
“Sayang, kemarilah,” pinta Pram, mengalihkan pandangannya ke arah Dion, yang sedang berdiri di samping Kailla.
Kailla yang sedang berbincang dengan Dion, membeku seketika. Dengan ragu-ragu, berjalan menghampiri Pram, menerima uluran tangan suaminya.
“Sayang, mau dibuat sama persis seperti kamar tidur kita di atas?” tanya Pram, melingkarkan tangannya ke pinggang Kailla, mencuri pandang pada Dion.
“Terserah padamu saja. Aku tidak punya ide,” lanjut Kailla. Sejak pertemuannya dengan Dion, otaknya buntu. Ide-ide yang biasa meluncur di pikirannya, sekarang entah menguap kemana.
“Nanti saja Bar, istriku sepertinya tidak dalam mood yang baik. Aku akan meminta David menghubungimu lagi nanti,” ujar Pram tersenyum.
“Oke, tidak masalah. Aku dan Dion melihat-lihat kedalam dulu,” sahut Bara, mengajak asistennya masuk ke dalam ruangan yang akan direnovasi.
Keduanya, Bara dan Dion sudah masuk ke dalam, memperhatikan detail ruangan.
“Bagaimana bisa mengenal istri Pram?” tanya Bara tiba-tiba.
“Kai teman kuliahku dulu. Tapi sejak dia menikah, aku tidak bertemu lagi dengannya.”
“Oh...!” Bara hanya menjawab singkat. Tampak mengeluarkan meteran dari kantong celananya.
“Sebenarnya aku tidak pernah turun tangan langsung untuk mengurus hal receh seperti ini. Tapi Pram teman baikku, aku harap kamu bisa mengontrol pengerjaannya. Jangan sampai mengecewakannya,” lanjut Bara.
“Baik Pak,” sahut Dion mengangguk.
Bara baru saja hendak melangkah keluar, tapi kakinya terhenti. Berbalik menatap punggung Dion.
“Laki-laki yang membuatmu termotivasi sehingga bisa sukses dengan posisimu sekarang, aku harap bukan Pram.”
“Kalau memang benar dia, aku tidak akan segan-segan menghancurkan karirmu,” ancam Bara.
Sejak awal pertemuan keduanya, Bara sudah mencium ada sesuatu dibalik hubungan Pram dan Dion. Dia mengenal Dion dengan baik. Baginya anak muda ini bukan hanya sekedar asisten. Terkadang mereka sering bertukar pikiran dan saling berbagi cerita.
***
Kailla sedang mengeluh kesal di hadapan Sam. Asisten dan majikan itu tampak duduk menikmati udara pagi menjelang siang di teras belakang rumah. Sejak mengantar kedua tamu pulang, sang suami memilih menghindarinya. Entah kenapa, Kailla tidak tahu jelas. Sekarang saja Pram masih mengurung diri di dalam ruang kerja.
Baru saja mobil tamu mereka keluar dari gerbang rumah, Pram langsung melepaskan belitan di pinggang rampingnya. Tidak seperti biasanya, sang suami akan bermanja-manja dengannya. Meninggalkannya dengan penuh tanda tanya. Padahal, dia ingin berbagi cerita sekaligus banyak hal yang ingin ditanyakannya.
“Non, tadi sepertinya Dion ya?” tanya Sam di tengah penasarannya.
“Hmmmm,” gumam Kailla. Menatap riak tenang air di dermaga tanpa berkedip.
“Kenapa dia jadi tampan dan keren sekarang, Non? Berbeda jauh denganku yang semakin hari semakin dekil dan kusam,” ucap Sam tertunduk.
Otaknya sedang berpikir keras, hampir tidak percaya dengan fakta di depan mata.
“Apa karena aku sering terkena omelanmu dan suamimu ya, Non. Jadi menghambat pertumbuhan kegantenganku.” Sam berbicara asal.
“Apaan sih Sam!” keluh Kailla.
“Itu kenyataan Non. Semua yang bekerja denganmu dan Pak Pram, yang awalnya keren, tampan, dan menakjubkan, pasti pada akhirnya kusam dan dekil. Yang paling menyesakan itu, kami harus siap dengan resiko menjomblo yang sudah mendarah daging di barisan asistenmu."
“Itu saja, Bayu sampai harus dibantu Pak Pram untuk mencari calon istri. Kalau tidak, dia akan segera menyusul Donny yang sudah memutuskan untuk menjadi jomblo sejati.
Plakkk!
“Aku serius Sam!” ucap Kailla pelan.
Sam terdiam, ikut memandang ke arah yang sama dengan majikannya.
“Masih ada rasa, Non?” tanya Sam tiba-tiba.
“Entahlah! Sudah lama tidak bertemu, ada rasa yang berbeda.”
“First love never die ya, Non” celetuk Sam.
“Lalu, Pak Pram mau dibuang kemana?” tanya Sam kembali.
