Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 40 : Siapakah Dia?


Beberapa hari kemudian..


Sementara konflik Ibu dan anak sekaligus menantu itu mereda. Entah reda untuk selamanya atau sementara, hanya Tuhan yang tahu. Selama beberapa hari ini, semua terlihat baik-baik saja. Sesekali Ibu Citra masih menghubungi Pram, sekedar bertukar kabar, walau tidak sekalipun menyinggung nama menantunya.


Hubungan Bayu dan Kinar pun belum ada kelanjutan dan titik terang. Pihak Kinar belum memberi jawaban untuk lamaran dadakan Pram.


Pagi itu sama seperti minggu pagi biasanya di kediaman Reynaldi Pratama. Kedua asisten rumah tangga, Ibu Ida dan Ibu Sari sudah sibuk di dapur mewah, lengkap dengan celemek dan peralatan tempurnya. Tak beda jauh dengan tukang kebun, yang mulai bertugas sejak matahari masih malu-malu muncul di ufuk timur.


Keempat asisten, bisa sedikit santai karena majikannya tidak kuliah ataupun berangkat ke kantor. Bayu, Sam, Ricko dan Donny sudah duduk di pinggir dermaga menikmati semilir angin pagi ditemani kopi hitam lengkap dengan singkong goreng. Menggosipkan pembantu baru tetangga sebelah yang baru datang dari Majalengka, menambah deretan rebutan para securiti dan asisten komplek perumahan mewah di utara Jakarta itu.


Pasukan security pun sudah berganti shift, tampak berlari kecil setelah selesai apel pagi ala-ala lengkap dengan seragam dan pentungannya.


Yang terakhir sang Tuan dan Nyonya rumah, yang masih bergelung di balik selimut, saling memeluk. Berbagi kehangataan dan kenyamanan, seolah tidak terganggu dengan suara berisik dari luar rumah.


Pram, sang pemilik rumah, tampak mulai terganggu dengan bunyi alarm yang di setel istrinya. Suara nyaring yang menganggu tidur itu benar-benar membuat darahnya naik seketika. Baru saja akan mengomel, tapi seperti yang sudah-sudah dia mengurungkan kembali niatnya. Memarahi Kailla terancam mendapat hukuman berlapis. Selain tidak mendapatkan ciuman selamat pagi, dia juga akan susah mendapatkan lum’atan selamat malam.


“Kai, bangun Sayang!,” panggil Pram, mengguncang tubuh t’elanjang yang sedang lelap di sampingnya.


“Hmmmm,” gumam Kailla. Reaksi yang paling sering muncul setiap dibangunkan dari tidurnya.


“Alarm-mu itu berisik, Sayang,” lanjut Pram, menelusupkan wajah ke tengkuk Kailla. Menghembuskan nafas kasar, membuat bulu kuduk meremang seketika.


“Ah....! Sayang mengganggu saja!” gerutu Kailla, saat tangan nakal suaminya sudah mengeksplor kemana-mana. Menjelajah bukit dan benua, melewati lembah dan jurang.


“Ini weekend, Sayang. Tidak masalah kita bergelut sampai sore, tidak akan ada yang menganggu,” ucap Pram. Tangan usil Pram sudah tidak bisa dikondisikan, merayap kemana-mana.


Dengan penuh keterpaksaan, Kailla harus bangkit dari tidurnya. Memilih tetap menikmati nyamannya guling, berarti harus siap melayani nafsu Pram kembali. Laki-laki yang selalu menggunakan alasan seorang bayi untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.


“Sayang, mau kemana?” tanya Pram, mendapati Kailla yang sudah berdiri dan meraih pakaian dalam dan gaun tidurnya yang teronggok di lantai.


“Aku mau memasak dulu. Bukankah kamu memintaku belajar menjadi istri yang baik,” sahut Kailla tersenyum usil, bergegas keluar kamar, membuat cepol asal pada rambut panjangnya.


Tak lama suara pintu kamar tertutup berakhir hening. Si pengacau sudah turun ke lantai bawah, siap memporak-porandakan areal dapur. Daerah kekuasaan duo ratu yang sebentar lagi akan dibubarkan si nyonya rumah.


“Bu, biarkan aku yang memasak untuk kalian hari ini!” perintah Kailla, membuat duo dapur itu terkejut dan ternganga.


Ibu Ida yang sedang membersihkan ikan seketika melepaskannya ke dalam bak cuci piring. Ibu Sari yang sedang mengiris sayuran bakal nasi goreng untuk sarapan pagi hampir saja memotong jarinya sendiri. Sam yang kebetulan sedang meneguk air putih langsung tersedak, sebagai bentuk keterkejutan dan protes atas ide gila sang majikan.


