
Puluhan pesan gambar yang dikirimkan oleh orang suruhan Pram membuat emosi Pram memuncak. Istrinya lagi-lagi bermain kucing-kucingan di belakangnya. Empat bulan ini, Pram menyimpan banyak hal, berusaha menganggap tidak ada apa-apa di antara Kailla dan Ditya.
Mata menerawang dengan senyum yang tiba-tiba menghilang dari sudut bibir, Pram hanya bisa tangannya untuk saat ini. Menampilkan buku-buku yang memutih demi menahan emosi diri.
“Sayang, aku harus ke kantor,” bisik Pram pada akhirnya memilih memendam sendiri. Mengusap wajah putih dan mulus bak porselin Kailla dengan punggung telunjuknya. Usapan ringan itu terhenti di sudut bibir.
“Aku mencintaimu,” bisiknya lagi, sembari meneteskan air mata. Entah apa yang ditangisi Pram. Namun, empat bulan ini dia sering diam-diam menangisi hubungannya dengan Kailla.
Selama empat bulan ini semua tenang, tidak ada kekacauan, tidak ada pertengkaran. Pram memilih menyimpannya sendiri. Mungkin terlalu lelah untuk marah-marah sekedar melampiaskan rasa cemburu yang menyiksanya.
Foto-foto tadi, bukanlah foto pertama pertemuan Kailla dengan Ditya. Sebelumnya Kailla sudah beberapa kali menemui Ditya di belakangnya.
Mungkin dia sudah berada pada satu titik jenuh di hubungan mereka. Selama hampir empat tahun selalu menjaga Kailla begitu ketat. Begitu kembali ke Austria dia memilih berdamai dengan hidupnya saat memastikan hubungan mama dan istrinya sudah membaik.
Memilih untuk memanusiakan istrinya. Membuat istrinya nyaman dengan memberi ruang gerak yang tidak sekecil sebelumnya. Menutup mata untuk semua hal yang dilakukan Kailla, meskipun dia tahu banyak hal. Memang tidak mudah, untuk bisa menikmati rasa cemburu ini sendirian.
****
Kantor RD Group.
Rapat sore itu berjalan lancar dengan Pram, sang pemimpin rapat terlihat tenang tidak cerewet dan banyak bertanya seperti biasanya. Pria matang itu hanya mengetuk pena mahalnya ke atas meja kayu jati berurat, mendengarkan presentasi dari salah satu vendor perusahaan.
David yang duduk bersebelahan dengan orang nomor satu di RD Group menatap heran. Seperti bukan atasan mereka saja. Pram seperti kehilangan nyawanya di rapat ini. Tidak menunjukan taring seperti biasanya.
Saat rapat dinyatakan selesai, Pram terlihat berpamitan keluar ruangan terlebih dulu. Sejak tadi hati dan pikirannya tidak di kantor melainkan terbawa istrinya di rumah. Banyak rasa ingin dikeluarkan, tetapi dia tidak memiliki tempat mengadu selain Bayu, asisten yang sudah dianggap saudaranya sendiri.
Bergegas menuju ruang kerjanya, bahkan dia mengabaikan sapaan Stella. Tidak lama setelah pintu ruangan tertutup, terlihat Pram muncul kembali dari balik pintu dengan instruksi baru pada sekretarisnya.
“Ste, aku sedang tidak ingin diganggu. Kalau ada tamu atau keperluan lain, minta David menanganinya!” perintah singkat sebelum menutup pintu ruangannya kembali.
Stella hanya bisa mengangguk keheranan. Tidak biasa atasannya bersikap aneh seperti tadi.
Sebaliknya di dalam ruangan, Pram sedang duduk di kursi kerjanya. Menatap puluhan foto istrinya yang disebarkan hampir memenuhi meja kerjanya. Foto-foto Kailla bersama Ditya yang baru saja dikeluarkannya dari amplop coklat. Semua foto-foto yang diambil orangnya selama empat bulan ini.
Kedua tangan kekar itu mengepal, tidak tahu harus marah pada siapa. Terkadang lelah, terkadang capek. Tidak mungkin selamanya mengekang Kailla seperti ini, ada saatnya dia harus melepaskan Kailla seperti istri-istri lainnya.
Menghela nafas untuk menenangkan perasaannya saat ini. Merapikan foto-foto itu kembali dan menyimpannya ke tempat semula.
Dering ponsel di atas meja membuyarkan konsentrasinya. Tampak di layar Kailla yang melakukan panggilan video call dengannya.
