Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 170 : Tangismu adalah kegagalanku


“Ya Tuhan, bagaimana aku menjelaskan pada Kailla tanpa menyakitinya. Aku tidak tega mengatakan kalau mama Rania adalah primadona para lelaki hidung belang kelas kakap yang sangat terkenal di masanya. Bagaimana aku bisa mengatakan padanya kalau mamanya selama ini tidak sebaik yang dipikirkan.”


Bersusah payah Riadi menutup asal usul Kailla bahkan menyembunyikan fakta tentang Rania agar putrinya, Kailla tidak terluka.


Laki-laki itu masih mengusap pelan pundak istrinya yang menelungkup manja di atas tubuhnya, perut besar Kailla beradu dengan perut kotak miliknya. Dia harus mencari kata-kata paling halus dan bisa diterima, tanpa membuat luka itu semakin dalam.


Apalagi yang baru disampaikan pengacara sekaligus sahabat baik daddynya, kalau selama ini Rania terlibat dengan Andi Wijaya, musuh Riadi.


“Apa aku benar anak daddy, Sayang?” ulang Kailla sekali lagi, memainkan bulu-bulu halus yang tumbuh di dagu Pram.


“Tentu, kamu anak Riadi Dirgantara. Kalau bukan anak daddy, tidak mungkin daddy begitu menyayangimu sampai memberi asisten begitu banyak untuk mengawalmu setiap hari.”


Kailla mengerutkan dahi, mencoba mempercayai ucapan Pram dengan merangkai kembali kisah masa kecilnya dulu.


“Kalau daddy menyayangiku, kenapa tidak mau menikahi mamaku? Ceritakan semuanya padaku. Aku ingin tahu jelas apa yang terjadi!” perintah Kailla.


Hatinya memang hancur, mengetahui mamanya tidak dinikahi. Dia anak yang lahir tanpa ada pernikahan sebelumnya.


Pram memejamkan matanya. Ini adalah saat terberat dalam hidupnya. Menyampaikan sebagian fakta tanpa harus membuat mata indah istrinya berurai air mata. Hanya setengah dari kisah Kailla yang bisa dibaginya, setengahnya akan disimpannya sendirian. Sampai ajal menjemput. Tidak ingin menggali luka Kailla semakin dalam saat fakta itu terbuka lebar.


Pram tidak tega mengatakan kalau Riadi bukan hanya tidak ingin menikahi Rania, bahkan daddynya itu tidak menginginkan kehadiran Kailla di dunia. Berulang kali bernegosiasi dengan Rania agar melenyapkan kandungannya. Berulang kali mencari cara menjebak Rania meneguk pil penggugur kandungan.


Belum lagi, kehadiran Kailla yang tidak diharapkan Andi Wijaya, yang menggunakan segala cara untuk melenyapkannya bahkan sebelum terlahir di dunia. Puncaknya, meninggalnya Rania karena kecelakaan direncanakan saat hamil Kailla sembilan bulan. Beruntung Kailla selamat, meskipun akhirnya Rania pergi dengan semua rahasianya.


“Istri sah daddy itu, Anna Wijaya. Aku memanggilnya mami Anna. Daddy dan mami Anna menganggapku seperti anaknya sendiri,” cerita Pram.


“Saat aku berusia 15 tahun, mami Anna meninggal. Dan daddy memilih untuk setia dan hidup sendiri setelahnya. Tidak mau terlibat dengan wanita manapun. Hanya ingin menjaga kesetiaan dan hatinya pada satu wanita,” lanjut Pram.


“Lalu, bagaimana mama Rania hadir dalam kehidupan daddy?”


Pram menggeleng. “Aku tidak tahu, Sayang. Daddy tidak pernah bercerita padaku. Aku baru tahu kisah mereka saat daddy datang padaku untuk menjaga mamamu. Saat itu mama Rania sudah hamil tiga atau empat bulan,” jelas Pram, memilih kata menjaga dibandingkan mengawasi.


Setidaknya itu lebih bisa diterima Kailla. Pada kenyataannya, dia ditugaskan Riadi untuk mengawasi dan mencari tahu semua hal tentang Rania. Bahkan setelah kehamilan Rania, Riadi menjauh. Seolah jijik pada perempuan itu.


