
“Tiga dari enam proyek yang Bu Kailla tanda tangani bermasalah, dua kontraktor yang menang tender itu menghentikan proyek yang sedang berjalan. Yang satu kehabisan dana dan yang satu kabur.”
Sebenarnya sejak awal beberapa bawahannya sudah keberatan dengan pilihan Kailla melakukan tender dalam menentukan kontraktor dan sekarang terbukti. Meskipun niat awal Kailla untuk menekan biaya, yang mungkin melalui tender bisa mendapatkan kontraktor dengan harga jauh lebih murah dibanding standart perusahaan.
Hanya saja kesalahannya, Kailla tidak menelusuri lebih jauh sepak terjang para kontraktor yang ikut serta. Berbeda dengan Pram yang selalu menyeleksi semuanya terlebih dahulu dan memiliki insting yang jauh lebih kuat dibanding Kailla. Laki-laki itu sanggup mengendus ketidakberesan dan kejanggalan dibalik bangkai yang sudah ditutup rapat dan terpoles indah.
Pengalaman adalah mahaguru yang mengajarkan seseorang dengan caranya sendiri. Dan itu yang terkadang mematahkan segala teori yang pernah didapatkan di bangku sekolah.
Kailla tertunduk lemas di kursi kerja, mendengar laporan dari bawahannya. Mata menatap nanar dengan tangan mengusap perutnya, merasakan sensasi tendangan dari sang buah hati saat jantungnya berdetak kencang.
“Keuangan sementara ini masih aman, tetapi kalau kondisi tidak cepat diselesaikan. Perusahaan akan terus merugi, belum penalti yang harus kita bayar pada klien. Setiap keterlambatan, ada sanksi yang dikenakan. Sedangkan saat ini saja, masih belum mencapai target, tidak sesuai progress.” Sang manager keuangan angkat suara, setelah sebelumnya berkoordinasi dengan bagian purchasing dan personalia. Dua bagian yang terkait dengan pembelian material dan menghitung gaji pekerja lapangan.
“Kalian boleh keluar!” Wanita hamil dengan setelah kerja biru navy itu memilih tidak mau mendengar lagi. Semakin banyak laporan yang masuk ke telinga, kepalanya semakin pusing. Tidak nafsu makan, tidak bisa istirahat dengan tenang.
Setelah ruang kerjanya sepi, Stella memberanikan diri masuk ke dalam ruangan. “Nyonya, yang sabar. Aku juga tidak bisa apa-apa,”
“Ya, Ste. Apa suamiku sering mengalami masalah seperti ini?” tanya Kailla lagi. Pikirannya buntu. Tidak bisa berbuat apa-apa.
Sekretaris itu terkekeh. “Sering Nyonya. Bahkan setiap hari ada saja masalah yang harus diselesaikan Pak Pram.”
“Biasanya ... apa yang dilakukan suamiku saat seperti ini?” Kailla kembali bertanya.
“Pak Pram minta pulang ke rumah.” Stella mengulum senyuman. Kebiasaan atasan yang lain daripada yang lain dan mungkin sang nyonya tidak tahu dengan kebiasaan seorang Reynaldi Pratama saat banyak masalah di kantor.
Stella berjalan mendekat dan membisikan sesuatu di telinga Kailla. Wajah ibu hamil itu langsung bersemu merah.
“Bagaimana kamu bisa tahu, Ste?” tanya Kailla memberanikan diri menatap sang sekretaris dengan wajah meronanya.
“Ya pasti tahu. Jangankan aku, David dan asisten Bayu saja tahu dengan kebiasaan Pak Pram.” Stella bercerita.
“Kalau Pak Pram sedang marah-marah, hanya dengan menyebut nama nyonya saja, kita terselamatkan. Kalau sedang ada masalah kantor, Pak Pram pasti minta pulang ke rumah. Jadi ... kalau Nyonya mendapati suami Nyonya tiba-tiba pulang dari kantor di siang bolong, maunya bermanja-manja, maunya menempel terus, maunya kelonan terus, itu artinya ....” Stella tidak melanjutkan kalimatnya. Tawanya pecah sudah, otak kotornya berjalan kemana-mana seiring dengan raut heran Kailla.
“Masalahnya Ste, Pak Pram itu setiap waktu pasti begitu. Tidak pernah yang tidak mesum!” ucap Kailla, matanya berkaca-kaca. Sedih menghampiri, teringat bagaimana Pram memanjakannya selama ini.
