
Pram terbangun saat hari menjelang subuh. Sebenarnya masih belum rela melepas pelukannya, tetapi demi keamanan bersama, dia harus segera keluar dari kamar. Tidak mau kehadirannya membuat Kailla mengamuk tanpa alasan seperti yang sudah-sudah.
Kecupan hangat dilabuhkan Pram tepat di dahi Kailla, berikut usapan lembut, membelai bayi kembarnya yang masih meringkuk di dalam rahim mommynya.
Pergerakan kecil Pram sempat membuat tidur lelap Kailla terusik, apalagi saat Pram berusaha melepaskan diri dari belitan tangan Kailla yang memeluknya begitu erat. Pram bisa mendengar Kailla bergumam tidak jelas.
“Sayang, aku mencintaimu,” bisik Pram, tepat di telinga Kailla. Tangannya mengusap lembut punggung Kailla, supaya istrinya kembali terlelap.
“Hmmmm,” gumam Kailla kesekian kalinya. Entah sadar atau tidak, dia merengkuh erat tubuh suaminya, menelusup kembali ke dalam pelukan hangat Pram.
“Aku mencintaimu,” gumam Kailla di dalam tidurnya.
Kedua sudut bibir lelaki itu tertarik ke atas mendengar pernyataan cinta Kailla. Sebelum ini dia sudah sering mendengar kalimat itu. Apalagi selama kepergiannya diam-diam ke Austria, ada puluhan bahkan ratusan kali Kailla mengucapkan kata cinta untuknya di dalam isak tangis yang terekam kamera cctv.
Pram sampai terharu saat melihat ulang rekaman itu, saat tertidur pun Kailla masih memohon padanya untuk kembali. Ada banyak penyesalannya saat melihat bagaimana Kailla melewatkan hari-hari tanpanya selama sebulan ini.
Bagaimana beratnya Kailla menjalani masa-masa awal kehamilan tanpa pelukannya. Belum lagi mual, muntah yang dialami istrinya itu hampir setiap saat, sampai Kailla memilih tidak mau makan dan akhirnya tubuh itu lemah dan tidak bertenaga.
Dan sekarang, adalah waktunya untuk menebus sebulan yang terlewati tanpa kehadirannya. Mungkin dia harus lebih banyak bersabar lagi untuk menghadapi Kailla yang sensitif dan mudah terpancing emosi saat melihatnya.
Kehamilan Kailla membuat Pram membuang egonya. Tidak mencari lagi siapa yang benar, siapa yang salah dalam masalah rumah tangganya. Tidak bisa lagi mempertahankan pendapat dan keputusan yang selama ini mati-matian dianggapnya benar.
Semua menjadi tidak ada gunanya. Faktanya Kailla hamil. Dan yang dibutuhkan adalah kehadirannya, kasih sayangnya, kesabarannya dan cintanya.
Kailla tidak butuh dia menjadi lelaki hebat dan kuat di mata dunia. Saat ini, Kailla hanya butuh pelukannya, perlindungannya, pengertiannya, perhatiannya dan kenyamanan darinya.
Kalau demi Kailla dan buah hatinya, kembali dia harus mengalah dan bersabar, dia akan melakukannya. Mungkin ini jawaban dari doanya setiap malam di saat hubungan mereka di ujung perceraian. Kehadiran bayi kembarnya, seperti menamparnya, mengingatkan kelemahannya sebagai seorang suami.
Pram berjalan perlahan, mengendap-endap keluar dari kamarnya. Tidak ingin membangunkan Kailla, yang sekarang membutuhkan waktu istirahat lebih panjang. Karena Kailla tidak sendirian. Ada buah hati mereka yang membutuhkan mommynya tetap sehat dan selalu bahagia.
***
Pram masih tidur telungkup di kamar mertuanya saat suara berisik dari sisi depan rumah mengusik lelapnya. Suara berisik yang awalnya menelusup masuk ke dalam alam mimpinya, makin lama makin terdengar nyata.
Berbalik untuk merenggangkan otot tubuhnya yang kaku karena tidur dengan posisi tidak normal. Dia langsung terjaga saat sinar mentari pagi masuk menyorot tanpa malu-malu, menerjang wajah mengantuknya.
“Siapa yang berisik sepagi ini?” ucapnya dengan suara serak. Berusaha mempertajam pendengarannya demi memastikan semua berjalan di tempatnya.
Pram langsung meloncat turun saat mendengar suara Kailla yang sedang berdebat dengan seseorang. Segera mengintip dari jendela kamar, memastikan istrinya baik-baik saja.
“Kailla,” bisik Pram.
Langsung berhambur ke kamar mandi, mencuci muka dan menerjang keluar kamar dengan berlari cepat. Dia sudah tidak bisa melihat lagi, bahkan berkali-kali melangkah dua anak tangga demi bisa secepatnya tiba di tempat Kailla.
“Ada apa ini?” tanya Pram saat sudah berada di luar rumah, melihat sendiri keributan antara Kailla dan Sam. Tidak terlihat asisten yang lain di sekitar mereka.
“Non Kailla mau membawa mobil sendiri. Katanya mau mencari buah mangga,” adu Sam, meminta pembelaan. Dia sedang berusaha menahan Kailla yang mau membawa mobil sendiri, mencari mangga sendirian, tidak mau ditemani.
“Hah?!” Pram masih belum bisa menangkap sepenuhnya.
“Di belakang rumah kan ada, Kai. Kenapa harus mencari keluar,” ujar Pram.
“Lagipula ini masih terlalu pagi. Untuk apa makan mangga pagi-pagi begini,” ujar Pram.
