
“Kinar..”
“Tante Kinar.”
Ucap Pram dan Kailla hampir bersamaan. Kemudian, keduanya saling berpandangan, berbagi ketidakpercayaan akan sosok cantik mengenakan gaun biru navy dengan rambut tergerai panjang bergelombang. Langkah kaki wanita itu begitu teratur, menghentak kiri dan kanan, sembari menenteng tas plastik di tangan kanannya, mini bag di tangan kirinya.
Terlihat Kinar masih sempat menyapa Bayu dengan tidak tahu malu. Melempar lirikan mata yang membuat lelaki dengan kanebo di tangan itu hampir kehilangan keseimbangannya karena terlampau terpana dengan kejutan manis di pagi harinya. Ricko yang berdiri tidak jauh dari Bayu, sejak tadi membantu mengecek mobil Pram ikut keheranan saat sahabat sekaligus rekan kerjanya yang melongo di tempatnya berdiri.
“Sayang mau apa dia pagi-pagi sudah bertamu?” tanya Kailla dengan wajah datar.
“Aku tidak tahu, Sayang. Aku sudah meminta mama tidak membawanya kesini,” sahut Pram, mengerjapkan matanya sembari menggeleng, masih belum yakin dengan keberanian Kinar melangkah masuk ke wilayahnya.
Ketika derap langkah Kinar semakin dekat, tangan Kailla yang tadinya masih kalem di dalam gengaman suaminya berpindah. Secepat kilat memeluk pinggang Pram dengan erat seolah enggan berpisah dan membenamkan diri di dada nan bidang suaminya yang begitu menghangatkan.
Pram ingin terbahak, perasaannya melambung ke tinggi saat mendapati perlakuan manis istrinya yang mendadak. Bukannya Pram tidak paham, disaat suami lain menganggap cemburu istri mereka adalah petaka, berbeda dengan Pram. Kecemburuan Kailla adalah anugerah untuknya.
“Sayang,” panggil Kailla, dengan suara mendayu manja khasnya.
“Hari ini tidak perlu ke kantor ya? Aku mau menghabiskan waktu seharian denganmu,” pinta Kailla, berbicara dengan kencang, menatap sinis pada Kinar yang sekarang berdiri dengan jarak tidak lebih dua meter dari mereka berdua.
“Ha?! Kamu serius Kai?” tanya Pram heran.
“He-em.” Kailla mengangguk, masih saja menempel pada suaminya. Meraih kedua tangan Pram supaya memeluk pinggangnya.
Pandangannya masih belum beralih, pelukannya pada pinggang sang suami semakin mengerat.
“Tante Kinar pagi-pagi sudah berkunjung. Apa tidak ada jam di rumah?” sindir Kailla.
“Pagi Mas,” sapa Kinar tersenyum, mengabaikan ucapan pedas Kailla.
“Pagi!” sapa Kailla, ketus. Menutup mulut Pram dengan telapak tangannya. Tidak mengizinkan suaminya menjawab sapaan Kinar.
“Tante masuk saja. Mama di dalam. Itu pintunya, tidak perlu berdiri terlalu lama disini dan menambah dosa,” titah Kailla, menunjuk ke arah pintu masuk yang terbuka lebar.
Baik Pram maupun Kinar terkejut. Tidak paham dengan maksud ucapan Kailla.
“Menatap suami orang sambil menelan ludah itu termasuk dosa besar. Apalagi sampai ada keinginan memilikinya,” ketus Kailla, menutup mata Pram, supaya tidak ikut memandang ke arah Kinar.
“Jangankan Tuhan, setan saja benci dengan pelakor,” lanjut Kaiila.
Pram sudah ingin terbahak, menikmati kecemburuan Kailla. Rasanya ingin dia mencium bibir istrinya yang mengoceh sejak tadi.
“Sayang, biarkan Tante menambah deretan dosanya, kamu jangan ikut-ikutan. Memandang wanita lain selain istrimu sendiri, itu juga termasuk dosa besar,” ucap Kailla, mengingatkan.
