Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 197 : Tujuh bulan kehamilan


Dua purnama terlewati, kandungan Kailla pun sudah mulai masuk usia tujuh bulan. Ada banyak persiapan, selain acara baby shower yang akan diadakan Kailla bersama teman-teman dekat dan keluarga.


Selain itu, Pram juga mulai disibukan dengan membeli perlengkapan bayi. Ya, tidak seperti pasangan suami istri normalnya, di rumah tangga Pram dan Kailla, Pram yang lebih sibuk dibandingkan Kailla. Memastikan semua kebutuhan bayi kembar mereka, dibantu oleh dua orang babysitter yang diminta Pram tinggal di rumah sejak kehamilan Kailla menginjak usia lima bulan.


Dengan alasan perut Kailla yang semakin membesar, semua masalah perintilan memang lebih banyak ditangani Pram. Pria matang yang begitu antusias menyambut kedatangan bayi kembarnya itu sudah terlihat jauh lebih sehat. Kruk yang tadinya menghiasi kedua tangannya, saat ini hanya tertinggal satu saja. Terkadang Pram melupakan alat bantu berjalan itu, meskipun akhirnya dia harus meringis kesakitan setiap kali tanpa sengaja membebankan berat tubuh di kaki kanannya.


Pagi itu seperti pagi-pagi biasanya, Kailla terbangun dengan kondisi terpuruk di atas tempat tidur. Berat tubuhnya yang naik hampir 22 kilogram, membuatnya susah bergerak. Dia membutuhkan Pram untuk membantunya bangkit dari tempat tidur. Napasnya sudah pendek-pendek, dadanya sesak dan diserang sakit pinggang.


Hampir tiap hari kaki Kailla kesemutan dan mulai kesulitan berjalan. Belum lagi ukuran perutnya yang jauh membesar di saat hamil bayi kembar membuatnya sering buang air kecil setiap malam. Ada banyak sekali keluhan yang dialami Kailla, membuat Pram harus siaga setiap waktu bahkan saat tengah malam.


Memijat kaki dan pinggang istrinya, mengusap punggung dan perut Kailla, bahkan laki-laki itu harus terbangun sepanjang malam saat Kailla ingin ke kamar mandi. Sejak mulai leluasa berjalan, Pram tidak pernah membiarkan Kailla sendiri di kamar mandi. Trauma keguguran empat tahun silam, membuat Pram over protektif pada Kailla. Menjaga dan memanjakan Kailla siang malam.


“Sayang ....” bisik Kailla, pelan. Masih berbaring menyamping. Menatap suaminya yang sedang mengenakan kemeja kerja di depan meja rias.


“Ya, ada apa?” tanya Pram, berjalan pincang menuju arah suara feminim yang mengganggu kegiatan paginya. Pram mengerti, saat ini harus lebih bersabar dua kali lipat dari biasanya. Menghadapi Kailla yang sedang tidak hamil saja, membutuhkan kesabaran lebih. Apalagi di saat hamil besar seperti ini.


“Sayang ....” Kailla menyodorkan tangannya.


Tersenyum menatap dengan binar-binar cinta, Pram yang belum sempat mengancingkan kemeja putihnya itu segera membungkuk. Mendekap Kailla dan membantu istrinya duduk bersandar di tempat tidur.


Dan Kailla, tentu saja tetap manja seperti biasa. Memanfaatkan situasi ini dengan membenamkan wajahnya ke tubuh kekar Pram. Menikmati aroma maskulin dari dada telanjang itu.


Baru saja Pram berdiri tegak, Kailla sudah menangkap pinggang suaminya dan menguncinya dengan kedua tangan. Erat, seakan takut terlepas.


“Sayang, aku tidak mengizinkanmu ke kantor hari ini,” ucap Kailla dengan nada manjanya. Kepalanya menengadah demi bisa menatap wajah tampan suaminya.


“Aku ada meeting pagi ini, Mommy,” bisik Pram, kembali membungkuk.


Dengan kedua tangan menangkup pipi Kailla, Pram menghadiahkan kecupan tipis. Menyapu ringan bibir istrinya, sebelum mendekap erat.


“Aaaaahhhhhh, istriku tersayang,” ucap Pram, mengeratkan pelukannya, membuat Kailla kesulitan bernapas.


“Sayang, aku tidak mengizinkanmu ke kantor hari ini. Kamu bisa memimpin rapat dari sini,” tegas Kailla, masih dengan suara manjanya. Menepuk pelan tempat tidurnya.


“Tidak bisa, Kai. Tidak ada siapa-siapa di kantor.” Pram menjelaskan alasan penolakannya.


Bibir ibu hamil itu mengerucut, dengan raut menggemaskan berusaha melepaskan diri dari dekapan sang suami. “Pergi sana!” Mendorong kasar dada bidang di hadapannya, kemudian melipat kedua tangannya di dada. Wajah cemberut itu membuang pandangan.


“Hahahaha!” Pram tergelak. Bukannya marah, pria dengan sejuta sabar pada istri kecilnya yang manja itu malah tertawa bahagia. Menyentuh dagu Kailla dengan ujung jarinya, mengarahkan wajah asam kecut itu agar mau menatapnya.


“Sayang, jangan sering marah-marah. Ibu hamil itu harus tersenyum setiap hari.” Menahan wajah Kailla, perlahan membingkai pipi gembul dengan kedua telapak tangannya.


