
“PRAM!!!”
Teriakan yang kedua, lebih kencang dan membahana. Suara Ibu Citra terdengar sampai ke ruang makan. Bayu hendak menyeruput kopi panasnya, seketika kopi itu tumpah mengenai tangannya.
“Aw!!! Sssshhh.. panas!”
Teriakan Ibu Citra yang tidak kira-kira, membuat Bayu terkejut. Habis sudah sisa kopi di dalam cangkir.
“Ada apa lagi ini?” ucapnya pelan, menahan kesal. Bergegas menghampiri, khawatir mama majikannya itu terjatuh atau terkejut lagi seperti kemarin. Apalagi Pram dan Kailla sedang menghilang entah kemana.
“Ada.. a..pa..” Bayu mengantungkan kalimatnya saat sudah berdiri tepat di samping Ibu Citra yang tengah mematung di depan pintu kamar yang terbuka.
Tidak sanggup menyaksikan pemandangan di depan mata. Bayu berbalik. “Aku kembali ke dapur, Bu.”
“Harus mandi kembang tujuh rupa dikerjain Ibu Citra,” gumam Bayu kesal, melangkah gontai. Merutuki nasibnya sendiri yang begini apes. Pagi pertamanya di Wina, dipaksa menonton adegan tidak layak tayang.
Pram yang terbangun dikejutkan dengan suara teriakan kencang, langsung panik saat pintu kamar terbuka dengan Ibu Citra berdiri di tengahnya.
“Sayang, bangun. Ada mama,” panggilnya pada sang istri yang belum sepenuhnya sadar.
“Ma! Tidak bisakah mengetuk pintu terlebih dulu.” Pram mengomel, masih dengan berbagi selimut dengan istrinya.
“Setelah selesai, temui aku di luar!”
Ibu Citra menarik kembali daun pintu. Memberi waktu untuk putra dan menantunya berganti pakaian.
Tidak membutuhkan waktu lama, keduanya sudah keluar dari kamar. Kailla yang tertunduk malu dan Pram yang menahan amarahnya.
“Ada apa meneriakiku?” tanya Pram, sembari melipat lengan kaos panjangnya sampai sebatas siku.
“Mama yang seharusnya mengomel. Tidak puas mengacak-acak kamar tidur kalian, sekarang berganti mengacak kamar tidurku,” omel Ibu Citra kesal. Melangkah masuk ke kamarnya, membiarkan putra dan menantunya mematung di tempatnya berdiri.
Belum sempat keduanya melangkah pergi, Ibu Citra sudah kembali lagi dengan perintah baru pada menantunya.
“Kai, siapkan mama sarapan ya,” pinta dengan nada penuh kelembutan. Menyunggingkan senyuman ramah, berbeda dengan sebelumnya.
Blammm! Pintu kamar itu tertutup.
“Ini karenamu. Harusnya kamu tidak membawa mama bersama kita. Dua kali aku dipermalukan. Setelah ini, aku tidak mau lagi melayanimu. Memalukan!” omel Kailla, kesal. Segera menuju ke dapur, menyiapkan sarapan pagi permintaan sang mertua.
“Kai, jangan marah lagi. Aku tidak tahu mama begitu menyebalkan. Kalau tahu begini, aku tidak mungkin membawanya sampai ke sini.”
“Aku lebih tersiksa, Sayang. Kamu tidak tahu sepanjang malam hanya bisa menatapmu dari kejauhan,” ucap Pram, dengan wajah memelas, memohon ampunan.
Kailla bergeming, masih tetap dengan wajah cemberutnya.
Begitu keduanya menginjakan kaki ke dapur, mereka sudah disambut Bayu yang tersenyum malu-malu. Melihat ekspresi Bayu, Kailla yakin lelaki itu juga mengetahui jelas kejadian memalukan yang baru saja menimpanya.
“Kamu lihat itu. Bayu sedang menertawaiku,” dengus Kailla semakin kesal. Berbalik, menatap sinis pada Pram yang mengekor di belakangnya.
“Kai, jangan marah lagi ya. Aku akan membantumu menyiapkan sarapan,” pinta Pram. Memberi kode dengan ujung matanya, meminta sang asisten menyingkir. Dia butuh ruang pribadi untuk merayu Kailla yang sedang kesal.
“Kamu mau membuat sarapan apa hari ini?” tanya Pram, memeluk pinggang Kailla dari belakang, dia harus total kali ini. Ancaman Kailla barusan tidaklah main-main. Kalau sampai istrinya itu tidak mau lagi bermain bola dengannya. Misi mereka ke Austria terancam gagal total.
“Tidak perlu merayuku! Aku sedang kesal padamu,” ucap Kailla.
Dia sudah mengeluarkan talenan dan pisau dapur, bersiap mengiri sayuran untuk membuat nasi goreng.
“Jangan marah lagi,” bujuk Pram, melirik ke arah celemek yang tergantung di dekat lemari. Kemarahan dan kekesalan membuat Kailla melupakan benda penting itu.
“Kamu melupakannya,” bisik Pram, mengecup pipi Kailla sekilas. Kemudian membantu memasangkan celemek itu ke tubuh istrinya.
