
Deru mobil Pram masuk ke pekarangan rumah Ibu Citra. Memekik, meraung memecah keheningan malam. Saat tiba disana, waktu sudah hampir mengarah tengah malam. Mobil Pram sempat terjebak macet di salah satu ruas jalan, karena kecelakaan lalu lintas.
Dengan wajah lusuh, pakaian berantakan, menyeret kaki letihnya menapaki teras rumah minimalis dua lantai itu. Tangan kiri menenteng jas hitam dan tangan kanan menggedor pintu utama. Bunyi bel sudah tidak mungkin sanggup memanggil tuan rumah yang terlelap dibuai mimpi.
Setelah hampir lima menit mengetuk, Pram merogoh ponsel di saku celana. Jalan satu-satunya menghubungi sang mama, demikian yang Pram lakukan. Seharian mencari Kailla, dia lupa makan, lupa pekerjaannya. Bahkan sekarang di luaran sana ratusan orang-orangnya masih sibuk menyusuri jalanan Jakarta untuk menemukan sang istri.
Setelah menghubungi Ibu Citra, tak lama bunyi pintu rumah terbuka. Wajah mengantuk Kinar langsung segar kembali saat melihat Pram dengan tampilan berantakannya.
“Mas,” sapanya. Tetap lembut seperti biasa, seolah tidak pernah terjadi apa-apa pada hubungan keduanya.
Tangan itu baru saja akan mengambil alih jas hitam, tetapi Pram menolaknya. Menerobos masuk tanpa menyapa, menuju kamar Ibu Citra.
Sebelum membuka pintu kamar mamanya, Pram berbalik menatap Kinar.
“Aku akan tidur dengan Mama malam ini. Kamu bisa tidur di kamar yang lain,” perintah Pram mengoyang tangannya mengusir Kinar, kemudian membuka pintu dan melenggang masuk ke dalam kamar. Bukan tanpa alasan, diantara beberapa kamar di rumah Ibu Citra, hanya kamar mamanya yang terpasang cctv. Ini imbas dari seringnya Ibu Citra yang tiba-tiba sakit mendadak, membuat Pram lebih berjaga-jaga.
Tentu saja bukan Kinar namanya kalau selalu menurut. Penasaran membuatnya menguping di balik pintu. Mencari tahu apa yang terjadi pada lelaki pujaannya yang terlihat kacau dan aneh malam ini.
“Ma, aku menginap disini malam ini,” cerita Pram, melempar jas hitamnya di sofa single, tidak jauh dari tempat tidur.
Melihat kedatangan Pram tengah malam buta saja, Ibu Citra tahu ada yang tidak beres. Apalagi ditambah dengan ucapan putranya barusan.
“Kamu bertengkar dengan Kailla?” tanya Ibu Citra menembak, masih dengan posisi duduk bersandar di ranjang.
“Kailla menghilang sejak tadi siang,” sahut Pram dengan lemas. Merebahkan tubuhnya, telentang di sisi ranjang yang kosong masih dengan sepatu pantofelnya. Kedua tangan bertekuk menahan kepalanya, dengan pandangan menerawang ke langit-langit.
“Kailla salah paham,” cicit Pram pelan, nyaris tidak terdengar.
“Salah paham juga tidak harus berpisah seperti ini. Ingat Pram, istrimu sedang hamil,” nasehat Ibu Citra.
“Cepat pulang, temani Kailla. Kasihan dia,” desak Ibu Citra,
Pram bergeming. Menutup mulutnya rapat-rapat. Dua bulir airmata jatuh melewati pelipisnya, dibiarkan begitu saja.
“Pram, cepat pulang! Wanita hamil memang emosinya naik turun. Biarkan saja, kamu yang harus mengalah,” jelas Ibu Citra.
“Kailla pergi,” ucapnya pelan. Tenggorokannya tercekat, tidak sanggup berucap.
“Bagaimana biasa?” Ibu Citra terperanjat. Langsung bergeser ke arah putranya, memukul tubuh Pram sekencang-kencang.
“Bangun!!”
“Cepat, bangun!!” ucap Ibu Citra penuh kemarahan. Menampar wajah Pram berulang kali.
“Ma..!” setelah merasa kesakitan dengan wajah memerah, menahan tangan mamanya yang hendak menampar kembali.
“Istrimu pergi. Kamu bisa tidur-tiduran disini. Suami macam apa kamu! Cepat cari Kailla!” omel Ibu Citra.
“Aku sudah mencarinya sepanjang hari. Semua tempat yang biasa dia kunjungi, rumah, apartemen, bandara, terminal, stasiun, bahkan aku sudah menghubungi semua teman-temannya.”
“Kailla belum ditemukan. Bahkan saat ini orang-orangku dan asistennya masih melakukan pencarian,” jelas Pram, dengan raut terluka.
“Dia tidak membawa apa-apa,” cicit Pram lagi,
“Dan aku yakin, kalau Kailla ingin bersembunyi dariku, dia tidak akan berani menggesek kartunya.”
“Apa dia sudah tidak di Jakarta?” tanya Ibu Citra.
“Tidak, Kailla masih di Jakarta. Dia sedang bersembunyi dariku. Kalau dia melangkah keluar, pasti akan tertangkap oleh orangku,” jelas Pram.
