
“Jangan menangis lagi Non. Pak Pram hanya emosi sesaat. Dia hampir gila saat tahu mamanya pingsan. Lagipula kenapa main pergi tanpa izin dari Pak Pram.” Bayu berusaha menenangkan.
“Sepanjang perjalanan Pak Pram sudah berpikiran buruk. Harusnya Non di rumah saja, jangan diam-diam keluar seperti ini. Dikabari mamanya pingsan di toko, bagaimana tidak kaget. Non Kailla itu keluar tanpa izin, membawa Ibu Citra tanpa pengawalan di negara orang,” jelas Bayu lagi.
“Beruntung Ibu Citra cuma pingsan. Coba kalau Non Kailla dan Ibu Citra sampai kenapa-kenapa, Pak Pram bisa mencabut nyawa orang. Dulu saja, saya pernah ditodongkan senjata, padahal tidak tahu menahu sewaktu Non Kailla diculik,” jelas Bayu lagi.
“Aku tahu aku salah,” ucap Kailla, berbisik pelan.
“Pak Pram itu masih trauma dengan penculikan Non Kailla. Sebisa mungkin jangan keluar tanpa izin.”
Kailla termenung, terpikir lagi kata-kata suaminya yang menyesakan. Untuk pertama kalinya di dua puluh empat tahun hidupnya, Pram meluncurkan kata-kata yang begitu menyakitkan. Rasanya tidak rela. Apalagi menurut Pram, Kinar yang terbaik mengurus mama mertuanya. Meskipun kenyataannya memang benar adanya, tapi rasanya tidak terima.
Begitu mobil berhenti di basement apartemen, Kailla langsung bergegas turun. Dia sudah membulatkan tekad belajar mengurus mertuanya dengan baik dan benar. Tidak ikhlas di sandingkan dengan Kinar.
“Bay, ayo buruan!” teriaknya sembari berjalan dengan langkah lebar, menahan kesalnya.
“Enak saja, dia membandingkanku dengan Tante itu!” ucap Kailla, mengepalkan tangannya.
“Aku akan membuktikan kalau aku juga bisa mengurus mertuaku!” gerutu Kailla, semakin kesal.
Begitu masuk ke dalam unitnya, dia segera meraih ponselnya. Mencari resep masakan dan mengecek stok makanan di dalam kulkas. Bayu baru saja akan beranjak pergi untuk membeli secangkir kopi di cafe bawah apartemen. Tetapi niatnya tertahan.
“Mau kemana, Bay? Tetap disini!” perintah Kailla, meminta Bayu berdiri di dekatnya.
“Aku mau membeli kopi di bawah Non,” jelas Bayu, memohon pengertiannya.
“Tidak perlu. Aku akan membuatkannya untukmu,” potong Kailla. Tangannya sudah meraih panci dan mengisinya dengan air kemudian merebusnya di atas kompor.
“Ti-tidak perlu Non. Biar aku saja kalau begitu,” tolak Bayu, langsung ketar ketir. Tidak bisa membayangkan seperti apa rasa kopi buatan majikannya. Apalagi di tengah kondisi Kailla yang seperti ini. Disaat tenang saja, bikinan Kailla itu jauh dari sempurna, apalagi di saat galau seperti sekarang ini.
“Aku membutuhkanmu mencoba masakanku. Aku akan memasak untuk mertuaku. Aku tidak mau kalah dari Tante Kinar,” ucap Kailla dengan ketus. Jiwa kompetisi dan tidak mau diremehkannya terbakar kembali. Dengan semangat empat lima, dia mulai mengerjakan semuanya.
Dia mulai menyiapkan bahan-bahan, dari memotong wortel, kol, kentang, buncis. Rencananya dia akan membuat sup ayam. Masih dengan amarah yang menggebu dia melakukan langkah-langkah sampai semua bahan masuk ke dalam panci.
Terlihat asap panas mengebul dari dalam panci yang mendidih. Aroma sup ayam menyebar ke seluruh ruangan meskipun cooker hood sudah dihidupkan. Tampak Kailla menyendokan kuah sup panas dan meniupnya pelan sebelum meminta Bayu mencobanya.
“Bagaimana Bay?” tanya Kailla, meminta pendapat.
“Katakan apa yang kurang?” tanyanya lagi.
“Mungkin kurang asin, Non. Selebihnya sudah pas,” sahut Bayu, saat lidahnya merasakan hambar pada masakan Kailla,
“Wortel dan kentangnya dipastikan lembut, Non. Kami bukan kelinci,” celetuk Bayu, mencoba bercanda di saat segenting ini.
Kailla menurut dan tidak protes, mengikuti semua istruksi Bayu. Setelah memastikan sup buatannya sudah layak disajikan, Kailla pun mulai menanak nasi. Untuk ini dia sudah mulai paham, sejak kemarin dia sudah melakukannya.
“Beres!” ucapnya setelah selesai memcuci dan merapikan kembali barang-barang yang diberantakannya saat memasak tadi.
Senyum merekah di bibirnya dengan emosi membara di dadanya, menatap sepanci besar sup ayam di atas meja.
“Bay, aku sudah menyiapkan semuanya. Kamu boleh keluar sekarang. Aku mau ke kamar dulu,” ucap Kailla. Baru saja dia melangkah, terdengar suara pintu apartemen terbuka. Tampak Pram sedang menopang Ibu Citra yang terlihat sedikit pucat masuk ke dalam rumah.
