Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 123 : Kailla Sadar


"Selamat atas kehamilan istrinya, Pak," ucap dokter SpoG yang duduk di hadapan Pram.


Lelaki berbadan gempal dengan blazer putih yang diperkirakan usianya sudah melewati setengah abad itu menyodorkan tangannya, menyalami Pram.


"Terimakasih."


Pram menjawab singkat, tersenyum menyambut uluran tangan sang dokter.


Sebelumnya, Pram sudah diberitahu Ibu Ida mengenai berita kehamilan Kailla, kalau tidak bisa dipastikan Pram akan terkejut.


Sudah tentu Pram sangat bahagia saat ini. Buah hati yang dinanti-nanti, sekarang datang di tengah kemelut rumah tangganya dengan Kailla. Kehadiran seorang anak, yang selalu dipintanya di tiap doa malamnya, saat ini benar-benar datang di tengah pernikahan mereka.


Senyum Pram tidak pernah memudar sedikit pun sejak dikabarkan dokter akan menjadi seoarang ayah. Menatap lekat dokter yang terlihat sibuk membaca hasil tes darah berupa angka-angka dengan istilah kedokteran yang tidak dipahaminya. Bersiap menunggu kabar lain yang akan disampaikan dokter padanya.


"Diperkirakan usia kandungan sekitar delapan minggu," ucap dokter lagi.


Jeda sejenak, sebelum dokter itu melanjutkan informasi selanjutnya.


"Kemungkinan istri bapak hamil bayi kembar," ucap sang dokter, menggaris kertas di hadapannya dengan ujung telunjuk terarah pada angka-angka yang ada di sana.


"Hah?!"


Kali ini, Pram benar-benar terkejut. Tampak Pram menegakan posisi duduknya, melempar pertanyaan kembali untuk memastikan kalau dia tidak salah dengar.


"Bagaimana maksudnya, Dok?" tanya Pram, memastikan lagi. Berharap dokter berbaik hati, menjelaskan padanya dengan perlahan. Pram sedang menikmati detik-detik kebahagiaan, bersiap menyambut kegembiraan ganda yang diberi Tuhan padanya. Bayangkan saja dua bayi sekaligus.


"Kalau membaca hasil tes, dengan kadar hormon HCG yang lumayan tinggi, kemungkinan istri bapak hamil bayi kembar,” jelas dokter.


"Nanti setelah pasien siuman, kita bisa melakukan usg transvaginal," jelas dokter lagi, tersenyum menatap Pram.


Kebahagiaan Pram bertambah berkali lipat setelah mendengar penjelasan dokter. Kalau diizinkan teriak, mungkin dia sudah berteriak sepuasnya untuk menggambarkan kebahagiaannya saat ini.


Hening sejenak, dokter itu kembali menyampaikan penjelasan selanjutnya yang membuat kegembiraan Pram tercoreng berganti penyesalan mendalam.


"Maaf Pak, tetapi saya harus tetap menyampaikan. Meskipun terdengar sedikit kurang mengenakan." Dokter itu tertunduk sebentar.


"Maksudnya, Dok?" tanya Pram.


"Berdasarkan data yang masuk disini, istri bapak pernah mengalami keguguran. Dan tadi pagi, perawat juga mendapati pasien mengalami flek," jelas dokter, membaca catatan dan riwayat penyakit Kailla yang tersimpan di dalam map biru di depannya.


“Dan kami sarankan pasien harus bed rest total. Mengingat kondisi fisik pasien juga sedang tidak dalam kondisi prima.”


“Tekanan darah rendah, kurang asupan dan cairan, mungkin ini dikarenakan mual dan muntah yang berlebih,” jelas sang dokter, membaca kembali data data yang sudah diinput perawat dan dokter yang menangani Kailla tadi pagi saat di ruang IGD.


Pram tertegun. Seperti dihujam pedang tajam tepat menusuk di jantungnya. Perasaannya kacau balau, campur aduk saat ini. Rasa sesal dan bersalahnya semakin menjadi.


Masalah rumah tangganya sebulan ini, pasti membuat Kailla terguncang. Diakui atau tidak, itu pasti mempengaruhi kehamilan Kailla.


"Maksudnya istri saya berpotensi mengalami keguguran, Dok?" tanya Pram memastikan.


"Kami akan berusaha sebisa mungkin membantu istri bapak mempertahankan kehamilan ini. Perawat juga selalu memantau perkembangannya," lanjut dokter.


"Baik, Dok."


Pram melemas, tubuhnya nyaris tidak bertenaga memikirkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi pada calon bayi kembarnya dan Kailla.


Sepanjang perjalanan menuju ke ruang perawatan Kailla, ucapan terakhir sang dokter terus terngiang-ngiang di otaknya.


Rasa bersalah dan sesalnya makin menyeruak. Tidak terpikir sedikit pun, Kailla hamil sendirian tanpa dirinya. Dan lebih parahnya, dia menggugat cerai Kailla.


"Ya Tuhan, apa yang aku lakukan," bisik Pram, mengusap kasar wajahnya.


Saat ini dia sangat membenci dirinya sendiri. Penyesalannya begitu mendalam. Dia tidak bisa membayangkan, selama sebulan ini bagaimana Kailla melewati hari-harinya yang begitu berat. Tanpa siapa-siapa di sampingnya.