“Itu artinya setiap saat ada saja masalah yang harus diselesaikannya, Nyonya. Perusahaan masih berjalan, pasti masalah tetap ada.”
“Begitu berat beban masalah suamiku di kantor,” ucap Kailla lirih. Selama dua bulan mengurus RD Group, Kailla jadi banyak tahu. Jadi mengenal dunia suaminya seperti apa. Dia jadi tahu seberapa hebat Pram mengurus semuanya, seberapa berat beban yang dipikul Pram selama ini.
“Pasti Nyonya, sebanding dengan apa yang didapatkannya. Hasil itu tidak akan mengkhianati usaha. Kalau tidak begitu bagaimana mungkin Pak Pram sebentar-sebentar memintaku mengecek katalog tas. Apa sudah mengeluarkan model terbaru.” Stella menjelaskan apa yang selama ini mungkin tidak diketahui Kailla.
“Benarkah?” tanya Kailla mengerutkan dahi.
Stella mengangguk. “Menurut Pak Pram, pencapaian tertinggi di dalam hidupnya, adalah saat bisa membuat Nyonya tersenyum. Dan Pak Pram sangat berusaha untuk itu. Pak Pram pernah berkata padaku, kebahagiaan Nyonya adalah hal terpenting di dalam hidupnya, mengalahkan bahagianya saat menang tender miliaran.”
Haru itu datang tiba-tiba, air mata pun memenuhi pelupuk mata, berembun dan basah. Kata-kata sederhana Stella, tetapi mengguncang perasaannya saat ini. Seringkali dia mendengar Pram mengungkapkan kata-kata ini, tetapi jadi berbeda saat orang lain yang menyampaikan dan di situasi seperti sekarang. Saat si pembuat senyuman itu sedang terbaring tak berdaya.
***
Ruang ICU itu masih hening, tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya alat medis berdenyut pelan dengan selang-selang membelit tubuh lelaki 44 tahun yang tertidur dalam. Jemari tangan yang sejak dua bulan ini kaku, terkulai di atas tempat tidur, tiba-tiba bergerak kecil. Napas teratur itu pun mulai bergelombang. Kelopak mata yang menutup rapat, bergetar pelan.
Bibir kering itu tampak terbuka, berbisik dalam diam menyerukan satu nama.
“Kai ....” penuh perjuangan untuk bisa menyuarakan satu nama yang sejak dua bulan ini selalu menemani tidur panjangnya.
“Kai ....” bibir itu kembali berbisik pelan, sebelum akhirnya diam dalam alunan nada teratur alat penunjang hidup.
Tak lama muncul seorang perawat mengecek kondisi Pram secara berkala. Laki-laki dengan setelan hijau lengkap dengan penutup kepala itu terkejut saat mendapati Pram membuka kelopak mata perlahan.
“Bapak sudah bangun?” tanyanya dengan senyum bahagia. Tentu saja, dua bulan bolak-balik mengecek pasien yang sama, ikatan batinnya terbentuk dengan sendiri. Terkadang iba dengan lelaki tampan, sang calon ayah yang sedang tidur tak berdaya. Bukannya dia tidak tahu, wanita hamil itu hampir setiap hari meminta izin untuk menjenguk suaminya.
Pram menjawab lewat tatapan. Bibirnya bergetar, susah payah mengeluarkan suara. “Kai ....”
“Ya, Pak. Tunggu sebentar, saya panggilkan dokter untuk memeriksa kondisi Bapak,” ucap sang perawat, tersenyum.
“Kai ... Kai ....” suara serak, berbisik pelan. Terdengar susah keluar dari bibir Pram.
“Ya, itu istrinya, ya. Nanti kami akan menghubunginya,” hibur perawat.
Tangan sang perawat menekan tombol bel, tak lama beberapa orang berpakaian sama berdatangan memenuhi ruangan untuk melakukan pengecekan. Semua hal diperiksa untuk memastikan kalau pasien memang sudah sadar sepenuhnya.
“Untuk sementara tetap di sini, untuk memastikan kondisinya benar-benar stabil. Kita lihat beberapa jam ke depan. Kalau kondisinya semakin membaik, bisa mulai dipindahkan ke kamar perawatan biasa. Dan akan dilakukan pemeriksaan fungsi tubuh yang lainnya,” ucap salah satu diantara tiga orang yang berdiri di depan brankar.
“Terus pantau dan kabari. Mudah-mudah ada kabar baik yang bisa kita sampaikan pada pihak keluarga.”
***
TBC