
Seminggu setelah kepergian Riadi, kondisi Kailla sudah jauh lebih baik. Wanita hamil itu mulai menjalankan rutinitas seperti biasa. Pagi itu, Kailla memulai harinya dengan membuatkan Pram sarapan pagi. Kebiasaan yang selama menikah dilakukannya, hanya saja sejak berguru dengan Ibu Sam, menu masakan Kailla lebih berwarna dan beragam.
Sejak kepergian daddy, Pram memutuskan tidak berangkat ke kantor, hanya bekerja dari rumah. Ibu Citra juga sesekali datang mengunjungi anak dan menantunya. Berusaha menghibur Kailla yang masih tenggelam dalam kesedihan.
“Sayang, aku harus ke kantor hari ini.” Tiba-tiba Pram sudah berdiri di belakang Kailla. Laki-laki itu sudah rapi dengan kemeja hitam minus dasi yang masih tersampir di sandaran kursi bergabung dengan jas kerjanya.
“Loh, bukannya masih cuti, Sayang?” tanya Kailla, menoleh sekilas. Tangannya dengan lincah membolak-balikan ayam goreng yang kemarin sore dibumbu kuning oleh asistennya. Untuk menu satu ini, Kailla menyerah. Dia hanya sanggup mengorengnya saja.
“Ya, tadi Stella menghubungiku. Ada rapat penting dan aku harus hadir. Tidak enak terus-terusan absen. Kami tidak apa-apa ditinggal?” tanya Pram memastikan, sembari melipat kedua lengan kemejanya sebatas siku.
“Tidak, aku baik-baik saja.” Kailla memeluk pinggang suaminya dengan tangan kirinya dan tangan kanan sibuk dengan capit.
“Benarkah?” Laki-laki matang yang tampak tampan pagi ini segera mengambil alih capit dari tangan istrinya. Mendorong pelan tubuh Kailla supaya menyingkir dan mengambil alih tugas menggoreng.
Kailla mengangguk.
“Pagi ini kamu manis sekali, Kai.” Kecupan manis berlabuh di bibir merah merona. Pram menikmati ciuman singkatnya di tengah aktivitas memasak keduanya.
“Apa yang kamu masak, Kai?” tanya Pram, menatap panci yang sedang di aduk istrinya.
“Sayur bayam dan jagung.”
“Benar-benar menu ibu hamil.”
Laki-laki itu sudah meniriskan satu persatu potongan ayam goreng dan meletakan ke atas piring. Setelah semua selesai, Pram memilih duduk menunggu dengan kaki terlipat sembari menatap istrinya yang mulai luwes saat di dapur.
“Kai, kamu mau ikut ke kantor bersamaku?” tanya Pram, mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
Sembari menunggu sarapannya siap, laki-laki itu berselancar di dunia maya. Mengecek sosial media milik Kailla yang diam-diam diretasnya dengan bantuan Sam. Asisten kesayangan Kailla yang sekarang berselingkuh dengannya. Sam akan melaporkan semua hal tentang Kailla padanya, sedetail mungkin. Sampai sehelai rambut istrinya rontok pun, Pram akan tahu.
Pengalaman Ditya yang tiba-tiba hadir tengah rumah tangganya membuat Pram lebih waspada. Dan Sam benar-benar setia melaksanakan tugasnya, hanya sempat lalai ketika Kailla menghilang lan bersembunyi di kediaman orang tuanya. Asisten itu sama sekali tidak tahu menahu.
“Aku di rumah saja, Sayang. Mama mau ke sini bersama Tante Kinar,” cerita Kailla, dengan sarung tangan tebal mengangkat panci berisi sayur bening dan meletakannya di tengah meja.
“Oh ya? Kenapa mama tidak menghubungiku?” tanya Pram mengerutkan dahi.
“Karena sekarang, anak mama itu, Kailla Riadi Dirgantara, bukan dirimu!” ucap Kailla melempar candaan.
Jemari Pram dengan lincahnya bermain di layar ponsel, menatap foto-foto Kailla yang masih langsing dengan perut ratanya. Memperhatikan satu persatu foto istrinya sampai tidak menyadari sosok bercelemek dengan perut besarnya sudah memaksa duduk dipangkuannya tanpa permisi.
Brukkk!
“Awwww!!” jerit Pram terkejut, ponsel di tangannya hampir terlepas. Tubuh Kailla yang semakin berat, ditambah kedatangan istrinya yang tiba-tiba, menjatuhkan tubuh begitu saja.
