Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 115 : Aku mencintaimu


Pram duduk dalam kecemasan di depan ruang ICU. Bukan pengalaman baru untuknya, tetapi kali ini bukan Riadi yang terbaring di dalam sana, melainkan mamanya sendiri.


Dia baru saja bisa bernafas lega, setelah hampir satu jam menahan nafasnya saat sang mama yang sedang berjuang antara hidup dan matinya dipindahkan dari rumah sakit yang lama ke rumah sakit yang baru.


Kecemasan lelaki itu teralihkan saat suara manja Kailla yang tiba-tiba terdengar begitu dekat dengannya. Istrinya berlari menghambur ke arahnya masih dengan toganya.


“Sayang..,” panggil Kailla dengan wajah sembab dan bola mata memerah. Dia langsung menjatuhkan tubuhnya tepat di sisi Pram, bersandar manja di pundak suaminya tanpa permisi, kembali terisak hebat.


“Siapa yang mengantarmu?” tanya Pram, berusaha tersenyum di tengah kegalauan hatinya. Ikut merengkuh tubuh Kailla, yang dia tahu jelas sedang memendam kecewa karena ketidakhadiran dirinya di hari terpentingnya.


“Sam..” Kailla menjawab lirih.


“Maafkan aku. Aku sudah melewatkan hari terpentingmu,” bisik Pram, menarik tubuh Kailla ke dalam pelukannya.


Dengan memeluk Kailla, dia bisa menguatkan perasaan istrinya yang sedang terluka, sekaligus menguatkan hatinya yang sedang gundah gulana memikirkan keadaan mamanya.


“Selamat! Istriku sudah menjadi sarjana sekarang, “ ucap Pram, mengecup kening Kailla dengan penuh perasaan. Ada dua bulir bening terjatuh dari kedua bola mata Pram. Air mata yang dia sendiri sulit untuk mengartikannya.


“Mama kenapa?” tanya Kailla, menatap ke arah suaminya yang tiba-tiba mengeluarkan air mata. Tangan lentik itu membantu mengusap air mata lelakinya.


“Mama pasti baik-baik saja,” ucap Kailla lagi, memeluk erat pinggang Pram. Berusaha menguatkan suaminya di tengah perasaan kecewa yang berusaha disembunyikannya.


Kalau boleh jujur, saat ini Kailla sangat kecewa. Pram, satu-satunya keluarganya, tidak bisa hadir di acara wisudanya. Namun, dia cukup mengerti dengan masalah dan perasaan Pram saat ini.


Dia juga pernah berada di posisi suaminya. Dia tahu bagaimana kecemasan dan ketakutan Pram saat ini. Untuk itulah, Kailla hanya bisa memendam kecewanya sendiri.


Andaikan dia di posisi Pram, dia juga akan melakukan hal yang sama. Dia pasti akan memilih orang tuanya. Kekecewaannya pada Pram, tidak sebesar kecewanya pada nasib dan takdir kehidupannya.


Rasanya tidak adil menyalahkan suaminya, disaat ada yang lebih pantas disalahkan, yaitu pemilik kehidupan, yang sudah merancang skenario begitu menyedihkan untuk hidupnya.


“Kamu sudah makan?” tanya Kailla, melihat wajah Pram yang suntuk, bahkan berantakan.


“Aku tidak lapar,” sahut Pram, menggelengkan kepala.


“Aku lapar, aku mau makan,” pinta Kailla, merengek seperti biasa. Dia yakin suaminya belum makan sejak pagi. Dia mengenal baik suaminya itu.


Ucapan Kailla sontak membuat Pram menoleh. Memaksa tersenyum, dan memerintahkan Bayu untuk mengantar Kailla mencari makan.


“Aku makan disini saja, Bay. Tolong pesankan untukku nasi campur,” pinta Kailla pada asisten suaminya itu.


Kinar yang duduk tidak jauh dari sepasang suami istri itu hanya bisa menatap dalam diam. Tidak berani mendekat, ataupun berkomentar. Saat ini semua orang dalam kondisi lelah dan tegang. Dia tidak mau memicu keadaan menjadi semakin buruk dengan kehadirannya yang mungkin akan menganggu Pram dan Kailla.


***


"Buka mulutmu, Sayang," pinta Kailla, menyodorkan sesuap nasi ke dalam mulut suaminya.