“Iya Sayang,” sapanya, saat wajah cantik Kailla memenuhi layar ponselnya.
“Kenapa tidak berpamitan padaku,” keluh Kailla masih berbaring di atas ranjang dengan posisi yang sama seperti saat Pram meninggalkannya.
“Pemalas! Kamu belum bangun sejak tadi?” tanya Pram. Matanya terbelalak saat menyadari Kailla bahkan belum berpakaian sama sekali, memamerkan tanda kemerahan di sekujur tubuh hasil karyanya beberapa jam yang lalu. Masih bergelung manja di atas ranjang empuk mereka.
“Bukankah kamu tadi berpesan, memintaku berbaring,” sahut Kailla dengan usil.
“Anak-anakmu sedang camping di dalam sini,” ucap Kailla memamerkan perut ratanya kepada sang suami.
“Oh ya?” tanya Pram, mencoba mengikuti candaan Kailla, dengan ekspresi terkejut yang dibuat-buatnya.
“Memang kamu tahu darimana mereka camping di dalam sana?” tanya Pram lagi.
“Berasa panas api unggunnya, Sayang,” sahut Kailla asal, sembari mengusap perut ratanya.
“Hahaha!” Tawa Pram pecah kali ini, lupa sudah dengan gundah gulananya yang sejak tadi memenuhi relung hatinya.
“Cepat bangun! Mandi, ini sudah sore,” pinta Pram, melirik sekilas jam di dinding ruangannya.
“Ah, aku tidak mau. Kalau aku bangun, tenda anak-anakmu akan hancur berantakan di dalam sana. Dan bisa dipastikan mereka akan bubar,, kabur dan kocar-kacir lagi seperti yang sudah-sudah,” jelas Kailla asal.
“Sudah. Aku masih harus bekerja sekarang.” Pria itu menunjukan setumpuk berkas yang tadi disingkirkannya di sisi meja. Memamerkannya kepada sang istri dari layar ponsel.
“Tidak perlu menungguku untuk makan malam. Pulang kerja sepertinya aku akan ke tempat mama,” ucap Pram lagi, tersenyum. Senyuman yang tidak semanis biasanya. Senyuman dipaksa disaat perasaannya kalut.
***
Mobil Pram terlihat masuk ke halaman rumah Ibu Citra. Pram turun dari kursi belakang, sebelumnya melempar jas kerja ke dalam mobil, bergegas masuk ke dalam rumah disusul Bayu.
“Mas..,” sapa Kinar tersenyum ramah seperti biasanya.
“Mama mana?” tanya Pram, memandang perempuan itu sekilas. Selanjutnya menerobos masuk tanpa permisi.
Pram langsung masuk ke kamar mamanya tanpa mengetuk pintu terlebih dulu. Ibu Citra yang sedang duduk menonton acara televisi, terkejut. Putranya datang tanpa memberi kabar terlebih dulu.
“Pram,” sapanya memandang aneh. Netra wanita tua itu menatap ke arah pintu, menunggu sosok lain yang mungkin saja ikut bersama putranya.
“Kailla tidak ikut?” tanya Ibu Citra.
Pram menggeleng. “Tidak, aku dari kantor. Aku merindukanmu,” ucap Pram, menjatuhkan tubuhnya di sofa, tepat di samping Ibu Citra. Memeluk wanita tua itu dengan erat, sesekali mengecup pipi keriput yang sudah turun termakan usia.
“Sudah lama tidak melihat istrimu, kapan-kapan bawa dia menemui mama,” pinta Ibu Citra, menepuk wajah Pram yang masih saja menempel di wajahnya. Bermanja-manja disana.
Dari arah pintu, terlihat Kinar masuk dengan secangkir kopi hitam panas. Minuman favorit Pram sejak dulu. Bahkan Kinar sudah menguasai rasa yang paling disukai pria tampan itu.
Melihat Kinar, Pram langsung menegakan duduknya. Tidak mau terlihat manja di depan wanita yang selama ini menjaga mamanya. Status Kinar di matanya tidak memiliki hak untuk terlalu dekat dengannya, bahkan melihat sisi lain dari dirinya.
“Silahkan Mas,” ucap Kinar, kembali memamerkan deretan gigir memutih tersusun rapi. Senyuman indah yang selama empat tahun ini diharapkannya bisa meluluhkan hati Pram. Tetapi semua sia-sia, Pram selamanya tidak pernah akan takluk di tangannya.
