
“Sayang, bagaimana kalau kita berpisah saja,” tawar Pram tersenyum getir. Memilih untuk tidak lemah dengan air mata Kailla.
“Aku tidak mau berpisah,” ucap Kailla, terisak hebat. Sesekali menarik ingusnya yang turun dengan deras. Dia tidak berpikir dua kali, langsung menjawabnya di detik itu juga.
“Kalau kita berpisah, kamu bisa bebas merasakan perasaan yang tidak kamu dapatkan saat bersamaku,” ucap Pram, dengan nada bergetar. Menahan perasaannya sendiri, yang hampir hancur berkeping-keping.
Kailla tertunduk, tangannya ikut terkulai lemas di atas pangkuan. Ada banyak pikiran menari di otaknya. Empat bulan ini dia merasa nyaman dengan kehidupannya. Dia bebas kesana kemari tanpa ada batasan dari Pram. Dia bebas melakukan banyak hal tanpa ada ketakutan pada suaminya. Dia benar-benar merasa hidup itu indah.
Dia bebas merasakan perasaan yang tidak pernah ditemuinya saat bersama Pram. Rasa berbunga dan tersipu malu, saat bertemu dengan seseorang yang menurut kita sempurna. Ketika berbicara dengannya, lebih memilih diam-diam mencuri pandang dibanding menatapnya dengan berani.
Saat menerima pesan darinya walaupun hanya ucapan selamat malam, tetapi terdengar begitu indah. Sehari saja tidak menerima pesan, hari itu akan terlewati dengan berat. Dan ada banyak perasaan-perasaan yang baru bisa dirasakannya dalam empat bulan ini. Dan parahnya itu bukan dengan suaminya.
Bersama suaminya, dia tidak melewati semua ini. Tidak ada debaran luar biasa, saat mata saling beradu pandang. Tidak ada rasa canggung saat hanya duduk berdua. Tidak ada getaran hebat, saat tangan bersentuhan.
Rasa yang luar biasa ini, baru bisa dirasakannya sekarang, di dua puluh empat tahun umurnya. Denyut jantung berdetak kencang saat berdekatan dengan seorang laki-laki, disaat sudah menjadi istri laki-laki lain.
Kailla tertegun, mengangkat pandangannya. Menerobos netra mata suaminya dengan lancang.
“Aku mengizinkanmu menukar kenyamananmu bersamaku dengan kebebasanmu untuk menikmati perasaan baru yang mungkin saja cinta sejatimu,” ucap Pram pelan.
Kailla menggeleng lagi untuk sekian kalinya. “Aku tidak mau menukarmu dengan lelaki manapun,” bisik Kailla pelan.
“Hubungan kita tetap ada, hanya tidak dengan berbagi ranjang bersama. Kita tetap bisa bersama, tetapi tidak tinggal bersama,” jelas Pram.
“Aku tidak mau. Aku tidak siap untuk itu!” tolak Kailla. Terlalu nyaman dengan kehadiran Pram di dalam hidupnya, tentu akan sulit untuk memulai kembali hidup tanpa lelaki yang selalu menghangatkan malam-malamnya.
“Aku katakan, aku juga terpaksa menikahimu,” ucap Pram, berharap kejujurannya cukup memghempaskan perasaan Kailla.
“Aku juga tidak mencintaimu waktu itu. Tidak pernah ada rasa itu, tetapi daddy menekanku. Tidak memberiku pilihan untuk berkata tidak. Dia memohon padaku untuk menikahi putrinya.”
“Kamu tahu, seorang Riadi Dirgantara, memohon padaku untuk menikahi putrinya. Kamu pikir, aku bisa menolaknya? Bahkan daddy memberiku alasan yang membuat aku benar-benar tidak bisa menolak.”
