
Mendung bergelayut manja di langit kota kembang, sore itu. Cakrawala menghitam, matahari bersembunyi malu-malu di ufuk barat. Kailla dengan wajah lelah, berjalan setengah menyeret kakinya, keluar dari anak perusahaan RD Group.
Bunyi ketukan sepatu hak lima sentinya terdengar berantakan dan tak beraturan. Menandakan seberapa kacaunya suasana hati ibu hamil yang selalu cantik di tengah banyak masalah kehidupan, yang mengiringi langkahnya bak bayangan.
“Sam, kita kembali ke Jakarta.” Kailla mendudukan tubuh gemuknya di kursi belakang. Diiringi rinai hujan yang mulai turun perlahan membasahi bumi pertiwi.
“Non, tidak lelah?” tanya sang asisten, menggengam ponsel mahal milik majikannya. Ponsel pintar yang berdering terus menerus, hanya berjeda sebentar kemudian berteriak lagi. Siapa lagi kalau bukan Pram, laki-laki si pemilik wanita hamil, Kailla Riadi Dirgantara.
“Lelah. Apalagi saat perjalanan ini hanya membuang waktuku, lelah ini jadi terasa dua kali lipat.” Kailla memejamkan mata, menikmati penatnya. Ingin rasanya berteriak, ingin rasanya mengumpat, tetapi dia bisa apa. Pada siapa harus menebar semua beban hidupnya, pada siapa harus berkeluh kesah. Pram sedang sakit, tidak mungkin membagi semua masalah dengan laki-lakinya.
“Apa kita menginap di sini malam ini?” tawar Sam. Dia bisa merasakan perjalanan panjang Jakarta-Bandung, di hari yang sama harus kembali mengarungi jarak Bandung -Jakarta, bukan hal mudah untuk ibu hamil lima bulan.
“Aku tidak sanggup mendengar suara petir suamiku, Sam. Biarkan aku tidur sekarang. Saat tiba di rumah sakit, kamu bisa membangunkanku.” Kailla menurunkan titahnya. Rindu sudah membuat kenakalan, tetapi dia tidak punya banyak tenaga untuk itu. Rindu bermanja-manja dengan suaminya. Namun saat ini jangankan meminta gendong suaminya, bergelayut manja di pundak Pram saja, dia tidak bisa.
Mood laki-laki itu naik turun seperti rollcoaster saat ini. Maklum saja, Pram harus melewati sepanjang hari di atas brankar tanpa bisa berbuat apa-apa.
“Bagaimana hasilnya, Non?” Suara Sam terkalahkan dengan gemuruh hujan di luar sana.
“Gagal! Aku tidak berhasil, Sam. Entah dengan apa aku menyelamatkan perusahaan. Harus bagaimana aku mengembalikan RD Group yang hampir bangkrut pada suamiku karena beberapa keputusanku yang salah,” lirih Kailla.
“Kenapa tidak berterus terang saja pada pada Pak Pram?” tanya Sam, menoleh ke belakang sekilas. Kailla bersandar di kursi dengan mata terpejam.
“Dia sedang sakit, mana mungkin menceritakannya pada suamiku. Aku tidak mau menambah bebannya.”
Donny tersenyum simpul, melempar pandangan pada sosok lelah di kursi belakang melalui spion mobil. Sejak pagi, laki-laki itu lebih banyak menutup mulut.
Gadis kecil yang dulu dikawalnya ke mana-mana, selalu menyusahkannya, masih orang yang sama. Waktu tidak membuat Kailla berubah banyak. Tetap jadi gadis yang kuat sedari dulu.
Di saat anak lain merengek saat merindukan belaian orang tuanya, Kailla memilih memutar otak dan pantang menangis. Berulah dan memilih jadi anak nakal pada saat itu. Demi untuk sedikit perhatian dan kasih sayang sang ayah.
Beranjak remaja, masih tetap sama. Di kala anak lain pulang ke rumah menangis dengan kaki dan tangannya berdarah, dengan tampilan lusuhnya karena habis bergulat dengan teman sekolah, Kailla memilih mengangkat kepala. Tidak sedikit pun menangis, meski pun harus mendapat omelan dan kemarahan Riadi Dirgantara. Mendapat sepatah dua patah nasehat bijak dari Pram.