Baru saja Kinar akan menyerahkan kopi itu kepada Pram, tetapi tanpa sengaja tangan kekar Pram menyenggol dan menumpahi isi cangkir ke kemejanya sendiri.
“Ssshhhh.. Shitt!!” pekik Pram, saat semua isi cangkir membasahi kemejanya. Menatap noda kecoklatan di kemeja birunya.
“Maaf Mas,” ucap Kinar merasa bersalah.
Sudah tidak apa-apa. Kamu boleh keluar,” pinta Pram. Dengan cekatan membuka satu per satu kancing kemejanya. Melepas dan mempertontonkan dada bidang dengan beberapa tanda kemerahan buah karya istri tercintanya.
Kinar yang belum sepenuhnya keluar dari dalam kamar masih berkesempatan melihat pemandangan langka itu. Menatap dada telanjang Pram tanpa berkedip.
“Benar-benar tampan!” ucapnya dalam hati.
“Kinar, tolong urus kemeja Pram,” pinta Ibu Citra menyerahkan kemeja biru terkena tumpahan kopi itu. Secepat kilat, Kinar meraihnya. Mendekap erat kemeja Pram, mencium aroma maskulin, keringat bercampur parfum mahal Pram.
“Baik Ma,” sahut Kinar, untuk pertama kalinya berkesempatan menyentuh barang Pram dari dekat. Bisanya dia hanya bisa berdiri dari kejauhan.
Tampak Pram bergegas keluar menemui Bayu untuk minta diambilkan pakaian ganti di mobilnya. Tidak lama lelaki itu sudah masuk kembali dengan kaos dan kemeja putih tanpa terkancing, yang melekat di tubuhnya.
“Pram apa yang terjadi?” tanya Ibu Citra. Sisi keibuannya menyeruak, mencium ketidakberesan dan keanehan dari gerak gerik dan bahas tubuh putranya. Selama empat tahun bersama dia mulai mengetahui banyak hal tentang Pram.
“Tidak ada. Hanya ada banyak pekerjaan di kantor. Aku lelah,” sahut Pram beralasan.
“Kenapa tidak pernah membawa istrimu kesini? Apakah ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari mama?” tanya Ibu Citra mencoba mencari tahu. Hampir empat bulan ini, Pram hanya mengunjunginya seorang diri. Bahkan Pram terlihat jarang bicara seperti sebelumnya.
“Kailla sibuk dengan skripsinya, tetapi sekarang sudah beres. Nanti aku akan mencari waktu membawanya menemui mama,” sahut Pram.
Ibu Citra menatap putranya tanpa berkedip. Sebagai seorang ibu, tentu dia paham ada sesuatu yang disembunyikan Pram darinya. Tetapi dia tidak bisa memaksa Pram berbicara disaat putranya sendiri menutup rapat semuanya.
“Yakin tidak mau bercerita?” tanya Ibu Citra memastikan.
“Aku baik-baik saja,” jawab Pram singkat, berusaha tersenyum. Perbincangan keduanya terhenti saat Kinar kembali ke kamar dan mengajak ibu dan anak itu untuk menikmati makan malam.
“Ma, makan malam sudah siap,” ujar Kinar, mengagetkan keduanya. Sejak tadi dia berdiri di balik pintu. Mencuri dengar pembicaraan ibu dan putranya yang mengelitik keingintahuan.
“Ayo, kita makan,” ajak ibu Citra tersenyum, menarik tangan Pram mengikuti langkahnya menuju ruang makan.
Acara makan malam keluarga itu berjalan hangat, meskipun Pram menolak terlalu banyak bicara. Lelaki itu lebih banyak diam, sesekali menjawab di kala ada pertanyaan yang ditujukan padanya. Bayu yang paham betul duduk permasalahannya hanya diam seribu bahasa.
Kebungkaman Pram masih terjadi sampai lelaki itu keluar dari rumah Ibu Citra, dan bergegas menuju ke mobilnya.
To be continued
Love You all.
Terima kasih.
Next:
Kailla baru saja keluar dengan kesal dari ruang kerja suaminya. Dia baru saja bertengkar hebat dengan Pram di dalam sana.
Terlihat Pram ikut keluar dan mengekor di belakang istrinya. “Sayang, kamu salah paham. Aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya,” ucap Pram.
Kailla tetap berjalan lurus ke depan, menoleh pun tidak. Mengabaikan panggilan suaminya berulang kali. Tetapi langkahnya terhenti saat ponsel di tas mahalnya berdering.
“Ditya..?”