Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 55 : Menemui Mama


Pram masih berdiri menatap ke gedung pencakar langit yang tergambar jelas dari jendela besar apartemennya. Kedua tangannya terlipat di dada, dengan pandangan fokus ke depan. Sesekali melirik ke arah Kailla. Istrinya itu terisak kecil, dengan tangan yang beberapa kali terlihat menyapu tetesan air di pipi.


Dia terpaksa melepaskan pelukannya. Setelah hampir lima belas menit, tangisan Kailla bukan mereda tapi malah semakin menjadi.


“Sayang, kamu serius tidak mau bercerita padaku? Tahukah kamu, aku tahu segalanya.” Pram berkata, mengubah arah berdirinya.


Saat ini dia sudah menghadap tepat ke arah istrinya, melupakan pemandangan ibukota yang terpampang nyata dari balkon kamar mereka.


Kailla mengangkat pandangannya. Sejak tadi dia hanya menunduk, duduk di sofa menenangkan diri.


“Katakan saja, kenapa menyembunyikannya dariku?” tanya Pram lagi. Ikut duduk, saling berhadap-hadapan.


Tangan kekar itu masih terlipat rapi di dada, dengan kaki kiri menumpang di kaki kanan memberi kesan gagah sang Reynaldi Pratama. Yup, dia masih setia menunggu jawaban yang keluar dari bibir tipis sang istri.


“Aku.. aku tidak mau kamu bertengkar dengan mama.”


Kailla kembali menunduk.


“Aku tahu rasanya tidak memiliki mama,” bisik Kailla dengan suara bergetar. Airmatanya jatuh kembali.


“Tapi kamu harus menceritakannya padaku. Apapun itu,” potong Pram.


Pram meletakkan ponselnya yang berisi rekaman kejadian malam itu. Ditaruh perlahan di atas meja, tepat di sisi yang bisa terlihat jelas oleh istrinya.


Rekaman itu sedang memutar kembali, adegan demi adegan yang terjadi antara Kailla dan mamanya. Bahkan berapa kali tamparan itu terjadi, terekam jelas.


Kailla terperangah, terkejut saat menyadari Pram benar-benar mengetahui detail kejadiannya. Yang saat ini dipikirkannya adalah satu orang. Dia harus memastikan dan menyelamatkan orang ini dari amarah suaminya.


Tanpa berpikir panjang, Kailla berlari menuju pintu. Pintu kamar itu baru membuka setengah, saat Pram menahan dan menutupnya kembali.


Brakkkk!!


“Kamu mau kemana?” tanya Pram heran, tidak menyangka dengan respon Kailla yang tidak biasanya.


“Aku mau keluar, Sayang. Aku mengkhawatirkan Sam.”


Pram terkekeh.


“Kamu menghukumnya lagi?” tanya Kailla, menodong.


“Itu sungguh kesalahanku. Tidak ada hubungnnya dengan Sam,” ucap Kailla, memohon.


“Kamu berani keluar dengan piyama tidur tipis ini. Aku akan menelanjangimu sekarang!” ancam Pram.


Kailla terhenyak, buru-buru mencari jaketnya.


“Jaketku kemarin malam dimana?” tanya Kailla, mengedarkan pandangannya. Mencari jaket yang kemarin dipakai untuk menutup piyama tidurnya.


“Mandi sekarang, Kai! Aku sudah meminta Sam membawa pakaian untukmu,” jelas Pram, meraih tubuh Kailla dan mendorong perlahan punggung istrinya supaya bergegas ke kamar mandi.


“Jangan berendam. Aku harus ke kantor sebentar lagi,” jelas Pram, membuka kembali jasnya. Melempar asal ke atas tempat tidur. Sekarang dia menatap pantulan dirinya di cermin rias, kemeja putih yang rapi mengkilat sekarang sudah hancur lebur karena tangisan Kailla.


Melepas satu per satu kancing kemeja putihnya sembari berjalan keluar kamar.


“Sam!” panggil Pram. Dia sudah berdiri di ruang makan, memandang Sam dan Bayu yang sedang menikmati secangkir kopi dan roti selai.


“Iya Pak,” sahut Sam buru-buru berdiri.


