
Ibu Citra masih membantu Kailla mengusap lukanya perlahan. Kalau awal terkena, hanya luka memerah, sekarang mulai tampak lepuhan di beberapa titik berukuran tidak terlalu besar di sekitaran jari tangan kanan Kailla.
Sesekali meniup supaya membantu meringankan nyeri dan sakit yang mulai berasa. Mengernyit ikut merasakan betapa sakitnya di bekas tertuang minyak panas itu.
“Bagaimana bisa begini?” tanya Ibu Citra dengan suara berayun sedih, menampilkan wajah prihatin dan sedikit khawatir. Tidak bisa membayangkan kalau sampai Pram tahu, tangan Kailla tersiram air panas karena memasak untuknya.
“Aku panik, tidak sengaja tersenggol wajan dan terjatuh mengenai tanganku, Ma,” jawab Kailla. Sejak tadi dia memilih diam, berkonsentrasi dengan rasa sakit menyengat tidak tertahankan.
Sakit yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Ingin menangis, ingin menjerit sekuatnya, tetapi dua orang di dekatnya saat ini adalah sosok-sosok asing. Tidak mungkin dia melakukan hal yang hanya bisa dibagi dengan suaminya.
“Maafkan aku. Pesanan mama tidak bisa aku selesaikan,” bisik Kailla pelan, sesekali masih terdengar desah pelan dengan mata berkaca-kaca.
“Tidak apa-apa. Melihat tanganmu seperti ini, mama sudah tidak berminat lagi. Nafsu makan mama langsung menghilang.”
Suara pintu terbuka kasar, mengejutkan menantu dan mertua yang sedang duduk bersisian di sofa ruang tamu. Ibu Citra tidak bisa menutupi kegugupannya, buru-buru mengangkat kepala. Pandangannya langsung mengarah ke pintu, memastikan siapa yang baru saja masuk.
Helaan nafas pelan, pertanda kelegaan yang hakiki saat Bayu masuk dengan senyuman dan bungkusan di tangan.
“Ini Non. Sering-sering dioles,” jelas Bayu, menyodorkan bungkusan dari apotik berisi salep yang langsung diterima Ibu Citra.
“Sudah, mama saja Kai,” ucap Ibu Citra. Mengoles perlahan sesekali meniup lembut di belas luka.
Ada rasa bersalah menyelimuti hati Ibu Citra, sedikitpun tidak ada niatnya untuk membuat semua ini terjadi. Tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kalau sampai Pram tahu. Putranya pasti mengamuk seperti yang dulu-dulu lagi.
“Sudah Kai, sebaiknya kamu beristirahat saja. Nanti mama akan minta Bayu membelikan makan siang kita,” lanjut Ibu Citra.
***
Sore itu, Pram pulang lebih awal sesuai dengan janjinya. Dia hanya ke kantor sebentar, lalu meninjau beberapa proyek bersama Pieter. Dia memang tidak mengkhususkan perjalanannya kali ini untuk bekerja.
Lebih ingin menghabiskan waktu dengan istri dan mamanya. Selain itu dia ingin Kailla banyak belajar selama di Austria. Bukan hanya sebagai seorang istri tetapi sebagai seorang menantu. Bisa mendekatkan keduanya, istri dan mamanya.
Ibu Citra sedang serius dengan acara televisi yang dia sendiri tidak paham apa yang ditontonnya. Bayu, sang asisten itu sedang menikmati secangkir kopi ditemani biskuit. Duduk merenungi nasibnya yang sebentar lagi diujung tanduk.
Bagaimana tidak? Dari segi apapun itu termasuk kelalaiannya yang ditugaskan Pram untuk menjaga Kailla.
Bunyi pintu terbuka,mengalihkan konsentrasi keduanya. Ibu Citra langsung tertegun menyembunyikan
khawatirnya, Bayu terlihat memutar cangkir menutupi kegugupannya. Baik sang mertua maunpun asisten memiliki ketakutan yang sama.
