Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 121 : Meninggalkan Sidang


Suara gemericik air hujan pagi itu lumayan membuat kulit tubuh mengigil kedinginan. Kailla yang sudah tidak bisa tidur lagi sejak subuh hanya bisa diam-diam menatap titik-titik air yang jatuh menghujami bumi.


Seolah mereka paham perasaan Kailla yang tidak karuan sejak sebulan ini. Memborbardir pertahanan dirinya yang hampir tidak tersisa. Menerjang hatinya yang tinggal puing-puing sejak ditinggal pergi suaminya tanpa kabar dan berita.


Kalau boleh jujur, dia hampir runtuh. Entah hari ini atau besok, akan ada hari dimana mungkin dia tidak bisa terbangun lagi dengan tegar. Dia hanya bisa berdoa tetap bisa diizinkan berdiri di atas kakinya sendiri meskipun dia tidak tahu untuk alasan apalagi dia bertahan.


Pram, satu-satunya tempatnya bergantung, tempatnya bertopang, tempatnya bernaung sudah pergi tanpa mempedulikan hidupnya. Cinta, yang setiap detik, setiap menit, setiap waktu diucapkan Pram padanya seolah tidak ada artinya. Suaminya tetap pergi, meski dia memohon supaya Pram kembali.


Daddy, saat ini Kailla hanya terpikir dengan sosok lemah yang tergolek tidak berdaya itu. Mungkin kalau daddy masih berdiri di sisinya, dia tidak akan membiarkan kesakitan ini memenjarakannya begitu lama. Karena daddy, hanya daddy, satu-satunya pria di dunia ini yang mencintainya dengan tulus.


Hanya daddy, yang memaafkannya tanpa syarat, menyayanginya tanpa syarat, mencintainya tanpa syarat.


“Dad, kamu lihat seperti apa lelaki yang kamu pilihkan untukku.”


“Kamu lihat seperti apa suami yang kamu sodorkan padaku,” lirih Kailla.


“Kalau dia baik, dia tidak akan meninggalkanku seperti ini. Aku mencintainya, sangat mencintainya, tetapi dia sekarang memaksaku untuk membencinya. Aku ingin membencinya, Dad,” bisik Kailla.


Dan Kailla, hanya bisa berdiri di pinggir jendela kaca, melihat air hujan yang turun membasahi dedauan dan rerumputan. Berharap air itu bisa meluruhkan segala sakit dan kecewanya akan seorang Pram.


Saat ini, dia sadar akan semua salah-salahnya, tetapi dia berharap Pram masih tersisa hati untuk memaafkannya dan tidak meninggalkannya dengan begitu tega seperti sekarang.


Kailla menghela nafas kasar, sembari mengusap airmata yang ikut turun membasahi wajah pucatnya. Sebulan ini terlalu banyak menangis, membuat dia lupa bagaimana caranya tersenyum.


Berada di titik yang sebenarnya ingin menghilang saja dari dunia. Toh, dia sekarang sendiri. Bahkan tidak akan ada siapa-siapa lagi yang akan menangisi kepergiannya, tidak akan ada lagi yang mencarinya.


Namun, dia masih punya daddy yang bahkan bertarung dengan malaikat maut untuk tetap berada di sisinya. Kalau daddy saja masih berjuang untuk tetap bersamanya, kenapa dia harus gentar dengan kesakitan kecil ini.


Sejak terbangun, kepala Kailla terasa berat. Biasanya hanya pusing, tetapi hari ini dunianya berputar. Jangankan berdiri, duduk saja dia sudah tidak sanggup sebenarnya.


Sejak kemarin, dia memang sudah tidak sanggup bangun dan berjalan terlalu lama. Berdiri sebentar saja, semua terasa berputar dan menggelap seketika.


Belum lagi mual dan muntah yang sewaktu-waktu bisa datang dan pergi sesuka hati. Seperti ikut mengolok-olok perasannya yang sudah hancur tidak bersisa.


