
Kailla sudah tampil cantik dengan gaun baby doll berwarna peach dilengkapi sulaman benang keemasan di bagian lehernya. Ibu hamil itu tak hentinya mematut dirinya di cermin, mengagumi wajahnya yang mulai mengembul dengan polesan make-up tipis.
Setelah merasa penampilannya sempurna, Kailla bergegas menuju walk in closet, memilih satu dari sekian banyak koleksi tasnya. Mencari yang cocok dengan gaun sederhananya. Pilihannya jatuh pada hermes kelly yang mungil tetapi tetap terlihat elegan.
Dengan senyum cerah, menuruni anak tangga yang mengantarnya ke lantai satu. Untuk sementara, Kailla masih menempati kamar yang lama, yang terletak di lantai dua. Rencananya saat kandungannya kian membesar, barulah dia akan pindah kamar ke lantai satu. Di kamar yang belum lama direnovasi Pram untuk kamar tidur utama yang nantinya akan terkoneksi dengan kamar bayi.
Akan tetapi, sementara kamar itu belum bisa digunakan. Setelah mengetahui bayi mereka kembar, Pram masih harus merenovasi ulang, memperluas kamar kamar. Dan seperti sebelumnya, Bara dan timnya yang dipercaya Pram untuk mempersiapkan kamar bayi kembar mereka nantinya.
Sepanjang perjalanan, kebahagiaan terlihat jelas di wajah Kailla. Bibirnya tidak berhenti mengoceh, bercerita banyak hal pada asistennya, Sam dan Bayu.
Bahkan sampai rumah sakit pun, keceriaan Kailla masih tercetak jelas. Senyum tidak pernah lepas dari bibirnya. Entah apa yang membuatnya sebahagia ini, mungkin karena berita kehamilan yang belum sempat diceritakannya pada sang daddy membuat Kailla begitu bersemangat. Berharap kehadiran baby twinsnya akan membuat Riadi segera sadar dari koma panjangnya.
Seharusnya, kemarin dia dan Pram mengunjungi sang daddy bersama. Namun terpaksa batal, Pram malah mengajaknya berbelanja.
“Sam, aku langsung ya” ucapnya, meminta turun di lobi supaya bisa lebih cepat sampai di kamar daddynya. Sudah tidak sabar tepatnya, ingin berbagi kebahagiaan.
Sambil memainkan tali tasnya, Kailla berjalan menuju ke ruang tempat ayahnya tertidur panjang selama empat tahun ini. Tersenyum ramah pada perawat yang bertugas untuk meminta izin, ingin segera masuk ke dalam ruangan. Dia sudah tidak sabar, apalagi informasi dari perawat jaga kalau suaminya juga baru saja masuk menemui daddy.
“Dia menemui daddy tidak mengajakku,” gerutu Kailla mendorong pelan pintu kamar, hendak memberi kejutan pada suaminya.
Bukannya memberi kejutan untuk Pram, tetapi sebaliknya dia mendapat kejutan dari suaminya. Pintu itu baru saja membuka sedikit, dia sudah mendengar sumpah serapah Pram di depan sang daddy. Tidak sampai disitu saja, dia mendengar sendiri Pram mengabsen satu per satu kesalahan masa lalu sang daddy dengan wajah penuh dendam. Meminta pertanggung jawaban pada lelaki renta yang sudah tidak berdaya.
Bagai petir menyambar di siang bolong. Tidak ada angin, tidak ada hujan. Kebahagiaan yang tadinya mengumpul tiba-tiba hancur berantakan tercerai berai.
Kailla hanya bisa membeku di tempatnya berdiri, tidak punya tenaga untuk melangkah masuk lebih dalam lagi. Nada suara Pram terdengar begitu mengerikan.
“Bangun b’rengsek!!” umpat Pram, di tengah keheningan ruangan. Hanya terdengar beberapa alat medis yang berbunyi pelan, menandakan mesin itu masih berfungsi.
“Putrimu di tanganku, bahkan nyawanya pun di tanganku. Aku bisa menghancurkannya, cukup dengan satu remasan tangan. Sama seperti kamu menghancurkan keluargaku!” ucap Pram.
“Hahaha...!” Tawa Pram begitu mengerikan, memantul di empat sisi ruangan.
“Aku sudah mengetahui semuanya. Kejahatan yang kamu lakukan pada orang tuaku dan keluargaku. Dan sekarang, aku akan membalaskannya pada keturunanmu.”
“Kamu tahu, putrimu itu sangat menyusahkan!”
“Bahkan dia berani merendahkanku. Aku berharap kamu bisa mendengar semuanya, Riadi Dirgantara.”
Hening sejenak, Pram sedang mengumpulkan semua emosinya.
“Aku bersumpah akan menyakiti putrimu dengan kedua tanganku sendiri!”
“Bangun B*rengsek! Kamu dan putrimu harus membayar semuanya!” umpat Pram kembali.
Kailla yang bisa mendengar jelas semua, menutup mulut dengan kedua tangannya. Memilih keluar, urung menemui daddy. Dia sudah tidak sanggup lagi mendengar kata-kata kasar suaminya yang begitu mengerikan. Nada penuh dendam dan amarah. Seperti bukan Pram yang biasa dikenalnya.
Tubuhnya melemas, luruh di depan pintu. Kedua kakinya tidak sanggup lagi menopang berat tubuhnya yang sedang hamil bayi kembar mereka. Tangisnya sudah tidak keluar, hanya bisa tertegun, mengigit jemarinya. Tidak percaya dengan apa yang baru didengar dan dialaminya.
