
Pram tersenyum, menatap istrinya yang melahap seporsi mi goreng seafood. Waktu hampir merangkak tengah malam, saat keduanya masih berbagi kisah, bertukar cerita. Kailla dengan drama macetnya perjalanan Jakarta- Bandung dan sebaliknya, elegi proyeknya yang gagal, minus kisah Anita tentunya. Sang mantan pacar yang memberi kejutan dan kehancuran RD Group yang tinggal menghitung hari.
“Sayang, mau?” tawar Kailla, menggulung mi goreng dengan garpu stainless, menyodorkannya ke mulut Pram.
“Aku masih kenyang.” Pram menolak, diiringi gelengan kepala yang begitu kencang.
Pemandangan yang tidak biasa. Pram duduk di atas brankar dan Kailla duduk di kursi tepat di sisi brankar. Meletakan seporsi mi goreng di atas tempat tidur.
“Kakimu masih sakit? Kamu sudah mencoba kursi rodanya, Sayang?” tanya Kailla. Kembali menyuapkan segulung besar mi ke dalam mulutnya. Lahap dan lapar itu nyata terlihat.
“Masih, kaki kiriku sudah bisa bergerak, tetapi kaki kananku masih belum bisa digunakan,” jelas laki-laki dengan pakaian biru milik rumah sakit.
“Mulai besok temani aku di sini, Kai. Jangan ke mana-mana lagi. Cukup di sisiku, aku akan mengurus perusahaan sebisaku,” ucap Pram, menepuk pelan puncak kepala istrinya. Dibelainya perlahan, senyum kecil manja terukir di bibir Kailla.
“Sekarang aku sudah punya alasan untuk menolak menggendongmu,” ujar Pram, menunjuk kaki kanannya yang masih terbungkus perban.
“Padahal kalau aku sehat pun, aku sudah tidak sanggup lagi menggendongmu yang beratnya dua kali lipat. Suamimu sudah tua, Kai.”
“Aaaahhhh!!” pekik kecil Kailla dengan rona cemberut yang begitu menggemaskan.
“Kenapa harus membahas berat badanku. Di saat hamil, aku menyimpan dendam kesumat dengan timbangan dan cermin,” keluh Kailla, menghentikan makannya. Mengingat tubuhnya yang semakin hari semakin membengkak.
“Maaf, lanjutkan makannya demi anakku.” Mengambil alih garpu yang tergeletak pasrah, ditinggal pemiliknya. Ibu hamil itu sedang merajuk seperti biasa.
“Makan, Sayang. Maafkan aku.” Laki-lakinya membujuk pelan.
“Sayang, izinkan aku seminggu lagi mengurus perusahaan. Setidaknya sampai kamu bisa mengunakan kruk,” pinta Kailla, tiba-tiba.
“Tidak! Keputusanku sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat,” tegas Pram.
“Sayang ....” Rengekan itu semakin kencang, seiring dengan dengkuran halus Sam yang sudah lelap mengarungi malam.
“Tidak. Habiskan makananmu. Tidur!” titah Pram.
“Sayang, izinkan aku belajar seminggu lagi. Please.” Rengekan yang terdengar kian manja. Kailla berdiri dan merengkuh leher Pram dengan kedua tangannya.
“Tidak!” tegas Pram.
“Ya?” tawar Kailla, menyapu bibir Pram sekilas. Upaya merayu sang pujaan hati.
“Tidak!” Pram masih menolak, kali ini menutup mulutnya dengan tangan kiri. Tidak memberi akses untuk Kailla menciumnya lebih dalam lagi.
Kailla tidak hilang akal, tidak diizinkan mencium di bibir, dia memiringkan kepalanya dan mencium leher Pram. Penampakannya sudah seperti vampir yang siap mengisap darah segar.
“Oh ... Kai, apa yang kamu lakukan?” Pram terkekeh, saat Kailla menyedot lehernya dalam, meninggalkan tanda kemerahan.
“Ya, boleh? Seminggu saja, Sayang. Please!” Kedua tangan itu sudah berpindah. Tak bergelayut lagi, sebaliknya membuka kancing baju Pram dengan gaya genitnya.
“Sayang! Jangan begini.” Nada Pram terdengar tegas, mengintip ke arah Sam, asisten yang tadinya tidur dengan mulut membuka sempurna sekarang sudah meniup. Bibir Sam bergetar saat suara bas itu keluar, menandakan seberapa lelap dan lelahnya.
“Izinkan aku seminggu lagi di kantor, ya?” Kailla masih bersikeras. Jemari lincah itu sudah berhasil melepas semua kancing pakaian, beralih mengukir sekaligus menggelitik dada bidang suaminya dengan telunjuk kanannya.
“Sayang, sepertinya kamu kurusan,” ucap Kailla dengan nada menggodanya. Lidah menyapu bibir sedemikian rupa, sengaja memasang tampang menggoda, lengkap dengan kerlingan mata. Menatap Pram dengan wajah singa betina kelaparan.
Pram terbahak, menggigit bibirnya. Tawanya pecah saat Kailla mulai merayu.
“Kai, sudah. Kamu tidak berbakat. Aku lebih tergoda dengan kemanjaanmu di banding gaya wanita nakal seperti ini." Merapatkan kembali pakaiannya yang terbuka. Laki-laki itu mengulum senyuman saat Kailla menyingkirkan piring mi gorengnya dan ikut naik ke atas brankar.
