Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 85 : Perjuangan Kailla dimulai, Kesabaran Pram diuji


“Ahhhhhhhhhhhhhh!!!” pekik Ibu Citra dan Kailla secara bersamaan. Spontan Kailla memejamkan mata, sedang kan Ibu Citra menutup wajah dengan kedua tangannya.


“Maaf Non,” ucap Bayu pelan.


Bayu baru saja selesai menyimpan koper Ibu Citra dan bermaksud keluar. Tetapi saat hendak meraih gagang pintu, pintu kayu itu sudah terbuka. Hampir saja membentur tubuh kekarnya kalau dia tidak sigap dan mundur beberapa langkah.


Beriringan dengan itu, terdengar suara jerit dua wanita memekakan telinga.


Plakk! Lengan Bayu dipukul kencang dan tidak berperasaan.


“Kurang ajar kamu, Bay. Jantungku hampir melompar keluar! Kenapa tidak dibuka gordennya, gelap-gelapan di dalam.” omel Kailla. Dia tidak memperhatikan asisten suaminya itu sejak tadi. Tiba-tiba sudah muncul dari dalam kamar.


Ibu Citra tertegun, setelah menenangkan dirinya. Menatap kamar tidur yang tidak terlalu luas itu di dalam kegelapan.


“Kai, kamu serius dengan cerita roh gentayangan itu?” tanyanya memastikan.


Bulu kuduk yang sempat melemas sekarang merinding kembali menyaksikan betapa menyeramkannya kamar yang akan ditempati. Tidak terlalu luas, tetapi aura-aura serasa tidak ada positifnya. Entah mungkin perasaannya saja setelah mendengar cerita sang menantu, yang belum masuk kategori menantu kesayangan.


Kailla mengangguk.


“Hampir sebulan kami tinggal disini, hidupku tidak bisa tenang setiap malam, Ma,” jelas Kailla, mengingat masa-masa menghuni apartemen ini.


“Hah!? Semengerikan itu. Apa roh gentayangan itu mengganggumu?” tanya Ibu Citra. Berganti memeluk lengan Kailla dengan erat.


Kailla menggeleng, menatap mertuanya dengan pandangan yang sulit diartikan.


“Bukan roh yang menggangguku, tetapi putramu. Melihat aku ketakukan, dia memanfaatkan keadaan,” ucap Kailla sambil tergelak.


“Anak nakal! Kamu mengerjaiku!” gerutu Ibu Citra.


Bayu yang masih mematung di tempat, menahan tawanya supaya tidak pecah. Pemandangan yang tidak pernah diduganya. Sebulan yang lalu, Ibu Citra masih memendam kemarahan setiap bertemu dengan Kailla, tetapi disaat ini bisa dipastikan duet maut menantu dan mertua ini akan semakin membuatnya pusing kepala.


Bahkan, bisa dipastikan Pram akan menyesal sudah membawa serta mamanya yang hanya akan membuatnya mati berdiri. Seorang Kailla saja sudah membuat mereka kelimpungan, ditambah dengan Ibu Citra. Tidak bisa dibayangkan, saat dua orang yang sama keras kepalanya itu bertemu dan menyatukan kekuatannya.


Bayu yakin, ksatria baja hitam sekalipun akan melambaikan tangan ke kamera, pertanda menyerah. Tidak sanggup melanjutkan pertandingan kalau sudah berhadapan dengan dua orang ini. Bagaikan kutub utara dan kutub selatan yang ketika didekatkan akan saling tarik menarik. Begitulah mungkin gambaran mertua dan menantu yang selama ini dijauhkan oleh Pram karena alasan masa lalu.


“Kai, temani mama ke dalam ya,” pinta Ibu Citra, menarik lengan menantunya. Ikut masuk ke dalam. Suasana asing, membuatnya merindukan Kinar. Wanita yang selama belasan tahun menemani hari-harinya. Karakter Kinar dan Kailla sangat jauh berbeda. Kinar sangat dewasa dan lemah lembut, bicara saja pelan, seolah takut menyakiti orang lain.


