Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 144 : The one and only


Sepanjang perjalanan wajah Kailla tidak ada manis-manisnya. Ditambah dengan pesan masuk yang menurutnya tidak penting itu membuat moodnya memburuk di sisa harinya. Pesan ancamana atau teror itu tidaklah penting untuknya, makanya Kailla memilih untuk mengabaikannya.


Pram masih dengan segala bujuk rayu, berusaha melunakan Kailla yang terlanjur emosi karena ulah Lolita. Tidak sampai disana saja, segala kecup dan belai pun ikut turun tangan demi membuat Kailla tersenyum kembali.


“Kai, kita ke supermaket, ya,” ajak Pram. Rasanya berlama-lama di luar akan lebih baik ketimbang Kailla memupuk amarah sampai akhirnya berujung dengan terusirnya dia dari dalam kamar tidur mereka. Sebisa mungkin dia harus berhasil melunakan anak manjanya.


“Sayang,” bujuk Pram pagi, meraih pundak Kailla yang kaku dengan raut cantik asam kecut seperti kuah bakso ketumpahan cuka.


Kailla tidak menjawab, terus saja mengerucutkan bibirnya. Memandang lurus ke depan, tanpa mau menoleh pada Pram yang duduk di sisinya.


“Kalau bisa, aku ingin mencongkel matamu!” ucap Kailla penuh amarah. Kali ini menoleh ke arah suaminya. Dengan jari telunjuk dan jari tengah tertuju ke mata Pram.


Pram tentu saja menciut. Bukannya tidak tahu dengan mood Kailla yang mudah naik turun selama masa kehamilannya. Mudah terpancing dan cemburuan.


Apalagi tadi sewaktu Kailla melihat perut rata dan langsing Lolita, tawa Pram hampir pecah saat Kailla ikut melihat ke arah perutnya yang mulai membesar. Tampak penuh seperti sedang kekenyangan. Kembali istrinya itu emosi. Mood wanita hamil memang sulit ditebak. Bisa mendadak naik hanya karena hal kecil.


“Sudah. Jangan marah-marah lagi ya,” bujuk Pram, mencuri kecup di pelipis Kailla.


“Ini kencan pertama kita bukan.” Pram mengingatkan.


“Bukannya harusnya manis,” lanjutnya lagi.


Kailla masih saja cemberut dan memendam cemburu yang kian membesar di hatinya. Bahkan saat mobil yang dikendarai Sam berhenti di parkiran supermaket, Kailla tetap bergeming. Membuang mukanya.


“Hei, Nyonya. Jangan marah-marah lagi,” rayu Pram, mengandeng tangan Kailla turun dari mobil dan masuk ke supermaket.


Kailla menurut, meskipun dengan keterpaksaan.


“Aku akan memasak untukmu sepulang nanti. Kamu mau dimasakan apa, Sayang,” tanya Pram, melangkah masuk sembari membelit pinggang istrinya. Sam yang berjalan di belakang dengan sigap mengambil troli dan mendorongnya untuk kedua majikannya.


Kailla menggeleng.


“Pasta? Nasi goreng? Seafood? Mi goreng?” tawar Pram, menyebut berbagai menu makanan kesukaan istrinya.


Sudah bersusah payah meluluhkan Kailla, demi sebuah kata maaf dan senyuman, namun Pram lagi-lagi harus menelan kecewanya. Kailla hanya diam, mengekor kesana kemari, tanpa ada sedikit pun niat untuk membuka suara.


“Telur ceplok spesial?” tawar Pram lagi. Meminta Sam memgambil satu tray telur ayam dan meletakan ke dalam troli.


“Aku tidak mau, aku lelah,” ucap Kailla akhirnya.


Pram tentu bisa tersenyum lega. Sejak tadi dia berusaha membuat Kailla berbicara.


“Mau pulang saja?” tanya Pram lagi. Memandang ke troli, ada beberapa bahan yang sudah dibelinya.


Kailla mengangguk.


Pram terlihat mengeluarkan dompetnya, menyerahkan beberapa lembar uang seratusan dan meminta Sam membayar belanjaan mereka. Dia sendiri sudah meminta kunci mobil dan mengajak Kailla menunggu di sana.


“Lelah?” tanyanya setelah membantu Kailla duduk nyaman di kursi belakang.


“Sedikit,” sahut Kailla masih dengan wajah mengerikannya.


Pandangan Kailla tertuju pada belasan shopping bag yang berjajar rapi di lantai mobil. Sedikit pun tidak ada rasa bahagia seperti biasanya. Menghabiskan uang suaminya dengan membeli barang-barang mahal itu tidak memberinya kebahagiaan. Lolita merusak semuanya.


“Kamu masih marah?” tanya Pram lagi, masih pantang menyerah.


“Aku tidak suka dengan tatapanmu pada gadis itu!” gerutu Kailla, masih saja berlanjut.


“Maaf aku berjanji tidak akan menatap wanita manapun lagi,” sahut Pram mengalah.


Meskipun begitu mood Kailla masih saja belum kembali, di masih mendengus kesal tidak berkesudahan setiap mengingat Pram. Rasa cemburu menutup semuanya, termasuk kesetiaan Pram selama ini.


***


Sam sedang menurunkan semua belanjaan milik Kailla dari dalam mobil saat pasangan suami istri itu kembali berdebat untuk gadis yang bahkan sekarang sudah tidak tahu kemana rimbanya. Bertengkar karena Lolita yang mungkin saja sekarang sedang bahagia dengan sugar daddynya. Meninggalkan masalah untuk Pram dan Kailla.


