
Mobil sport hitam melaju kencang memecah keramaian jalan ibukota. Berulang kali lelaki itu menekan klakson mobilnya, meminta jalan pada pengendara lain di tengah kemacetan lalu lintas. Tidak jarang lelaki tampan itu harus mendapat umpatan, buah dari ketidaksabarannya.
Hampir empat puluh lima menit terjebak dalam keruwetan jalanan ibukota, akhirnya Pram bisa bernafas lega saat mobilnya masuk ke gerbang perumahan mewah dengan pemandangan deretan rumah bertingkat ditaksir seharga puluhan miliaran rupiah. Salah satu sarangnya para sultan dan crazy rich Jakarta.
Dan Pram boleh berbangga menjadi salah satu penghuni kawasan prestisius itu, menghadiahkan istri tercintanya rumah mewah dengan view langsung menghadap ke laut di utara Jakarta, lengkap dengan fasilitas yacht terparkir di dermaga belakang rumah.
Meskipun ada harga yang harus dibayar untuk itu, yakni agenda banjir yang hampir bertamu setiap tahun di kala musim penghujan tiba. Akan tetapi, rumah ini adalah rumah impian Kailla yang bermimpi sejak kecil memiliki rumah di pinggir pantai.
Klakson mobil sport dua pintu yang dikemudi Pram kembali berteriak kencang, bertalu-talu di depan gerbang rumah, bukti kepanikan pengendara di dalamnya.
Tidak lama, dua orang security berseragam hitam, berlari membukakan pintu, tersenyum membungkuk pada majikannya.
Gerbang itu belum terbuka sempurna, Pram sudah melesatkan mobilnya masuk dengan kecepatan tinggi. Keluar terburu-buru dari kendaraan roda empat itu sambil berteriak.
“SAM! BAY! RICKO!” panggil Pram, meneriaki satu persatu, mengabsen nama asistennya.
Ketiganya lari kocar kacir dari belakang rumah tanpa persiapan. Tidak menyangka Pram akan pulang ke rumah di jam-jam potensial untuk tidur siang.
“Ada apa Bos?” tanya Bayu.
“Keluarkan chainsaw dari gudang, masukan ke mobil. Kumpulkan semua asisten, suruh ikut denganku!”
Tanpa menunggu lebih lama, Pram masuk ke dalam rumah mencari mama dan mertuanya.
“Ma.” Pram memanggil mamanya, mencari sosok wanita yang sudah melahirkannya itu.
“Kai,” panggil Pram lagi, saat melangkahkan kaki masuk ke dalam rumahnya.
Begitu menginjakan kaki di ruang makan, Pram berpapasan dengan Ibu Ida. Wanita itu tersenyum, melihat kepanikan Pram.
“Non Kailla dan mamanya di kamar, Pak,” cerita Ibu Ida, seolah paham apa yang ada di pikiran majikannya.
“Oh, Kailla sudah makan? Sudah minum vitamin?” tanya Pram, melirik ke pergelangan tangannya.
Ibu Ida menggeleng. “Non Kailla mau dibuatkan opor ayam. Bu Sari sedang membuatkan untuknya,” jelas Ibu Ida.
“Tolong siapkan makan siang Kailla, masukan ke kotak bekal. Aku akan mengurusinya,” perintah Pram.
Tanpa menunggu, lelaki itu berlari ke kamar, untuk menemui keduanya. Sudah tidak sabar melihat apa yang dilakukan mama dan istrinya. Buru-buru membuka pintu kamar tidurnya.
“Ma..” sapa Pram saat melihat Ibu Citra. Wanita tua itu sedang berdiri di depan lemari tas koleksi menantunya dengan penuh kekaguman.
“Kamu sudah pulang, Pram?” tanya Ibu Citra.
“Kailla mana, Ma?” tanya Pram, mengedarkan pandangan menyusuri kamar tidurnya.
“Istrimu muntah lagi,” sahut Ibu Citra dengan santai, menunjuk ke kamar mandi.
Mendengar jawaban sang mama, Pram berlari mendobrak pintu kamar mandi yang tidak terkunci.
“Sayang, kamu baik baik saja?” tanya Pram, mendekati Kailla yang sedang membungkuk di depan wastafel, memuntahkan isi perutnya.
“Aku mual lagi,” bisik Kailla menatap Pram dari pantulan cermin, mengusap mulutnya, membersihkan dengan air kran.
Melihat Kailla yang lemas tidak bertenaga lagi setelah mengeluarkan isi perutnya, membuat Pram tidak sampai hati.
“Maaf. Apa sudah enakan sekarang?” tanya Pram, mengusap punggung Kailla lembut.
“Sudah,” sahut Kailla mengangguk.
Kedua sudut bibit Pram melengkung ke atas, dengan cekatan menyambar tisu di meja wastafel dan membantu mengusap bibir Kailla yang basah.
“Aku akan mengajakmu memetik mangga. Kamu bisa menikmati mangga dari atas pohonnya langsung. Seperti keinginanmu,” cerita Pram, tersenyum.
