Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 200 : Dennis Joseph


Pram berlari menghampiri Kailla setelah membubarkan rapatnya secara mendadak. Panik itu tercetak jelas di wajah tampannya. Apa lagi saat mendapati Kailla bersandar sembari meremas daun pintu, menahan sakit.


“Kai, kamu baik-baik saja?” Pram merengkuh tubuh Kailla supaya bersandar padanya. Saat ini tentu saja dia harus jadi penguat dan penopang untuk istrinya.


“Sakit .... “ lirih Kailla, saat rasa sakitnya menghilang.


“Kita ke rumah sakit sekarang. Bisa jalan?” tanya Pram lagi.


Kailla mengangguk.


Langkah kaki itu tertatih-tatih, selain karena rasa sakit yang datang dan pergi sesuka hati, Kailla juga kesulitan berjalan karena berat tubuhnya yang naik banyak. Belum lagi dadanya sering sesak.


“Bay!” teriak Pram saat tidak mendapati seorang pun di luar ruang kerjanya.


“SAM!!” ulang Pram, berteriak lebih kencang lagi.


Mendengar teriakan majikan yang menggelegar, secepat kilat dua nama yang disebut berlari menghampiri.


“Ada apa Pak?” tanya Sam, pemuda itu lari kocar-kacir dari teras belakang. Baru saja akan menyatakan cinta pada Binara, tiba-tiba Pram menghancurkan semuanya dalam sekali sentak. Begitu namanya diteriakan Pram, rangkaian kata indah yang berusaha dihafalnya sejak semalam hilang, terbang, lenyap seketika. Otaknya kosong, tidak sanggup melanjutkan lagi.


“Ya, Bos.” Bayu, baru saja menyelesaikan makan siangnya. Bahkan pria itu belum sempat meneguk air putih. Terbatuk menahan tenggorokannya yang perih karena tersedak oseng mercon level biadab.


“Siapkan mobil. Aku harus membawa Kailla ke rumah sakit.”


“Hah! Non Kailla mau melahirkan sekarang?” tanya Sam, menatap iba pada wanita yang memeluk erat tubuh Pram, menahan sakit


Pandangan Bayu pun beralih menatap ibu hamil yang sedang meremas lengan suaminya dengan kencang. Tanpa bertanya, Bayu berlari keluar untuk mengambil mobil.


“Sam, bawa Kin dan Bin menyusul ke rumah sakit dengan mobil lain.” Pram memerintahkan Sam, sebelum membawa Kailla menuju ke mobil.


“Maaf Pak, harus bawa apa saja?” tanya Sam, menahan langkah kaki majikannya.


“Dua pengasuh itu sudah tahu apa yang harus dibawa,” jelas Pram, sembari melangkah menuju ke mobil.


Pria matang itu setenang air sungai tanpa riak. Panik itu hanya terlihat saat melihat Kailla meringis menahan sakit, selebihnya dia sangat tenang. Mengatur segala sesuatunya, sampai tidak ada yang terlewatkan. Ini bukan pengalaman pertamanya menemani wanita melahirkan. Dua puluh empat tahun yang lalu, dia menunggu di depan kamar operasi saat Kailla lahir.


Di dalam mobil, Kailla masih terus mengeluh kesakitan. Bibirnya memucat, memeluk Pram dengan erat.


“Sakit, Sayang?” tanya Pram, mengusap pelan punggung Kailla. Istrinya bahkan tidak mau menjauh. Sejak tadi hanya mau menempel padanya.


“Hmmm.” Kailla bergumam, memejamkan mata sembari menikmati aroma maskulin bercampur peluh kepanikan suaminya. Denyut jantung lelakinya terdengar jelas, sangat jelas saat dia membenamkan diri di dalam dekapan hangat Pram.


Perjalanan menuju ke rumah sakit berjalan lancar. Lalu lintas begitu bersahabat, Kailla tidak perlu menahan sakit di perjalanan terlalu lama. Tidak sampai satu jam, mobil yang dikendarai Bayu sudah masuk ke dalam pekarangan rumah sakit.


Begitu masuk ke dalam, Pram langsung meminta Bayu yang mengurus semuanya. Kailla tidak mau jauh darinya.


“Ibu, menunggu di ruangan ini dulu, ya,” ucap salah seorang perawat setelah membantu Kailla berbaring di atas brankar ruang gawat darurat.


“Sus, dokternya ada?” tanya Pram, berdiri di samping Kailla dengan tangan masih saling menggenggam.


“Sedang ada pasien, Pak. Dokternya sudah dikabari, sebentar lagi akan ke sini untuk memeriksa.”


“Baik.”


Perhatian Pram beralih pada Kailla, istrinya itu terlihat sedang tidak baik. Menahan kesakitan sesekali, terlihat jelas dari raut wajah yang berubah dan genggaman tangan semakin kencang.