Kailla sedang menyuapkan nasi campur ke dalam mulut suaminya, saat seorang dokter keluar dari ruang ICU setelah melakukan pemeriksaan pada mama mertuanya. Seutas senyum tipis terlihat di bibir lelaki gempal dengan seragam dokternya.


“Akhirnya, kondisi pasien mulai stabil. Kami akan terus memantaunya. Kalau memang keadaan terus membaik, besok kemungkinan sudah bisa dipindahkan ke kamar perawatan,” jelas dokter yang diperkirakan umurnya sudah melebihi setengah abad.


Pram bisa bernafas lega. Beban yang sejak tadi menumpuk di tubuh lelahnya, sekarang seperti terangkat.


“Apa pasien sudah bisa dijenguk, dok?” tanya Pram lagi. Sudah tidak sabaran ingin melihat kondisi sang mama.


“Mungkin besok. Untuk saat ini pasien juga belum sepenuhnya sadar. Masih dalam pengaruh obat. Kami juga akan terus memantau sampai 24 jam ke depan.”


Kalimat terakhir sang dokter sanggup membuat Pram tersenyum lega. Meraih tubuh Kailla dan mendekapnya dengan erat.


“Terimakasih, Sayang,” bisik Pram, di sela pelukannya. Entah terimakasih untuk apa, tetapi perasaannya lega.


***


Keesokan harinya.


Kondisi Ibu Citra yang mulai membaik, membuat Pram yang seharian kemarin menunggu di rumah sakit, bisa meninggalkan mamanya bersama Kinar. Lelaki itu sudah mulai berkantor kembali. Ada beberapa pekerjaannya yang masih tertunda. Dan dia juga harus menyelesaikannya.


Pagi-pagi sekali dia sudah meninggalkan kediamannya untuk mengunjungi sang mama. Bahkan dia tidak sempat berpamitan dengan Kailla yang masih bergelung nyaman di balik selimut hangatnya.


Dari rumah sakit, dia langsung menemui pengacaranya. Urusannya kemarin belum selesai semua. Masih ada beberapa hal yang harus dipersiapkannya.


Siang itu, Pram tampak duduk melamun di meja kerjanya. Bahkan lelaki itu melewatkan jam makan siangnya. Nafsu makannya tiba-tiba menghilang.


Saat ini Pram memilih menikmati kesendiriannya, mengulang kembali kisah demi kisah, perjalanan rumah tangganya selama empat tahun bersama Kailla.


Ada bahagia, ada luka. Ada senyuman, ada air mata. Ada suka dan tentunya ada duka. Semua berjalan sempurna di jalurnya. Sampai akhirnya, empat bulan terakhir ini, Pram menghadapi kenyataan, menerima ketakutan yang selama ini coba disembunyikannya.


“Kailla tidak mencintainya.”


Untaian kata itu, selama seratus dua puluh hari ini terus bermain di otaknya, menari di pikirannya. Dia memiliki raga istrinya, tetapi tidak untuk hatinya. Dia sudah berusaha mengapai hati terdalam istrinya, tetapi semua terasa sulit. Kailla tetaplah Kailla. Hati anak nakal itu terjamah olehnya.


Cintanya, kesabarannya, pengertiannya selama ini ternyata belumlah cukup. Pada akhirnya Pram harus mengakui kekalahannya. Pram harus menerima kenyataannya.


Bulir-bulir air mata itu terjatuh kembali. Entah kenapa, akhir-akhir ini dia menjadi lelaki cengeng dan gampang berurai air mata. Tangannya sudah meraih laci di meja kerjanya. Mengeluarkan map hitam berisi berkas-berkas yang diterimanya tadi dari pengacara pribadinya.


Sembari meletakan kembali map hitam itu ke dalam laci, Pram menghubungi Stella, sang sekretaris.


“Ste, kosongkan semua jadwalku hari ini. Kalau ada yang mendesak, minta David menanganinya untukku.”


Perintah terakhir Pram pada sekretarisnya. Tidak lama, lelaki itu sudah keluar dengan jas tersampir di lengannya sembari mengenggam map hitam di tangannya yang lainnya.


Sampai di mobil hitamnya, Pram terlihat duduk di kursi belakang. Bersandar sembari memejamkan matanya. Berusaha membuang jauh-jauh lelahnya.


