
Biasanya Pram yang akan menyeret istrinya kemana-mana, tetapi tidak untuk malam ini. Setelah cerita Kinar berakhir dengan angkat kakinya wanita itu bersama sang ibu dari kediaman mewah Pram, berganti Kailla yang menyeret suaminya di tengah kesunyian istananya.
Kembali pulangnya sang mertua, membuat suasana rumah menjadi senyap kembali, tertinggal pasangan suami istri itu saja yang mengisi kediaman megah mereka dengan derap langkah kaki. Para asisten, sudah kembali menghuni kamar mereka sendiri di belakang rumah.
“Tunggu Sayang, telur dadarmu,” ucap lelaki itu menahan langkah Kailla. Teringat kembali dengan niat awal yang terbengkalai.
“Anak-anakmu sudah merajuk, menunggu terlalu lama membuat mereka berubah pikiran,” sahut Kailla dengan wajah cemberut dan bibir mengerucut khasnya.
Netra mata lelaki itu membulat, tawa Pram pecah. “Hahaha..., sejak di dalam perut saja, kamu sudah mengajarkannya banyak hal pada mereka,” tukas Pram.
“Keduanya?” tanya Pram lagi, mulai larut dalam obrolan tidak berguna dan tidak masuk akal istrinya.
“Hanya satu, tetapi yang satunya ikut mengamuk setelah sang kakak merajuk dan membuat kekacauan di dalam,” sahut Kailla asal. Kembali membuat tawa yang sudah hilang kembali terdengar dari bibir Pram.
Pram yang tidak menghiraukan ucapan asal istrinya kembali ke dapur. Menyiapkan telur dadar yang sudah dingin di atas sepiring nasi yang masih hangat. Dengan tangan kirinya, membawa serta piring itu masuk ke dalam kamarnya.
“Makan sekarang, Kai. Setelah itu tidur,” titah Pram. Membiarkan istrinya duduk di pinggir ranjang dan meletakan piring itu di pangkuan Kailla. Dia sendiri bergegas ke walk in closet, mencari kaos pengganti untuk menutup tubuh bagian atasnya yang mulai mengigil kedinginan.
Tidak lama, langkah kaki Pram mengantarnya kembali. Berdiri di depan sang istri yang terlihat melamun masih memangku piring nasinya. Nasi itu masih utuh, belum tersentuh. Kailla masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Menatap nanar, larut dalam lamunannya.
“Kenapa belum dimakan, Kai?” tanya Pram. Lelaki itu muncul kembali sambil menarik turun ujung kaos hitamnya.
Bukannya menjawab, sebaliknya tangis kecil dengan dua bulir air bening merembes jatuh. Terisak menatap makanannya, memancing keheranan sang suami.
“Hei.., ada apa Sayang?” tanya Pram lembut. Membungkukan badannya di depan sang istri dengan kedua tangan membingkai wajah cantik yang menjadi sayu tiba-tiba.
“Aku masih tidak rela dia memelukmu,” bisik Kailla pelan. Menaikan pandangan, menatap lekat suaminya. Seperti ada yang ingin disampaikan namun bibir mungil itu masih tercekat dan bungkam.
Seulas senyum menyiratkan bahagia tersungging di wajah tampan Pram. Ketidakrelaan Kailla bagai pernyataan cinta wanitanya akan dirinya. Yang tidak ingin dibagi, yang hanya ingin dijadikan satu-satunya.
Tangan itu dengan cekatan meraih piring nasi, Pram akhirnya memilih menyuapi ketimbang menunggu Kailla menghabiskannya sendiri.
“Ayo, habiskan makananmu. Ini sudah malam, Kai,” bujuk Pram, mengalihkan pembicaraan. Sendok itu meluncur lancar ke dalam mulut Kailla. Dengan telaten, Pram menyuapi sesendok demi sesendok hingga isi piring pun tandas.
“Minum, Sayang,” sodornya. Menyuguhkan segelas air putih yang diraihnya dari atas nakas.
Sejak Kailla hamil, banyak kebiasaan baru yang harus dilakoni lelaki 45 tahun itu. Termasuk salah satunya menyuapi Kailla makan di saat dia senggang dan memastikan istrinya itu menelan vitaminnya.
“Gosok gigi dan segera tidur, Kai,” perintah Pram, mengusap pelan pucuk kepala Kailla, layaknya seorang ayah pada anaknya.