Bagai mimpi tetapi terlihat nyata. Kalau itu mimpi dia berharap segera terjaga. Menepuk keras wajahnya hingga memerah. Sakit! Artinya ini bukan mimpi.
Diceraikan Pram dia masih bisa berdiri tegar, meskipun terseok-seok. Masih bisa melantunkan doa supaya tetap dikuatkan. Namun apa yang baru dialaminya, benar-benar mengerikan. Pram membunuhnya dengan cara yang paling mengerikan.
“Non, kenapa disini? Apa semuanya baik-baik saja? Tidak ada yang sakit kan?” tanya Sam tiba-tiba, heran melihat Kailla duduk di depan. Khawatir terjadi sesuatu dengan kandungan majikannya. Mengekor di belakangnya, Bayu ikut memandangnya dengan dahi berkerut.
“Eh.. a-aku baik-baik saja,” sahut Kailla, tersadar. Segera bangkit dari posisinya.
“Aku mau ke toilet dulu,” pamit Kailla, bergegas meninggalkan kedua asistennya.
“Perlu ditemani, Non?” tawar Sam.
***
Sam dan Bayu memilih duduk di depan ruangan. Berbincang, menggosipkan pembantu baru tetangga sebelah rumah yang baru datang dari kampung. Kebiasaan para asisten, setiap ada yang baru, selalu menjadi rebutan. Meskipun pada akhirnya, tidak ada seorang pun dari mereka yang mendapatkannya.
Hampir setengah jam mengobrol tidak jelas, tiba-tiba dari dalam ruangan muncul Pram dengan wajH lusuhnya. Mata lelaki itu memerah.
“Sam, Bay, kalian disini?” tanya Pram heran, mengedarkan pandangannya, menyapu koridor dengan tatapan penasaran.
“Iya, Pak!” sahut keduanya bersamaan.
“Kailla mana?” tanya Pram, heran.
“Ricko dan Donny juga tidak kelihatan,” ucap Pram, menatap jam di pergelangan tangan. Waktu sudah menunjukan jam makan siang. Kemungkinan dua asisten sedang di kantin rumah sakit.
“Non Kailla ke toilet... Astaga!!” pekik Sam, langsung berlari. Di baru menyadari kalau majikannya pergi terlalu lama di toilet. Khawatir terjadi sesuatu. Apalagi kondisi Kailla terlihat aneh saat mereka bertemu tadi.
“Bay, tolong hubungi Non Kailla,” pinta Sam, berteriak dari kejauhan. Jari kelingking dan telunjuknya mengarah ke telingan.
Pram yang belum terlalu paham tampak mengerutkan dahinya. Bingung dan heran.
“Apa yang terjadi Bay?” tanya Pram, lelaki itu masih terlihat santai dibalik wajah berantakannya.
“Non Kailla tadi permisi ke toilet, tetapi hampir setengah jam belum kembali,” jelas Bayu, mengeluarkan ponselnya, dan menuruti permintaan Sam.
Deg—
Jantung Pram bergemuruh, khawatir terjadi sesuatu pada istrinya yang sedang hamil. Tanpa menunggu Bayu, dia ikut berlari mencari keberadaan Kailla.
Saat tiba di dekat toilet, di bertemu dengan Sam. Asistennya itu belari sambil berbagi informasi dengan majikannya.
“Tidak ada Non Kailla di toilet ini, Pak,” seru Sam. Berlari menuju lift, mencari Kailla di lantai yang lain.
Satu per satu toilet rumah sakit didatangi Pram. Dari lantai bawah sampai lantai atas, tetapi tidak membuahkan hasil. Bahkan saat ini para asisten berpencar, mencari keberadaan Kaill, menelusuri semua ruangan di rumah sakit, tidak ada yang terlewatkan. Dan Kailla tidak ditemukan.
Sampai akhirnya setelah semua asisten melapor kalau tidak berhasil menemui Kailla di dalam gedung maupun di luar gedung rumah sakit, Pram yang hampir putus asa, menemui sekuriti dan meminta rekaman cctv, untuk mencari keberadaan istrinya.
Disitulah dia menemukan titik terang. Tubuhnya merosot terduduk di lantai dengan wajah tertunduk, hampir menangis saat melihat Kailla yang sempat masuk ke dalam ruangan daddy, tetapi tidak jadi.
Dia melihat sendiri Kailla yang sedang kacau, berbicara dengan Sam di koridor, tetapi istrinya tidak ke toilet melainkan ke atm. Dan dari cctv, di luar rumah sakit, dia melihat Kailla menghentikan taksi dan pergi.
“Ya Tuhan..,” ucap Pram pelan, meremas rambutnya sendiri. Pantas saja puluhan panggilannya ditolak Kailla. Istrinya itu sedang melarikan diri darinya setelah mendengar sumpah serapahnya pada sang mertua.
“Bay! Bawa semua asisten, berpencar cari istriku!”
“Hubungi orangmu. Semakin banyak yang mencari, semakin baik! Aku tidak mau terjadi sesuatu pada istri dan anakku,” lanjut Pram.
“Tinggalkan Donny disini. Harus ada yang berjaga di rumah sakit,” perintah Pram.
Lelaki itu berlari menuju mobilnya. Dia harus mencari Kailla dan menemukannya secepat mungkin. Dia tidak mau sampai peneror istrinya mengambil kesempatan ini untuk membalas dendam Riadi.
***
To be continued
Love You All
Terima kasih.