Semua di tubuhnya seolah memberontak padanya. Dari kepalanya sakit, pinggangnya sakit, perutnya sakit, kakinya sakit, bahkan terkadang bernafas saja sulit. Itu lah yang dirasakan Kailla.


Bahkan saat ini, matahari pun benar-benar menghilang dari bumi seolah menunjukan ketidaksukaannya, seakan ikut meghakiminya.


Lagi-lagi Kailla menghela nafas, menikmati kesendiriannya, sembari menatap jam di dinding kamar, waktu sudah menunjukan pukul tujuh pagi. Dia sudah terlalu lama berdiri, pusing kembali memaksanya bergegas ke tempat tidur.


Baru saja akan melangkah, kembali dunianya berputar, menghitam pekat tiba-tiba. Terpaku beberapa detik di tempatnya berdiri, sampai akhirnya tubuh kurus kering itu hilang keseimbangan. Jatuh menghantam lantai, mengikuti gaya gravitasi.


Meremas kepalanya dan mengingat suaminya, itulah hal terakhir yang dilakukannya sesaat sebelum hilang kesadarannya. Semuanya hitam, semuanya gelap, semuanya lenyap. Kailla sudah tidak tahu apa-apa, bahkan saat dipapah keluar dan dibawa ke rumah sakit oleh para asistennya.


***


Pram menginjakan kakinya lagi ke Indonesia setelah sebulan menikmati salju dan musim dingin di kota Wina, Austria. Hari ini adalah jadwal sidang perceraiannya dengan Kailla, mau tidak mau memaksanya kembali ke tanah air.


Sampai di Soekarno Hatta, dia sudah disambut dengan langit yang menangis seolah mengerti perasaannya saat ini. Untuk kembali ke Jakarta, dia butuh perjuangan. Di Wina dia bisa tegar, tetapi ketika menghirup udara yang sama dengan Kailla, dia tidak tahu apa bisa sekuat kemarin saat mereka terpisah benua.


Begitu keluar dari terminal tiga, David sudah menyambutnya dengan senyuman. Rasanya tidak adil, tetapi jujur dia sudah lupa bagaimana caranya menarik dua sudut bibinya ke atas dan tersenyum. Dia lupa rasanya bahagia, dia mendadak pikun untuk semua hal yang menggambarkan kebesaran cinta.


“Pagi Presdir,” sapa David, mengambil alih koper dari tangan atasannya. David menatap lekat Pram, pria tampan di hadapannya ini sedikit lebih kurus dengan tampilan berbeda dari biasanya.


Pram mengangguk pelan.


“Aku ke pengadilan sendiri saja. Tolong bawakan koperku,” perintah Pram.


“Baik! Pengacaramu sudah menunggu di pengadilan. Ini kunci mobilmu,” ucap David, menyerahkan kunci mobil ke tangan Pram dan menunjuk mobil sport putih dua pintu yang terparkir tidak jauh dari mereka.


Bayang-bayang kebersamaan mereka kembali muncul. Sebulan ini dia berusaha melupakannya, tetapi sekarang hadir dan kembali menyesak di dalam dadanya.


Melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, membuat Pram membelokan mobil ke arah rumah yang biasa ditempatinya dan Kailla. Rumah yang dibangunnya khusus untuk sang istri. Dia tidak bisa menunggu sampai sidang dimulai. Rindunya memaksa, meski hanya bisa menatap Kailla dari jauh.



Saat mobilnya masuk ke dalam komplek perumahan mewah dengan view pantai di depan rumah, jantung Pram berdegup kencang. Apalagi saat mobil putih yang dikendarainya berhenti di pinggir jalan, tepat di depan rumah yang empat tahun ini selalu menjadi tempatnya pulang. Matanya menjadi panas seketika, mengingat kembali kenangan demi kenangan yang dilewatinya bersama Kailla.


Berharap, dia bernasib baik pagi ini. Bisa melihat sosok yang begitu dirindukannya meski dari kejauhan. Manik mata hitam pekat itu memandang jauh ke arah jendela kamar tidur di lantai dua, kamar yang biasanya ditempatinya dengan Kailla. Kamar yang menjadi saksi bisu, perjalanan cintanya dengan Kailla.