“Menurut daddy, karena umurku dan mama Rania tidak terlalu jauh, jadi daddy memintaku untuk menjaganya,” lanjut Pram.


“Kenapa daddy tidak mau menikahi mama? Padahal aku sudah hadir di antara mereka. Apakah daddy tidak menginginkanku? Apakah daddy tidak mencintaiku?” ucap Kailla, mencoba merangkai kembali. Matany mengembun, berkaca-kaca. Sedetik kemudian, air itu tumpah, meninggalkan jejak di pipinya. Membasahi kaos yang dikenakan Pram.


“Kenapa laki-laki itu harus jadi egois!” gerutu Kailla di tengah tangisannya


“Bukan begitu sayang,” ucap Pram, memutar otaknya kembali, mencari kalimat yang paling mudah dicerna dan tidak melukai.


“Kamu sudah tahu seberapa cintanya daddy pada istrinya. Dan aku yakin sebagai istriku, kamu juga ingin dicintai sebesar itu olehku? Benar begitu?” Pram balik bertanya sebelum melanjutkan kalimatnya. Jemari tangannya masih sempat menghapus air mata yang berjejak di pipi istrinya.


Kailla mengangguk.


“Kalau daddy begitu mencintai istrinya, kenapa harus menggoda mamaku sampai hamil!” tanya Kailla, kesal.


“Kalau mamamu tidak hamil dan melahirkanmu lalu dari mana anak-anakku nanti lahir? Coba kamu pikir, kalau daddy tidak melakukan kesalahan itu, lalu aku harus menikah dengan siapa sekarang? Siapa yang akan menjadi istriku sekarang.” Pram menyentil pelan dahi Kailla, sembari tersenyum usil.


Kailla tidak bisa berkata-kata, hanya mengerucutkan bibirnya. Wajah sembab karena terlalu banyak menangis itu mulai bisa berekspresi kembali meskipun masih ada sisa-sisa duka di sana.


“Aku tidak tahu jelas bagaimana hubungan daddy dan mama Rania terjalin sampai istri cantikku ini hadir ke dunia. Yang jelas, kesalahan itu pasti kesalahan bersama. Daddy bukan seorang yang b'rengsek, tentu kamu tahu.” Pram berusaha menjelaskan dengan caranya.


“Berbaring yang nyaman di dadaku, kisah ini akan panjang,” ucap Pram mendekap istrinya dengan hangat.


“Saat itu, daddy laki-laki bebas. Dia duda ditinggal mati. Dia tidak punya siapa-siapa. Sebenarnya dia berhak menikah lagi. Itu bukan kesalahan, tetapi kalau dia tetap ingin menjaga hatinya untuk satu wanita, kita juga harus menghargainya.”


“Sebagai laki-laki dewasa, aku sangat paham. Apalagi daddy sudah pernah menikah. Sejauh ini kamu mengerti maksudku, Kai?”


“Yang sering kita lakukan setiap malam.” Pram menjelaskan.


“Bercinta,” bisik Pram pelan.


“Ya, aku mengerti sekarang.” Kailla mengangguk.


“Sehebat-hebatnya lelaki, pasti membutuhkan itu. Di satu titik, pasti dia membutuhkannya, termasuk daddy. Dan pada saat pengendalian diri daddymu lemah, mamamu masuk ke kehidupannya. Dan mereka melakukan kesalahan bersama. Aku tidak tahu jelas, tetapi bisa saja terjadi seperti itu.”


Kailla mengerutkan dahinya.


“Mungkin tidak semua, tetapi kebanyakan laki-laki bisa melakukannya tanpa cinta, cukup dengan rasa suka, nyaman dan sedikit ketertarikan, berbeda dengan wanita yang lebih mengedepankan perasaan.”


“Kamu mengerti, Sayang. Awal mula Kailla Riadi Dirgantara ini diproduksi,” ucap Pram mengulum senyuman.


Kailla menganguk. “Aku mulai paham.”


“Baguslah kalau istriku sudah paham. Kesalahan daddy dan mama Rania itu ternyata menghadirkan gadis nakal yang akhirnya menjadi istriku. Sebenarnya daddy juga pasti merasa bersalah, Sayang. Pasti ada pertempuran batin di dirinya.”