“Kamu membawa berapa setel kemeja untukku?” tanya Pram. Bagian atas tubuhnya sudah terbuka, memamerkan perut roti sobek dan dada bidang yang mencuri keluar dari kemeja yang sudah tidak terkancing sama sekali


“Masih ada, Pak.”


Tanpa menunggu perintah, dia sudah berlari membawa sebuah paper bag berisi pakaian Pram dan Kailla.


“Ini Pak,” sodor Sam.


Dari arah dapur tampak Ibu Ida keluar membawa nampan berisi secangkir kopi dan susu segar untuk majikannya. Menatanya dengan rapi di atas meja.


“Pagi Pak,” sapa Ibu Ida, menunduk.


“Oh, Ibu ikut kesini?” tanya Pram heran.


“Iya Pak, sudah lama aku tidak beres-beres disini. Jadi sekalian ikut,” sahutnya menjelaskan tujuannya ikut ke apartemen.


Pram mengangguk. Dari dalam kamar sudah terdengar suara teriakan Kailla. Nyaring dan tidak kenal kompromi.


“Sayang! pakaianku dimana?” teriak Kailla, hanya terlihat kepalanya menyembul dibalik pintu.


Pram buru-buru menenteng papeg bag berisi pakaian menuju ke kamar tidurnya,


“Ini!”


Paper bag itu sudah dijatuhkan di atas tempat tidur. Belum sempat membukanya, Kailla yang hanya terbalut handuk sudah mendorongnya, mengambil alih. Membongkar isi paper bag dengan asal. Melempar kasar pakaian teratas, demi mencari pakaiannya yang tersusun di bagian bawah.


“Sayang, kemejaku kenapa dibuang keluar?” tanya Pram kesal. Memungut kembali pakaiaannya yang berserakan.


Tidak ada jawaban. Kailla tetap mengacak-acak. Tangannya baru berhenti saat menyentuh gaun pink yang disiapkan Ibu Ida untuknya.


Pram masih menatap kesal, tapi Kailla seolah tidak peduli. Melepas handuk dengan santainya di hadapan suaminya.


“Jangan macam-macam!” ancam Kailla, saat melihat senyum menyeringai di bibir suaminya.


“Hahahaha! Kamu yang memancingku, Kai,” ucap Pram, tersenyum.


“Serigala disodorkan daging segar tidak akan menolak, Kai,” lanjut Pram lagi, kembali menggoda. Dia sudah melempar kemejanya.


Kailla langsung bergidik, saat Pram menatap tubuh polosnya dari atas sampai ke bawah. Buru-buru mengenakan gaun pinknya, cara meloloskan diri terbaik dengan berpakaian segera.


“Hahaha.., aku sedang tidak sempat mengerjaimu. Kalau tidak, aku tidak yakin akan membiarkanmu lolos hari ini,” lanjut Pram, melanjutkan berpakaian kembali.


***


Keduanya sudah berjalan keluar lobby apartemen, menunggu para asistennya. Pram yang masih menenteng paper bag merah berisi pakaian kotor mereka terlihat mengekor di belakang istrinya.


“Kai, aku harus ke proyek, setelah itu aku akan menemui mama,” ucap Pram sembari mengecek pesan yang dikirim David di ponselnya.


“Kamu tidak ke kampus?” tanya Pram lagi, masih saja sibuk dengan ponselnya.



“Tidak! Aku tidak mengizinkanmu pergi ke tempat mama!” ucap Kailla dengan ketus. Wajahnya cemberut dengan tangan terlipat di dada.


“Aku harus menyelesaikan semuanya dengan mama. Aku tidak bisa membiarkannya menyakitimu terus menerus,” sahut Pram.



Pandangannya kembali tertuju pada pesan David. Asistennya itu sepertinya sedang kewalahan menghadapi masalah di proyek.


“Sudah jangan marah-marah lagi,” bujuk Pram, setelah menyimpan kembali ponselnya.


“Biarkan saja mama. Aku tidak mau kamu menemuinya. Bisakah untuk sementara ini tidak menemui mama,” pinta Kailla.


“Setelah ini, aku tidak akan menemui mama sampai dia memperlakukanmu dengan baik. Ya?” Pram memohon.



