
Pram melangkah keluar setelah mengecup istrinya. Laki-laki tampan itu segera menemui mamanya yang pasti menunggunya dalam amarah dan kesal.
“Sayang, aku harus menemui mama sebentar.” Tangan kekar itu masih setia mengenggam erat tangan istrinya.
“Kamu tidak jadi ke kantor?” tanya Kailla, mengerutkan dahi.
“Setelah menemui mama, aku akan ke kantor. Tolong bersikap manis pada mama. Hari ini suasana hatinya sedang tidak baik karena kabar tentang Kinar.”
Kailla mengangguk.
“Baik-baik di rumah. Titip anak-anakku, Kai. Kalau ada apa-apa dengan kandunganmu, segera hubungi aku. Suamimu kan secepat kilat terbang menemuimu,” ucap Pram, tersenyum.
Keduanya berpisah di ruang tamu. Kailla kembali ke kamar tidur dan Pram menemui mamanya di gazebo belakang rumah.
***
Ibu Citra sedang menikmati semilir angin laut yang bertiup bersama panas menyengatnya matahari pagi. Raut kesal belum sepenuhnya hilang meski pun sudah dijelaskan Bayu tentang kebenarannya.
“Ma, masih belum puas marah-marahnya?” Pram menjatuhkan tubuhnya di kursi kayu tepat di depan Ibu Citra. Mengulum senyum dengan santai dan tanpa beban.
“Apa yang kamu rencanakan?” tanya Ibu Citra, menyelidik.
“Tidak ada, Ma. Hanya membuat semuanya berjalan di tempat seharusnya.” Pram duduk dengan kaki terlipat. Menatap sendu pada Ibu Citra. Setelah Kailla, pekerjaan selanjutnya adalah membujuk mamanya untuk menerima semua yang sudah terlanjur terjadi.
Sebenarnya bukan pekerjaan yang sulit. Toh, sebenarnya sang mama bukan tidak merestui, hanya saja jalan yang dipilih Bayu dan Kinar terlalu ekstrem. Harusnya, bisa meminta restu baik-baik, tanpa menyembunyikannya dari semua orang. Kinar masih single demikian juga Bayu, tidak ada alasan untuk tidak merestui keduanya.
“Aku meminta Bayu membawa Kinar pulang ke rumah mama. Tinggal bersama lagi.” Pram memulai cerita. Pandangannya menatap jauh ke arah taman belakang. Terlihat Sam, Donny dan Ricko sedang mengerubungi toples-toples berisi ikan cu pang koleksi Kailla. Istrinya memiliki hobi baru sejak hamil dan lebih banyak tinggal di rumah.
Dan yang membuat Pram geleng kepala, puluhan ikan itu diberi nama oleh istrinya. Dari nama aktor Korea, Hollywood sampai Bollywood. Itu terlihat jelas dari kertas putih yang menempel di toples kaca, yang tertulis nama-nama aktor kesukaan Kailla mewakili identitas sang ikan di dalam toples. Kalau mengunjungi toples-toples ikan Kailla, serasa berada di acara Academy Award, bertabur bintang papan atas.
Ibu Citra ikut memandang ke arah yang sama. Sejak tadi, Pram senyum-senyum sendiri melihat para asistennya berkerumun.
“Pram!” teriak pelan Ibu Citra, menyadarkan laki-laki yang termenung.
“Oh, maaf Ma.” Pram mengalihkan kembali pandangannya.
“Mama tidak akan keberatan, kan?” tanya Pram.
Ibu Citra masih mendengus kesal tak berkesudahan. Mengingat bagaimana dia bisa kecolongan.
“Ma, sudahlah. Mereka sudah menikah. Sebentar lagi akan memiliki anak. Bukankah itu cucumu juga. Harusnya mama bersyukur. Kinar itu sudah tidak muda lagi. Umurnya sudah kepala tiga, masih bisa menikah dan memiliki anak.”
“Apa yang diharapkan seorang wanita seperti Kinar. Ada yang mau bertanggung jawab dan mencintai apa adanya. Bukankah itu jauh lebih baik, dibanding selamanya di sampingmu, mengurusmu. Dia bukan pembantu. Dia berhak bahagia dan memiliki kehidupan sendiri.” Pram menjelaskan panjang lebar.
“Ya, mama tahu. Hanya saja mama tidak suka dengan cara Bayu yang seperti itu,” tegas Ibu Citra.
“Sudahlah Ma. Sudah terjadi. Lebih baik doakan saja semuanya baik-baik saja. Mama juga sudah tenang, setidaknya ada yang menjaga Kinar sekarang.”
Ibu Citra masih bergeming.
“Ma, cobalah menerima Bayu. Dia laki-laki baik dan bertanggung jawab. Dia menjaga Kaila dari kami belum menikah. Aku sudah menganggapnya seperti saudaraku sendiri.”
Ibu Citra hanya mendengar tanpa banyak protes.
