Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 108 : Kita berpisah saja


“Ikut aku! Masalah kita belum selesai!” ucap Pram, meraih tangan Kailla dan menggengamnya erat untuk mengikuti langkahnya.


Stella yang sedang duduk manis mematut diri di cermin mungilnya karena baru saja akan melangkah menuju kantin, terkejut dengan aksi tarik menarik dan tolak menolak yang dilakukan Pram dan Kailla.


“Pak...Presdir.. Nyonya,” sapanya terbata. Sapaannya bahkan tidak digubris keduanya. Baik Pram dan Kailla sibuk sendiri, berusaha tersenyum di tengah pertengkaran mereka.


“Aku tidak mau. Aku mau pulang saja,” rengek Kailla. Berusaha melepaskan diri dari cekalan tangan suaminya.


“Ikut aku, Kai. Jangan membantah. Kita selesaikan masalah rumah tangga kita berdua secara dewasa. Jangan seperti anak kecil yang bisa mengambek dan merengek!” ucap Pram setengah berbisik, supaya suaranya tidak terdengar oleh yang lain.


“Kita bahas di rumah saja,” pinta Kailla, lumayan ketakutan melihat Pram yang sedang menahan amarah.


“Ste!”panggil Pram saat sudah membuka pintu ruang kerjanya.


Stella yang baru saja melangkah dengan sepatu hak tingginya menghentikan ayunan kakinya. Berbalik dengan sikap sigap seorang sekretaris menunggu perintah.


“Aku sedang ingin bersenang-senang dengan istriku di dalam. Jangan biarkan siapapun masuk, termasuk dirimu dan David!” perintah Pram.


Dentuman daun pintu kaca yang menghantam kusen aluminium lumayan membuat jantung berhenti berdetak beberapa detik. Stella sampai lupa bernafas seketika, butuh waktu untuk memulihkan keterkejutannya.


“Cih! Bersenang-senang apa dengan tampang seperti itu,” gerutu Stella, dengan irama ketukan feminim hak sepatu tinggi Stella ketika mengenai lantai, kembali memenuhi koridor. Begitu teratur dan dinamis.


***


Di dalam ruangan Presdir, tampak Kailla duduk di seberang meja kerja dengan Pram duduk di kursi kebesarannya. Pemadangan yang sangat jarang terjadi, layaknya seseorang yang sedang melakukan interview.


Kailla menunduk sambil menautkan jari jemarinya ke atas meja, dengan Pram menyorot tajam ke wajah Kailla, duduk tegak dengan jemari bergiliran mengetuk ke meja.


“Kemarikan ponselmu!” pinta Pram dengan suara pelan tetapi terdengar tegas.


Kailla bukannya mendengar, sebaliknya memeluk erat tas tangannya.


“Apa yang kamu inginkan?” tanya Kailla menantang. Sejak tadi diam ketakutan, tetapi setelah dipikir-pikir mungkin ini saatnya dia berontak.


“Kemarikan ponselmu, Sayang. Aku tidak mau merebutnya dari tanganmu,” pinta Pram, meraih ponselnya sendiri. Dia baru saja hendak menghubungi David.


“Kamu mau menghubungi siapa?” tanya Kailla mengerutkan dahinya. Belum bisa menebak arah tujuan Pram menghubungi David.


“Dave, tolong cari kontak Ditya Ha...” ucapan Pram terpotong. Kailla membanting ponselnya sendiri di atas meja.


“Sudah. Puas!” gerutu Kailla kesal.


Pram segera meraih ponsel Kailla, dengan tatapan tajam siap menguliti terarah pada istrinya. Membuka satu persatu pesan masuk dan keluar, mengecek satu per satu panggilan masuk atau pun keluar.


Lelaki itu tidak banyak bicara, mematikan ponsel kemudian mengeluarkan kartu dari telepon genggam Kailla. Terakhir dia mematahkan sim card itu menjadi dua bagian, lalu membuangnya ke tempat sampah dengan kasar.


“Apa-apaaan ini?” omel Kailla, mulai emosi saat melihat Pram menghancurkan nomor ponselnya.


“David akan membelikanmu nomor yang baru,” sahut Pram dengan santainya mengembalikan ponsel kosong itu kepada Kailla.


“Apa yang kamu inginkan?” tanya Kailla.


“Aku ingin tahu semuanya, Sayang. Meskipun aku sudah tahu, tetapi aku ingin mendengar dari mulutmu sendiri,” sahut Pram, mengeraskan rahangnya.


Kailla diam, menunduk dan tidak seberani sebelumnya. Dia tahu Pram sedang menahan amarahnya.


“Aku berjanji tidak akan marah-marah. Setelah Dion, Ricko dan dia juga?” tanya Pram dengan santai, menunggu jawaban. Menembak langsung dan tanpa ditutup-tutupi.


Biasanya Pram hanya akan menyindir secara halus, tetapi kali ini dia mengabsen satu per satu nama lelaki yang pernah mengisi hati Kailla entah sebagai apa mereka bersemayam di sana. Tetapi setidaknya mereka pernah bertarung dengan Pram di dalam sana, meskipun akhirnya lelaki tua itu tetap menjadi pemenangnya.


“Jawab Kai!” teriak Pram dengan nyaring. Sudah lelah menunggu jawaban.


“Iya..,” sahut Kailla pelan, membuat Pram meremas rambutnya seketika.


Lelaki itu bersandar, menghela nafas berulang kali berusaha untuk tidak emosi. Berupaya keras untuk menenangkan diri. Ini bukan kali pertama, sebelum ini Kailla sudah pernah bermain dengan perasaannya sendiri.