Sampai di bangku kuliah, masih tetap sama. Tidak jarang Kailla bergelut dengan pengunjung bioskop atau pun mall, demi harga dirinya tidak diinjak-injak. Kailla tetaplah Kailla, sampai sekarang masih tetap sama. Jangan menantangnya dengan cara kasar dan bar-bar, Kailla akan lebih bar-bar dan tak tahu aturan. Namun, kalau menantangnya dengan cara elegan, dia akan memperlakukan sama, dengan elegan dan kedewasaannya yang tersembunyi di balik sifat nakal dan kekanak-kanakannya.
Kailla tidak bisa diinjak sejak dulu, Kailla tidak akan menangis saat harga dirinya diinjak, tetapi dia akan menantang balik. Kailla hanya menangis dan lemah di dalam pelukan Pram, hanya laki-laki itu yang sejak dulu mampu menaklukan kenakalan, kekerasan hati Kailla.
Saat sendirian, Kailla akan sekuat baja. Bahkan tidak tumbang saat ditinggal Pram koma. Tidak menyerah saat ditinggal Pram ke Austria, tidak merengek menangis saat dihina sang ibu mertua, bahkan tidak gentar saat berhadapan dengan para penculiknya. Kailla sangat kuat, tetapi akan menjadi sosok yang berbeda saat berada di pelukan Reynaldi Pratama.
Bunyi dering ponsel kembali menarik Kailla dari alam mimpinya.
“Non, Pak Pram ....” Sam menyodorkan ponsel dengan dering indah itu pada Kailla.
“Aku lelah, Sam. Bisakah kali ini kamu saja.”
“Bukan kali ini, sepanjang hari ini aku yang selalu menjawab panggilan suamimu, Non,” jelas Sam.
Dengan terpaksa, Kailla menggeser tombol hijau di layar. Menempelkan benda pipih itu ke telinganya.
“Ya ....” Kailla menjawab dengan lemas tak bertenaga.
“Sayang, kamu di mana? Ini sudah jam berapa? Aku menunggumu sejak siang.” Pram mencerca Kailla dengan banyak pertanyaan.
“Sebentar lagi aku sampai,” dusta Kailla. Dia sendiri tidak tahu posisi mereka di mana sekarang. Terlampau lelah, pemandangan di luar sana hanya gelap gulita dengan hujaman titik-titik air yang turun membasahi bumi dengan derasnya.
“Katakan kamu di mana?” tegas Pram.
“Sayang, sudah. Aku lelah.” Kailla mematikan ponselnya sepihak. Menjatuhkannya di kursi mobil.
Seterusnya Kailla memilih membungkam benda persegi itu, membiarkan gawai mahalnya berkedip tanpa suara sampai sang suami bosan. Sampai baterai meredup dan mati sendiri. Membuat Pram menggila di ujung telepon. Mengamuk pada semua orang di kamar perawatan rumah sakit.
***
Mobil Donny berhenti di parkiran rumah sakit saat jarum jam merangkak ke angka sembilan. Ada beberapa kendala di perjalanan, hujan badai membuat kendaraan beroda empat itu tidak bisa melaju kencang.
Melangkah gontai, Kailla menenteng tas mahalnya. Menjejaki lantai dingin rumah sakit dengan ketukan sepatu terdengar pilu. Tiba di depan daun pintu bercat putih dengan A5 tercetak jelas di sana, Kailla menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Sudah terbayang kekacauan seperti apa yang akan menyambutnya. Dia tahu sikapnya yang tidak mau menerima panggilan Pram akan membuat suaminya mengamuk pada semua orang.
Begitu pintu kamar terbuka, Kailla sudah disambut dengan bunyi gelas kaca yang hancur berantakan di atas lantai. Terlihat Bayu berdiri menunduk, dengan wajah kusutnya.
Berjalan mendekat, Pram menatap tajam padanya. Laki-laki itu jauh lebih sehat dibanding tadi pagi saat dia berpamitan berangkat ke kantor.
“Ke mana saja, Kai?” tanyanya sedikit melunak, meski tatapan itu tetap mengiris.
“Ada sedikit masalah di kantor. Aku ....”
“Mulai besok tidak perlu ke kantor. Aku akan mengurusnya sendiri,” potong Pram dengan nada penuh ketegasan.
“Sayang ... jangan begini.” Kailla berusaha menenangkan.
“Jangan membantah! Walau aku tidak bisa berjalan, aku masih suamimu!”
“Sayang ....” Kailla menatap sendu pada laki-laki yang duduk nyaman, bersandar di brankar. Sudah tidak ada lagi perban melilit di kepala Pram. Alat medis yang kemarin masih menempel sudah tak terlihat. Tertinggal selang infus menancap di kulit tangannya.