“Bay, kita ke makam mama Kailla. Setelahnya antar aku ke rumah sakit!” perintah Pram. Lelaki itu terlihat mengurut pelipisnya, berusaha menghilangkan rasa nyeri yang menyerang kepalanya tiba-tiba.


“Ke tempat Ibu Citra?” tanya Bayu memastikan.


“Ke tempat Riadi,” sahut Pram singkat.


***


Malam itu, sama seperti malam biasanya, Pram pulang ke rumah menjelang pukul sembilan malam. Berendam sebentar untuk merenggangkan otot-ototnya. Tidak sampai setengah jam, lelaki itu sudah keluar dengan bathrobe membungkus tubuh telanjangnya.


Senyum nakal terukir di bibir, kala mendapati istrinya yang tertidur dengan pose menantang. Hubungan mereka membaik dengan masing-masing pihak memilih berdamai dan tidak memperpanjang urusan.


Pram sudah merangsek naik ke atas tempat tidur. Mengusap lembut paha mulus Kailla yang tersingkap sempurna. Gaun tidur tipis berbahan satin itu tidak sanggup menutupi tubuh istrinya, tetapi yang terjadi sebaliknya. Berantakan, tersingkap dimana-mana. Bahkan Pram bisa melihat jelas gundukan kembar yang terlihat jauh membesar akhir-akhir ini. Menyesak dan menyembul keluar dari gaun tidurnya.


“Kailla, kamu benar-benar menguji suamimu. Lagi-lagi kamu tidak mengenakan pakaian dalam,” bisik Pram berusaha menahan hasratnya yang membuncah.


Dengan satu tarikan, Pram memilih sensasi yang sedikit berbeda dengan sebelumnya. Kedua tangan kekar itu meraih ujung gaun tidur Kailla, menariknya ke arah yang berlawanan. Dalam sekejap suara robekan gaun, membangunkan si putri tidur.


“Ada apa?” tanya Kailla dengan suara seraknya. Belum menyadari kalau Pram sudah merobek benteng pertahanannya yang terakhir. Bahkan suaminya itu sudah berhasil menelanjanginya.


“Aku menginginnkanmu malam ini,” bisik Pram lembut, menyusuri lekuk wajah Kailla dengan ujung telunjuknya. Jemari itu bermain-main, melukis pelan di kulit tubuh telanjang Kailla. Memberi sensasi geli dan membangkitkan gairah yang tertidur.


“Aahhhh...” desah Kailla, mengelinjang penuh kepasrahan, saat jemari Pram memilin indah puncak gunung istrinya.


Desahan kedua Kailla menyusul, kala tangan Pram yang lain melakukan hal serupa. Namun, kali ini Pram membungkamkan bibir Kailla, tidak ingin desahan demi desahan Kailla membuatnya terlalu cepat terbang ke awan.


Jemari lentik Kailla sudah meremas kasar sprei katun bermotif daun monstera. Menjadikannya semakin berantakan bak sisa perang dunia. Dengan kedua kaki tertekuk menahan sensasi luar biasa yang Pram sodorkan padanya. Suaminya benar-benar membuatnya menggila malam ini.


Berbeda dengan malam-malam sebelumnya, Pram terlihat sangat profesional dan penuh totalitas malam ini. Mengabsen setiap jengkal tubuh menawan istrinya, tanpa tersisa. Mengecup setiap bagian tubuh polos memabukan bagai candu, tanpa ada yang terlewati.


“Sayang..” panggil Kailla mendesah hebat, sembari meremas kasar rambut bergelombang suaminya.


Pram sedang memberi kecupan menyeluruh di setiap inchi tubuh Kailla.. Memberi tanda kepemilikan memerah, nyaris merata. Leher jenjang putih mulus itu sudah dikuasi Pram sepenuhnya, saat ini lelaki itu melakukan ekpansi ke wilayah lainnya.


“Aaahhhh..!” desah Kailla pecah kembali saat gundukan kembar, salah satu keajaiban dunia yang tersisa itu mendapat giliran selanjutnya.


Menangkup dan meremas, sesekali mengecup basah dan menggigit kecil di sana, membuat sang pemilik terpekik dan menari indah bak cacing kepanasan di atas tempat tidur.


Saat ini deru nafas keduanya memburu bagai langkah kuda yang sedang berlomba di pacuan. Saling bersahut-sahutan, saling menjawab. Pram naik ke atas, memandang wajah Kailla yang tersenyum penuh kepuasan sesaat setelah pelepasan pertamanya.


