
“Besok temani mama menemui daddymu di rumah sakit," pinta Ibu Citra, tersenyum tulus pada Kailla.
Mendengar kata-kata yang terdengar begitu manis keluar dari bibir mertuanya, Kailla langsung memeluk erat perempuan lanjut usia itu.
“Ma, aku mencintaimu,” bisiknya di sela pelukan. Tanpa malu-malu mengecup pipi keriput mertuanya.
Rasa haru menyelimuti hati Kailla. Ibu hamil muda itu merasa seperti memiliki seorang mama. Ya, mungkin begini kebahagiaan yang dirasakan anak-anak diluar sana saat bisa memeluk erat sosok yang sering mereka panggil mama.
Air mata Kailla ikut turun menetes, seiring dengan kedua tangan yang kian erat mendekap. Ada bahagia yang sulit diungkapkan dengan kata-kata, tetapi dia cukup berterimakasih pada Tuhan, setidaknya dia masih bisa memiliki kesempatan memeluk mamanya, meskipun hanya mama mertua.
Dipeluk begitu erat, dengan diiringi sesengukan hebat membuat Ibu Citra terharu. Dia yang tidak memiliki anak perempuan merasa dihadiahkan seorang putri. Memang dia memiliki Kinar, tetapi sifat gadis itu berbeda dengan Kailla. Menantunya lebih ekspresif, ketika menunjukan sayang, Kailla tidak setengah-setengah. Bahkan menantunya itu tidak malu-malu memeluk dan menciumnya.
“Kamu istri Pram, berarti kamu putriku juga,” ucap Ibu Citra, mengusap punggung Kailla.
Adegan dramatis itu berakhir saat Pram membuka pintu kamar. Lelaki itu tercengang saat melihat mama dan istrinya yang berpelukan sambil menangis.
“Apa-apaan ini?” tanya Pram, melangkah masuk mendekati keduanya.
“Kalian kenapa? Ada masalah apa sampai menangis berdua seperti ini?” tanya Pram, terheran-heran.
Pram segera meraih tubuh Kailla dan membiarkan istrinya menangis di pelukannya.
“Sayang, kenapa kalian kompak menangis seperti ini?” tanya Pram, mengecup pucuk kepala Kailla.
“Tas branded incaran kalian sudah sold out? Jadi kalian menangisinya di sini,” tanya Pram menduga-duga. Membayangkan mertua dan menantu yang sama gilanya. Tidak hanya istrinya yang suka dengan barang branded, mamanya juga tidak mau kalah.
Kailla tidak menjawab, sebaliknya dia memeluk erat pinggang lelaki yang terbalut kemeja biru muda. Membenamkan wajah di dada bidang Pram, sekalian menumpang membersihkan air mata dan ingus yang keluar karena terlalu banyak menangis.
“Sayang, aku tinggal sebentar, tidak apa-apa, kan?”tanya Pram, mengusap rambut panjang tergerai sembari mendekap erat istrinya.
“Aku harus ke kantor. Baru saja Stella menghubungiku. Ada sedikit pekerjaan yang harus aku selesaikan,” lanjut Pram.
Kailla mendongak. “Kamu akan lama di kantor?” tanya Kailla. Dengan kedua tangan masih setia membelit pinggang suaminya.
“Aku tidak tahu, aku akan menyelesaikannya secepat mungkin,” sahut Pram, membingkai wajah cantik istrinya dengan kedua tangan. Memberi jarak agar dia bisa menatap wajah Kailla.
“Kamu di sini saja bersama mama, nanti setelah pekerjaanku selesai, aku akan menjemputmu,” pinta Pram, mengecup bibir kaki istrinya sekilas. Tanpa malu-malu di depan sang mama.
Kailla masih memainkan kedua alisnya, tampak berpikir.
“Oke, Sayang?” tanya Pram, menunggu jawaban.
Kailla menggeleng. “Aku masih mau bersamamu,” ucap Kailla pelan.
Pram tersenyum. “Aku harus mencari uang untukmu dan anak kita. Aku janji tidak akan lama.”
Kailla masih saja cemberut, saat Pram kembali bersuara.
“Ma , bisa tinggalkan kami,” pinta Pram pada Ibu Citra. Wanita dengan setelan batik rumahan itu berdiri menatap anak menantunya tanpa berkedip, tetapi mendengar permintaan putranya, dia langsung menyingkir tanpa banyak bicara.
