, menumpahkan rasa yang ditahannya sejak beberapa menit yang lalu. Kailla menangis hebat, menutup mulut dengan kedua tangannya.


Sam dan Bayu yang duduk di kursi tunggu hanya bisa menyaksikan tanpa sanggup berbuat apa-apa. Beberapa hari ini Kailla tampak tegar, mungkin ini saatnya dia menumpahkan semua rasa yang menyesak di dadanya.


Tangis itu terdengar memilukan, Sam membuang pandangannya. Tidak mau melihat majikannya yang tampak menyedihkan berurai air mata.


Di tengah isak tangis, tiba-tiba terdengar dering ponsel dari tas yang ada di dekapan Sam. Buru-buru asisten itu merogoh ke dalam Hermes seri terbaru berwarna hijau yang sedang dipangkunya.


Buru-buru berjalan mendekat, Kailla mengerutkan dahi saat melihat nama penelepon yang tertera di gawai mahalnya.


"Donny ...." Kailla mengerutkan dahi. Asisten yang sejak kemarin bertugas di RD Group tiba-tiba menghubunginya.


"Ada apa, Don?" tanya Kailla sembari mengelus perutnya. Wanita hamil itu mencoba bersikap setenang mungkin, menghapus kasar bulir-bulir air yang menghiasi wajah cantiknya.


"Begini Non ... aduh bagaimana menyampaikannya. Ada sekitar enam proyek yang dalam tahap pertimbangan Pak Pram ... tetapi sampai saat ini belum ada keputusan." Jeda sebentar, terdengar Donny menghela napas kasar.


"Pak Pram juga belum memutuskan untuk melakukan tender atau menunjuk langsung kontraktor yang akan digunakan untuk 3 proyek apartemen di Jakarta Timur."


Donny terlihat berusaha menyampaikan setenang mungkin di tengah ketidakpahamannya. Yang dibicarakannya hanya berdasarkan apa yang Stella sampaikan padanya.


Sekretaris yang kebingungan dan tidak bisa mengambil keputusan di saat sang atasan jatuh koma, sedang pekerjaan dan klien mereka butuh kejelasan meskipun pengerjaannya belum sekarang.


"Mungkin Non Kailla ... harus ...."


"Aku mengerti Don!" Kailla memotong. Tentu saja dia mengerti apa yang mau disampaikan Donny.


"Aku akan ke kantor besok pagi." Kailla bersuara. Terlihat tegar di dalam kenestapaannya, berusaha tetap kuat di tengah ancaman badai yang bertubi-tubi.


***


Keesokan harinya.


Pagi itu, Kailla bersiap dengan setelan semi formalnya. Satu-satunya koleksi yang mengisi lemari di walk in closet yang didominasi dengan setelan santai atau pakaian untuk bepergian.


Menyapu wajahnya dengan riasan tipis, berusaha menutupi sembabnya akibat terlalu banyak menangis semalaman. Menangis, menumpahkan rindu yang membuncah di dada. Rindu suaminya, Reynaldi Pratama yang sudah beberapa hari tidak menghuni kamar mereka lagi.


"Sayang, cepat bangun ... kamar ini seolah mati tanpa dirimu. Aku dan anak-anak membutuhkanmu, butuh kehangatan darimu," lirih Kailla, berucap menatap cermin, masih dengan pensil alis di tangan kanannya.


Setelah memastikan penampilannya sempurna, Kailla segera keluar dari kamar, menenteng Channel keluaran terbaru. Tas hitam yang terlihat cocok dengan tampilannya yang elegan dengan perut besar tercetak di dress sederhananya.


"Ma ... aku harus ke kantor sekarang. Ada beberapa pekerjaan yang tertunda selama Pram di Austria. Dan aku diminta untuk segera menyelesaikannya," dusta Kailla.


Dia, Kinar dan para asisten terpaksa berbohong untuk saat ini. Kondisi Ibu Citra, membuat mereka memilih jalan ini. Setidaknya, akan lebih baik jika mertuanya tidak tahu apa-apa. Daripada nanti menjadi masalah. Mereka bukan hanya harus mengurus Pram tetapi sekaligus mengurus Ibu Citra.


Mama mertuanya yang sudah duluan menikmati sarapan hanya mengangguk. Terlihat Kinar duduk di sebelahnya untuk menemani.


"Apa Pram menghubungimu, Kai?" tanya Ibu Citra pelan. Rindu itu tampak nyata di wajah renta dengan keriput mendominasi.


"Belum, Ma. Ada masalah besar di kantor Austria, jadi suamiku benar-benar tidak memiliki waktu bahkan sekedar bertanya kabar bayi-bayinya."