Berbeda dengan Kailla, yang ceplas ceplos dan apa adanya. Tidak ada kelembutan seorang wanita sama sekali tercermin di sosok menantunya itu. Apalagi gambaran istri idaman, sungguh sangat jauh dari ekpektasi.


Kailla menurut, menemani mertuanya masuk. Menyalakan lampu kamar dan membuka semua gorden.


“Dulu, kamar ini kosong. Terkadang Ibu Ida yang menempati kalau Pram pulang malam dari kantornya,” cerita Kailla, menghempas kasar bokongnya. Duduk di atas ranjang.


Mertuanya sendiri sedang meneliti semua sudut ruangan. Mengingat cerita Kailla, terselip ketakukan yang berusaha disembunyikannya.


“Kai, apa kamu tidur dengan mama saja disini ya,” pintanya, memohon.


Belum sempat menantunya menjawab. Suara maskulin dan berat terdengar dari arah pintu.


“Tidak. Istriku harus tidur bersama suaminya,” tolak Pram, melangkah masuk ke dalam kamar.


“Aku sedang program membuat cucu untukmu. Kalau mama menyabotase istriku, bagaimana program ini bisa berhasil, ucap Pram.


“Mohon dukungan dan bantu doa saja dari kamar ini. Jangan mengganggu kesenangan putramu, Ma,” lanjutnya sembari bercanda. Dengan tampilan gagah, memasukan tangan kirinya ke saku celana.


Sembari bersandar di sebuah lemari pajangan yang ada di kamar mamanya. Lelaki itu terlihat tampan setelah berganti pakaian dengan sweater coklat dan celana creamnya. Tersenyum menatap ibu dan istrinya bergantian.



Kai, aku lapar. Bisa siapkan makanan untukku. Seadanya saja,” pinta Pram, menghampiri istrinya.


“Kenapa tidak makan diluar saja,” tolak Kailla. Meraih kedua tangan suaminya yang sekarang sudah berdiri tepat di depannya. Mengayunkannya sedemikian rupa.


“Besok ya. Aku lelah hari ini. Kepalaku juga pusing. Mau tidur saja sepanjang hari,” jelas Pram.


“Ehemmmm! Terdengar dehaman dari pojok kamar. Ibu Citra sedang menatap sinis ke arah Kailla.


“Baiklah. Aku masak telur saja ya. Aku kan memang ahli dibidang perteluran,” celoteh Kailla, mengalah setelah mendengar peringatan tidak langsung dari mertuanya.


“Mama mau?” tanya Kailla, menawari mertuanya.


“Kamu rencana memasak apa, Kai?” tanya Ibu Citra, berjalan mendekat.


“Apa tidak bisa memasak menu yang lain, Kai?” tanya Ibu Citra.


“Kemampuan istriku menceplok telur itu di atas rata-rata, Ma. Bayangkan saja selama empat tahun dia melakukan hal yang sama. Dia istri yang ulet dan fokus, pantang menyerah kalau belum mendapatkan hasil sempurna. Makanya sepanjang empat tahun pernikahan kami, dia terus mengasah kemampuan menceplok telur. Hahahaha....”


Tawa Pram pecah, seiring sebuah pukulan di paha Pram. Dengan posisi Kailla yang duduk di ranjang, paha suaminya adalah sasaran terempuk untuk melampiaskan kekesalan.


Ibu Citra menggelengkan kepala.


Pram segera memeluk Kailla, setelah dilihat istrinya cemberut.


“Aku ikhlas, apa pun itu. Asalkan kamu yang memasaknya untukku Kai,” bisiknya sembari mengecup pucuk kepala istrinya.


“Jangan meremehkannya, Ma. Pulang ke Indonesia nanti, aku berencana mendaftarkan kemampuan Kailla ini ke MURI supaya bisa mendapat rekor tersendiri,” canda Pram, kembali memancing emosi istrinya.


“Sayang!!” seru Kailla dengan wajah kesalnya, menggigit paha empuk suaminya. Membuat Pram menjerit seketika.