“Sarapanmu sudah siap, Sayang.” Kailla berkata, menatap suaminya yang kelabakan, seperti tertangkap basah dan buru-buru menyembunyikan sesuatu darinya.
“Apa yang kamu lihat?” tanya Kailla, duduk menyamping dengan nyaman di atas pangkuan Pram.
“Tidak ada.” Pram menggeleng, mengunci layar ponselnya. Tidak mau ketahuan diam-diam mencuri masuk di medsos istrinya. Bahkan lelaki itu mengecek semua pesan masuk yang diterima Kailla.
Dalam posisi duduk seperti ini, perut Kailla terlihat semakin terlihat besar. Membulat di depan mata.
“Kenapa tidak pernah memposting fotoku di media sosialmu, Kai?” tanya Pram tiba-tiba, mengusap perut Kailla dan mengecupnya perlahan.
“Aku tidak mau. Nanti banyak yang mengejarmu,” sahut Kailla santai.
“Lalu, kenapa tidak pernah memposting fotomu lagi semenjak hamil?” todong Pram lagi. Menyembunyikan cemburunya di dalam hati. Foto-foto Kailla yang mendapatkan ratusan like dari followernya membuat Pram terbakar. Apalagi setelah memastikan yang memberi jempol dari kalangan kaum hawa, kembali dia menggila dalam diamnya.
“Kamu tidak melihat perutku begini besarnya, belum lagi aku harus meninggalkan semua kosmetik dan menghentikan sementara perawatan kulitku untuk sementara.” Kailla setengah menggerutu.
“Aku tidak mau terlihat jelek di foto.”
Tangan kekar itu mendekap erat istrinya. “Jadi ini semua salahku. Begitu maksudmu?” tanya Pram, tersenyum usil.
“He ... em, kalau bukan menyalahkanmu, aku harus menyalahkan siapa. Bukankah perutku membesar karena ulahmu,” ucap Kailla tidak mau kalah.
“Itu salahmu Sayang. Setiap malam tidur tanpa pakaian, jadi masuk angin stadium empat,” sahut Pram asal. Tawanya pecah saat melihat ekspresi kesal Kailla.
Plakk! Pukulan mendarat di pundak Pram seiring gerutuan keluar dari bibir Kailla.
“Sudah-sudah, aku hanya bercanda. Ayo kita sarapan sekarang,” ajak Pram.
***
Pram sedang bersusah payah menelan sayur bening buatan istrinya. Seperti biasa, sayur bening buatan Kailla terasa hambar tanpa rasa, masih jauh lebih nikmat air kobokan, bekas cucian tangan kala menguliti ayam kalasan. Akibat kebiasaan Kailla yang tidak mau mencoba masakannya sendiri. Bahkan istrinya tidak pernah mau makan masakannya, lebih memilih menu yang disajikan Ibu Ida atau Ibu Sari.
“Bagaimana, Sayang?” tanya Kailla meminta pendapat. Setelah melihat ekspresi Pram merem melek menelan kuah sayur bening.
“Luar biasa,” sahut Pram, tertawa lepas.
“Aku serius!” gerutu Kailla.
“Lihat ekspresiku ini. Kamu tentu bisa menebaknya, Sayang.” Pram berkata.
“Bagaimana aku tahu, wajahmu terlihat begitu menikmati.”
Perdebatan keduanya terhenti saat Ibu Citra tiba-tiba masuk. Baik Kailla maupun Pram terkejut, saat wanita lanjut usia itu berdiri dengan wajah menahan kesal.
“Pram, bagaimana kamu mendidik orangmu!” gerutu Ibu Citra, bertolak pinggang.
Sontak Pram terkejut. Mamanya datang tanpa basa-basi, bahkan tanpa mengabarinya terlebih dulu. Marah-marah tidak jelas.
“Ada apa, Ma?” tanya Pram dengan heran.
“Panggilkan Bayu ke sini! Aku akan membunuhnya sekarang!”
***
TBC
Rasanya sedih, tetapi Om Pram dan Kailla akan berakhir sebentar lagi. Setelah menulis kisah keduanya dari bulan Juni 2020 dengan judul Istri Kecil Sang Presdir ( Season 1 ). Berlanjut Istri Sang Presdir ( Season 2 ). Author berharap masih bisa bertemu lagi di season 3 ( ini masih dalam tahap pertimbangan )
Yang ingin masuk group chat ( GC ) passwordnya Reynaldi Pratama. Silahkan tuliskan di alasan masuk. Dengan begitu admin dan author lebih cepat acc.