“Daddy memintaku menjagamu. Itu alasan utamanya. Kalau aku tidak menikahimu, dia tidak akan bisa tenang. Bisa saja aku tidak menikahimu pada waktu itu, tetapi daddy tidak mengizinkanku menikah dengan wanita manapun. Dia khawatir istriku tidak bisa menerima kehadiranmu di dalam hidupku.”
“Aku tahu,” sahut Kailla pelan, menetes kembali air mata itu. Mengingat bagaimana daddy juga memohon padanya. Mengingat wajah bahagia daddy saat dia mengangguk dan bersedia menikahi Pram, lelaki yang bahkan sudah seperti ayahnya sendiri. Lelaki yang paling mengenal semua arti tawa dan tangisnya selama ini.
“Aku pikir, cukup menjagamu sampai kamu menemukan seseorang yang tepat, kalian menikah. Aku bisa bebas dengan hidupku,”ucap Pram, menerawang. Sesekali melihat tangis Kailla yang tidak kunjung reda.
“Kamu mengorbankan masa mudamu dengan menikah denganku, mengorbankan perasaan yang mungkin saja itu cinta untuk bisa menikah denganku.”
Kailla mencerna kata demi kata yang keluar dari bibir suaminya.
“Aku lelaki, aku lebih dewasa darimu, jadi tidak ada yang memandang pengorbananku, tidak ada menganggap apa yang aku lakukan itu suatu pengorbanan. Di luar sana, orang melihat betapa beruntungnya aku, bisa menikahi gadis cantik, putri konglomerat yang bahkan lebih pantas menjadi putriku sendiri,”
“Kalau ada yang bersedia menggantikan posisiku dengan tulus, aku akan merelakannya,” ucap Pram terbata, menitikan air matanya.
“Aku tidak tahu skenario apa yang dibuat daddy untuk hidupku.”
“Aku mengorbankan cintaku. Aku meninggalkan perempuan yang sangat aku cintai, tanpa aku tahu dia sedang hamil bayiku, hanya untuk daddy. Bukannya mudah meninggalkan dan melupakan Anita. Aku butuh waktu bertahun-tahun untuk melupakannya. Sampai aku memilih menua sendiri. Tidak akan menikah sebelum kamu menikah dan menemukan lelaki yang tepat.”
“Bayiku meninggal dan Anita berakhir di rumah sakit jiwa. Apa kamu pikir aku tidak merasa bersalah? Apa kamu pikir, aku bisa hidup dengan tenang dengan semua dosa-dosaku,” ucap Pram pelan.
“Keguguranmu dan perasaanmu yang tidak jelas padaku, aku anggap karmaku karena telah berdosa pada wanita di masa laluku. Telah menelantarkan bayiku sendiri, bahkan sebelum dia terlahir di dunia,” ucap Pram terbata.
“Kamu tahu, betapa kejamnya daddy padaku. Dia bahkan tidak memberiku kesempatan untuk bernafas. Dia membuatku menjadi pecundang. Aku dipaksa memilih antara Anita atau kalian. Dihadapkan pada pilihan cinta pada Anita atau cinta pada keluargaku yaitu kamu dan daddy. Tolong sekali-kali mencobalah berpikir kalau berada di posisiku.”
Pram menghela nafasnya, suaranya tercekat.
“Pada akhirnya daddy datang dan menyodorkanmu padaku. Putri kesayangannya, yang dijaga dengan pengawalan ketat setiap hari. Yang disimpannya di sangkar emas.”
“Apa aku tiba-tiba bisa membebaskanmu, jalan kesana kemari tanpa pengawalan. Melepasmu seperti istri lainnya. Ketika aku lelah pun, aku tetap harus menjagamu. Ketika aku terlelap pun, aku harus memastikanmu baik-baik saja.”
“Maafkan aku.” Kailla berbisik lirih.
“Kalau ingin protes dengan kehidupanmu, jangan protes padaku. Protes pada Tuhan, kenapa melahirkanmu sebagai putri Riadi Dirgantara.”