Tiba-tiba Pram bersimpuh di depan Kailla, mencium perut istrinya sembari berbisik di sana.
“Daddy akan mengabulkan keinginan kalian. Jadi jangan menyusahkan mommy lagi,” ucap Pram, mengusap perut Kailla.
“Benarkah?” tanya Kailla tidak percaya. Tidak menyangka Pram mengabulkan permintaan tidak biasanya.
“Iya, apapun untukmu dan anak kita,” sahut Pram, tersenyum.
***
Terlihat dua mobil, berjalan beriringan keluar dari kediaman Pram. Satu mobil yang dikendarai Bayu, ditumpangi para asisten. Mobil yang satunya lagi dikemudikan Pram sendiri dengan Kailla duduk di samping Pram dan Ibu Citra menghuni kursi belakang, hampir tertidur.
Senyum cerah Kailla tidak pernah hilang dari wajahnya sejak Pram menyatakan bersedia mengabulkan keinginannya. Tidak lama, iringan mobil itu masuk ke lapangan bola di dekat komplek perumahan.
Ibu Citra yang sejak tadi diam, langsung bereaksi saat melihat buah mangga bergelantungan di pohon yang terletak di pinggir lapangan.
“Bagaimana memetiknya Pram?” tanya Ibu Citra, kebingungan melihat pohon mangga yang menjulang tinggi.
“Lihat saja nanti, Ma. Istriku ingin memetiknya sendiri dari pohonnya.”
Mobil itu terhenti, tidak jauh dari pohon mangga. Suasana lapangan terlihat sepi, tidak ada anak-anak yang berkumpul, bermain bola di cuaca terik seperti ini. Hanya terlihat seorang pengembala yang sedang menemani kambing dan sapinya menikmati rumput hijau.
“Kai, tunggu di sini ya. Jangan keluar, tetap di mobil. Cuaca sedang panas-panasnya,” perintah Pram, sebelum melangkahkan kakinya keluar dari mobil.
Lelaki matang itu terlihat menghampiri salah satu rumah warga yang tidak terlalu jauh dari lapangan. Entah apa yang dicari Pram di sana. Tidak ada seorang pun yang tahu.
Hampir lima belas menit, akhirnya Pram kembali dengan ditemani seorang bapak tua berpakaian batik lusuh yang masih dikenali Kailla.
“Bapak si pemilik pohon mangga,” seru Kailla, membuka pintu dan menghampiri suaminya.
“Ini istriku yang sedang mengidam. Bapak pasti masih mengenalnya,” jelas Pram, merengkuh Kailla dan mendekapnya.
“Kenapa keluar? Di sini panas,” bisik Pram, mengecup pucuk kepala istrinya.
Bapak tua itu mengangguk dan tersenyum. “Silahkan Pak, anggap saja pohon sendiri.”
Tanpa membuang waktu, Pram langsung memberi instruksi.
“Bay! Sam! keluarkan chainsaw!” perintah Pram, pada ketiga asistennya yang sedang berjongkok di bawah pohon.
Ketiganya langsung bergerak, mengikuti perintah Pram. Mengeluarkan mesin pemotong, menebang habis pohon mangga, membuat Kailla terbelalak tidak percaya.
“Pram!” teriak Bara, keluar dari mobil dengan kacamata hitamnya. Lelaki tampan itu baru saja akan berangkat ke kantor, tetapi matanya terpaku saat menangkap sosok familiar yang sedang berdiri di tengah lapangan.
“Bara?” sahut Pram heran. Tidak menyangka akan bertemu teman baiknya itu disini.
“Ada apa ramai-ramai?” tanya Bara, menghampiri, membuka kacamata hitamnya dan menyimpan di saku kemeja.
“Itu!” sahut Pram, menunjuk ke arah asistennya yang sibuk memotong pohon mangga, menimbulkan suara berisik. Menarik warga sekitar berkumpul dan menonton apa yang terjadi.
Bara mengerutkan dahinya, masih belum paham. Namun, dia cukup bahagia melihat Pram menebang pohon mangga yang sudah dua kali menyusahkannya. Setiap istrinya hamil selalu menginginkan mangga dari pohon ini.
Dan sekarang dia bisa tenang, setidaknya kalau Bella hamil lagi, dia tidak perlu dipaksa memanjat pohon mangga ini.
“Aku setuju dengan idemu Pram. Kalau perlu aku akan menambah uang saku untuk bapak yang mengaku sebagai pemilik pohon mangga ini,” ucap Kailla kesal. Mengingat bagaimana dia dikerjai karena pohon mangga ini.
“Kailla hamil dan mengidam mangga ini,” cerita Pram, sontak membuat Bara terbahak.
“Benarkah? Wah selamat,” ucap Bara, menepuk lengan Pram.
“Tidak menyangka anak nakal ini akan menjadi ibu sebentar lagi,” goda Bara, tersenyum usil pada Kailla yang masih memeluk erat suaminya.
