
Melangkah gemulai bak model papan atas, ibu hamil istri presdir RD Grup itu tampil cantik berbalut gaun hamil berbahan chiffon dengan warna hijau muda. Tas LV menggantung indah di tubuh, membelah area dada membuat perut besarnya tercetak sempurna.
Rambut panjang dikucir kuda menampilkan leher jenjang dengan kulit mulus bak pualam. Model atasan sabrina itu mempertontonkan pundak terbuka dengan sedikit sentuhan payet melingkar, mengelilingi tubuh.
Sepatu hak lima sentimeter yang masih setia melekat di kakinya seolah tak terpengaruh dengan perut yang semakin hari semakin membuncit. Ya, Kailla tetaplah Kailla. Di tengah kehamilannya pun, selalu ingin tampil berbeda.
Apalagi sejak Pram sakit, tidak ada yang mengomentari penampilannya. Pram terlalu fokus untuk kesembuhannya, mengabaikan penampilan istri yang biasa menjadi perhatian utama laki-laki tampan itu.
Bunyi ketukan sepatu Kailla menggema sepanjang koridor, langkahnya cepat seperti diburu waktu. Sejak pagi, hati Kailla sudah gundah gulana. Masalah perusahaan belum terselesaikan meskipun tujuh malam terlewati sudah.
Menghempaskan tubuh besarnya di atas kursi kebesaran milik sang suami, menghela napas berulang kali. Kailla tahu, ini kesempatan terakhirnya membenahi perusahaan yang hampir musnah sebentar lagi. Cukup melewati dua purnama, dia sanggup menghancurkan semua kerja keras daddy dan suaminya selama bertahun-tahun. Sungguh pencapaian yang luar biasa dari seorang Kailla Riadi Dirgantara.
Ragu itu bergelayut manja di otaknya sejak tadi, mata menerawang ke langit-langit ruangan. Pikirannya sedang menghitung untung rugi, benar salah sebelum mengambil keputusan besar untuk kelangsungan hidup RD Grup, menentukan masa depan perusahaan, memperjuangkan agar perusahaan raksasa itu tetap bernapas dan menjadi tulang punggung ribuan orang.
Mengucap doa sebelum memutuskan, Kailla meraih gagang telepon di atas meja kerja, meminta Stella menghubungi anak perusahaan di Bandung. Dia perlu bicara serius dengan direktur sebelum menerima proyek yang ditawarkan Anita.
“Mudah-mudahan keputusanku kali ini adalah keputusan terbaik. Maafkan aku, Sayang.” Kailla bermonolog.
***
Berbeda dengan Kailla yang sibuk dengan masalah perusahaan, Pram menghabiskan waktunya dengan melakukan pemeriksaan dan terapi. Pergi dengan kursi roda, laki-laki itu bisa tersenyum saat kembali ke ruangannya menggunakan kruk siku. Dia diminta untuk melatih kaki kanannya dengan sering digunakan berjalan tetapi tidak boleh terlalu memaksa.
Dengan dibantu Bayu, laki-laki itu kembali berbaring di brankar.
“Bay, entah kenapa ... perasaanku tidak enak sejak tadi.” Pram berkeluh kesah seperti biasa. Sejak bangun dari tidur panjang, Bayu adalah tempat Pram berbagi banyak hal.
“Bay, mama baik-baik saja, kan?” tanya Pram, meraih ponsel di atas nakas. Waktu sudah menunjukan pukul tiga sore, terbayang sebentar lagi, Kailla akan pulang.
“Mama baik-baik saja. Tadi memaksa ingin ke sini, tetapi Kinar tidak mengizinkan. Beberapa hari ini kondisi mama sedang kurang fit” Bayu menjelaskan.
Pram mengangguk. Fokus laki -laki itu pecah sejak tadi. Entah kenapa, sepanjang hari ini perasaannya tidak enak. Jemarinya baru saja berselancar di layar ponsel, mendadak terdengar nada dering ponsel Bayu memecah senyap kamar perawatan.
“Sam?” Bayu berucap pelan, menatap penuh heran saat rekannya memghubungi.
Pram yang masih sempat mendengar, segera mengangkat pandangannya. “Kemarikan!” Laki-laki itu memberi perintah sambil menyodorkan tangannya. Meminta Bayu menyerahkan ponselnya.
“Ya, Sam ada apa?” tanya Pram buru-buru.
“Bay, bagaimana ini. Non Kailla ... pingsan di kantor.” Sam langsung bercerita tanpa tahu dengan siapa dia berbicara. Panik itu terdengar jelas dari nada suaranya.
“Breng’sek!! Apa yang terjadi? Bagaimana kamu menjaga Kailla, Sam!” Emosi Pram tersulut begitu mendengar ucapan Sam.