Raut manja dengan bibir merah merona mengusik pikiran Pram. Dengan beringas, mel”umat dan menguasai bibir mungil istrinya, membungkam desah yang timbul tenggelam seiring hasrat yang sudh diubun-ubun.


Pram membuat Kailla menggila malam ini. Pram menjadikannya ratu malam ini. Pram melayaninya dengan penuh perasaan. Setelah bermenit-menit Pram membawa istrinya melayang ke udara, terbang menuju awan, mengitari angkasa. Di menit selanjutnya, Pram mengecup lembut bibit istrinya sembari tersenyum penuh ketulusan.


“Aku berharap kamu mengingat malam ini,” bisik Pram lembut di telinga Kailla, sebelum melakukan penyatuan indah di bawah sana.


“Aku mencintaimu, Kai. Sangat mencintaimu. Apapun akan aku lakukan, asal bisa membuat bibir mungil istriku selalu tersenyum. Apapun akan aku lakukan, asal bisa membuat mata indah istriku berhenti menangis,” bisik Pram, sebelum melakukan hentakan demi hentakan penuh cinta pada penyatuan indah mereka.


Tangan Pram mengelus lembut rambut panjang istrinya yang berantakan, dengan bibir yang terus berbisik cinta di telinga Kailla.


“Aku mencintaimu..”


“Aku mencintaimu..”


“Aku mencintaimu..”


Puluhan mungkin ratusan kali, bibir Pram tidak pernah lelah mengucapkan kalimat yang sama, mengiringi hentakan yang akan mengantar mereka ke surga, menyurusi nirwana terindah.


“Aku mencintaimu, Kailla.. Riadi.. Dirgantara,” ucap Pram disela erangan dan desahan Kailla saat mereka mencapai puncak terindah bersama. Masih dengan nafas tersengal hebat. Pram memohon.


“Katakan kamu mencintaiku, sekali saja, Sayang,” pinta Pram memohon. Saat tubuhnya tertelungkup kelelahan menindih tubuh istrinya.


“Aku mencintaimu,” bisik Kailla pelan.


Tubuh kekar itu berguncang hebat, bergetar menahan tangisnya. “Terimakasih, istriku Kailla Riadi Dirgantara,” ucap Pram, segera bangkit. Duduk di sisi ranjang, dengan wajah tertunduk.


Airmatanya tumpah, tangisnya pecah saat itu juga. Hampir sepuluh menit, lelaki itu terdiam disana membuat Kailla kebingungan. Masih dengan tubuh polosnya, Kailla memeluk punggung kekar berkeringat pram dari belakang


“Sayang, kamu kenapa?” tanya Kailla heran.


“Maafkan aku,” ucap Pram. Suaranya bergetar penuh penyesalan.


“Aku merasa gagal menjadi suamimu. Aku tidak bisa membahagiakanmu,” ucap Pram lagi.


Lelaki itu berjalan menuju walk in closet, mengambil kaos tidurnya dan gaun tidur Kailla. Setelah berganti pakaian, dia mengandeng tangan Kailla yang masih tidak paham apa yang sudah terjadi.


Pram membawa Kailla masuk ke ruang kerjanya. Istrinya masih mematung tidak mengerti. Namun, Kailla mencium sesuatu yang tidak beres. Di ruangan itu ada koper kecil milik suaminya yang berdiri di dekat meja kerja.


“Tanda tangan disini, Sayang. Silahkan mengugat cerai suamimu,” ucap Pram, mengeluarkan selembar kertas yang sudah terukir tulisan dan tertempel materai di dalamnya. Tampak Pram meletakannya di atas meja, disusul sebuah pena berlapis emas menindih disana.


Deg—


Seperti petir yang tiba-tiba menyambar di tengah keheningan. Tanpa hujan, tanpa angin, tanpa tanda-tanda apapun. Kailla masih berusaha mencerna apa yang ingin disampaikan suaminya.


“Apa ini, Sayang?” tanya Kailla, memastikan. Padahal dia sudah mendengar jelas, tetapi dia tidak siap untuk kenyataan yang disodorkan Pram di depan matanya.


“Aku gagal menjadi suamimu. Aku hanya bisa membuatmu menangis. Aku tidak bisa membahagiakanmu,” ucap Pram, penuh sesal dan rasa bersalah.