Melihat pemandangan itu, Kailla bergegas menghampiri. Menghempas kasar tangan suaminya dari lengan sang mertua. Tanpa bicara, mengambil alih tugas untuk membantu Ibu Citra berjalan. Bahkan dengan sengaja menginjak kaki Pram dan menyikut perut suaminya agar menjauh.
“Aduh, Kai!” keluh Pram saat siku Kailla meyikut tepat di perutnya. Istrinya itu tidak bicara atau menatapnya sama sekali.
“Mama mau langsung ke kamar?” tanya Kailla tersenyum. Berbicara dengan lembut, seolah tidak terjadi apa-apa.
“Iya,” sahut Ibu Citra pelan.
Pram yang terkejut dengan perubahan sikap istrinya hanya bisa memandang dari kejauhan. Selanjutnya mengalihkan pandangannya pada Bayu, bertanya apa yang sudah terjadi.
Bayu menggelengkan kepala. Dia sendiri tidak paham dengan jelas masalah antara kedua majikannya. Kailla tidak bicara apapun, hanya menangis selama di mobil dan begitu sampai di apartemen tiba-tiba menjadi kesal dan marah-marah.
***
Keadaan antara Pram dan Kailla masih mencekam. Kebisuan masih melanda keduanya. Setelah menyelesaikan makan malam pun, suami istri itu masih terlibat perang dingin. Bahkan Kailla tidak ikut makan malam, bersembunyi di kamar mertuanya sejak kepulangan Pram.
Terlihat Pram membantu mamanya masuk ke dalam kamar, sekaligus mengecek kondisi istrinya yang tidak tampak sejak kedatangannya.
Begitu pintu kamar terbuka, dia melihat Kailla berbaring di ranjang sembari memainkan ponselnya. Ketika beradu pandang dengaanya, istrinya itu langsung membuang muka, berbalik memunggunginya.
Tidak ada senyuman dan senyuman Kailla seperti biasa. Rasanya bukan saja aneh, tetapi tidak enak sama sekali. Dia merindukan Kailla yang bermanja-manja padanya. Tidak bisa membayangkan malam ini harus melewatkannya tanpa menyentuh Kailla.
“Kai, kembali tidur di kamar kita ya,” pinta Pram sembari membantu mamanya berbaring. Dia harus menyelesaikan masalahnya dengan Kailla. Tidak nyaman saling diam, seperti ini.
Kailla tidak menjawab, meletakan ponselnya di atas nakas. Berbalik memeluk lengan mertuanya yang sedang berbaring di sisinya.
“Sayang, kamu belum makan malam. Mau aku suapi?” tawar Pram, mencoba bermanis manja, melempar rayuan seperti biasa.
Namun, lagi-lagi Kailla tidak menjawab.
“Ma, aku tidur denganmu malam ini ya?” pinta Kailla, menyandarkan kepalanya di lengan sang mertua.
“Aku akan menjaga mama malam ini,” lanjutnya lagi, memeluk Ibu Citra dengan manja.
“Aku mau menjadi yang terbaik menjagamu,” ucap Kailla menatap sinis ke arah Pram.
Ibu Citra yang melihat kesedihan di wajah putranya tidak bisa berbuat banyak. Pram sejak sore tadi sudah tidak bersemangat saat Kailla mengabaikannya. Keadaan bertambah parah saat Kailla tidak mau bergabung di meja makan.
Wanita tua itu paham, pasti ada masalah di antara keduanya. Dia bisa melihat putra dan menantunya tidak saling bicara seperti biasanya, bahkan Kailla menolak keluar dari kamar sejak kedatangan mereka,
“Kai, bisa tolong ambilkan minum untuk mama,” pinta Ibu Citra. Sengaja meminta menantunya keluar, supaya bisa bicara dari hati ke hati dengan putranya.
“Tunggu sebentar, Ma.” Kailla bergegas keluar ke dapur. Meninggalkan suami dan mertuanya berduaan. Dia paham, kedua orang itu sedang butuh waktu untuk saling bertukar pikiran.
“Pram ada apa?” tanya Ibu Citra setelah memastikan Kailla sudah keluar dari kamarnya.
“Aku memarahinya lagi,” sahut Pram pelam. Terlihat mengusap kasar wajahnya. Ada penyesalan terdengar jelas disana.
“Pram, mama tidak tahu harus bicara apa. Ini masalah rumah tanggamu. Mama tidak mau ikut campur. Tetapi pernahkah kamu berpikir, seperti apa kamu memperlakukan istrimu. Dia bukan anak kecil lagi.”
Pram menunduk, sesekali menatap ke arah pintu. Tidak sabar menunggu Kailla masuk kembali. Perasaannya benar-benar tidak enak saat diabaikan Kailla.
“Kamu salah memperlakukannya. Mama tidak tahu seperti apa hubungan kalian sebelumnya. Tetapi kamu memperlakukannya seperti seorang anak kecil bukan istri,” ucap Ibu Citra, mengemukakan pendapatnya.
“Ma..”
“Mama tahu, susul saja dia. Tetapi kalau dia tidak mau bicara denganmu, jangan memaksanya. Istrimu itu sama keras kepalanya denganku.”
“Biarkan dia tidur disini. Nanti mama akan membujuknya untukmu,” ujar Ibu Citra, tersenyum.
***
To be continued
Love you all
Terima kasih.