Tawa Pram pecah. Kaillanya benar-benar mengemaskan saat ini. Kalau tidak ada siapa-siapa saat ini, sudah bisa dipastikan dia akan melahap Kailla sampai tidak bersisa.
“Tutup matamu, jangan menambah dosa dengan melihatnya,” gerutu Kailla.
“Hahaha...” Lagi-lagi Pram terbahak.
“Aku serius, aku tidak mau bolak-balik membesukmu di neraka hanya karena dosamu menatap wanita yang bukan istrimu, bukan hakmu. Aku tidak mau mengantarkan telur ceplok untukmu di sana,” ucap Kailla setengah bercanda.
Kinar berdiri mematung, menatap penuh iri. Tidak sedikitpun beranjak pergi, masih betah menonton kemesraan sepasang suami istri di depannya.
Melihat itu, Kailla semakin menjadi. Bukan hanya memeluk, sekarang dia dengan tidak tahu malu dan tidak tahu tempat, langsung melu’mat bibir Pram. Tidak memberi kesempatan suaminya protes.
Kinar terkejut, membeku saat dipaksa menonton bagaimana lelaki yang begitu dikaguminya sedang menyambut bibir istrinya. Bayu dan para security yang berdiri di dekat pos, langsung membuang pandangannya. Tidak berani menatap, takut diomeli Pram.
“Kalau tahu begini. Sudah sejak dulu aku mengundang Kinar berkunjung ke sini,” batin Pram, bersorak sorai dalam hati.
Hampir lima menit saling memagut, Kailla baru menyudahi ciumannya saat memastikan Kinar sudah benar-benar masuk ke dalam rumah.
“Sudah. Kamu boleh ke kantor sekarang!” usir Kailla, buru-buru melepaskan diri dari dekapan erat suaminya. Mendorong tubuh kekar Pram berjalan menuju mobilnya.
Tanpa menunggu lagi, Kailla masuk ke dalam rumah. Meninggalkam Pram dengan wajah kebingungan.
“Tadi memintaku tidak perlu ke kantor, sekarang mengusirku pergi secepatnya. Apa maksudmu, Kai,” ucap Pram pelan, membuka pintu mobil.
***
“Kamu naik apa kesini?” tanya Ibu Citra.
“Naik taksi, Ma. Aku bertanya pada sopir di rumah alamatnya,” sahut Kinar. Perempuan itu sudah duduk dengan lancang, mengedarkan pandangannya menyapu seiisi rumah.
“Rumahnya cantik, Ma,” ujar Kinar.
“Iya Tante. Suamiku khusus membangun ini untukku. Bukti cintanya kepadaku yang begitu besar,” sahut Kailla. Tiba-tiba, dia sudah ikut bergabung. Menjatuhkan bokongnya tepat disamping Kinar.
“Kalau mau, tante Kinar bisa menginap disini,” tawar Kailla, tersenyum licik. Di sudah berencana memanasi Kinar.
Terlihat wanita itu berpikir, tetapi belum sempat memberi jawaban tiba-tiba Pram muncul dan ikut bergabung.
“Sayang, aku tidak jadi ke kantor,”bisik lelaki yang masih terlihat gagah di usia kepala empatnya. Setengah membungkuk, mendekap erat istrinya, dengan sebelah tangan mengelus perut Kailla yang terlihat muncul dari gaun sederhananya.
“Kenapa?” tanya Kailla heran.
“Bukankah pekerjaanmu menumpuk,” lanjut Kailla, menepuk pelang tangan Pran yang mengunci pundaknya.
Pram tersenyum sebelum menjawab. Masih sempat melirik Kinar yang membeku, duduk di samping Kailla.
“Aku masih merindukan kalian bertiga,” bisik Pram, mengecup pipi Kailla. Terpaksa dia mengurungkan niatnya ke kantor demi memastikan Kinar tidak berbuat macam-macam pada Kailla dan kandungannya. Dia tidak bisa menebak, wanita seperti apa Kinar. Tentu saja dia tidak mau mengambil resiko untuk itu.