Kebiasaan Pram yang acap kali memperlakukan Kailla bak putri kecil dibanding istrinya sendiri. Sejak kecil mengurus Kailla, terkadang membuatnya kesulitan menempatkan diri sebagai seorang suami, kesusahan memperlakukan Kailla sebagai seorang istri.
Kailla menurut. Dalam diamnya, mengikuti perintah sang suami tanpa protes. Dan tak lama, sudah kembali merebahkan diri di tempat tidurnya.
“Kamu sudah minum susumu?” tanya Pram, tersenyum. Tangan lelaki itu terlihat sibuk menarik selimut dan menutupi tubuh istrinya, menyelimuti tubuh dingin itu dengan bentangan kain tebal bermotif flamingo.
“Sudah,” sahut Kailla mengangguk. Bak bayi kecil yang begitu manis dan penurut.
Pram sendiri menyusul setelahnya. Ikut menelusup di balik selimut, membagi kehangatan tubuhnya pada Kailla. Menarik perlahan, membiarkan Kailla terbenam nyaman di dalam pelukannya.
Kebahagiaan dan rasa bangga tercetak di wajah terpejam Pram. Perlahan, istrinya mulai dewasa dari hari ke hari. Mulai pintar mengatur emosi dan menggunakan pikirannya sebelum bertindak. Kejadian di dapur tadi, membuatnya semakin menyayangi Kailla.
***
Posisi saling berpelukan di atas tempat tidur itu masih bertahan di setengah jam pertama. Pram yang kelelahan, mulai bisa memejamkan mata dan masuk ke alam bawah sadarnya.
Berbeda dengan Kailla, dia sejak tadi membolak-balikan posisi tidurnya, berusaha memejamkan mata.
“Sayang,” bisik Kailla pada akhirnya.
“Hmm,” gumam Pram pelan dengan nafas teratur. Tak lama terdengar dengkuran halus dengan dada naik turun teratur.
Kailla yang masih di dalam pelukan Pram, mendongak sebentar. “Sayang, kamu sudah tidur?” tanya Kailla lagi, mengelus dagu dengan bulu-bulu halus yang belum dicukur sempurna.
“Hmmm,” gumam Pram lagi.
“Kenapa belum tidur, Kai?” tanya Pram dengan suara pelan. Terpaksa terjaga kembali karena usapan Kailla.
“Aku tidak bisa tidur, Sayang,” bisik Kailla pelan. Menaikan wajahnya sejajar dengan suaminya. Jari lentiknya kembali melukis di bibir suaminya.
Cup! Kecupan mendarat di bibir Pram, seiring dengan mata lelaki itu membuka lebar.
“Kenapa tidak tidur? Apa yang kamu pikirkan?” Akhirnya Pram terjaga.
“Aku memikirkan Tante Kinar,” ucap Kailla, berbisik pelan.
“Kamu kenapa, Kai?” tanya Pram, menahan kantuk. Terlihat menguap beberapa kali.
“Aku kepikiran saja. Bagaimana kalau Tante Kinar menganggu kita lagi?” tanya Kailla, pelan.
“Tidak perlu memikirkannya. Untuk saat ini cukup pikirkan kehamilanmu saja,” ucap Pram, mengusap pelipis Kailla dengan lembut, berharap istrinya itu segera tertidur.
Kailla terdiam sejenak.
“Sayang, apa kamu tidak merasa tadi terlalu berlebihan? Apa nanti Tante Kinar akan membuat perhitungan denganku atau denganmu?” tanya Kailla dengan polos.
Deg—
Pram tersenyum, menyembunyikan rasa khawatirnya yang sama. Sejak tadi sebenarnya dia juga berpikiran sama, tetapi berusaha membuang jauh-jauh pikiran buruk itu. Tidak mau Kailla panik.
“Tidak. Dia tidak akan bisa menyakitimu dan anak-anak kita. Aku berjanji akan menjaga kalian dengan kedua tanganku,” ucap Pram menenangkan. Tangannya masih saja membelai lembut rambut istrinya.
“Kamu yakin?” tanya Kailla lagi, memastikan.
Pram mengangguk. “Sayang, maafkan aku. Aku tidak bisa menendangnya keluar dari kehidupan mama,” bisik Pram.
“Aku tidak memiliki hak untuk mengusirnya dari kehidupan mama. Yang bisa memintanya pergi hanya mama,” lanjutnya lagi.
