
“Kurang ajar! Baru jadi asisten saja kamu sudah besar kepala, bagaimana kalau kamu jadi Presiden direktur!” omel Ibu Citra.
Jiwa usil Sam langsung terpanggil begitu mendengar pernyataan Ibu Citra. Meskipun dia tidak terlalu dekat dengan mama majikannya ini, tetapi tidak sedikit pun mengurangi nyalinya untuk mengusili wanita tua yang berdiri dengan mata berapi-api siap membakarnya.
“Kalau saya jadi Presdir, Nyonya yang saya pecat duluan. Wanita elegan dan terhormat seperti Nyonya ini tidak pantas berteriak, harusnya bicara dengan lemah lembut dan mendayu-dayu,” jelas Sam dengan beraninya. Tidak gentar sedikit pun.
“Sam, jangan begitu,” bisik Bayu, menyenggol pundak Sam pelan.
“Tenang saja,” sahut Pram ikut berbisik.
Di antara semua asisten yang dipekerjakan Pram, bisa dibilang Sam yang paling berani membantah dan membolak balikan ucapan majikannya. Bukan tanpa alasan, dia adalah anak emas Kailla, asisten kesayangan. Demi Sam, Kailla akan mempertaruhkan dirinya.
Selain itu, tanpa sepengetahuan siapa pun, Pram sudah memberi beban berat di pundak Sam untuk menjaga Kailla dan anak-anaknya suatu saat kalau Pram tidak bisa berada di sisi Kailla. Sam adalah orang kepercayaan Pram. Pram tahu semua hal tentang Sam sampai sisi terdalamnya. Bagaimana kesetiaan yang selama ini ditutupi Sam dibalik sikap usil dan tengilnya.
Semua tentang Ditya, Pram mendapatkan informasinya dari Sam. Bahkan bagaimana perasaan Kailla pada lelaki itu, Sam melaporkan semua padanya tanpa terlewatkan sedikit pun, bahkan Sam merekam semua percakapan Kailla dan Ditya.
“Kamu!!” Ibu Citra hanya bisa menunjuk Sam dengan jarinya sembari menahan kesal, tidak bisa berbuat banyak untuk melampiaskannya.
Ibu Citra masih saja kesal tidak berkesudahan dengan sikap berani Sam. Itu terlihat dari tatapan tajamnya, seolah-olah akan menelan asisten itu bulat-bulat.
Sam yang ditatap seperti itu melenggang santai. Sebaliknya, dia sedang memutar otak saat melihat sopir wanita tua itu membawa barang begitu banyak.
“Pak, itu makanan semua?” bisik Sam, berdiri sejajar dengan sang sopir.
Sopir Ibu Citra mengangguk.
“Biar aku saja yang membawanya masuk,” ujar Sam, mengulurkan tangannya, mengambil alih dua kantong besar dari tangan sang sopir.
Tidak lama, Kailla dengan wajah bahagianya muncul dari balik pintu utama berukuran raksasa, mengalihkan pandangan Ibu Citra, Sam dan Bayu kepadanya seketika.
“Mama!” pekiknya, bergegas memeluk mama mertuanya dengan erat.
“Anak nakal!” seru Ibu Citra setelah melepaskan pelukannya. Tangan renta itu terarah mengusap perut Kailla yang mulai berbentuk bulatan kecil seperti orang yang kekenyangan. Ada rasa haru menyergap hatinya, membayangkan ada anak-anak Pram yang berkembang disana. Ada keturunan Pratama di dalam rahim menantunya.
“Mereka rewel?” tanya Ibu Citra, tersenyum beralih kembali menatap menantunya.
“Sedikit,” sahut Kailla, mendekap lengan mertuanya dan mempersilahkan Ibu Citra masuk ke dalam rumahnya.
Wanita dengan setelan blus batik dan celana kain itu terperangah melihat interior dalam rumah putranya yang begitu mewah dan megah. Sejak masuk ke pekarangan rumah, dia sudah berdecak kagum melihat tampilan luar rumah Pram, tetapi begitu masuk kekagumannya bertambah.
“Wah, rumahnya cantik Kai!” ucapnya pelan, mengedarkan pandangan ke sekeliling. Rumah Pram dengan pilar-pilar raksasa dan sentuhan klasik modern. Kesan mewah yang terpampang nyata dengan pemilihan bahan berkelas.