Bukan menjawab, Kailla semakin cemberut. Melempar pandangannya ke arah lain, tidak mau menatap wajah tampan Pram yang terlihat menawan. Senyuman suaminya secerah pagi. Manis dan sanggup membuatnya luluh lantah.


“Aku tidak ke kantor hari ini. Sudah jangan marah-marah lagi, Kai.” Pram mengalah. Kembali mencium bibir Kailla sebentar, beralih mengecup perut buncit dan mengusap bayi-bayinya dengan lembut.


“Anak-anak Daddy, tolong sampaikan ke mommy, ya. Jangan sering marah-marah ke daddy,” ucap Pram, melirik istri yang masih saja cemberut.


Menegakan kembali tubuh kekarnya, Pram mengancingkan kemeja kerjanya. Berjalan menuju meja rias dan menyemprotkan parfum mahalnya.


“Katanya tidak mau ke kantor tetapi masih dilanjutkan acara dandannya,” celetuk Kailla, membuang pandangannya. Kesal itu datang lagi.


“Ibu hamil kenapa harus sesensitif ini,” bisik Pram pelan, tersenyum setelah merapikan pakaiannya. Kembali menghampiri Kailla.


“Aku harus meeting pagi ini, dari sini, di ranjang ini, di sisi istri cantikku ini,” jelas Pram panjang lebar. Tampak Pram menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur, menghela napas.


“Ayo tersenyum sekarang. Aku membutuhkan senyumanmu.” Pram masih membujuk.


Kailla menggeleng. “Tidak mau.”


“Yakin tidak mau?” tanya Pram, menggoda.


Kailla mengangguk.


“Baiklah.” Pram mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Stella. Menunggu cukup lama, sampai terdengar suara dari seberang.


“Ste, tas yang aku minta kemarin, tolong dibatalkan saja. Istriku sepertinya ti ....” Pram tidak bisa melanjutkan kalimatnya, Kailla sudah merebut ponsel dari tangannya.


“Ste, kamu memesan tas apa untukku?” tanya Kailla setelah menguasai ponsel suaminya. Bahagia itu membuncah, mengalahkan gengsinya.


“Nanti aku kirimkan foto tasnya untukmu, Nyonya.” Stella menjawab.


“Baiklah, aku menunggu!” Kailla memutuskan sembari tersenyum manis. Sesekali menatap Pram dengan ekor matanya. Pria itu sedang mengulum senyuman.


“Terimakasih,” ucap Kailla. Tiba-tiba sudah menghambur dan memeluk Pram dengan erat. Mengecup basah seluruh wajah suaminya dengan tawa renyahnya.


“Sudah, Sayang. Kamu membuatku jadi berantakan sekarang,” protes Pram, saat Kailla mengunci lehernya dan bergelayutan. Membuat Pram tumbang, runtuh seketika di atas ranjang dengan tawanya yang kencang.


“Terimakasih, Sayang. Aku menyukai hadiahmu.” Sedetik setelah memastikan tas apa yang dihadiahkan Pram dari foto yang dikirim Stella di ponselnya.


“Ya, jangan merajuk lagi. Mau aku bantu mandi sekarang?” tawar Pram.


Kailla mengangguk. “Maunya digendong. Kamu sudah lama tidak menggendongku, Sayang,” ucap Kailla, pelan.


“Hahahaha. Aku sekarang tidak sanggup lagi, Kai. Kaki kananku belum sepenuhnya sembuh. Apalagi sekarang kamu lebih berat dariku. Aku janji, setelah kamu melahirkan, aku akan menggendongmu setiap hari,” ucap Pram.


“Aaaahhh!” pekik protes Kailla terdengar lagi. Meskipun begitu, dia mengalah kali ini.


***


Pram sudah duduk bersandar di atas tempat tidur dengan memangku laptop. Kakinya terjulur ke depan, terlihat tampan dengan setelan rapi, kemeja putih dengan dasi hitam bergaris diagonal berwarna putih. Celana hitam berbahan kain masih rapi mengkilat.


Menatap serius pada layar komputer jinjing di depannya, Pram sedang menyimak penjelasan salah satu manajer perusahaan melalui headset yang terpasang di telinganya. Sesekali terdengar suara Pram berbicara.


Di sampingnya, tampak sang istri sedang bersandar manja di pundaknya. Jemari keduanya saling menaut di atas pangkuan Kailla.


“Sayang, aku mencintaimu.” Kailla menggeser headset dari telinga Pram dan membisikan kata cinta di sana. Membuat konsentrasi laki-laki itu buyar seketika. Lupa sudah dengan semua penjelasan bawahannya, Pram tersenyum bahagia menatap Kailla.


Keduanya masih saling menatap, mata berbinar layaknya anak remaja yang baru jatuh cinta. “Aku juga mencintaimu,” ucap Pram tanpa suara. Hanya bahasa bibir, disertai sapuan lembut yang menggairahkan. Ya, Pram mencium istrinya setelah mengarahkan kamera laptopnya ke sembarang arah. Disusul melempar headset yang sudah terlepas dari kepalanya.


“Bagaimana kalau kita ke ladang sebentar, Kai,” tawar Pram dengan tatapan menggodanya.


***


TBC


Untuk info-info seputar novel, bisa follow ig : casanova_wety.s.hartanto