“Iya Sayang, aku mengerti,” sahut Kailla, mulai memejamkan matanya. Menikmati hangatnya belaian tangan suaminya.
“Sebagai anak, aku belum bisa menjaga mama dengan baik. Selama ini, Kinarlah yang melakukannya untukku,” jelas Pram.
“Aku bisa saja mencari suster atau asisten untuk mendampingi mama. Dan tidak mengizinkan Kinar bersama mama lagi. Namun, belum tentu mama bisa nyaman seperti saat mama bersama Kinar. Aku tidak mau menjadi anak yang egois,” ucap Pram pelan.
“Apalagi selama ini, Kinar juga tidak dibayar. Dia melakuannya dengan ikhlas. Kartu yang aku berikan padanya, tidak sekalipun digunakannya,” jelaa Pram lagi.
Kailla membuka matanya. “Kenapa tidak membawa mama tinggal bersama kita saja?” tanya Kailla.
Kali ini Pram menggeleng. Dengan tegas, lelaki itu menolak pendapat istrinya.
“Aku pribadi sangat menginginkannya, tetapi aku tidak bisa. Ada banyak hati yang harus aku jaga. Aku harus mempertimbangkan kenyamanan kalian berdua,” jelas Pram.
“Akan lebih baik seperti ini, kita tinggal terpisah. Mama dengan kehidupannya dan istriku dengan kehidupannya sendiri. Bukan berarti tidak saling mengunjungi. Hanya saja, aku pikir akan lebih nyaman untuk kalian saat tinggal terpisah.”
Kailla terperanjat. Belum paham dengan maksud suaminya. Melihat hubungannya dengan sang mertua yang membaik, Kailla sama sekali tidak keberatan kalau harus tinggal satu atap dengan Ibu Citra.
“Kenapa? Aku tidak keberatan, Sayang,” ucap Kailla, menjelaskan.
“Maksudku, tidak masalah mama mau menginap disini berapa lama, tetapi mama tetap memiliki rumah sendiri. Disini mama hanya berstatus tamu. Dan kamulah yang berhak penuh atas rumah kita, mengatur rumah kita,” jelas Pram.
“Dan mama hanya akan mengatur rumahnya sendiri, tanpa campur tangan kita,” lanjut Pram.
Kailla semakin bingung.
“Mungkin di luar sana ada banyak mertua dan menantu yang bisa akur dan tinggal bersama, tetapi aku tidak yakin istri dan mamaku menjadi bagian dari mereka. Aku tidak mau mengambil resiko.”
“Aku hanya memastikan kenyamanan kalian. Saat tinggal bersama, pasti ada saat-saat dimana istriku merasa sungkan pada mamaku, tidak bisa bebas seperti tinggal sendiri. Demikian juga dengan mama, pasti ada situasi dimana mama juga harus menjaga perasaanmu. Tidak bisa seenaknya, seperti tinggal di rumahnya sendiri.”
“Hal kecil saja. Aku yakin saat mama menginap disini, kamu takut sampai bangun kesiangan. Ketahuan tidak mengurusi suamimu dengan baik. Mungkin sebenarnya mama tidak mempermasalahkan, tetapi rasa tidak nyaman itu pasti ada di dalam hatimu.”
Kailla mengangguk dan senyum malu-malu.
“Demikian juga mama, saat tinggal bersamamu pasti ada batasan-batasan yang tidak bisa mama langgar. Mama tidak bisa melakukan semua hal, seperti di rumahnya sendiri,” lanjut Pram.
“Dan ketidaknyamanan kecil ini akhirnya akan jadi pemicu, yang membuat hubungan kalian yang sudah membaik ini bisa saja memburuk kembali. Saling bercerita keburukan di belakang. Hal-hal kecil itu akan jadi duri dalam daging di hubungan kalian.”
“Dan aku yakin, pada akhirnya aku disuruh memilih istri atau mamaku. Aku tidak mau itu terjadi. Kamu mengerti maksudku, Kai?” tanya Pram.
Kailla mengangguk, buru-buru bangkit dan memeluk Pram. “Aku mengerti maksudmu, Sayang,” ucapnya.
“Jadi dengan berat hati aku putuskan, untuk saat ini tinggal terpisah adalah jalan terbaik. Kalau kamu merindukan mama, kamu bisa meminta mama menginap disini atau kamu juga bisa mengunjunginya, Kai. Demikian juga mama,” bisik Pram.
***
To be continued
Love You all
Terima kasih.