Kailla masih saja kesal, memotong sayuran pun dengan emosi tertahan. Beberapa kali dia menyikut perut Pram yang masih saja betah memeluk pinggangnya.
Saat mulai menumis tiba-tiba terdengar suara dehaman keras di belakang mereka.
“Mama jangan terlalu banyak protes. Kalau tidak mau aku pulangkan ke Indonesia,” sahut Pram. Kesal dengan ucapan mamanya yang selalu protes. Tidak boleh ini, tidak boleh itu. Membuat kepalanya pusing saja.
Ibu Citra menatap lekat pada pergerakan menantunya. “Kamu memasak apa, Kai?” tanyanya.
“Aku memasak nasi goreng, Ma,” sahut Kailla. Tetap fokus dengan kegiatan menumis sayuran untuk bahan campuran nasi goreng.
“Oh ya, Ma. Ini dimasukan semua begitu saja kan?” tanya Kailla. Sedikit bingung step-step menumis nasi goreng yang baik dan benar.
“Iya, seperti itu,” sahut Ibu Citra. Dia sendiri bingung. Kalau boleh jujur dia tidak bisa masak sama sekali. Sejak muda dia tidak pernah masuk ke dapur, semuanya diurus pembantu.
Setelah dia dirawat di rumah sakit jiwa sampai tinggal di panti sosial, ada yang mengurus makannya. Dan selebihnya Kinar yang memasak untuknya.
Pram masih saja merayu. Berdiri di dekat kompor, sedang mengagumi istrinya yang terlihat berbeda pagi ini. Dia jarang bisa melihat penampilan Kailla ketika sedang memasak.
“Kai, kamu cantik dengan celemek,” puji Pram mengedipkan matanya.
“Tidak perlu merayuku. Aku tahu apa maumu!” dengus Kailla. Tangannya sudah mulai lincah dan cekatan mengaduk-aduk isi kuali.
Kailla sudah memasukan semua bahan, memasukan semua bumbu dan memastikan nasi gorengnya matang.
“Ma..”
Tiba-tiba Kailla mengisi sesendok nasi goreng yang sudah matang, meniupnya perlahan dan menyodorkannya ke mulut mertuanya.
“Tolong cobain, Ma,” pinta Kailla.
Ibu Citra yang sedang dalam posisi terdesak, terpaksa membuka mulut, apalagi ada putranya yang sedang berdiri di antara mereka.
“Rasanya kurang apa, Ma,” tanya Kailla, menyeringai licik. Sejak tadi dia sudah berpikir keras. Bagaimana bisa lepas dari beban ini. Dia tidak mau sampai masakannya mendapat respon tidak baik dari mertuanya. Untuk itu dia tidak mau mengambil resiko.
Memberi kesempatan Ibu Citra memberi rasa pada nasi gorengnya yang masih acak adur karena ini adalah percobaan pertamanya. Ini adalah jalan satu-satunya terhindar dari respon tidak mengenakan orang-orang ketika makan nasi goreng buatannya.
“Bagaimana Ma?” tanya Kailla.
“Aku harus menambah bumbu apa lagi?” tanya Kailla, setelah melihat mertuanya diam dan tidak berkomentar.
Ibu Citra masih menguyah nasi goreng yang tidak ada rasanya sama sekali. Ingin protes tetapi tidak tahu harus menambah apa setelah ini, gulakah, garamkah atau kecapkah. Dia bingung sendiri. Takutnya instruksinya malah menyesatkan dan membuka kedok yang selama ini ditutupinya terbongkar. Selain Kinar, tidak ada yang tahu kalau dia tidak bisa dan tidak pernah memasak di rumah.
“Bagaimana Ma? Apa yang kurang. Aku mengikuti selera mama saja,” lanjut Kailla lagi, menunggu instruksi mertuanya.
“Ini rasanya sudah pas, Ma?” tanya Kailla setengah memaksa.
“Mama rasa sudah pas,” ucapnya pelan, melirik Pram yang sedang tersenyum. Akhirnya ibu Citra terpaksa menjawab.
Dengan bersandar di meja island, Pram tersenyum bahagia menatap mamanya dan Kailla bergantian.
Jujur, saat ini Pram sangat terharu. Bisa menyaksikan kekompakan istri dan mamanya. Dimana mamanya sedang mengajarkan istrinya memasak. Kalau lebih lama lagi Kailla dan mamanya bersama, pasti istrinya itu semakin mahir memasak.
Kinar adalah contohnya. Belasan tahun tinggal dengan mamanya membuat Kinar mahir memasak berbagai macam menu yang enak-enak.
***
Ketiganya sudah duduk di meja makan, minus Bayu. Lelaki itu memilih makan di restoran yang terletak di bawah apartemen. Bayu sudah berpengalaman, dia tidak mau merusak cita rasa lidahnya dengan memakan masakan Kailla.
Cukup Pram dan Sam saja. Dia tidak sanggup berkorban sebesar itu hanya untuk menghabiskan masakan Kailla tanpa protes.
To be continued
Love You all
Terimakasih,