“Kai, kamu baik-baik saja, kan?” tanya Pram, mengusap rambut Kailla yang tergerai berantakan.


Pria setenang malam itu seperti tidak terusik dan terbawa arus layaknya suami yang sedang menunggu istrinya yang akan melahirkan. Meskipun begitu, terselip kegusaran dan kepanikan di hatinya yang disimpannya seorang diri. Kailla membutuhkan ketenangannya untuk bisa menguatkan, bukan kepanikannya yang hanya akan semakin membuat ibu hamil itu tertekan.


“Hmmm,” gumam Kailla, kala sakit perutnya menghilang.


“Sakit sekali?” tanya Pram, beralih mengusap perut istrinya.


“Sakitnya berjarak. Tidak terus menerus.” Kailla menjawab dengan lemah.


“Kalau ....” Pram tidak bisa melanjutkan kalimatnya, pintu ruangan terbuka dan muncul sang dokter dengan senyuman hangatnya.


“Bagaimana Pak, Bu?” tanyanya.


“Istriku sudah merasakan sakit perut,” sahut Pram singkat.


“Oh! Harusnya jadwal caesarnya lusa, ya?” ucap sang dokter melempar pertanyaan sembari mengenakan sarung tangan karet. Terlihat santai, berjalan mendekati Kailla.


“Harusnya tiga hari lagi, Dok,” jawab Pram.


Tampak seorang perawat menarik tirai, menutupi area itu dari pandangan mata asing. Dengan dibantu seorang perawat lainnya, Kailla diminta untuk menekuk kedua kakinya sedemikian rupa, untuk melakukan pemeriksaan di inti tubuhnya.


“Tarik napas yang dalam ya, Bu.” Dokter berucap pelan.


“Uhhhhh!” Kailla mengernyit, hampir ingin mengumpat saat inti tubuhnya diobrak-abrik. Menciptakan rasa sakit yang sulit diungkapkan.


Genggaman tangannya semakin kencang, bahkan rasanya ingin mengamuk. Saat rasa sakit yang tidak biasa itu menyerangnya tiba-tiba, disaat sakit perutnya sudah mereda.


“Ya, semut raksasa. Kamu harus mencobanya nanti!” omel Kailla dengan nada ketus, meskipun sakitnya menghilang, dia masih kesal sendiri. Sakit karena ulah bayi kembarnya masih bisa membuatnya bertahan, sakit karena ulah tangan sang dokter membuatnya meradang.


“Pembukaan dua,” ucap sang dokter, melepas sarung tangannya dan meletakannya perlahan ke atas nampan stainless.


Pram menghela napas, tidak paham apa yang akan terjadi selanjutnya. “Jadi harus bagaimana, Dok?”


“Mau mencoba melahirkan normal? Kalau pembukaannya cepat, kemungkinan malam ini bisa melahirkan. Atau bisa lebih cepat, Pak,” jelas sang dokter, tersenyum menatap calon ayah dan ibu itu bergantian.


“Nanti aku kabari, Dok, aku harus membahasnya dengan istriku sebentar.”


“Baik, saya pamit dulu. Masih ada pasien menunggu, nanti saya kembali lagi. Sambil menunggu sebaiknya langsung mengambil kamar saja.” ucap sang dokter, melangkah keluar.


“Bagaimana, Sayang? Mau tetap dioperasi atau mau coba melahirkan normal?” Kali ini Pram tidak berani memutuskan sendiri seperti sebelumnya.


Kalau dia pribadi, tentu saja akan tetap melanjutkan dengan caesar. Mental istrinya benar-benar tidak siap untuk melahirkan normal. Untuk memilih jalan caesar saja, Pram butuh empat bulan untuk menguatkan dan meyakinkan hati Kailla. Berharap istrinya tidak merasakan kesakitan yang luar biasa saat melahirkan bayi kembar mereka. Dia tidak mau mengambil resiko.


Kailla menggeleng lemah. “Aku tidak tahu.”


***


Kamar perawatan itu sudah dipenuhi dengan banyak orang. Ada Ibu Citra yang memaksa datang saat dikabari Pram kalau Kailla sudah merasakan kontraksi berkala, bukan hanya kontraksi palsu seperti kemarin-kemarin. Wanita lansia itu terus duduk di sisi brankar, menggenggam erat tangan menantunya.


“Ma, Pram mana?” tanya Kailla, setelah hampir dua jam bertahan, belum ada penambahan pembukaan.


“Pram sedang ada urusan dengan Bayu, sebentar lagi dia akan menemuimu,” jelas Ibu Citra yang siang itu ditemani Kinar, yang juga sedang hamil besar.


Di pojok ruangan, tampak Pram berdiri menghadap jendela besar. Di sampingnya, Bayu juga melakukan hal yang sama. Memandang keluar, menikmati pemandangan halaman rumah sakit yang dipenuhi oleh kendaraan terparkir.