“Ayo, aku akan mengajak mama berkeliling. Ini semua Pram yang mendesain dengan timnya sesuai dengan seleraku. Mama suka?” tanya Kailla.
Ibu Citra mengangguk. Langkah kakinya terhenti, membeku di tempat.
“Kai,” panggil Ibu Citra pelan.
“Kamu tahu betapa beruntungnya kamu bisa dicintai Pram. Tidak semua wanita berkesempatan mendapatkan cinta putraku yang begitu luar biasa. Aku tahu jelas bagaimana putraku, kesetiaannya tidak perlu diragukan,” tegas Ibu Citra, tiba-tiba membahas Pram.
Kailla terkejut, melirik mertuanya heran. “Ma,” panggilnya pelan dengan nada datar.
“Aku titip Pram padamu,” ucap Ibu Citra, meraih tangan Kailla, mengenggamnya erat.
Belum sempat Kailla menjawab, dari arah belakang mereka tiba-tiba terdengar suara nyaring. Seperti benda berukuran raksasa yang terjatuh. Mertua dan menantu itu sontak berbalik.
“Sam!!” teriak Kailla kaget menutup mulutnya, begitu memastikan apa yang terjadi.
Asisten kesayangannya itu jatuh terjerembab, membentur dan mencium lantai. Tidak sampai disitu, yang membuat Kailla dan Ibu Citra ternganga tidak percaya saat menatap pemandangan tragis di depan mata.
Rantang makanan yang ada di dalam bungkusan, yang ditenteng Sam berantakan mengotori lantai.
Tumpahan kuah-kuah makanan bercampur, menyerap di lantai marmer. Sayuran beraneka warna yang sudah dimasak, kocar-kacir berantakan. Bahkan sepotong paha ayam berwarna kekuningan yang terpisah jauh dari temannya, terlempar hampir dua meter dari tempat kejadian perkara. Mendarat mulus dekat kaki Kailla.
“Ma-maaf,” desis Sam terbata, kala sudah berdiri kembali. Memandang tumpahan makanan yang bercampur baur, berpura-pura menyesal atas insiden yang sengaja dilakukannya.
“Sam!!! teriak Kailla, menatap sedih pada tumpahan kuah opor kesukaannya. Rasanya dia ingin menangis.
“Sudah Kai, nanti mama akan meminta Kinar memasaknya lagi untukmu,” hibur Ibu Citra, menepuk punggung Kailla.
“Ini makanan kesukaanku,” cicit Kailla berjongkok, memandang potongan paha ayam di dekat kakinya dengan tatapan yang susah dilukiskan.
Ibu Citra yang sejak awal sudah kesal dengan Sam, sekarang bertambah kesal. Mengeluarkan ponselnya, mengadu pada putranya tentang kelakuan Sam.
“Kai, sudah. Nanti Kinar akan memasak lagi untukmu,” hibur Ibu Citra. Sempat terkejut dengan reaksi Kailla yang berlebih hanya karena opor yang tertumpah. Ibu Citra cukup paham dengan emosi Kailla yang sedang hamil dan sangat sensitif. Wanita normal saja emosinya bisa naik turun saat hamil, apalagi wanita luar biasa seperti menantunya, pasti lebih sulit ditebak lagi emosinya.
“Ayo, kita ajak sopir membeli mangga,” bujuk Ibu Citra, teringat dengan keinginan Kailla yang belum kesampaian.
Kailla mendongak.
“Pram belum memenuhi permintaanmu kan? Ayo, mama saja yang mengabulkannya untukmu,” icap Ibu Citra membuat Kailla bersemangat.
“Mama yakin? Pram memberitahuku kalau besok minggu dia akan mengajakku memetik mangga,” cerita Kailla.
“Tidak perlu menunggu hari minggu. Anak itu, hanya mangga saja mesti pakai jadwal. Apalagi kalau mengidam buah persik, buah kurma. Bisa mati berdiri dia!” omel Ibu Citra, kesal
“Apalah susahnya, istri hanya meminta buah mangga.” Kembali emosi Ibu Citra terpancing.
Ibu Citra sudah meraih tangan Kailla, mengajak menantunya keluar menemui sopirnya. Sam yang tahu jelas duduk perkaranya, berlari mengejar dengan panik.
“Tung-tunggu!” cegah Sam, terbayang Kailla memanjat pohon dan Pram tidak tahu apa-apa. Pasti lelaki itu akan murka.