Tidak terbayang apa yang akan terjadi selanjutnya, tetapi sudah tertebak apa yang akan menimoa mereka bukanlah baik-baik saja.
“Mama sudah makan?” tanya Pram, sembari melepas mantel dan mengantungnya di dekat pintu. Tidak lupa melepas sepatu dan menyisahkan kaos kaki saja. Lelaki itu menghampiri sang mama, menjatuhkan bokongnya di sofa tetap disisi Ibu Citra.
“Mama masih kenyang Pram.” Ibu Citra menjawab singkat, sekaligus memutar otak mencari alasan terbaik supaya tidak diminta pertanggungjawaban oleh Pram.
“Kailla mana, Ma?” tanya Pram, mengedarkan pandangnanya kesana kemari, mencari sosok sang istri yang dirindukan. Sejak ada jarak karena pertengkaran, keduanya membentang jarak. Saling mengurangi komunikasi, membuat rindu semakin membuncah di dalam dada.
“Sepertinya sedang.. di kamar.. beristirahat,” sahut Ibu Citra tersendat.
Jawaban itu langsung mengantarkan Pram berdiri. Dia ingin menemui istrinya, mengobati rindu perpisahan yang padahal baru beberapa jam. Pertikaian membuat rindu itu lebih berasa, berbeda di kondisi biasa.
Tanpa bertanya lebih lanjut, Pram menuju ke kamar mamanya. Seperti kemarin, keyakinannya mengatakan kalau Kailla belum memaafkannya, kemungkinan besar belum mau tidur bersamanya di kamar,
Saat pintu itu terbuka, punggung menawan yang begitu familiar terlihat menyambutnya. Istrinya sedang berbarin menyamping sembari menatap jendela besar yang mempertontonkan langit cerah bersalju ringan.
“Kai, bagaimana kabarmu hari ini?” tanya Pram. Pergerakan kecil ranjang itu, menandakan kalau lelaki itu juga ikut berbaring di tempat yang sama.
Hening— tidak ada jawaban. Kailla bergeming seperti yang sudah-sudah. Menyaksikan itu, Pram cukup tahu diri. Tidak bertanya lebih lanjut, hanya ikut berbaring menghadap ke arah yang sama. Tangan nakal dan kekar itu langsung membelit dan mendekap tubuh yang tersembunyi di balik hangatnya selimut tebal.
“Sayang, bagaimana kabarmu hari ini?” Pertanyaan itu meluncul bebas, seiring dekapannya semakin hangat. Menempelkan tubuh mereka dengan posisi menyamping. Dari belakang dia bisa menikmati pundak seksi istrinya yang hanya berbalut atasan sabrina. Sesekali mengecup disana tanpa izin pemiliknya.
Ah, apa yang perlum dimintai izin. Baginya apapun yang ada di diri Kailla, adalh miliknya. Seutuhnya milik Reynaldi Pratama.
“Kamu tidak ingin melihat salju? Kamu ingat bukan tempat kita melihat salju empat tahun yang lalu. Kamu mau kesana lagi?” tanya Pram, memberi penawaran, tentunya menggiurkan bagi Kailla.
Kailla langsung berbalik, tidak banyak bicara ataupun menjawb. Memeluk suaminya dengan tanga terlukanya yang disembunyikan. Disaat seperti ini, memeluk Pram adalah obat dari segala obat.
Bukan hanya karena lelaki ini suaminya, sejak belasan tahun yang lalu, pelukan Pram ada kehangatan yang hakiki, yang bisa membuat suasana hati berubah seketika.
Sebuah senyum dan tawa kecil, terlihat muncul di bibir Pram, seiring ikut memeluk istrinya.