Kailla diam, masih enggan menjawab.


“Ayo Sayang, kali ini saja. Setelah ini, aku berjanji tidak akan menemui mama lagi, kalau kamu tidak mengizinkanku,” pinta Pram, dengan tampang memelasnya.


“Kalau kamu menemui mama, yang ada mama akan tambah membenciku. Aku sudah bosan mendengar hinaan mama,” keluh Kailla, sedikit melunak.


“Sayang, dengarkan aku. Aku tidak terima mama memukul wajah istriku yang cantik ini,” bujuk Pram, mengusap pipi istrinya.


“Jadi aku perlu bicara serius dengan mama,” lanjutnya lagi.


“Ayolah Sayang. Malam ini aku akan pulang cepat. Kita pergi menonton. Bagaimana? Belum pernah kan?” tawar Pram.


Kailla masih tidak mau menjawab, tapi Pram sudah merengkuh tubuh mematung itu. Sembari mengecup hangat kening istrinya.


“Aku mencintaimu. Jangan marah lagi, jangan cemberut lagi.”


“Harus pulang cepat!” ucap Kailla, masih saja kesal.


“Iya.., masuk ke mobil sekarang. Sam sudah menunggumu,” ucap Pram, segera membuka pintu mobil yang baru saja berhenti di depan mereka. Tampak Ibu Ida sudah duduk di dalam.


Cup! Sebuah kecupan singkat mendarat di bibir Kailla.


“Jangan nakal. Langsung pulang ke rumah. Aku akan menghubungimu nanti,” ucap Pram, meletakan paper bag merah yang sejak tadi di tentengnya itu ke atas pangkuan istrinya.


Kailla mengangguk.


***


Mobil yang dikendarai Bayu sudah masuk ke dalam pekarangan rumah Ibu Citra. Terlihat Pram turun dari dalam mobil, merapikan setelan jasnya sebelum berjalan ke arah teras rumah.


Tok! Tok! Tok! Ketukan beruntun itu berakhir setelah Kinar membuka pintu dan tersenyum menyambut Pram.


“Mas..,” sapanya.


“Silahkan masuk!” lanjut Kinar mempersilahkan.


“Tolong panggilkan mama!” perintah Pram, memilih berdiri di luar. Menolak masuk ke dalam rumah.


Melihat sikap dingin Pram, Kinar sudah bisa menebak. Bahkan sebelum kedatangan Pram pun, dia sudah yakin laki-laki itu akan mendatangi kediaman mereka hari ini.


Pram sedang menatap ke arah halaman, saat Ibu Citra muncul dari arah dalam rumah.


“Pram, kamu datang Sayang,” sapa Ibu Citra, berusaha terlihat biasa.


Baru saja dia akan menyentuh lengan putranya, tapi Pram mundur, menolak untuk disentuh.


“Kita perlu bicara serius,” ucap Pram menatap ke arah Kinar, seolah menolak kehadiran Kinar di dalam pembicaraan mereka.


“Kita bicara di kamar mama saja,” ajak Ibu Citra, berusaha bersikap selembut mungkin. Bukannya dia tidak tahu maksud kedatangannya putranya ke sini. Sejak semalam dia sudah mempersiapkan diri.


“Kita bicara disini saja, Ma,” tolak Pram.


“Tolong minta wanita itu masuk ke dalam rumah, Ma. Dia tidak pantas berada di antara kita saat ini. Dia bukan siapa-siapa di keluarga kita,” perintah Pram. Bahkan dia tidak mau memanggil nama Kinar.


“Pram apa-apaan ini! Mama tidak masalah kamu tidak mau dia ikut dalam pembicaraan kita. Tapi kenapa harus menyakitinya dengan kata-katamu barusan.”


Pram tertawa.


“Aku hanya tidak menganggapnya sebagai anggota keluarga kita, mama sudah tidak terima. Apalagi kalau aku menamparnya sebanyak dua kali,” ucap Pram.


“Jawab aku Ma. Apa yang akan mama lakukan, kalau aku menampar Kinar sekarang?” tanya Pram.


“Pram.....”


***


To be continued


Love you All


Terima kasih.