“Kalau ingin mengeluh tentang kebebasanmu yang dirampas. Aku mohon maaf untuk itu. Aku hanya melanjutkan apa yang sudah daddy lakukan. Kenapa sebelumnya kamu tidak pernah mengeluh pada daddy, tetapi sekarang melimpahkan semua keluhan pada suamimu.”
“Kita berpisah saja!” ucap Pram, mengusap air matanya.
Ucapan Pram yang terakhir membuat Kailla menghambur duduk di pangkuan Pram. Menautkan kedua tangannya di leher Pram, seperti biasa mencium bibir Pram dengan lancangnya. Meskipun Pram berusaha menolaknya.
“Aku tidak mau berpisah denganmu,” bisik Kailla, di sela ciumannya.
Kecewa! Bahkan Pram tidak mau lagi membalas ciumannya.
“Sayang, maafkan aku,” bisik Kailla, mengecup pipi Pram yang sedikit basah.
“Sayang, cium aku!” rengek Kailla dengan manjanya, sesekali memainkan kerah kemeja suaminya.
“Tidak ada ciuman. Pulang, dan renungkan saja. Jangan menjawabnya dengan terburu-buru. Pikirkan, betapa indahnya duniamu saat kamu tidak lagi menjadi istri Reynaldi Pratama,” sindir Pram.
“Aku tidak mau pulang. Aku mau duduk disini saja,” ucap Kailla, bersandar dan memeluk erat suaminya sampai Pram kesulitan bernafas.
“Lepaskan aku, Kai. Aku lapar sekarang. Pindah dari pangkuanku. Aku mau makan,” ucap Pram.
“Tidak mau!” tolak Kailla.
“Aku akan menyuapimu,” lanjut Kailla lagi.
“Sudah, aku akan makan sendiri saja,” tolak Pram, meraih bungkusan yang dibawah Kinar.
Dengan susah payah Pram membuka satu per satu kotak bekal yang isinya menggugah selera. Ada ayam goreng kecap, udang saos asam manis dan sayur brokoli tersimpan di dalamnya.
Kailla menelan ludah melihat isi kotak bekal yang dibawakan Kinar. Aroma dan tampilannya merayu minta disentuh.
“Tidak!” Kailla menggebrak meja tiba-tiba. Bukan hanya Pram, kotak bekal itu pun berguncang di atas meja.
Dengan cekatan Kailla merapikan kembali kotak-kotak bekal yang sudah terlanjur terbuka di depan matanya.
“Ada apa lagi? Kamu mau protes apalagi?” tanya Pram.
“Kamu tidak boleh makan siang dengan masakan tante Kinar. Aku sudah memasak untukmu,” ucap Kailla, sudah membuka kotak makanan miliknya.
“Aku memasak menu spesial hari ini untukmu,” ucap Kailla sudah mulai terlihat biasa.
“Tadaaaaaaaa!” kejut Kailla merentangkan kedua tangannya, menunjukan hasil olahannya hari ini.
“Aku membuat telur dadar dengan sayuran di dalamnya. Dan ini, ada telur kecap favoritmu. Aku tidak bisa mengabaikannya begitu saja. Aku tahu, kamu sangat mengidolakan telur ceplokku,” lanjut Kailla lagi, menunjuk ke menu andalannya.
“Sudah, tolong menyingkir!” perintah Pram, mendorong kecil tubuh Kailla supaya beranjak dari pangkuannya.
Lelaki itu baru saja akan meraih sendok, tetapi Kailla sudah menyambarnya terlebih dulu.
“Aku akan menyuapimu saat ini. Kamu duduk dengan tenang. Cukup membuka mulut dan nikmati sajian spesialmu,” ucap Kailla, tersenyum.