Asisten itu hanya bisa berdecak kesal. Mendengar suara Pram yang terus membujuk saja dia sudah bosan, apalagi keduanya yang menjalani.


“Kai, maafkan aku. Bagaimana kalau kita membuat telur ceplok,” tawar Pram masih mengumpul kesabarannya yang tidak terbatas. Netranya menangkap Sam yang sedang membawa tray terisi telur ayam tersusun rapi di atasnya.


Kailla yang masih dikuasai cemburu dan emosi, tanpa banyak bertanya langsung meraih tray dari tangan asistennya.



“Nih! Aku buatkan telur ceplok istimewa yang tidak mungkin kamu lupakan seumur hidupmu,” omel Kailla, setelah berhasil memecahkan telur di atas kepala suaminya.



“Kai, masih belum selesai?” tanya Pram setelah lama terdiam.



Lelaki itu berusaha mengumpulkan sabarnya demi Kailla. Menikmati semua kelakuan Kailla yang terkadang cemburu berlebihan, merajuk kekanak-kanakannya.


Helaan nafas kasar, menatap lekat pada istrinya. Pram tidak bisa berkata-kata. Saat ini dia sedang menikmati pecahan telur menguning bercampur bening di kulit kepala dan wajah tampannya. Merasakan sensasi lengket di atas kepala, turun merambat ke wajah. Belum lagi amis telur beserta kepingan cangkang tersisa di rambutnya.


“Anggap saja itu hukuman dari anakmu untuk daddynya yang mata keranjang!” gerutu Kailla, melangkah masuk ke dalam rumah. Tidak mempedulikan Pram dengan kondisinya yang berantakan.


Sam yang masih mematung di tempatnya, menahan senyuman. Tidak bisa berkata-kata, melihat Pram dikerjai istrinya sendiri. Sebagai asisten, dia hanya bisa membesarkan hati Pram.


“Pak, mohon bersabar. Ini ujian,” hibur Sam, sebelum berlari masuk ke dalam rumah membawa tentengan di kedua tangannya. Dia tidak mau menjadi media pelampiasan Pram yang sedang meredam amarah karena diperlakukan Kailla dengan tidak manusiawi.



***


Sampai malam tiba, hubungan Kailla dan Pram masih saja dingin. Berbagai jurus bujuk rayu sudah di lontarkan Pram untuk sang istri. Sampai akhirnya Pram terpaksa menggunakan sang mama untuk membantu melunakan Kailla.


Laki-laki itu masih saja mondar mandir di kamarnya, menatap Kailla yang bergelung di dalam selimut. Menutup habis tubuhnya, bersembunyi di sana.


Setelah kehabisan ide, akhirnya Pram teringat dengan Ibu Citra. Buru-buru lelaki matang itu mencari ponsel dan menghubungkannya dengan mamanya.


“Hallo Ma,” sapa Pram saat sambungan teleponnya tersambung. Kailla yang masih terjaga, terlihat menajamkan pendengarannya. Ikut menguping apa yang diobrolkan suaminya.


Basa-basi seperti biasa, sampai akhirnya terdengar suara Pram memanggil namanya.


“Sayang,” panggil Pram, menepuk lembut tubuh Kailla yang tersembunyi di balik selimut.


“Mama,” ucap Pram lagi saat kepala istrinya menyembul dari balik selimut. Kemudian menyodorkan ponselnya pada Kailla. Tentu saja Kailla tidak bisa protes, hanya menurut.


Kailla sudah duduk bersandar di ranjang, menjulurkan kaki mencari posisi ternyaman sambil berbincang dengan mama mertuanya. Dan Pram, lelaki itu tidak membuang kesempatan, ikut duduk di dekat kaki Kailla yang menjulur, mulai memijat istrinya tanpa diminta.


Tangan itu dengan terampil meremas-remas kaki jenjang istrinya. Berulang dari ujung jari sampai ke paha. Bergantian dari kaki kiri berpindah ke kaki kanan.


Wajah kaku dengan tatapan mengerikan Kailla pun, mulai mencair. Sedikit ada pelangi di wajah cantik istrinya. Senyum melengkung di bibir tipis Kailla saat berbincang dengan mertuanya, membuat Pram memberanikan diri melakukan ekpansi ke wilayah lain. Pijatan di kedua kaki istrinya sekarang berpindah ke lengan dan tangan.


Mulai kembali memijat dari pundak ke ujung jari tangan. Sengaja Pram tidak mau memandang manik mata yang tiba-tiba membulat lebar saat melihat kelancangannya. Namun Pram tidak peduli, sekarang dia sedang berusaha mengambil hati Kailla yang sejak siang tadi sempat kocar kacir berantakan karena ulah Lolita.


Hampir setengah jam, menantu dan mertua itu berbincang di ponsel. Dari membahas pakaian-pakaian mahal yang diborong Kailla tadi siang, sampai menceritakan gosip artis yang sedang hits.


Pram sendiri, sudah kelelahan memijat. Lelaki itu menyodorkan pundaknya untuk Kailla bersandar sembari memainkan rambut panjang tergerai yang digulung melingkar dengan ujung telunjuknya.


Tepat saat sambungan telepon itu dimatikan, lelaki itu langsung mengambil kesempatan. Mengecup bibir istrinya, sambil mengulang kembali maaf yang sering kali dilontarkannya sejak siang tadi.


“Maaf.. maaf.. maaf...”


“Jangan marah lagi, aku minta maaf,” bisik Pram. Memberanikan diri memeluk Kailla.


“Tidak ada wanita manapun yang sanggup menggoyahkan hatiku. The one and only, Kailla Riadi Dirgantara,” ucapnya merayu.


***


***


To be continued


Love You all


Terima kasih.