Asisten di seberang telepon yang masih belum paham dengan siapa dia berbicara, terdengar kesal mendengar umpatan. “Bay, apa-apaan ini! Aku sedang bingung, harus bagaimana?”
“Apa yang terjadi? Bagaimana sampai istriku bisa tidak sadarkan diri?” Pram memberondong Sam dengan banyak pertanyaan.
Deg—
“P-Pak ... Pram?” tanya Sam terbata, begitu menyadari siapa yang mengumpatnya.
“Memang kamu pikir ini siapa? Apa yang terjadi?” Pram tidak bisa menyembunyikan paniknya.
“Non Kailla pingsan di ruang rapat. Saya tidak tahu Pak. Dapat laporan dari staff, Non Kailla jatuh tidak sadarkan diri di ruang rapat,” jelas Sam.
“Ambil pakaian gantiku! Aku harus menemui Kailla!” lanjutnya lagi.
“Bos ... tetapi ini ....”
“Tidak ada tapi-tapian. Aku harus ke kantor sekarang. Sejak tadi perasaanku sudah tidak enak. Ternyata ini!” potong Pram, melempar selimut ke lantai.
“Kursi roda?” tanya Bayu.
“Pakai kruk saja! Aku harus cepat. Bantu aku sekarang!!” Pram sudah hampir melompat turun. Tidak bisa menunggu lebih lama lagi, takut terjadi sesuatu dengan Kailla dan bayi kembarnya.
***
Sejak pagi mengurus semua masalah di perusahaan, memimpin beberapa rapat dengan bagian keuangan, pegawas lapangan dan beberapa divisi lainnya dalam satu hari, Kailla melewatkan makan siangnya. Seharian membereskan semua, tanpa jeda istirahat membuat Kailla tumbang sesaat sebelum keluar ruang rapat.
Ibu hamil itu ambruk tepat di depan staff, membuat panik semua orang, tak terkecuali Sam dan Donny yang menunggu di luar ruangan. Jantung Sam berdegup kencang saat melihat majikannya sudah tergeletak di lantai, tak sadarkan diri.
“Aduh, bagaimana ini Don? Bawa ke rumah sakit atau bagaimana?” tanya Sam, gemetaran. Terbayang sudah akan mendapat semprotan dari Pram karena dianggap tidak becus menjaga Kailla.
“Ssttt ... jangan panik. Bawa ke klinik dulu.” Donny menjawab dengan santainya. Asisten terlama yang bekerja dengan Riadi itu tampak tenang, tidak seperti Sam yang kebingungan.
Sambil menemani Kailla yang dipindahkan ke klinik milik RD Grup, Sam terlihat mengadu pada Bayu. Maksud hati ingin berbagi cerita, berujung kena semprotan Pram. Tidak menyangka ponsel Bayu ternyata disabotase majikannya.
“Aduh, bagaimana ini Don?” tanya Sam dengan nada panik.
“Ada apa lagi? Tinggal menunggu Non Kailla siuman. Tidak akan terjadi apa-apa. Sepertinya Non Kailla kecapekan,” sahut Donny.
“Bu-bukan begitu Don. Aku tadi menghubungi Bayu, mau mengabari masalah Non Kailla ....”
“Lalu, masalahnya apa?” Donny masih bersikap santai.
“Masalahnya ponsel Bayu dipegang Pak Pram. Dan sebentar lagi pasti macan kumbang itu mengaum dan mengamuk di sini,” jelas Sam ketakutan. Terbayang akan amukan Pram kalau terjadi sesuatu dengan Kailla.
“Astaga! Kenapa kamu pintar sekali, Sam. Harusnya tidak perlu memberitahu Pak Pram. Non Kailla hanya kecapekan!” gerutu Donny ikut panik. Ingin rasanya mengumpat Sam.
“Lalu kita harus bagaimana, Don?” tanya Sam, dengan wajah memelas.
“Terima nasib saja, kalau sampai diomelin Pak Pram. Kamu juga, untuk apa mengadu pada Pak Pram. Yang ada kena semprot, kan!” omel Donny.
“Jadi ... aku harus bagaimana? Belum lagi kalau Pak Pram tahu kalau perusahaannya di ambang kehancuran. Bagaimana ini, Don?” Sam hampir menangis ketakutan.
“Bagaimana apanya? Terima nasib saja!”
“Mana ... mana cicilan motorku belum lunas semua. Mana aku sudah berjanji pada Mitha, mau membelikannya skincare ... “ Sam berkeluh kesah.
“Apa yang kamu bicarakan?” Donny bingung sendiri.
“Kalau Non Kailla sampai kenapa-kenapa dan aku dipecat tanpa pesangon. Bagaimana ini Don?” Sam hampir menangis.
***
TBC