“Aku tidak mau menjadi egois karena cintaku yang begitu besar untukmu. Aku ingin kamu juga bahagia, meski bukan denganku. Mungkin ada orang lain yang akan membahagiakanmu,” jelas Pram dengan suara terbata.


“Aku tidak mau berpisah denganmu,” tolak Kailla.


“Kamu hanya belum terbiasa. Kamu terlalu nyaman dengan kehadiranku, sampai kamu tidak bisa menyadari perasaanmu sendiri.”


“Kalau aku melepasmu, kamu bisa mengejar cinta sejatimu,” lanjut Pram.


Kailla kembali menggeleng. Air matanya tumpah seketika, bibirnya membisu tidak sanggup bersuara. Dia tidak pernah membayangkan ada hari ini.


“Ini salah satu bukti cintaku padamu. Silahkan menyambut kebebasanmu. Kamu bebas mencintai lelaki manapun tanpa rasa bersalah dan berdosa karena terikat hubungan denganku.”


“Kamu bisa menjalin hubungan yang baru, tanpa menjatuhkan harga dirimu karena dianggap berselingkuh dariku,” jelas Pram lagi.


“Aku boleh hancur, aku boleh terluka, tetapi aku tidak mau kamu dianggap murahan dan bersalah karena mengejar cintamu disaat masih berstatus istriku. Aku sudah pernah mengatakannya padamu, jangan berselingkuh. Cukup katakan padaku, aku akan melepasmu dengan ikhlas meskipun berat.”


“Aku tidak mau,” tolak Kailla, berurai air mata.


Terlihat Pram mengeluarkan selembar kertas yang lainnya. Kailla bisa melihat isi map, ada buku nikahnya dan Pram di dalam sana.


“Kalau kamu tidak mau melakukannya, aku yang akan menggugat ceraimu," ucap Pram, langsung membubuhkan tandatangannya di atas materai.


“Aku tidak mau bercerai denganmu. Sayang, jangan lakukan ini,” pinta Kailla memohon.


Pram bergeming, menyimpan kembali berkas yang baru saja di tandatanganinya. Terlihat dia mengeluarkan map lain dari laci meja kerjanya.


“Rumah ini, semua mobil, dan beberapa unit apartemen berikut tabungan dan deposito sudah aku alihkan atas namamu. Izinkan aku menempati apartemenku yang lama, dan membawa mobil yang biasa aku pakai ke kantor. Yang lainnya akan menjadi milikmu,” jelas Pram.


“Semua kebutuhanmu, semua biaya di rumah ini, termasuk gaji para asisten, aku akan tetap menanggungnya sampai kamu menikah lagi.”


“Sayang, aku tidak mau berpisah denganmu,” pinta Kailla, kali ini dia menghambur memeluk suaminya. Menangis tersedu di pelukan Pram.


“Hei, Anak nakal! Jangan menangis. Hubungan kita tetap ada. Ini semua hanya memutuskan status suami istri kita. Aku tetap akan menjagamu sampai kamu menemukan lelaki yang tepat,” jelas Pram dengan suara bergetar, menahan kesedihannya sendiri. Tangannya sedang mengusap lembut punggung Kailla.


“Aku tidak mau, Sayang. Aku mau kita tetap seperti biasanya,” pinta Kailla dengan manja.


“Tidurlah, aku harus pergi sekarang,” ucap Pram melepaskan pelukannya. Airmata yang sejak tadi berusaha ditahannya akhirnya lolos sudah. Mengalir di pipinya tanpa terbendung.


Setelah menyimpan semua map ke dalam tempatnya. Pram hanya membawa surat gugatan dan persyaratannya yang akan diserahkan kepada pengacaranya. Lelaki itu, terlihat meraih kopernya. Bersiap menyeret benda persegi itu keluar.


Tepat saat akan meraih gagang pintu. Pram berbalik.


“Besok David akan memberitahumu dimana surat-surat penting disimpan dan kode brangkas,” jelas Pram, menatap Kailla yang masih menangis hebat di tempatnya berdiri.


“Aku tidak rela, Sayang. Cium aku untuk yang terakhir kalinya,” pinta Pram, merentangkan tangan siap menyambut Kailla.


***


To be continued


Love you all


Terima kasih.