“Aku dan Kailla, tidak memiliki siapa-siapa lagi. Mereka adalah keluargaku.” Pram menunjuk para asisten yang sedang berkumpul.
“Rezeki, jodoh dan maut itu sudah ada yang mengatur. Kalau terjadi hal buruk padaku. Aku hanya bisa menitipkan mama, istri dan anak-anakku pada mereka.”
Laki-laki itu kembali tersenyum menatap Ibu Citra. “Aku akan membeli rumah sebelah. Nanti aku akan membobol tembok dan memberi akses jalan keluar masuk dari rumah ini ke rumah sebelah. Para asisten juga bisa keluar masuk kesana.
“Mama akan tinggal di sana nanti, bersebelahan dengan kami. Bagaimana menurut mama?”
Pram terbahak. “Investasi Ma, membeli rumah tidak akan merugi,” sahut Pram santai.
“Mama terserah padamu saja ....”
“Baiklah, masalah terselesaikan.” Pram menepuk pahanya. Baru saja laki-laki itu hendak berdiri, tiba-tiba dua tangan memeluk erat lehernya dari belakang. Pram bisa merasakan sesuau menempel di punggungnya.
“Sayang, kamu belum berangkat ke kantor?” tanya Kailla dengan manja, mengecup pelan pipi suaminya.
“Ini baru mau berangkat. Sedang apa di sini?” tanya Pram, menggengam tangan Kailla yang sedang membelit lehernya.
“Aku mau melihat Mas Gading Martin,” sahut Kailla santai.
“Hah?! Gading Martin?” Mata Pram membulat, memastikan pendengarannya tidak salah.
“Itu!” Kailla menunjuk toples-topless ikannya.
“Baru lagi? Kenapa yang ini namanya lokal, Kai?” Pram heran.
“Soalnya yang ini Sam mendapatkannya untukku di rawa-rawa dekat waduk,” sahut Kailla.
Pram hanya mengangguk.
“Aku mau membuat akuarium yang berukuran besar, Sayang. Lalu mau dituang saja semuanya jadi satu, supaya aku puas memandangnya,” cerita Kailla dengan polosnya.
“Mereka akan baku hantam, Sayang. Seperti yang kita lakukan setiap malam. Sampai salah satunya keok.” Pram tersenyum usil.
Laki-laki dengan setelan kerja itu sudah berdiri, mengenggam tangan istrinya. “Ayo tunjukkan padaku. Mana koleksi ikanmu yang terbaru?” tanya Pram, mengajak istrinya mendekat ke arah kerumunan asistennya.
“Kamu serius ingin melihatnya? Bukankah selama ini kamu tidak mau membahasnya sama sekali. Aku kira kamu tidak menyukai hobi baruku,” ucap Kailla dengan senyum merekah. Meninggalkan Ibu Citra yang diabaikan Pram sejak kedatangan Kailla.
“Aku sedang tidak sempat saja, Kai. Banyak pekerjaan kantor, bukan tidak menyukai kesenangan barumu.”
“Benarkah?” Kailla langsung melepaskan diri dari genggaman tangan suaminya. Ibu hamil itu segera memeluk pinggang Pram sambil berjalan.
“Hmmm,” gumam Pram, tersenyum. Menepuk pelan puncak kepala Kailla.
“Hari minggu aku akan mengajakmu membeli ikan yang baru. Kita juga akan membeli akuarium yang lebih bagus dari toples-toples kaca itu.”
“Benarkah?” tanya Kailla, bahagia membuncah saat mendengar ajakan suaminya.
“Ya, kamu suka?”
Kailla mengangguk. “Terimakasih, Sayang.” Kecupan mendarat di bibir Pram. Ibu hamil itu tanpa malu-malu mengecup suaminya di tengah para asisten.
“Apalagi yang kamu inginkan?” tanya Pram.
“Tidak ada.”
“Minta Donny kosongkan salah satu kamar di dalam rumah. Aku akan memesan etalase untuk ikan-ikanmu. Jadi kamu tidak perlu berjongkok setiap hari untuk bermain dengan mereka.”
Senyum Pram bertambah cerah saat melihat Kailla yang begitu bahagia untuk hal yang sederhana. Istrinya menguasai aset ratusan miliar rupiah, tetapi masih main dengan ikan yang diambil dari rawa-rawa. Kebahagiaan yang sederhana dan tidak perlu mahal.
Dan itu salah satu yang membuat Pram tergila-gila pada Kailla. Istrinya itu selalu hidup apa adanya. Makan sama seperti asisten lainnya, hidup seperti orang kebanyakan. Hanya satu yang membuatnya berbeda, koleksi tas branded ratusan juta sampai miliaran rupiah di lemari kamar mereka.
Selebihnya Kailla sama seperti yang lain. Kakinya masih berpijak di bumi, masih berpayung di langit yang sama birunya.
***
To Be Continue