“Apa maumu? Jangan katakan karena aku sudah tidak berdaya, kamu mau melecehkanku,” tuduh Pram, pura-pura ketakutan. Laki-laki itu bergidik ngeri melihat Kailla mendekatinya.
Dengan sekali sentak, Pram berhasil menguasainya, mencekal kedua pergelangan tangan Kailla yang sedang berulah di atas tubuhnya.
“Ah ....” Kailla mendengus kesal saat Pram berhasil membuatnya menyerah
“Tidur bersamaku, di sini, malam ini,” pinta Pram. Bersusah payah menggeser tubuhnya, berbagi tempat untuk Kailla.
“Di sini sempit, tidak muat kalau harus tidur berempat,” keluh Kailla.
“Berempat?”
“Kamu, aku dan anak-anak, Sayang,” jelas Kailla
Pram tersenyum mendengar penjelasan istrinya. “Makanya kamu tidak boleh menjauh dariku, peluk suamimu erat-erat supaya tidak terjatuh. Pasang pengaman di kiri kanan, jadi kamu tidak akan terguling ke bawah,” perintah Pram.
“Sayang, aku akan memberimu ciuman kalau kamu mengizinkanku mengurus perusahaan seminggu lagi,” bujuk Kailla, memulai aksinya kembali.
“Benarkah?”
Pram tersenyum sumringah, tetapi senyum itu meredup, Pram langsung menolak. “Tidak, aku tidak mau kamu mengurus perusahaan. Aku ingin kamu fokus dengan kehamilanmu saja.”
“Sayang ... tidakkah kamu bangga kalau istrimu jadi manusia yang berguna untuk nusa dan bangsa. Memiliki kontribusi untuk kemajuan negara Indonesia.” Kailla mulai berdiplomasi.
“Tidak berpengaruh apa-apa untukku. Aku lebih bangga kalau istriku pintar memasak, pintar mengurus anak-anak, apalagi pintar menari di atas tempat tidur,” sahut Pram asal.
Pukulan mendarat mulus di pundak Pram, Kailla kesal sendiri mendengar ocehan Pram.
“Aku lebih suka, kamu jadi dirimu sendiri, Kai. Aku tahu bisnis bukan bidangmu. Aku tahu, perusahaan bukan tempat ternyamanmu. Aku lebih bahagia saat melihatmu membuat kekacauan dan bisa belajar banyak dari kekacauan yang kamu buat.” Pram berkata pelan.
“Kita tidak bisa memaksa seseorang untuk terjun ke dunia yang tidak disukainya. Desain adalah duniamu. Aku bahagia kalau melihatmu mencoret kertas putih dengan gambar yang bahkan tak aku pahami. Aku bangga saat melihatmu nyaman di tempat yang memang kamu pilih sendiri, dengan atau tanpa prestasi.”
“Ah ... Sayang.” Kailla kembali memeluk erat suaminya.
“Seminggu! Setelah seminggu kembali ke duniamu. Perusahaan bukan tempatmu. Itu tanggung jawabku.” Pram mengalah.
"Aku laki-laki, Kai. Aku seorang suami. Sudah tugas dan tanggung jawabku memastikan kebahagiaanmu, kenyamananmu dan semua kebutuhanmu tercukupi di saat aku mampu maupun aku sudah tidak mampu berbuat apa-apa."
"Maafkan aku. Belakangan aku terlalu sibuk, sampai lupa mencari asisten, pengganti David sekaligus mengisi kursi wakil direktur yang kosong. Harusnya kamu tidak perlu repot, kalau ada mereka," sesal Pram.
Lima menit, keduanya saling memeluk di atas brankar dalam diam, Kailla tiba-tiba turun.
“Sayang mau ke mana?” tanya Pram.
“Aku mau ke kamar mandi, ganti baju, gosok gigi baru bisa tidur. Pakaian gantiku di mana?” tanya Kailla.
“Bayu meletakannya di dalam lemari.”
Tak lama kemudian, Kailla sudah kembali dengan daster tidurnya. Tampilan ibu hamil yang sesungguhnya. Sebelum naik ke atas brankar, masih sempat menarik tirai supaya aktivitas mereka tidak terlihat orang lain.
“Sayang, selama dua bulan ini bagaimana perusahaan?” tanya Pram, menikmati hangatnya tubuh Kailla yang bergelung manja padanya.
Kailla terdiam. Sejak sadar dari koma, Pram tidak pernah membahas masalah perusahaan, baru kali ini saja.
“Tidur saja, aku mengantuk.” Kailla semakin membenamkan dirinya ke dalam pelukan Pram. Dia bisa merasakan tangan suaminya sedang mengusap perutnya dengan penuh perasaan.
“Apa semua baik-baik saja?” tanya Pram lagi.
“Hmmm,” gumam Kailla. Lelah perjalanan, membuatnya mudah terlelap. Apalagi bisa menikmati hangatnya pelukan dan aroma tubuh suami yang sudah lama dirindukannya.
“Katakan padaku, apa semua baik-baik saja, Kai?” tanya Pram lagi. Mendengar kepergian Kailla ke Bandung, Pram mencium sesuatu yang tidak beres.
“Tidak ada. Tidur saja sekarang. Semua baik-baik saja.”
***
TBC