“Apa yang terjadi?” tanya Ibu Citra lagi, mulai penasaran dengan permasalahannya. Bergeser duduk di tempatnya semula, sipa mendengarkan cerita.
“Kailla mengira aku akan membalas dendam padanya,” cerita Pram.
Pram menggeleng. “Beberapa hari ini ada yang meneror istriku, bahkan dia tahu banyak mengenai masa lalu keluarga kita. Mungkin pesan-pesan si peneror itu juga membuatnya goyah saat mendengar ucapanku yang hanya pura-pura,” cerita Pram.
“Aku tidak serius. Aku hanya ingin membangunkan mertuaku. Aku tidak mau dia meninggal secepat ini. Bagaiamana Kailla, kalau sampai Riadi pergi,” lanjut Pram.
“Tadi siang aku dihubungi pihak rumah sakit, memintaku membuat keputusan. Mereka memintaku bersedia menandatangi surat persetujuan melepas alat-alat medis di tubuh Riadi. Artinya mama tahu sendiri kan. Dan aku yakin, Kailla tidak akan setuju,” cerita Pram.
“Setidaknya bukan sekarang. Kailla sedang hamil. Kalau sampai mertuaku pergi, Kailla akan hancur. Mama bayangkan bagaimana Kailla. Bukan hanya masalah itu, akan ada banyak kebenaran yang selama ini Riadi tutupi akan terbongkar seiring kepergiannya. Bagaimana Kailla aka menghadapi kenyataan demi kenyataan yang menyakitkan di tengah kehamilannya ,” jelas Pram, tidak bisa membayangkan hal terburuk yang akan menimpa Kailla kalau sampai tahu yang sebenarnya.
“Kira-kira, siapa yang meneror Kailla?” tanya Ibu Citra heran.
“Tidak banyak yang tahu seharusnya. Berita tentang keluarga kita, sebagian sudah dilenyapkan Riadi,” lanjut Ibu Citra.
“Aku tidak tahu,” ucap Pram, memejamkan matanya.
“Kamu sudah makan?” tanya Ibu Citra, menatap wajah kusam dan lesu putranya.
“Aku tidak lapar. Bagaimana aku bisa makan, disaat istri dan anak-anakku saja belum diketahui kabarnya,” sahut Pram.
“Aku mau tidur sebentar, setelah itu aku harus pergi lagi, Ma,” ucap Pram.
***
Pukul empat pagi, ponsel di saku celana Pram berdering. Masih dengan mengantuk lelaki itu menerima panggilan dari Bayu.
“Bagaimana Bay?” tanya Pram, segera bangkit duduk, berusah mengumpulkan kesadarannya.
“Belum ada kabar Bos,” lapor Bayu.
Pram harus menelan kecewanya kembali. “Kamu dimana sekarang?” tanya Pram berbisik, tidak mau suaranya membangunkan mamanya.
“Aku di rumah Riadi yang lama, bersama Sam dan Ricko,” cerita Bayu.
“Tunggu aku. Aku akan menyusul ke sana,” ucap Pram, memaksa tubuh lelah dan mengantuknya untuk bangkit.
Sebelum keluar dari kamarnya, Pram masih menatap mamanya yang terlelap. Ingin membangunkan dan berpamitan tetapi rasanya tidak tega.
“Ah, nanti aku kirim pesan saja,” bisik Pram, meraih jas yang tergeletak di atas sofa. Melangkah keluar kamar dengan mengendap-endap.
Begitu keluar dari kamarnya, dia dikejutkan dengan sosok Kinar. Kebetulan kamar tidur mamanya berhadapan dengan dapur dan ruang makan.
“Mas..,” sap Kinar seperti biasa. Meskipun sering diacuhkan bahkan dipermalukan Pram, perempuan itu tetap terlihat biasa saja.
“Aku sudah buatkan kopi,” ucap Kinar, meletakan secangkir kopi hitam yang masih mengepul ke atas meja makan. Tidak jauh dari cangkir kopi, terdapat sepotong roti sandwich siap makan, tertata di atas piring keramik.
“Terimakasih,” sahut Pram. Tadinya dia bermaksud melenggang keluar, tetapi aroma kopi buatan Kinar lumayan menggelitik perut dan lambungnya yang belum terisi apa pun sejak kemarin.
“Mas, mau aku siapkan air panas untuk mandi?” tanya Kinar, menatap Pram yang hanya berdiri menyesap kopi dan menikmati roti sandwich yang memang sudah disiapkan.
“Tidak, terimakasih,” sahut Pram, menyesap habis kopi di cangkir sampai tak bersisa, kemudian memasukan sisa potongan sandwich di tangannya memenuhi mulut.
“Aku ada urusan. Kalau mama bangun, tolong sampaikan pada mama,” pamit Pram, melangkah keluar menuju mobilnya. Dia harus segera mencari Kailla kembali. Tidak bisa membiarkan Kailla di luar sendirian.
Kinar masih dengan celemek yang menutup piyama tidurnya, hanya bisa menatap punggung Pram menghilang di balik pintu. Tidak bisa berbuat banyak. Pram tidak mengasarinya seperti pertemuan mereka yang terakhir saja, dia sudah cukup bersyukur.
***
To be continued
Love You all
Terimakasih.