“Aku permisi duduk di pangkuanmu, Tuan,” ucap Kailla lagi dengan tidak tahu malunya, menjatuhkan bokongnya kembali, mengambil posisi nyaman di sana. Melihat Pram tidak mau memeluknya seperti biasa, Kailla terpaksa meraih kedua tangan suaminya dan meletakan di pinggangnya seperti biasa.
“Kalau kamu tidak memeluk pinggangku. Nanti aku terjatuh, dan kotak bekal ini akan tertumpah. Kamu harus memeluknya dengan erat, supaya bisa menikmati makan siangmu,” lanjut Kailla berusaha membuat keadaan seperti biasa.
“Nah, buka mulutmu Sayang!” pinta Kailla, menyendokan nasi putih dengan telur dadar. Pram yang sudah membuka mulutnya, melotot saat sendok itu bukan disuapkan padanya. Tetapi Kailla memasukan ke dalam mulutnya sendiri.
Keterkejutan Pram tidak sampai disitu saja, Kailla mendekati bibirnya. Menumpahkan isi di dalam mulutnya ke dalam mulut suaminya yang belum mengatup rapat,
“Tidak! Aku makan sendiri saja kalau kamu menyuapiku dengan cara ini,” tolak Pram, setelah menelan suapan pertamanya.
Lelaki itu buru-buru menutup mulut dengan tangan ketika Kailla hendak memberi suapan keduanya dengan cara yang sama.
Kailla terpaksa menelan suapan keduanya. Nasi dan telur itu meluncur masuk ke dalam kerongkongannya sendiri.
“Kenapa Sayang? Ayo buka mulutnya, aku menyuapimu dengan cara paling romantis,” bujuk Kailla.
“Aku tidak mau,” tolak Pram menggelengkan, menahan tawanya.
“Kenapa? Aku ingin menyenangkanmu.” Kailla mengutarakan niat baiknya.
Gelengan kedua Pram menandakan kalau lelaki itu benar-benar tidak mau disuapi dengan cara aneh seperti itu.
“Telur kecapmu jadi hambar, si malika masih tertinggal di mulutmu,” jelas Pram tersenyum, menunjuk ke arah bibir istrinya.
“Oh ya? Bagus kalau begitu, kamu bisa mengambilnya sendiri dari mulutku dengan lidahmu,” sahut Kailla dengan tidak tahu malunya. Dia langsung menempelkan bibirnya pada bibir suaminya. Memancing sebentar, selanjutnya membiarkan Pram mel”umatnya sampai ke bagian terdalam.
“Sudah!” ucap Pram, mengusap ujung bibirnya setelah ciuman panasnya dengan Kailla.
“Biarkan aku makan sendiri, Kai,” pinta Pram, mengambil alih sendok dan mulai makan dengan normal.
Suapan demi suapan itu masuk ke dalam mulut Pram, tanpa ada protes . Sesekali masih menyuapkan nasi telur ke dalam mulut istrinya yang masih tidak rela berpindah dari pangkuannya.
“Jangan temui dia lagi!” ucap Pram tiba-tiba. Dia baru saja menyelesaikan suapan terakhirnya.
“Iya..”
“Aku mencintaimu, Sayang,” bisik Kailla kembali bergelayut manja.
“Iya, aku tahu, tetapi kamu juga menyukainya kan?” tanya Pram.
Kailla diam, menunduk kembali meneteskan air mata.
“Saat kita belum menikah, aku masih bisa menerima kalau kamu menyukai lelaki lain, tetapi saat kamu menjadi istriku, aku tidak bisa menerimanya dengan lapang dada.”
“Seperti yang pernah aku katakan, keluarkan dia dari dalam hatimu. Disana tempatku. Aku tidak mau bersaing dengan lelaki lain di rumahku sendiri. Di sana hanya boleh ada aku dan anak-anak kita nantinya,” pinta Pram.
“Kita memang tidak memiliki alasan yang kuat sewaktu menikah, tetapi aku berharap kita masih memiliki alasan yang kuat untuk tetap bertahan di pernikahan ini. Aku berharap kamu bisa membantuku mempertahankan rumah tangga ini.”