“Aku tidak mengatakan daddy tidak mau bertanggung jawab. Karena dia juga butuh proses dan waktu untuk mengambil sikap. Namun, semua terjadi begitu cepat, sembilan bulan kemudian mamamu dipanggil Tuhan. Bisa saja, setelah kamu lahir, daddy tersentuh, melupakan ego dan prinsipnya, memilih menikahi mama Rania meskipun tanpa cinta. Semua bisa terjadi, kan? Akan tetapi Tuhan sudah menuliskan takdirmu.”


Kailla mengangguk, mencerna kalimat demi kalimat yang disampaikan suaminya.


“Jadi aku mohon jangan salahkan siapa pun untuk masa lalu. Itu takdir yang digariskan Tuhan untukmu. Itu bukan salah daddy, juga bukan salah mama Rania sepenuhnya.


“Lalu?” Kailla mendongak menatap lekat wajah suaminya.


“Kamu bisa merasakan seberapa besar cinta daddy untukmu?” Pram bertanya. Laki-laki itu menggigit bibir, menahan tangisnya. Teringat kembali bagaimana awal-awal kehadiran Kailla ke dunia. Riadi sama sekali tidak menginginkannya. Tidak ada cinta di mata Riadi untuk Kailla. Di mata Riadi, Kailla adalah kesalahan terbesarnya waktu itu.


Seiring waktu, barulah cinta dan sayang itu tumbuh dengan sendirinya. Perlahan, hati sekeras batu itu mencair dan merengkuh gadis nakal yang pada akhir hayatnya menjadi prioritas utamanya.


Kailla mengangguk. Dia bisa merasakan seberapa besar daddy mencintainya.


“Cukup ingat seberapa besar cinta daddy untukmu. Jadi kamu akan tahu, kalau dia juga mensyukuri kehadiranmu meskipun berawal dari kesalahan.”


Kedua tangan itu merengkuh leher Pram dengan manjanya, mengecup pipi laki-laki itu beruntun. Terakhir menjatuhkan kepalanya di ceruk leher suaminya.


“Sudah, jangan mengingat masa lalumu lagi. Jangan membenci masa lalumu. Pasti ada hikmah dari semua itu.


“Terimakasih, Sayang. Dari aku lahir sampai sekarang, kamu tidak pernah berhenti menyayangiku. Selalu ada bersamaku. Bahkan daddy saja tidak sanggup mengalahkanmu. Bukankah kamu orang pertama yang menyambutku saat lahir ke dunia?”


Pram mengangguk.


“Bagaimana aku bisa tidak mencintaimu, kalau kehadiranmu begitu luar biasa di dalam hidupku,” ucap Kailla, mengecup bibir Pram sekilas.


“Sekarang aku sudah tidak punya siapa-siapa. Aku hanya memilikimu.” Kailla berkata, air matanya tumpah kembali.


“Hei, kita masih punya baby twins di dalam perutmu ini. Mulai sekarang, cukup nikmati hidupmu saja. Cukup belajar bagaimana mensyukuri hidupmu dan tersenyum setiap saat.”


“Kamu tahu ... ketika kamu menangis, itu adalah kegagalanku sebagai seorang suami, tetapi ketika kamu tersenyum itu adalah keberhasilan sebagai laki-laki yang bertanggung jawab pada istrinya. Melihat senyummu rasa bahagiaku itu mengalahkan saat memenangkan tender triliunan rupiah,” gombal Pram.


Pram memeluk erat istrinya. Laki-laki itu menerawang jauh, mengingat kembali awal-awal kehadiran Kailla yang tidak dianggap sama sekali. Itu yang menjadikan alasan untuk Pram melimpahi Kailla cinta, sayang tanpa batas sampai sekarang. Pengertian dan kesabaran yang unlimited untuk Kailla, meskipun terkadang dia suka lupa dan tanpa sengaja menyakiti istrinya.


Karena masa kecil Pram juga mengerikan. Tanpa kasih sayang orang tua. Pram tahu, rasanya tidak diinginkan, tidak memiliki siapa-siapa. Tidak ada orang tua yang mencintai, memeluk erat dan membelai di saat sedih dan terluka. Cukup dia saja yang merasakan semua kesakitan itu, tetapi tidak dengan Kailla. Andaikan Kailla tidak mendapatkan semua itu dari Riadi, Kailla akan tetap mendapatkan semua cinta itu darinya.


***


TBC