“Kamu sudah makan? Kamu mau sesuatu?” tanya Pram. Pantang menyerah sebelum kutub utara itu mencair, membulatkan tekad untuk menebus dosa karena sudah membuat istrinya sakit hati.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Pram lagi. Setelah merasakan belitan di pinggangnya kian kencang,
Kailla lagi-lagi menolak bersuara. “Baiklah kita saling memeluk seperti ini saja,” bisik Pram pada akhirnya. Menenggelamkan kepalanya pada ceruk leher Kailla, menikmati aroma shampo pada rambut yang tergerai berantakan.
***
Gerakan menutup mulut ala Kailla itu masih bertahan sampai makan malam. Pram meminta Pieter mengirim makanan dari sebuah restoran untuk makan makan mereka kali ini. Tidak berharap lebih pada sang nyonya yang berkubang dalam kesedihan tak berujung, kemarahan tak bertepi.
Di tengah makan malam keluarga, minus Kailla terlihat Bayu tidak tenang. Duduk dengan tidak nyaman sesekali memandang Pram yang sibuk menikmati steaknya.
“Bos, maaf aku baru bicara. Non Kailla mengalami kecelakaan kecil tadi siang,” ucap Bayu tertunduk. Menyiapkan hati dan diri menerima umpatan, omelan bahkan dia siap dengan tamparan atas kelalaiannya.
“Apa yang terjadi?” Raut serius itu langsung melepas garpu dan pisau di tangannya. Urung menyuapkan potongan besar steak yang siap meluncur masuk ke mulutnya.
“Maaf Bos, Non Kailla tersiram minyak panas di tangannya,” jelas Bayu.
Begitu Bayu baru menyelesaikan ucapannya, bahkan belum sempat membubuhkan tanda titik diujung kalimatnya, Pram sudah berlari panik menuju kamar. Tidak bertanya lebih lanjut.
Pintu terbuka kasar, mengalihkan Kailla dari lamunannya. Wanita itu sedang duduk bersandar di ranjang. Melihat kehadiran suaminya, buru-buru menyembunyikan tangannya yang terluka di balik selimut tebal.
“Apa yang terjadi? Kenapa tidak bercerita padaku?” tanya Pram, ketika sudah duduk di hadapan istrinya. Hilang sudah lapar dan nafsu makannya. Semua pikirannya tertuju pada Kailla.
Memaksa meraih tangan istrinya yang sengaja disembunyikan. Terbayang betapa perih dan sakitnya terkena minyak panas. Tubuh Pram melemas, saat melihat sendiri bagaimana kondisi tangan istrinya dengan beberapa lepuhan dengan kantong air kecil-kecil di sana.
“Kita ke dokter sekarang,” pinta Pram, panik melihat luka melepuh dengan kulit memerah di tangan istrinya.
“Aku tidak mau,” tolak Kailla. Berusaha menahan bulir air mata yang siap jatuh. Kailla bersuara juga pada akhirnya.
“Maafkan aku,” ucap Pram dengan suara bergetar, langsung memeluk. Penyesalannya tidak membawa serta asistennya dan membiarkan Kailla masuk ke dapur tanpa didampingi Ibu Sari atau Ibu Ida seperti biasanya.
“Mulai saat ini, tidak perlu belajar memasak lagi. Aku tidak butuh kamu harus bisa memasak, cukup hanya menceplok telur saja,” lanjut Pram.
“Selama ini, aku memintamu melakukan itu hanya untuk mengenalkan padamu apa saja tanggung jawabmu sebagai istri, ketrampilan yang seharusnya dimiliki seorang wanita, terlepas enak atau tidaknya. Aku bukan memintamu memasak untukku atau pintar memasak.”
“Aku masih sanggup membayar asisten rumah tangga, bahkan koki bintang lima sekalipun, memasak untuk kita,” jelas Pram.
Kalimat demi kalimat meluncur dari bibir Pram. “Pasti sakit sekali,” ucap Pram, melepaskan perlahan pelukannya dan mengusap lembut tangan yang terluka itu.
“Kamu sudah mengobatinya?” tanya Pram, mengernyit membayangkan sakit yang harus ditanggung Kailla.