“Jangan membantah, Kai. Mulai sekarang aku akan mengurus perusahaan sendiri.” Pram menegaskan sekali lagi.
“Sayang, jangan begini. Maafkan aku.” Kailla berdiri di samping brangkar, menunduk menunggu omelan suaminya.
“Aku sudah meminta jadwal terapiku dipercepat. Kaki kiriku sudah tidak masalah, tinggal pemulihan untuk kaki kanan saja,” jelas Pram.
Pram menghela napas, berusaha meredam emosinya yang terlanjur memuncak. Bagaimana tidak, dia hampir gila karena Kailla tidak mau menerima panggilannya sejak siang. Tidak sampai di situ, Kailla lagi-lagi mengabaikan panggilannya sampai ponsel istrinya itu tidak bisa dihubungi sama sekali.
“Sementara aku akan mengurus masalah kantor dari rumah sakit. Sampai aku bisa menggunakan kruk, aku akan mulai ke kantor lagi. Mulai sekarang lepaskan semua tanggung jawabmu di perusahaan,” tegas Pram.
“Sayang, kamu fokus saja pada penyembuhanmu. Aku akan mengurus perusahaan sampai kamu pulih.” Kailla berkata pelan.
“Kamu yang harusnya fokus dengan kehamilanmu. Tinggalkan perusahaan, itu tanggung jawabku. Tanggung jawabmu hanya mengurus dirimu sendiri supaya anak-anakku sehat di dalam sana.”
“Bay! Mulai besok ke kantor ambil semua berkas yang harus aku selesaikan. Dua bulan ini pasti banyak pekerjaan yang tertunda,” perintah Pram. Matanya masih menatap sang istri yang tertunduk ketakutan.
“Katakan Kai, kamu dari mana saja? Ini sudah jam berapa? Kamu itu sedang hamil. Kalau terjadi sesuatu dengan kalian, aku tidak bisa berbuat apa-apa.” Pram bertanya tanpa jeda.
“Katakan padaku, apa yang kamu lakukan. Kamu di mana? Seharian ini aku hampir gila, tidak bisa berbuat apa-apa.”
“Maaf ... aku ....”
“Jujur Kai, kamu ke mana saja seharian ini?” tegas Pram. Raut wajah laki-laki itu tampak mengerikan.
“Maaf, aku ... ke Bandung,” sahut Kailla terbata. Pelan dan kembali menunduk ketakutan. Pram sangat mengerikan saat seperti ini. Auranya seperti singa kelaparan, meskipun nada suaranya mengalun lemah.
“KE BANDUNG? TANPA MEMINTA IZIN SUAMIMU!” teriak Pram, amarahnya semakin menjadi. Segera mencekal tangan Kailla, menarik istrinya berdiri mendekat padanya.
“Ma ... af.” Kailla terbata.
Sam dan Bayu bergidik ngeri. Kedua asistennya itu memilih berdiri di pojokan saat suara Pram bergema di empat penjuru dinding kamar. Bersembunyi dari pandangan Pram. Tidak mau ikut campur.
“Kamu tahu Kai, di luar sana berapa banyak musuh-musuh daddy. Bahkan aku saja tidak tahu siapa-siapa mereka.” Pram sedikit melunak setelah melihat istrinya ketakutan padanya.
“Maafkan aku,” bisik Kailla, tiba-tiba mengalungkan kedua tangannya ke leher Pram, memeluk laki-laki itu sambil menangis.
Pram terpaku, terdiam sesaat. Emosinya meredup, amarahnya menguap tiba-tiba, saat tubuh lelah Kailla bersandar manja padanya seperti biasa, menangis di pundaknya.
“Ya, jangan menangis lagi. Maafkan aku, Sayang,” bisik Pram setelah berhasil menguasai keadaan. Kedua tangan laki-laki itu ikut memeluk tubuh berisi yang sekarang menumpang di tubuhnya. Mengusap perlahan punggung Kailla yang bergetar.
“Maafkan aku, jangan seperti ini lagi. Jangan pernah pergi tanpa izinku. Aku mengkhawatirkan kalian, Kai.” Pram menghela napas dalam, berusaha menenangkan hatinya.
“Kamu sudah makan?” tanya Pram, lembut. Tangan kiri itu terus mengusap punggung dan tangan kanannya membelai rambut panjang Kailla yang tergerai berantakan.
***
TBC
Sudah mendekati ending, tertinggal beberapa bab lagi. Tidak ada extra chapter.