“Non, tidak salah dengar kan?” tanya Sam, mendekati Kailla. Memastikan pendengarannya tidak salah.


“Iya Sam,” sahut Kailla dengan yakin.


Otak Sam langsung berjalan dengan sendiri. Bagaimanapun dia harus menyelamatkan seisi rumah dari peristiwa yang pasti tidak dikehendaki semua orang. Menyelamatkan hajat hidup orang banyak.


“Non, apa tidak sebaiknya Non duduk manis saja disini?” tawar Sam, menarik mundur Kailla yang sudah bersiap dengan celemeknya.


Membawa majikannya duduk di kursi makan, mengikuti duduk. Memberi kode kepada Ibu Sari dan ibu Ida melanjutkan tugas mereka secepatnya, sebelum pengacau kecil istri majikannya ini sadar kembali dengan niat mulianya, memasak untuk seluruh penghuni rumah,


“Sudah cantik begini, nanti kalau kukunya lecet atau tangannya jadi tidak mulus lagi, bagaimana?” bujuk Sam, tersenyum.


Kailla menatap Sam, pandangannya terlihat kesal. Bukannya dia tidak tahu akal-akalan Sam yang ingin menghentikan aksinya.


“Cukup Sam! Tidak usah berorasi disini! Aku akan tetap pada niat awalku. Ini instruksi langsung dari Pak Pram yang menginginkan istri cantik manis dan tidak sombongnya ini bisa memasak semahir celebrity chef yang di tivi-tivi,” gertak Kailla, disertai gebrakan di meja ala si omay, pembuat konten review makanan favoritnya.


Sam menciut, langsung mengkerut saat nama Pram disebut-sebut. Memilih undur diri, mengadu ke teman seprofesi supaya bersiap diri. Tapi langkahnya terhenti saat hendak berjalan menuju pintu, berpapasan dengan Pram yang sudah berpakaian rapi, kemeja motif garis dan celana jeans abunya.


“Pagi Pak,” sapa Sam, menunduk.


“Kailla dimana Sam?” tanya Pram, berhenti sebentar.


“Di dapur Pak, sahut Sam melemas.


Sudah terbayang di benak Sam bakal jadi kelinci percobaan kembali seperti sebelum-sebelumnya.


Tanpa memberi jawaban, Pram sudah berlalu meninggalkan Sam yang kesal sendiri.


“Tidak istri, tidak suami. Kelakuannya sama saja. Tidak pernah berterimakasih setiap mendapat informasi!” gerutu Sam. Melangkahkan kakinya kembali ke pinggir dermaga, berbagi info penting terkait menu makanan mereka yang hari ini akan dimasak langsung oleh Nyonya pemilik rumah.


“Sayang,” panggil Pram, memeluk Kailla dari belakang, mengecup pelan tengkuk telanjang yang dari kejauhan saja sudah menggodanya.


Istrinya sedang memotong sayur buncis. Di sisi kanan talenan tampak potongan tempe yang berbentuk kotak.


“Apa yang kamu masak, Sayang?” tanya Pram, mengeratkan belitan di pinggang dan perut Kailla.


“Nasi uduk.”


Kailla menjawab singkat, tidak merespon perlakuan Pram. Saat ini dia sedang serius dengan acara memasaknya.


Pandangan Pram beralih ke sisi kanan istrinya. Tidak jauh dari Kailla, tampak Ibu Sari dan Ibu Ida yang sedang berdiri dengan posisi siap sembari mengulum senyum, menonton Kailla yang sedang mengolah makanan dan Pram yang sedang bermanja-manja.


“Kalian boleh keluar!” perintah Pram, mengibaskan tangannya.


“Eits... tetap disini saja Bu!” perintah Kailla, sesaat kedua asistennya akan melangkah pergi.


“Aku butuh mereka, Sayang. Aku sudah tidak mau melihat internet lagi. Selama ini aku selalu gagal. Aku butuh mereka untuk meneriakkan ku step-step memasak nasi uduk yang baik dan benar. Mungkin cara ini lebih ampuh,” lanjut Kailla.


“Hah?”


Kailla heran, menengok ke belakang. Menatap bingung ke arah suaminya. Tidak biasanya Pram tidak mendukung dia memasak. Normalnya, Pram lah yang akan jadi tim hore untuknya setiap dia berencana memasak.


“Pergi ke kamar, bersihkan dirimu. Aku yang akan memasak untukmu hari ini,” pinta Pram, mengecup pipi istrinya yang masih bau bantal.


Kailla menurut, melepas celemek dan menghempaskannya di atas top table.


“Sayang, aku mau pasta saja. Kamu tidak akan sanggup membuat nasi uduk!” pinta Kailla, berbalik sebelum menapaki tangga rumah yang mengantarnya ke lantai dua.