Saat mereka bertunangan, Kailla sudah pernah bermain hati dengan Dion. Setelah keguguran, empat tahun yang lalu, Kailla sempat terjerat pesona Ricko dan sekarang Kailla melakukannya lagi.


Tetapi dengan Ricko, Pram masih bisa menghadapinya. Dengan tidak memberi ruang gerak terlalu bebas. Bahkan sekarang Ricko lebih banyak mengurusi daddy di rumah sakit. Lelaki itu tidak bisa memecat Ricko sembarangan, cara terbaik adalah membuat Ricko tetap disisinya, dengan begitu Pram terus bisa mengawasi.


“Setelah kancil, aku harus berhadapan dengan macan asia. Suamimu tidak setangguh itu, Kai.” ucap Pram melemas, mengusap kasar wajahnya.


“Ceritakan padaku apa yang kamu rasakan. Apa yang belum aku berikan dan dia berikan untukmu,” tanya Pram.


Kailla tertunduk.


“Katakan apapun yang ingin aku ketahui. Aku tidak akan marah. Saat ini aku melepas statusku sebagai suamimu. Anggap aku seperti Om yang merawatmu sejak kecil.”


“Sejak kapan?” tanya Pram, mulai menginterogasi. Dia tahu Kailla tidak akan mau bercerita.


“Pertama bertemu?” tanya Pram lagi.


Lama diam seribu bahasa, tetapi pada akhirnya Kailla mengangguk.


“Berapa kali dia menemuimu?” tanya Pram. Lelaki itu terlihat tenang, sangat tenang untuk ukuran seseorang yang sedang dikhianati. Pram sangat pintar menguasai emosinya.


“Lima kali,” sahut Kailla pelan, masih menunduk. Tidak berani menatap Pram.


“Enam kali!” todong Pram. Terlihat Pram mengeluarkan sesuatu dari dalam laci meja kerjanya. Benda persegi berwarna hitam itu dilemparnya dengan keras ke atas meja.


“Itu rekaman pembicaraan kalian di lima kali pertemuan. Pertemuan pertama aku tidak memiliki rekamannya. Karena orangku belum memiliki persiapan,” jelas Pram.


Kailla terperanjat, mencerna kata demi kata yang keluar dari bibir suaminya.


“Sam!” ucap Kailla tidak percaya.


Pram tersenyum. “Sam dan Ricko itu orangku! Kamu melupakan satu hal. Untuk apa aku membiayai mereka kuliah. Untuk menjagamu dan menjaga hatimu yang suka berselingkuh dariku,” jelas Pram.


“Apa yang kamu inginkan?” tanya Kailla, menantang Pram.


“Pulang! Belum pergi terlalu jauh, cepat pulang. Aku menunggumu!” tegas Pram.


“Aku tidak kemana-mana. Aku juga tidak berselingkuh darimu. Setiap hari aku selalu bersamamu, tidur dipelukanmu,” sahut Kailla.


“Sekarang belum, tetapi kalau aku tetap membiarkanmu bebas, bisa saja kamu benar-benar berselingkuh dariku. Hatimu masih mengembara. Hatimu tidak setia. Hatimu masih mudah disentuh laki-laki lain. Kamu belum memantapkan hatimu padaku!” todong Pram.


“Apa yang membuatmu menyukainya? Apa yang dia miliki dan aku tidak miliki. Aku akan berubah seperti yang kamu inginkan,” ucap Pram.


“Dia tidak pernah mengekangku. Dia tidak membatasiku. Dia selalu menuruti apa yang aku inginkan. Dia mengerti perasaanku. Aku bisa bebas bersamanya,” sahut Kailla, menautkan jemarinya di atas meja.


“Karena dia bukan suamimu. Dia tidak tahu perempuan di dekatnya ini bahkan tidak bisa memahami perasaannya sendiri. Di tidak tahu perempuan ini tidak bisa dipegang hatinya. Dia tidak tahu latar belakang kehidupanmu. Dia tidak tahu, perempuan ini nyawanya sewaktu-waktu diujung tanduk,” ucap Pram kesal.


Terlihat Pram meraih tangan Kailla, mengusap lembut cincin nikah yang disematkannya di jari manis istrinya. Cincin itu masih terpasang disana.


“Lepaskan cincin ini kalau masih mau bertemu dengannya,” perintah Pram.


“Aku tidak mau,” tolak Kailla, segera menarik kembali tangannya.


Pram tersenyum.


“Aku terlalu lama berada di hidupmu, sampai kamu bosan dan tidak memandang lagi keberadaanku. Tidak melihat lagi kebaikanku. Mungkin sewaktu-waktu aku harus menghilang dari hidupmu, supaya kamu bisa menyadari perasaanmu sendiri.”


“Supaya kamu bisa menyadari keberadaanku juga penting untukmu. Mungkin aku terlalu memanjakanmu, jadi kamu yakin setiap berbuat salah dan menyakitiku, suamimu ini akan tetap pulang ke tempatmu, karena cinta dan tanggung jawabnya.”


“Sayang, maafkan aku,” ucap Kailla pelan. Kalimat Pram bagai ancaman untuknya. Dia belum pernah membayangkan kalau suatu saat hidup tanpa Pram.


“Jangan pergi. Aku harus bagaimana kalau kamu pergi. Aku tidak punya siapa-siapa. Aku cuma memilikimu di dunia ini,” isak Kailla mulai menangis.


“Sayang, bagaimana kalau kita berpisah saja,” tawar Pram tersenyum getir. Memilih untuk tidak lemah dengan air mata Kailla.


***


To be continued


Love You all


Terimakasih