Kinar menelan ludah kembali. Lagi-lagi, dia disuguhkan kemesraan Pram dan Kailla. Lelaki yang selalu dingin padanya, selalu memperlakukannya dengan kasar, tetapi bisa semanis dan selembut itu pada istrinya. Sebagai wanita yang mengagumi Pram, tentu saja sangat iri pada Kailla.
“Pram, serius kamu tidak ke kantor hari ini?” tanya Ibu Citra, memastikan. Wanita lansia itu tersenyum kecut saat melihat putranya yang sibuk menggesekan hidung di wajah menantunya.
“Iya, Ma,” sahut Pram. Tatapannya tertuju pada istrinya, masih sibuk menghujami istrinya dengan ciuma bertubi-tubi. Bahkan Pram tidak menatap dan menganggap kehadiran Ibu Citra dan Kinar di sana. Terlalu sibuk menempelkan wajahnya di wajah Kailla. Sesekali menggigit kecil telinga istrinya.
“Sayang ada mama!” Kailla menjerit kecil sembari mengelus pipinya, saat wajah mulusnya terkena gesekan bulu-bulu halus di dagu Pram yang belum tercukur sempurna.
“Biarkan saja. Kita pemilik rumah, kalau mereka sadar diri, harusnya mereka menyingkir,” sindir Pram, melirik ke arah Kinar yang menunduk.
“Jangan begitu. Mama pasti akan tersinggung,” bisik Kailla.
“Tidak apa-apa. Bukankah mama sudah tahu, rumahku bukan panti atau tempat singgah. Semua orang bisa keluar masuk seenaknya,” sindir Pram.
Meskipun kedatangan Kinar membantu hubungannya dan Kailla semakin dekat, tetapi dia tidak suka saat mamanya membawa wanita itu tanpa persetujuannya. Padahl jelas-jelas, dia sudah meminta sang mama tidak mengajak Kinar ke kediamannya.
“Pram, apa maksudmu?” tanya Ibu Citra, tersinggung. Menghempas kasar rantang makanan ke atas meja. Dengan sorot mata tajam, wanita itu berjalan mendekat dengan sikap tidak bersahabat.
“Ma, Pram cuma bercanda. Iya kan, Sayang?” ucap Kailla menengahi. Berusaha membuat suasana tetap nyaman. Tidak mau ada pertengkaran di antara suami dan mertuanya.
Ibu Citra yang mulai terpancing, masih tidak terima. “Katakan pada mama, apa maksud ucapanmu tadi, Pram?” tanya Ibu Citra, masih belum puas.
Melihat pertengkaran ibu dan anak yang akan terjadi di depannya, Kailla buru-buru menyela.
“Aduh, perutku sakit, Ma,” ucap Kailla, dengan meringis sembari mengelus perutnya. Ibu dan anak yang akan bersitegang itu langsung panik. Ibu Citra langsung mendekati dan ikut mengelus perut menantunya. Demikian juga dengan Pram.
“Bagaimana rasanya, Kai?” tanya Ibu Citra, nada suaranya melembut.
“Hanya kram biasa, Ma,” sahut Kailla.
“Pram, cepat bawa istrimu ke kamar!” perintah Ibu Citra. Ketidaksukaannya akan kalimat Pram, menguap entah kemana. Berganti kekhawatiran akan menantunya.
“Cepat Pram!” titah Ibu Citra kembali, saat melihat Pram yang tidak kalah panik hanya tertegun tidak bisa berbuat apa-apa.
“Kai, kamu baik-baik saja?” tanya Pram, merengkuh tubuh Kailla dan membawanya ke dalam gendongan.
“Iya, hanya sedikit nyeri. Sepertinya anak-anakmu tidak suka mendengar pertengkaran kalian tadi,” bisik Kailla dengan santai.
***
To be continued
Love you all
Terimakasih.