“Bisa dibuang Sam? Aku sedang kesal padanya.” Kailla kembali mendengus, mengingat Pram yang tiba-tiba meninggalkannya tanpa bicara.
“Non, mau kubantu mendorong suamimu ke sana?” tanya Sam, menunjuk ke arah dermaga.
“Jadi Non bisa ganti suami baru,” lanjut Sam.
"Aku serius Sam!" gerutu Kailla.
"Kalau mau lebih cepat, lempar yang diseberang jalan. Aku jamin, dalam hitungan detik, Non Kailla langsung jadi janda."
"Sam, aku serius. Apa kamu tahu laki-laki tua itu menyembunyikan banyak hal dariku?" tanya Kailla, menatap Sam yang duduk di sebelahnya.
"Tahu, kapan itu Pak Pram menggoda janda tetangga sebelah," sahut Sam asal. Sengaja memancing emosi majikannya.
"Serius Sam?" Kailla langsung bereaksi. Belum hilang kesalnya, pernyataan Sam barusan semakin membakar emosinya.
"Serius! Tatap-tatapan mesra Non, seperti di film india." Sam kembali mengompori.
Kailla sudah mengepalkan tangannya, menahan amarahnya.
"Bagaimana kejadiannya?" tanya Kailla mencari tahu.
"Pak Pram sengaja membuka kaca mobilnya saat melewatinya, Non. Terus saling melempar senyuman manis dan saling melambaikan tangan." adu Sam.
"Kelewatan! Dia mengurungku dirumah, membatasi pandanganku, bahkan dia melarangku menonton drama korea. Katanya supaya aku tidak membayangkan laki-laki lain saat bermesraan dengannya," dengus Kailla.
"Dan Non menurut saja?" tanya Sam memanasi.
"Astaga Non, mata itu tercipta untuk melihat keindahan dunia. Kalau tiap hari disuguhin beruang kutub, lama-lama bosan juga."
"Hah?! Siapa beruang kutub?" tanya Kailla bingung.
"Siapa lagi?"
"Bukannya dia macan tua yang tidah tahu diri!" keluh Kailla, mengingat kembali ucapan Dion. Dimana Pram menyembunyikan keberadaan teman-temannya.
"Ayo Non, lampiaskan emosimu. Kamu boleh mengumpatnya, supaya tidak tekanan batin. Aku mengerti apa yang Non rasakan."
"Sam, sepertinya aku harus membuat kekacauan lagi kah? Seperti biasa?" tanya Kailla, meminta pendapat.
"Jangan Non, sebaiknya Non Kailla pepetin saja si tampan mantan cinta sejati Non itu." Sam memberi ide konyol.
"Biarkan aki-aki itu kebakaran jenggot."
Lagi-lagi Sam terbahak, membayangkan Pram yang sedang dilanda cemburu buta.
"Mulai hari ini, Non harus menolak didekati Pak Pram, menolak melayani Pak Pram, jangan mau diatur-atur seperti......"
Sam terdiam, menyadari sosok lain yang sedang mendengar ucapannya. Berdiri dengan mata melotot, memerah. Belum lagi, garis rahang mengeras dengan urat yang menonjol di pelipis.
"Ya Tuhan, sejak kapan macan tua ini menguping pembicaraan."
Sam masih berpura-pura tidak melihat kehadiran majikannya.
"Non, apa tidak sebaiknya Non menurut saja pada Pak Pram. Suamimu itu adalah suami terbaik," ucap Sam, setengah berteriak. Supaya ucapannya terdengar jelas oleh majikannya yang berdiri di belakang mereka.
"Sam, kenapa jadi aneh begini?" Kailla bertanya heran. Baru saja tadi Sam mendukungnya, tapi sekarang asistennya berbalik arah.
"Tidak Non, aku hanya bercanda tadi. Coba saja Non resapi lagi. Suami Non itu, benar-benar terbaik. Sabar, penyayang, pengertian, tampan dan menawan."
"Hah?! Kamu kesambet Sam, kenapa tiba-tiba jadi begini?" tanya Kailla heran.
"Bukannya tadi kamu bilang akan membantuku menenggelamkannya di seberang jalan?" tanya Kailla.
"Bu-bukan begitu Non," tolak Sam, melirik ketakutan ke arah Pram.
"Bukan begitu bagaimana, bukannya kamu yang mengatakan supaya membuat suamiku kebakaran jenggot tadi," Kailla mengingatkan.
"Aduh! Kenapa diingatkan lagi sih Non!" batin Sam.
"Non, aku ke dalam dulu ya. Masih ada pekerjaan," pamit Sam.
Semakin lama berada disini, kedoknya akan semakin dibongkar Kailla.
Tapi baru melangkah, Pram sudah meneriakinya.
"SAM, SINI KAMU!!!"
***
To be continue
Terimakasih
Love you all