“Menikah karena daddy, bertahanlah karenanya. Sudah berkorban sejauh ini, kalau sampai harus berpisah bukankah pengorbananmu akan menjadi sia-sia.”
“Aku tidak mau berpisah,” bisik Kailla pelan.
“Iya, aku tahu. Belajarlah bertahan, karena setelah ini, akan ada Ditya-Ditya yang lain kalau kamu tetap seperti ini. Kalau kamu tetap bermain dengan perasaanmu, tidak bisa mengelola hatimu sendiri.”
“Rasa itu akan terbentuk dengan sendirinya, saat kalian sering bertemu. Rasa suka itu akan menjadi kenyamanan dan pada akhirnya kamu mengatakan itu cinta.”
“Semua orang pasti pernah berada di posisimu sekarang. Aku saja terkadang masih mengagumi kecantikan perempuan lain, kesempurnaan wanita lain tetapi aku membatasinya sampai sebatas pandangan saja. Tidak memasukan rasa dan hati di dalamnya.”
Kailla melotot, bersiap murka dan memukul dada suaminya dengan kencang.
“Hahaha... itu manusiawi. Bullshitt kalau aku bilang, aku mati rasa saat melihat perempuan seksi lewat di depan mataku. Omong kosong, kalau ada perempuan cantik telanjang di depanku, aku tidak menelan ludah,” jelas Pram.
“Aku masih laki-laki tulen!” ucap Pram tersenyum.
Mata membulat itu semakin menyimpan amarah. Kailla tidak terima ketika suaminya mengambarkan hal-hal yang membuat kecemburuannya semakin memuncak.
“Hahaha.. aku hanya mencontohkan saja kamu sudah marah-marah. Coba bayangkan bagaimana perasaanmu kalau di posisiku, melihat dan mendengar suara istriku yang sedang berbincang dan tertawa dengan lelaki lain di belakangku.”
“Kamu melihat Kinar keluar dari ruang kerjaku saja, kamu sudah tidak terima. Pergi ke tempat David, minta rekaman cctv ruangan Presdir. Khusus untuk ruanganku, rekaman cctv ada di tangannya. Apa saja yang Kinar lakukan selama di dalam ruanganku, kamu bisa melihatnya,” jelas Pram.
Kailla menutup mulutnya, mengedar pandangannya ke udara. Dia langsung meringis, menutup wajahnya menahan malu. Mengingat hal gila yang selama ini dilakukannya. Pantas saja Pram hanya mau menciumnya selama berada di sini. Suaminya menolak melakukan hal lebih di ruang kerjanya.
“Ya Tuhan, David bisa melihatku menyuapimu tadi,” bisiknya, mengusap bibirnya sendiri, merona malu.
“Dia tidak selancang itu. Dia hanya bisa membuka atas izinku. Jangan samakan asistenku dengan Sam!” gerutu Pram.
“Tapi kalau dia mencuri lihat bagaimana?” tanya Kailla dengan polosnya, dia sudah bersiap bangkit dari pangkuan Pram, tetapi Pram menahannya.
“Ayo kita buat David meriang menahan hasratnya,” ujar Pram dengan isengnya.
“Ha?!” Kailla nyaris tidak percaya dengan keusilan Pram.
“Ayo cium aku seperti tadi. Lebih panas lagi dan kalau bisa mendesah lebih dari biasanya,” bisik Pram, menghembuskan nafas kasar di telinga Kailla.
***
To be continued
Love You all
Terimakasih.
Hanya up satu bab ya. Ini dua bab di gabungkan jadi satu. Hari ini tidak digantung, ada manis-manisnya supaya pembaca tersayangku bisa senyum sebelum menangis lagi.
Sejarah untukku selama menulis, satu bab sepanjang ini, di atas 2ribu kata.