“Apa tidak sebaiknya minta izin dengan Pak Pram dulu, Non,” usul Sam, berusaha mencari aman. Tidak mungkin juga membantah Ibu Citra.
“Aduh, aku lupa. Sebaiknya memang begitu,” ucap Ibu Citra. Niat yang tadinya sempat terlupakan, dilanjutkannya kembali. Menghubungi Pram yang sedang sibuk di kantornya.
Pram yang sedang mengadakan rapat, segera menerima panggilan saat gawai di mejanya berderit, bergesekan dengan meja kayu.
“Ada apa Ma?” tanya Pram, bergegas keluar ruangan, menempelkan benda pipih itu di indra pendengarannya.
“Mama sudah di rumahmu. Istrimu menangis, mama akan mengajaknya memetik buah mangga yang diinginkannya.”
Tentu saja Pram terkejut, buru-buru lelaki itu menolak. “Ma, jangan kemana-mana, tetap di sana,” tegas Pram.
“Istrimu menginginkan buah mangga. Apa susahnya sih Pram!” todong Ibu Citra.
“Hanya buah mangga saja, harus menunggu jadwal. Sesibuk apa sih sampai hal kecil seperti ini saja, anak dan istrimu diminta menunggu!” todong Ibu Citra kesal.
Belum sempat Pram menyanggah, mamanya sudah melanjutkan semprotan berikutnya.
“Kalau memang sebegitu sulitnya, biar mama saja yang memenuhinya,” tekan Ibu Citra lagi, tidak memberi kesempatan Pram bicara.
“Lagipula ini karena asisten kesayanganmu. Tidak pernah diomeli, jadi besar kepala. Berbuat seenak-enaknya. Dia menjatuhkan semua masakan yang aku bawa, dan istrimu menangis,” jelas Ibu Citra.
Pram tertegun, mengulum senyuman, mendengar laporan kinerja Sam yang begitu luar biasa. Ingin rasanya memberi Sam penghargaan tertinggi atas kerja kerasnya hari ini. Sebaliknya Ibu Citra, saat ini wanita tua itu tampak berpikir keras, bagaimana membuat Pram mengeluarkan izin untuknya dan Kailla. Cara satu-satunya adalah mendramatisir keadaan supaya Pram terenyuh.
“Kailla bukan hanya menangis Pram. Istri kecilmu itu, kamu tahu sendiri kan saat dia menginginkan sesuatu seperti apa kelakuannya,” serang Ibu Citra kembali, benar-benar tidak memberi kesempatan Pram berkata tidak.
“Kailla kenapa lagi, Ma?” tanya Pram, mulai khawatir.
“Menangis, merajuk, sekarang sedang mengamuk, guling-guling dan menggelinding dari pintu depan sampai ke dapur, hanya demi meminta mama mengajaknya memetik mangga.”
“Ma..” Kailla menyela begitu mertuanya mengagetkan Pram dengan kalimat yang dilebih-lebihkan.
“Sttttt, anak itu perlu diberi sengatan listrik, kalau tidak seperti ini, dia akan menganggap permintaanmu itu seperti angin lalu. Masuk kuping kiri, keluar lagi. Lewat saja tidak,” ucap Ibu Citra, menutup gawai dengan kedua telapak tangannya supaya Pram tidak bisa mendengarkan perkataannya.
“Pram, bayangkan saja rumahmu yang seluas senayan ini, apa kamu tidak kasihan melihatnya menggelinding seperti itu. Mama sungguh tidak sanggup menolaknya, Pram,” ucap Ibu Citra , melanjutkan kembali kalimatnya.
Deg— Pram mematung di tempatnya berdiri, berpikir dan menimbang.
“Jangan kemana-mana, aku akan pulang sekarang. Jangan coba-coba pergi tanpaku!” tekan Pram, berlari masuk kembali ke ruang rapat, untuk meminta izin pada David.
Dia tidak bisa menganggap remeh gertakan mamanya, meskipun dia tahu kejadian yang sebenarnya seperti apa. Ibu Citra sama kerasnya dengan sang istri, setiap ucapannya tidak pernah main-main. Bahkan tidak segan-segan ikut memanjat demi memenuhi keinginan Kailla yang katanya sedang mengidam. Tidak terbayang oleh Pram saat kedua wanitanya memanjat pohon mangga.
***
To be continued
Love you all
Terima kasih.
Next bab, ada abang Bara ya ngobrol sama Om Pram di bawah pohon mangga berbuah semangka.