“Aku tidak mau yang di belakang rumah. Aku mau mangga dari pohon orang lain,” jelas Kailla dengan wajah cemberut, masih saling dorong mendorong dengan Sam yang berjaga di pintu mobil. Tidak mengizinkan Kailla masuk dan mengendarai mobil sendiri.
“Ayo Sam, minggir! Kalau tidak aku akan memukulmu!” ancam Kailla mendorong Sam agar bergeser.
Baru saja Sam akan membalas, mendorong Kailla sedikit menjauh darinya, tetapi Pram sudah melotot dan memperingatinya.
“Sam! Istriku sedang hamil. Kamu jangan pernah mendorongnya meskipun cuma dorongan kecil! Aku akan membunuhmu, sampai kamu berani melakukannya,” ancam Pram, seketika membuat Sam menciut. Seperti ulat kaki seribu yang disentil ekornya. Apalagi tatapan Pram begitu mengerikan. Tajam dan menohok padanya.
“Astaga! Ckckckck! Cuma menyentuh saja tidak boleh? Luar biasa suamimu, Non.” bisik Sam pelan, takut suaranya terdengar oleh Pram.
“Kenapa? Kamu tidak suka. Hah?!” todong Pram, mengarahkan telunjuknya ke arah Sam.
“Kamu sudah berani membantahku?” lanjut Pram.
“Ti-tidak Pak, maaf,” sahut Sam terbata, menunduk dan kesal sendiri.
“Aku mau sendiri,” ucap Kailla pelan. Dia ingin melakukannya sendiri, kalau mengajak Pram atau siapapun, pasti mereka tidak akan mau menuruti keinginannya.
Tidak lama Pram sudah keluar kembali dengan setelan rapi mengkilap. Namun, matanya membulat saat melihat Kailla sudah berada di dalam mobil dan mengendarai mobil itu bersiap keluar. Sedangkan Sam, asistennya hanya menonton di pinggir sambil berteriak dan menggedor kaca mobil.
“Non! Ayo turun, jangan seperti ini, nanti Pak Pram memarahiku,” bujuk Sam, berteriak di sisi mobil. Kailla yang sudah lama tidak mengendarai mobil terlihat maju dengan tersendat-sendat.
“SAM!!” teriak Pram kesal.
“Bagaimana Kailla bisa masuk ke dalam mobil?” omel Pram.
“Aku hanya memintamu menjaga Kailla. Begitu saja kamu tidak becus!” lanjut Pram, berlari menghadang mobil Kailla.
“Aku harus bagaimana Pak. Aku mau melarangnya masuk, tetapi aku tidak boleh menyentuhnya. Yah beginilah jadinya,” keluh Sam, mengembalikan kata-katanya kepada Pram.
Pram sudah merentangkan tangan, pasang badan untuk menahan laju mobil istrinya. Beruntung Kailla masih ingat mana pedal gas dan mana pedal rem sehingga mobil hitam itu tidak menghantam tubuh suaminya. Berhenti tepat di depan Pram.
“Apa apaan ini! Minggir!” omel Kailla, mengeluarkan kepalanya dari jendela mobil. Mengibaskan tangannya meminta Pram menyingkir.
“Keluar sekarang, Kai. Aku yang akan mengantarmu mencari buah mangganya,” bujuk Pram, memukul kap mobil sambil berjalan menuju sisi mobil dan meminta istrinya turun.
“Aku mau pergi sendiri saja, lagi pula tidak jauh. Hanya di dekat komplek.”
“Aku mau mangga yang di dekat lapangan itu,” rengek Kailla.
“Yang berbuah semangka. Kemarin pulang dari rumah sakit, aku sudah melihatnya. Buahnya banyak. Tahun ini benar-benar berbuah mangga” tegas Kailla.
Pram mengangguk, berusaha melunakan Kailla.
“Iya, ayo turun, Sayang. Aku akan mengantarmu kesana. Kamu mau berapa banyak, aku akan memetik semua untukmu,” bujuk Pram lagi.
"Aku tidak mau," jelas Kailla, meremas setir mobilnya.
“Aku akan memanjatnya untukmu, Sayang,” bujuk Pram dengan penuh kelembutan. Senyum indah dipersembahkannua untuk sang istri, berharap Kailla melunak.
"Katakan padaku, Kai. Semua yang kamu mau, aku pasti akan menuruti," ucap Pram.
"Aku berjanji," lanjut Pram, menunjukan jari telunjuk dan jari tengahnya yang berdiri sejajar.
“Aku tidak mau kamu memanjatnya, aku mau memanjatnya sendiri. Aku yang mau memetiknya sendiri. Aku mau makan langsung di pohonnya,” jelas Kailla, dengan tatapan sedih.
Teringat kembali bagaimana dulu dia merajuk pada daddynya sampai rela memanjat pohon mangga di komplek perumahannya yang lama.
Deg—
Pram menelan ludah, kehabisan kata-kata mendengar permintaan Kailla. Bagaimana mungkin dia membiarkan Kailla yang sedang hamil muda memanjat pohon mangga, meskipun dia tahu Kailla sudah ahli dan terlatih sejak kecil untuk soal manjat-memanjat.
“TIDAK!!” tolak Pram dengan tegas.
Sam yang berdiri tidak jauh dari Pram, ikut angkat bicara.
“Pak, kalau mengidam tidak kesampaian, biasanya anaknya suka ileran,” jelas Sam ikut mengompori Pram. Sudah terbayang di depan matanya Pram yang pusing meladeni permintaan istrinya yang lain dari pada yang lain.
“Baru kali ini ada istri mengidam mangga, mau petik sendiri dari pohonnya. Memang Non Kailla luar biasa,” gumam Sam, menahan tawanya saat melihat wajah kelimpungan Pram.
***
To be continued
Love You all
Terimakasih