***


Pram masuk kembali ke ruang perawatan Kailla. Istrinya masih terlelap, belum ada tanda-tanda kelopak mata itu membuka. Saat ini, dia merasa Kailla sedang menghukum dirinya.


Menghempas kasar tubuhnya, Pram duduk kembali di samping brankar. Meraih tangan Kailla dan mengenggamnya erat.


"Bu, bisa tinggalkan aku sebentar," pinta Pram pada Ibu Ida yang selama ini menjaga istrinya.


Pram butuh waktu berdua dengan Kailla. Meminta maaf dan mengabsen deretan dosa-dosanya pada istrinya. Berharap Kailla bangun, memukulnya, menamparnya bahkan membunuhnya pun, dia ikhlas. Yang terpenting Kailla mau memaafkannya dan bisa menikmati kehamilannya dengan penuh kebahagiaan Bukan menangis, meratapi nasibnya karena memiliki suami tidak tahu diri sepertinya.


Susasana kamar itu hening seketika, saat tertingga Pram berdua dengan Kailla. Lelaki itu duduk sembari menggengam tangan Kailla. Menumpahkan perasaannya yang sejak tadi berusaha ditahannya.


"Kai, bangun Sayang. Aku datang sekarang," bisik Pram, menelungkup di atas brangkar, menyembunyikan wajahnya.


Sesalnya datang bertubi-tubi, seolah sedang mengolok-olok kebodohannya. Mengejek keputusan bodohnya menceraikan Kailla. Bahkan dengan kerasnya hatinya, dia menolak mendengar rengekan Kailla yang memintanya jangan pergi dan permohonan maaf Kailla yang diucapkan berulang kali.


"Kai, bangun Sayang. Aku datang. Kamu boleh memukulku sekarang. Boleh juga memakimu. atau ingin membunuhku. Aku ikhlas, tetapi aku mohon bangun," ucap Pram, dua bulir air mata jatuh tanpa bisa di tahannya. Buru-buru dia menghapusnya.


Tangan kekar itu beralih mengusap lembut perut Kailla. Berbisik pelan. “Anak-anak daddy, tolong sampaikan ke mommy. Daddy menyesal dan minta maaf,” ucap Pram pelan.


“Maafkan daddy, sudah meninggalkan kalian selama ini. Daddy sayang kalian. Jangan nakal, kasihan mommy,” bisik Pram, mengecup perut Kailla dengan penuh perasaan. Airmata Pram kembali menetes. Kebahagiaan dan penyesalan itu menyatu, muncul dalam waktu bersamaan.


***


Siang berlalu, sore pun menjemput. Kondisi Kailla tetap sama, masih betah tertidur. Berulang kali Pram meminta suster datang untuk memastikan istrinya baik-baik saja.


“Sus, kenapa istriku tidak bangun-bangun?” tanya Pram seperti anak kecil.


“Masih dalam pengaruh obat, Pak,” jelas sang perawat, dengan santai.


Ibu Ida yang sudah kembali, terlihat tertidur di sofa. Bayu dan Sm memilih menunggu di luar ruangan mencari angin segar.


Pram masih betah duduk di samping Kailla, menatap istrinya tanpa berkedip. Tidak lama setelah kepergian perawat, Pram bisa merasakan pergerakan kecil di jemari tangannya.


Senyum muncul di bibirnya saat melihat kepala Kailla yang muali bergerak perlahan, diikuti kelopak mata yang juga mulai berkedut dan membuka. Mengerjap beberapa kali, sampai akhirnya terbuka sempurna.


Kailla yang sudah terlalu lama tertidur, berusaha menyesuaikan penglihatannya. Mengumpulkan kembali ingatan demi ingatan yang terjadi.


“Aku dimana?” bisik Kailla lemah. Mulai merasakan pegal di pinggangnya sekaligus nyeri di punggung tangannya akibat jarum infus. Belum lagi tenggorokannya kering, butuh disiram beberapa tetes air.


Dia belum menyadari akan sosok Pram yang duduk disebelahnya, mengengam erat tangannya. Sebaliknya dari tempatnya berbaring, dia bisa melihat jelas Ibu Ida yang terlelap. Kelelahan menjaganya.


“Bu..”


“Bu..”


“Bu..,” panggil Kailla berulang kali pada Ibu Ida. Suaranya masih lemah, tidak bertenaga.


“Sayang, kamu sudah bangun?” tanya Pram lembut. Berdiri dan muncul tepat di depan wajah Kailla.


Deg—


Kailla hanya menatap wajah suaminya beberapa detik, kemudian membuang pandangannya ke arah lain. Suami yang belakangan ini begitu dirindukan dan dibutuhkannya, tetapi membuangnya dengan tidak berperasaan. Tiba-tiba lelaki itu sudah muncul di hadapannya tanpa merasa berdosa dan bersalah.


“Bu..”


“Bu..” Bibir mungil yang masih terlihat pucat itu kembali memanggil pelan.


“Kamu mau apa, Sayang?” tanya Pram.


Kailla memejamkan matanya, memilih tidur kembali. Mengabaikan pertanyaan Pram yang terdengar memuakan saat ini.


“Sayang, kamu butuh sesuatu?” tanya Pram lagi.


***


To be continued


Love You all


Terima kasih.