“Dennis Wijaya ... orangku sudah mengirim semua informasi tentang orang ini, Bos.” Bayu memulai pembicaraan.


Pram bergeming, berdiri kaku mendengarkan semua informasi dengan kedua tangan terselip di saku celana.


“Tidak banyak yang bisa digali dari Dennis Wijaya. Sama seperti Non Kailla, identitas Dennis ini juga disembunyikan.” Bayu melanjutkan ceritanya.


Pram tersenyum, untuk berita ini tentu saja sejak dulu dia sudah mengetahui semuanya. Dennis, putra Andi Wijaya. Cucu Wijaya satu-satunya. Tidak berbeda dengan Kailla yang keturunan Riadi. Anak muda ini juga berkesempatan disembunyikan dari dunia.


“Hanya saja, belakangan ada nama lain yang dicurigai adalah orang yang sama.” Bayu menjelaskan.


Pram terkejut, menatap Bayu tak berkedip.


“Dennis Joseph, putra angkat Victor Joseph, seorang taipan keturunan China Kanada yang menetap di Amerika. Tahun kemarin perusahaan Victor Joseph yang bergerak di bidang telekomunikasi masuk sepuluh besar perusahaan paling berpengaruh dan berpenghasilan tinggi di negri Paman Sam itu.” Bayu melanjutkan, menyodorkan ponselnya. Menunjukan foto Dennis Joseph yang dimaksud. Bagai pinang dibelah dua dengan Dennis Wijaya. Tentu saja Bayu yakin, penampakannya sama.



Pram terbelalak. “Bagaimana bisa?”


Dia tahu selama ini Dennis menghilang. Sejak Andi dan mama Dennis bercerai, tetapi dia tidak menyangka seorang Dennis Wijaya akan menjelma jadi sosok yang luar biasa.


“Aku coba mengulik identitas Dennis Joseph saja, untuk Dennis Wijaya benar-benar tidak ada info apa-apa,” jelas Bayu.


“Besar di Kanada, menempuh pendidikan di Amerika Serikat. Tidak ada informasi mengenai data kedua orang tuanya. Di publik hanya dikenal sebagai putra angkat Victor Joseph, sekaligus pewaris utama Victor Joseph yang memang tidak memiliki keturunan.”


“Ada selentingan mengatakan kalau Dennis Joseph keturunan Indonesia. Itu tertangkap dari sebuah foto yang bocor di salah satu media di Amerika.” Pram semakin terkejut saat mengetahui siapa musuhnya selama ini. Dia terlalu menganggap remeh Dennis, seorang putra Andi Wijaya yang sudah bangkrut.


“Setelah ditelusuri, Dennis Wijaya juga pemegang green card. Artinya ... bukankah dia sudah memiliki izin menetap di Amerika. Aku yakin sekali, Dennis Wijaya dan Dennis Joseph orang yang sama. Semua data mengenai Dennis Joseph itu mengarah padanya.”


Pram mengangguk. “Ada lagi?”


“Setahun belakangan ... ada berita yang mengatakan kalau dia terlibat percintaan dengan seorang wanita asal Yogyakarta dan memiliki seorang anak.” Bayu kembali membagi cerita yang diketahuinya.


“Naina Joseph” Bayu menyebutkan nama wanita yang dikabarkan memiliki hubungan dengan Dennis Joseph.


“Mereka menikah?” Pram mengulum senyuman saat mendengar kisah percintaan Dennis. Setidaknya pria itu tidak akan mengejar istrinya.


Bayu menggeleng. “Tidak ada kejelasan.”


“Aku curiga ... dua kali penculikan Non Kailla dan peristiwa kecelakaan enam bulan yang lalu ada campur tangan Dennis ....”


“Bagaimana bisa? Sedikit pun tidak ada informasi yang mengarah ke sana. Oke, kalau penculikan yang dilakukan Andi bisa saja Dennis terlibat. Namun, penculikan yang dilakukan Anita ... apa benar Dennis terlibat?” Pram menolak percaya.


“Ada transferan dana yang masuk ke rekening Anita dari salah satu anak perusahaan Victor Joseph.”


Kalau benar Dennis terlibat, pria ini sungguh luar biasa. Bisa bekerja dengan rapi sampai tidak terdeteksi. Bahkan seorang Pram bisa kecolongan. Pria matang itu masih menolak percaya.


“Kasus kecelakaanmu sudah ditutup, Bos. Tidak ada bukti keterlibatan Dennis, tetapi aku yakin Dennis terlibat.”


“Perketat pengamanan untuk Kailla dan anak-anakku. Kalau aku tidak bisa melawannya, setidaknya aku bisa menjaga milikku.” Pram memberi perintah, menatap sedih pada Kailla yang berbaring menahan kesakitan.


***


TBC