Sekali sentak, Pram berhasil mengangkat Kailla berdiri di atas tempat tidur. Tentunya setelah memastikan mamanya keluar dari dalam kamar.
Belitan tangan Kailla yang tadinya mengunci pinggang Pram, berganti bergelayut di leher. Dengan posisi berdiri di atas tempat tidur, Kailla menjadi lebih tinggi dari Pram.
“Aku tidak akan lama. Aku hanya rapat sebentar, setelah itu pulang,” bujuk Pram, mendongak menatap Kailla.
“Rapat lewat ponsel saja!” Akhirnya Kailla memberi ide. Entah kenapa rasanya enggan berpisah dari suaminya.
“Tidak bisa, Sayang. Tidak ada David, biasa dia yang menggantikanku,” jelas Pram.
“Iya. Apalagi?” tanya Pram.
“Emmmm ... nanti pulang dari kantor, belikan aku bakso di tempat yang biasa,” lanjut Kailla.
“Baiklah.” Kecupan mendarat di pipi kiri dan kanan, bergantian. Terakhir berlabuh di bibir Kailla, manis dan ringan.
“Sudah semua persyaratannya?” tanya Pram lagi.
“Gendong aku sampai ke meja makan,” pinta Kailla mulai manja kembali.
Permintaan Kailla yang terakhir membuat Pram mundur beberapa langkah. Menatap istri dengan perut bulatnya.
“Dengan gaya apa aku harus menggendongmu, Kai?” tanya Pram bingung sendiri.
“Perutmu itu sudah sebesar balon, sudah tidak bisa digendong ala koala, apalagi seperti di drama-drama korea,” ledek Pram, sontak membuat Kailla cemberut. Dengan kedua tangan, mengukur perutnya yang dikatakan Pram seperti balon.
“Huh!” degus Kailla.
“Aku tidak jadi berdamai denganmu. Awas nanti malam meminta ke ladang lagi!” ancam Kailla, mengarahkan telunjuknya ke arah Pram yang terkekeh.
“Kalau ke ladang tidak masalah, Sayang.” Pram beralasan.
“Tidak masalah apanya. Balon ini kalau sampai tertusuk bisa meletus!” ucap Kailla mengelus perut besarnya, tersenyum penuh kemenangan berjalan menuju pintu.
Melihat Kailla berjalan ke arah pintu, Pram buru-buru menyusul. Tanpa pemberitahuan, sudah menggendong tubuh Kailla ala bridal style, setidaknya hanya gaya ini saja yang bisa dilakukannya agar bayi-bayinya tidak terjepit saat digendong.
“Buka pintunya, Kai. Kamu berat sekali,” protes Pram.
“Aku akan ke kantor dengan Ricko, Bayu dan Sam akan menemanimu di sini,” jelas Pram, menjatuhkan tubuh Kailla di atas kursi makan. Kinar yang sedang menyiapkan makan siang di atas meja, hanya bisa mencuri-curi pandang. Tidak berani terang-terangan melihat, takut akan terkena semprotan Pram lagi.
“Jangan lama-lama!” Kailla sudah mengisi nasi di atas piring kosong, menutupinya dengan lauk dan sayuran.
“Mama tidak makan?” tanya Kailla pada Ibu Citra yang sedang menonton televisi tidak jauh dari mereka.
“Makan saja, Kai. Mama masih kenyang,” sahut Ibu Citra, tidak mengalihkan pandangannya sama sekali dari layar televisi.
“Tante Kinar tidak makan siang?” tanya Kailla pada gadis yang masih sibuk merapikan dapur.
“Iya, sebentar lagi Kai,” sahut Kinar.
Pram menarik kursi tepat di samping Kailla. Baru saja lelaki itu duduk, Kailla sudah menyodorkan sepiring penuh makanan di hadapan Pram.
“Habiskan makan siangmu, setelah itu baru ke kantor,” ucap Kailla, tersenyum.
“Kamu tidak makan, Kai? Katanya tadi minta disuapi.”
“Nanti saja, aku makan bersama mama,” jelas Kailla, mendekati wajahnya di samping Pram, kemudian membisikan sesuatu di telinga Pram.
Pram menatap tak percaya mencerna kalimat yang baru saja disampaikan Kailla padanya. “Serius?” tanya Pram, menatap istrinya tidak percaya.
Kailla mengangguk dan tersenyum.
***
TBC