Lima menit, sepuluh menit, hingga setengah jam menatap ke titik yang sama. Pram tidak bisa melihat Kailla, bahkan bayangan Kailla tidak muncul di sana. Penantiannya sia-sia. Kerinduannya tidak terbayar, bahkan sekarang makin memenuhi relung hatinya. Membuatnya susah bernafas dan hampir gila.


Rumah megah itu terlihat sepi, tidak terlihat siapa pun. Pintu utama pun tertutup rapat. Ingin rasanya menerjang masuk, memeluk dan mencium Kailla. Meluapkan perasaan yang selama ini berusaha dipendamnya sendiri. Menumpahkan semua kerinduan dan cintanya pada Kailla.


Dengan berat hati, setelah lama menanti, Pram memacu mobilnya menuju ke pengadilan. Sebentar lagi sidangnya akan dimulai.


***


Pram sudah duduk di dalam ruang sidang bersama pengacaranya. Lelaki berkemeja putih itu terlihat gugup, berkali-kali menengok ke arah pintu masuk. Menunggu seseorang yang begitu dirindukannya.


Namun, berkali-kali juga Pram harus menelan kecewa. Tidak ada siapa-siapa yang datang. Kembali memaksanya menatap para pria yang duduk berderet di depannya dengan jubah hitam.


Hatinya bergetar hebat, saat lelaki dengan jubah hitam duduk paling tengah, mengucapkan sepatah dua patah kata pembuka, diawali dengan palu yang diketuk di atas meja menandakan sidang sudah dibuka.


“Nyonya Kailla sepertinya tidak hadir lagi di sidang kali ini,” bisik pengacara, menatap ke arah kursi kosong yang seharusnya diisi oleh si tergugat.


Pram ikut menoleh ke arah yang sama, memandang kursi kosong yang dimaksud pengacaranya. Ada rasa yang hilang dan tidak tenang. Sejak melihat rumahnya yang kosong seperti tidak berpenghuni, ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, tetapi dia tidak tahu perasaan apa itu.


Dan sekarang, melihat bangku yang harusnya diisi oleh Kailla, perasaan itu kembali mencuat. Entah apa, tapi itu membuatnya khawatir.


Bunyi getar ponsel yang disenyapkannya di dalam kantong celana, memaksa Pram mencuri melihat siapa gerangan yang menghubunginya. Dia sudah berusaha mengabaikan, tetapi getaran itu tidak mau berhenti sejak tadi.


Dia tahu, tidak diizinkan menerimanya di tengah persidangan yang sedang berjalan. Matanya membulat saat melihat Sam dan Bayu berlomba-lomba menghubunginya. Puluhan panggilan tidak terjawab dan pesan teks membuat Pram mengabaikan etikanya. Tidak peduli dengan beberapa pasang mata yang sedang menatap tajam ke arahnya.


“Aku keluar sebentar,” bisik Pram pada pengacaranya. Dia tidak bisa menunggu sampai sidang usai.


Berlari keluar gedung dan menghubungi Bayu dengan panik. Perasaannya mengatakan ada yang tidak beres. Dan dia harus mencari tahu apa yang terjadi.



“Iya Bay, ada apa?” tanya Pram saat ponsel tipis terhubung dengan asistennya.


“Bos, Non Kailla..”


“Ada apa dengan Kailla?” tanya Pram langsung memotong. Tidak sabar lagi kalau harus berlama-lama mendengar basa basi dari Bayu.



Matanya Pram membulat, terkejut dengan informasi yang disampaikan Bayu. Tanpa permisi, dia langsung berlari ke mobilnya meninggalkan persidangan. Tidak peduli apa yang akan terjadi dengan sidangnya. Saat ini Kailla membutuhkannya. Kailla yang terpenting untuknya, tidak ada yang lain.


**


To be continued


Love You all


Terima kasih