“Awwww! Sakit Sayang!” pekik Pram, tersenyum. Menangkup wajah Kailla, berganti menggigit pelan ujung hidung lancip istrinya.


“Kailla, itu paha suamimu bukan paha ayam!” omel Ibu Citra.


“Sudahlah Ma. Dia hanya bercanda. Dia mencintaiku dengan seluruh jiwa raga. Dia tidak mungkin menyakiti putra kesayanganmu ini. Benar begitu kan, Kai?” tanya Pram memastikan.


Tangannya sudah meraih tangan istrinya, mengajak Kailla segera keluar dari kamar mamanya.


“Mama istirahat saja dulu. Aku membutuhkan istriku sekarang.” pamit Pram, menyeret istrinya keluar.


Begitu pintu kamar Ibu Citra tertutup rapat. Pram langsung berjongkok.


“Ayo, naik ke pundakku. Kita akan melakukan hal yang sama seperti empat tahun yang lalu. Tidak banyak orang disini, hanya mama dan Bayu. Mereka cukup paham, kita sedang berbulan madu,” ucap Pram menepuk bahu dan mengedipkan matanya.


“Ah... aku mencintaimu Sayang.” Seketika langsung menjatuhkan tubuhnya di punggung suaminya.


***


Selesai makan malam dengan menu telur ala Kailla, keempatnya kembali ke kamar masing-masing. Menu yang sama dengan sore tadi. Di hari pertama belum ada yang protes disuguhkan dengan menu serupa setiap makan.


Tetapi entahlan kalau keesokan harinya. Selain, memang tidak terlalu beragam stok makanan di kulkas, ditambah lagi perjalanan panjang Jakarta -Austria membuat semuanya tidak terlau cerewet dengan menu makanan. Yang dipikirkan adalah merebahkan diri di ranjang empuk.


Begitu sampai di kamarnya, Pram langsung memeluk erat Kailla.


“Ayo kita mulai program membuat bayi sekarang,” ucap Pram, langsung mengecup bibir istrinya tanpa basa basi.


Kailla baru saja keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri, masih berbalut bathrobe.


“Tidak perlu mengenakan ini,” lanjut Pram, melepas ciumannya. Tangannya dengan cekatan membuka tali pengikat baju handuk istrinya dan melemparnya sejauh mungkin.


Sentuhan demi sentuhan dilakukannya untuk membuat istrinya melayang. Kecupan demi kecupan pun dilabuhkan Pram hampir di sekujur tubuh Kailla yang sudah polos tanpa sehelai benang.


Sedikit dorongan pelan, membuat Kailla terjatuh di atas ranjang, Pram pun menyusul, menindih tubuh mungil istrinya.


Kai, aku mencintaimu. Semoga kali ini investasi kita berhasil. Pada saat kita pulang nanti, ada kabar gembira untukku,” bisiknya pelan, menggigit kecil daun telinga Kailla.


Kailla mengangguk dan tersenyum, langsung menyambar bibir Pram yang basah. Keduanya sudah hanyut dan larut dalam permainan panas. Saling membelai dan mengusap. Nafas keduanya pun sudah naik turun, menahan hasrat yang memuncak.


Baru saja Pram akan memulai ke permainan inti. Gedoran keras di pintu, meminta sepasang merpati yang sudah terbang tinggi itu untuk kembali ke sangkarnya.


“PRAM!!!” teriak Ibu Citra dari luar kamar, sembari menggedor pintu berulang dengan tempo cepat.


“Pram, buka pintunya!” Gedoran di pintu semakin kencang, membuat keduanya kembali ke alam sadar.


“Sayang, itu mama.” Kailla mendorong tubuh suaminya supaya menjauh. Bergegas turun mencari apa saja yang bisa menutup tubuhnya yang polos, penuh tanda kemerahan.


“PRAM! Buka pintunya. Mama tidur di tempatmu saja!” pekik Ibu Citra memeluk bantal dan selimut dengan wajah ketakutan di depan pintu kamar putranya.


To be Continued


Love You All


Terimakasih,