Berbeda dengan Kailla, sebaliknya dia menatap kesal pada lelaki tampan yang suka mengerjainya.
“Memang sebaiknya dimusnahkan Pram. Aku setuju sekali. Aku tidak tahu pohon mangga ini sudah memakan berapa banyak korban. Berapa banyak suami yang yang dipaksa istrinya yang mengidam karena keberadaannya,” celetuk Bara, menatap pohon mangga yang sebentar lagi akan tumbang.
“Om, Bella sudah melahirkan?” tanya Kailla, menyela.
“Sudah. Kenapa tidak main ke rumah?” tanya Bara.
“Nanti aku main kesana. Perempuan atau laki-laki lagi?” tanya Kailla.
“Perempuan,” sahut Bara.
“Wah, pasti secantik Bella,” celetuk Kailla.
“Tidak. Kali ini mirip denganku,” ucap Bara, terkekeh.
“Ya.. pasti menyebalkan kalau seperti Om Bara,” lanjut Kailla menjulurkan lidahnya, meledek Bara.
“Kai, jangan begitu.” Pram mengingatkan.
“Berdoa saja bayi kalian tidak mirip denganmu, tidak senakalmu, Kai,” ucap Bara, tidak mau kalah.
“Sayang, dia meledekku lagi!” gerutu Kailla, mengadu pada Pram.
“Sudah, biarkan saja,” ucap Pram, tidak mau meladeni.
“Oh ya, Rania jadi kuliah keluar negri?” tanya Pram tiba-tiba, mengingat beberapa hari yang lalu, Bara sempat bertanya tempat kuliahnya sewaktu di Inggris.
“Aku belum tahu, Bella tidak mengizinkan putrinya kuliah di luar.”
“Iya, anak perempuan. Kenapa tidak di Jakarta saja?” tanya Pram heran.
“Anak itu sudah punya pacar. Yang membuatku marah, pacarnya hampir seumuranku. Apa tidak ada laki-laki lain lagi,” cerita Bara, mendengus kesal.
“Serius?” tanya Pram meyakinkan.
“Iya, dia tidak berani mengenalkan padaku. Mau aku patahkan kaki pacarnya!” omel Bara, meraih kacamata hitam dan mengenakannya kembali.
“Aku pamit dulu. Setiap membahas pacar Rania, aku ingin membunuh orang rasanya.” ucap Bara, melangkah kembali ke mobilnya.
Masih terdengar samar-samar lelaki itu mengumpat.
“Breng’sek Matt! Tidak dapat ibunya, anaknya diembat juga,” gerutu Bara.
***
Sepeninggalan Bara, Pram membawa Kailla kembali ke mobil. Dari kaca jendela, mereka bisa melihat Ibu Citra yang tertidur di kursi belakang.
“Sayang, makan sedikit ya,” pinta Pram, meraih kotak bekal yang tadi disiapkan.
“Aku masih kesal, kenapa kamu menebang pohonnya. Bagaimana aku memanjatnya,” dengus Kailla.
“Kamu tetap bisa memanjatnya. Makan dulu sedikit,” bujuk Pram, menyuapkan sesendok penuh nasi dengan kuah opor dan sepotong ayam ke dalam mulut istrinya.
“Beda rasanya, Sayang,” keluh Kailla, masih tidak bisa terima.
“Kamu sedang hamil, aku tidak bisa membiarkanmu memanjatnya. Yang terpenting, kamu bisa memetik buahnya langsung dari pohonnya, juga bisa duduk dipohonnya. Aku sudah membawa Ibu ida untuk membantu mengupasnya. Kamu bisa makan mangganya langsung dari atas pohonnya sampai puas,” jelas Pram, tersenyum.
Bunyi pohon mangga yang tumbang, mengejutkan semua yang ada di sana, termasuk Ibu Citra yang sedang tertidur. Pram dan Kailla segera turun dari dalam mobil untuk melihat dari dekat.
“Sayang, silahkan memanjat pohon manggamu,” ucap Pram menunjuk pohon yang sudah tumbang tidak jauh dari ketiga asistennya yang masih kelelahan.
“Semua mangga itu milikmu. Aku sudah membayar mahal untuk semua ini,” lanjut Pram tersenyum.
Kailla membeku di tempat menahan kesal, tetapi pada akhirnya bersama ketiga asistennya dan Ibu Ida, Kailla memetik seluruh mangga dari pohonnya sampai puas. Sesekali tersenyum menatap Pram.
“Kamu suka?” tanya Pram, berjalan mendekat.
Kailla mengangguk.
“Kalau sudah puas, segera masuk ke mobil. Cuaca di luar panas. Mama saja memilih duduk di mobil,” ucap Pram.
Sekeranjang penuh mangga dari pohon yang tumbang dibawa pulang Pram, berjaga jaga saat Kailla menginginkannya, dia tidak perlu pusing lagi.
***
To be continued
Love you all
Terima kasih.