Kailla mengangguk.
“Mau menangis di pundakku?” tawar Pram, tersenyum.
Lama Kailla terdiam, sampai akhirnya dia mengalungkan kedua tangannyandi leher Pram. Merebahkan kepalanya di pundah suaminya sembari menangis hebat. “Maafkan aku,” bisiknya pelan di sela isaknya.
“Pasti semalam kamu merasakan sakit yang sama, saat aku menyirammu dengan air panas,” lanjut Kailla lagi. Kembali terisak, mengingat kesalahannya. Dia menangisi kesalahannya, bukan luka dan sakit karena tersiram air panasnya.
Sejak awal dia menyesal sudah melakukannya pada Pram. Tetapi penyesalannya semakin menjadi saat dia bisa merasakan sendiri betapa sakitnya ketika panas itu menyentuh kulit. Dan dia sengaja melakukannya pada sang suami. Hanya karena kemarahannya.
“Jangan menangis lagi, aku tidak apa-apa. Ceritakan padaku apa yang terjadi?” tanya Pram.
“Suamimu harus tahu bagaimana bisa terjadi,” pinta Pram, menghapus airmata yang membasahi wajah istrinya.
Kalimat demi kalimat meluncur dari bibir Kailla, menceritakan kronologis kecelakaan kecil yang menimpanya. Pram tidak sanggup mendengarnya sampai selesai. Lelaki itu sudah memotong cerita istrinya sembari menahan amarah. Entah siapa yang akan disemprotnya duluan antara Bayu dan mamanya.
“Sayang, nanti saja lanjutkan ceritamu,” pinta Pram, saat sudah mengetahui garis besar ceritanya. Susah payah dia menutupi kekesalan dan kemarahannya. Dia butuh pelampiasan kali ini.
“Pieter mengirim makan malam untuk kita. Aku sengaja memintanya memesan steak kesukanmu. Aku akan mengambilkannya untukmu,” ucap Pram, beranjak pergi. Sebelumnya masih sempat melabuhkan kecupan beruntun di wajah istrinya yang berakhir dengan ciuman hangat di bibir.
“Bay!! Ikut aku!!” perintah Pram. Lelaki itu sudah berdiri di depan meja makan, dengan mata memerah sembari mengepalkan tangan. Dengan langkah kasar berjalan ke ruangan yang dulunya dijadikan ruang kerja dan sekarang ditempati Bayu.
Plakk!!! Sebuah tamparan mendarat di pipi Bayu. Asisten itu tidak melawan, hanya berusaha bertahan.
“Sudah berapa lama kamu menjaga Kailla. Tidak tahukah kamu, aku tidak pernah melepasnya sendirian di dapur!” tanya Pram dengan suara penuh amarah.
“Kamu harusnya tahu, dia tidak paham sama sekali memasak. Selama ini dia hanya ke dapur untuk menyiapkan sarapanku atapun memasak mie instan. Sarapanku pun tidak jauh dari telur dan oatmeal.”
“Kalaupun sesekali, dia memasak sesuatu, pasti didampingi. Tidak pernah ditinggal sendiri. Ada Ibu atau Ibu Sari yang mendampinginya,” lanjut Pram. Semakin banyak bicara, dia semakin kesal sendiri.
“Bukankah kamu tahu Bay!” omel Pram.
“Apalagi disuruh menggoreng ikan,” dengus Pram.
Ya Tuhan, Bay. Seumur-umur, aku yakin baru kali ini dia melakukannya. Selama ini harusnya kamu tahu kan, Kailla tidak akan mau mendekat di saat asisten di rumah menggoreng ikan,” lanjut Pram lagi, meremas rambutnya sendiri karena kesal.
Kali ini dia harus meluruskannya pada sang mama. Yang mungkin menganggap istrinya Kinar, bisa disuruh memasak apa saja.
***
To be continued
Love You all
Terima kasih.