"Kelewatan Pram! Istrinya hamil, dia malah sibuk bekerja!" gerutu Ibu Citra. Kesal karena merasa diabaikan oleh putranya. Sejak kepergian Pram beberapa hari yang lalu, tidak sekalipun laki-laki itu menghubunginya.


Bahkan kepergiannya begitu mendadak, tanpa berpamitan. Wanita lansia itu hanya dikabari Bayu melalui Kinar dan diminta bersiap untuk tinggal sementara menemani Kailla.


Percakapan di meja makan itu terbilang singkat, Kailla harus segera mengejar waktu. Sam dan Donny sudah menunggunya di mobil.


***


Sepanjang perjalanan, Kailla tampak gugup. Duduk gelisah menatap pemandangan di luar jendela mobil dengan tangan saling meremas di pangkuan.


Turun dari mobil lengkap dengan kaca mata hitamnya, Kailla yang mengenakan dress hijau selutut dan menenteng tas hitam tampak berusaha terlihat santai dan tenang.


"Sam, apa aku terlihat aneh?" tanya Kailla berbisik pelan pada Sam yang berjalan di sebelahnya.


"Entahlah Non. Kalau Pak Pram mengenakan kacamata hitam dan setelan jas saat turun dari mobil di lobi kelihatan keren sekali, tetapi ... Non Kailla malah terlihat sebaliknya." Sam mencoba berterus terang.


"Maksudmu Sam?" tanya Kailla.


"Jalannya penuh percaya diri, Non. Jangan mengendap-endap seperti maling kesiangan. Jalan gagah seperti biasa"


"Lagian, Non Kailla itu atasan yang menggantikan Pak Pram, putri pemilik perusahaan ini. Kenapa bersikap aneh seperti ini?" protes Sam.


"Aku takut Sam ... aku tidak tahu apa-apa. Rasanya aneh, makanya aku menutup mataku dengan kacamata hitam. Rasanya semua mata tertuju padaku. Beda saat ke kantor untuk mengunjungi suamiku."


"Non ... Non, ditutup apa tidak ditutup sama saja. Non itu terpampang nyata di depan semua orang. Perasaan Non saja itu."


Begitu sampai di lantai tempat ruangan suaminya, Kailla segera membuka kacamata hitamnya. Ibu hamil itu bisa bernapas lega. Apalagi saat bertemu Stella, wajah panik itu berubah sumringah.


"Nyonya, aku turut prihatin." Sang sekretaris segera memeluk untuk menguatkan.


Ucapan Stella membuat Kailla kembali mengingat sang suami. Raut cerah itu berubah seketika. Ada kabut duka yang tiba-tiba menyelimuti.


"Terimakasih Ste. Tolong bantu aku nanti." Kailla berucap lirih, air matanya nyaris tumpah.


***


Begitu masuk ke ruangan Pram, kesedihan itu bertambah dua kali lipat. Kailla menghempas tas mahalnya ke atas meja kerja suaminya, lalu memilih duduk di kursi yang biasa diduduki Pram.


Tidak mau berlama-lama larut dalam kesedihan, Kailla meminta Stella membawa semua pekerjaan suaminya yang tertunda.


Sam yang mengekor, merebahkan dirinya di sofa. Sembari mengecek ponselnya.


"Ini Nyonya. Apa butuh bantuan?" tanya Stella, menjatuhkan setumpuk berkas ke atas meja. Sontak membuat mata Kailla melotot.


"Ste, sebanyak ini?"


"Ini yang harus Nyonya pelajari sebelum membuat keputusan penting untuk perusahaan. Kalau Nyonya tidak paham, aku akan meminta kepala divisi masing-masing bagian untuk menjelaskan pada Nyonya langsung."


Pundak Kailla melemas, bahu itu turun tak bertenaga sambil menatap Sam.


"Baiklah Ste, aku akan mencoba mempelajarinya dulu. Kamu boleh keluar sekarang."


Kepergian Stella, membuat Kailla memilih duduk. Mengambil file dari tumpukan teratas dan membacanya perlahan.


"Ya Tuhan ... Sam, tidak ada satu pun kata-kata yang aku pahami. Kecuali nilai uang yang tertera di dalam berkas ini."


Sam terbahak. "Inilah kehebatan uang Non, meskipun tidak mengenyam bangku sekolah sekali pun, kalau masalah uang pasti semua orang bisa membacanya dan jadi pintar matematika.


"Kamu jangan menertawaiku Sam. Ayo ke sini, bantu aku pelajari. Jadi aku bisa meminta pendapatmu juga!" titah Kailla.


Deg--


"Waduh! Bahaya ini. Bisa saja Non Kailla melempar semua padaku."


***


TBC