“Oke!”


Tangan Pram sudah meraih panci dan pasta di dalam lemari. Sudah lama dia tidak memasak untuk Kailla.


“Bu, tolong dirapikan semua pekerjaan istriku, nanti saja baru dilanjutkan lagi,” perintah Pram. Dianggukin keduanya yang langsung bergerak. Setelahnya, meninggalkan dapur, membiarkan Pram menyelesaikan masakannya sendirian.



“Sayang, masih belum selesai?” tanya Kailla, tiba-tiba sudah muncul di hadapan Pram. Dengan tampilan rapi, duduk manis di seberang kompor, menahan wajahnya dengan kedua tangannya yang bertumpu di atas meja.


“Kemarilah!” ajak Pram, memindahkan pasta yang siap saji itu ke atas piring.


“Done!” ucap Pram tersenyum, menatap sepiring pasta yang sudah siap di tangannya.


“Sayang, kamu tidak makan?” tanya Kailla heran. Hanya ada sepiring saja di tangan Pram, tidak ada piring yang lain.


“Tidak, aku ada janji dengan Bara,” sahut Pram, meletakkan sepiring pasta ke atas meja, diikuti Kailla yang mengekor di belakangnya.


“Bara?” Kailla memastikan kembali, sembari duduk menikmati pasta buatan sang suami.


“Iya, Bara mau kesini. Barusan menghubungiku, katanya sudah otw kemari,” sahut Pram, berdiri disisi Kailla, dengan tangan bertumpu di meja makan.


“Enak?” tanya Pram.


Kailla mengangguk, tersenyum. Memasukan gulungan pasta dan lelehan keju itu ke dalam mulutnya.


“Sayang mau?” tawar Kailla, menyodorkan gulungan pasta berikutnya ke mulut Pram.


“Kai, aku meminta Bara merenovasi kamar untuk kita di lantai satu,” jelas Pram, setelah menelan habis pasta suapan istrinya.


“Untuk apa?” tanya Kailla heran.


“Aku tidak mau kamu harus turun naik tangga disaat hamil. Apalagi kalau perutmu semakin membesar, pasti akan semakin kesulitan.”


Kailla menurut, tidak bertanya lebih jauh lagi, memilih menghabiskan pasta terenak di dunia. Karena pasta itu buatan suaminya tercinta,


“Kai, luangkan waktumu. Kita konsultasi ke dokter lagi,” ucap Pram, tersenyum, mengusap lembut rambut Kailla yang tergerai rapi.


Kailla belum sempat menjawab, langkah kaki Ibu Sari mengalihkan tatapan pasangan suami istri itu.


“Maaf Pak, ada tamu untuk Bapak. Menunggu di teras depan.” Ibu Sari memberitahu


“Oh ya, siapkan minuman untuk tamuku Bu,” perintah Pram.


“Sayang, aku ke depan. Sepertinya itu Bara. Setelah menghabiskan pastamu, susul aku,” pamit Pram, menepuk lembut pipi istrinya.


“Iya..,” sahut Kailla tersenyum. Bahkan suaminya sudah bergegas pergi, tidak menunggunya menjawab.


***


Pram bergegas keluar menuju ke teras rumah, menemui tamu yang sudah dinantinya sejak tadi.


“Bar..!” sapa Pram, memandang punggung Bara dan rekan yang ikut bersamanya. Keduanya sedang mengagumi keindahan taman di depan rumah Pram.


“Hai Pram! Apa kabar?” sapa Bara, memeluk sahabat yang sudah lumayan lama tidak ditemuinya. Belakangan mereka terlalu sibuk, tidak saling bertukar kabar. Apalagi, belum ada proyek bersama sejak setahun belakangan.


“Oh ya Pram, kenalkan asisten baruku. Kevin sudah setengah tahun ini tidak menjadi asistenku lagi,” ucap Bara mengenalkan laki-laki muda yang sejak tadi memperhatikan Pram sambil tersenyum.


Deg—


Pram terkejut, menatap hampir tidak percaya. Dia tahu jelas, siapa laki-laki ini. Tapi bagaimana bisa dunia sesempit ini, membuat mereka kembali harus bertatap muka. Sosok yang sudah lama tidak dilihatnya. Tapi kali ini berbeda. Pandangan Pram beralih pada dua mobil mewah yang terparkir di halaman rumahnya.


Baru saja Pram akan menyodorkan tangannya untuk menyapa, dari dalam rumah muncul istrinya. Kailla tidak kalah terkejut, tertegun menatap sosok tampan yang berdiri di samping sahabat suaminya.


“Kamu.....”


***


To be continued


Love you all


Terimakasih.