
Pram memacu mobilnya dengan kecepatan penuh. Bayangan Kailla melintas berulang-ulang di depan matanya. Bahkan aroma istrinya sudah tercium olehnya. Rindu yang membuncah, mengumpul selama sebulan ini, akan terlampiaskan. Dia sudah tidak sabar ingin memeluk Kailla dan mengusap kedua bayinya.
Perjalanan yang normalnya membutuhkan waktu 40 menit, tetapi Pram bisa tiba di rumah sakit sepuluh menit lebih cepat. Dia mengendarai mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Sudah tidak sabar ingin menemui Kailla
Sepanjang perjalanan, klakson mobilnya pun tak berhenti berbunyi. Pram meminta jalan pada pengendara lain, bahkan tak jarang mendapat umpatan. Sering kali harus menginjak pedal rem mendadak, karena terlalu terburu-buru dan kurang fokus, tiba-tiba ada kendaraan lain muncul di depannya.
Mobil hitam Pram sudah masuk ke dalam parkiran rumah sakit. Lelaki itu memarkir sembarangan mobilnya, tidak pada tempat yang seharusnya. Pram sudah tidak sabar lagi kalau harus menunggu terlalu lama untuk mencari parkiran kosong. Bergegas berlari menuju ruangan tempat Riadi Dirgantara dirawat.
Nafas Pram memburu, dengan dada naik turun tersengal. Di usianya yang tidak muda lagi, dia dipaksa jadi sprinter dadakan. Berlomba dengan waktu demi anak dan istrinya. Langkah kakinya membeku seketika kala keluar dari pintu lift, dari kejauhan dia melihat Kailla yang sedang duduk di depan ruangan Riadi ditemani Ibu Sam.
“Ya Tuhan, apa selama ini istriku di sana,” ucap Pram pelan. Terbayang kembali kehidupan sederhana pasangan lansia.
“Pantas saja aku merasa ada sesuatu ketika berkunjung ke sana. Setiap melihat kedua orang tua Sam ada rasa yang sulit diungkapkan,” gumam Pram dalam hati.
Begitu langkah kaki membawa Pram semakin dekat. Lelaki itu mendapati istrinya sedang menangis. Entah apa yang terjadi dan membuat Kailla duduk sembari memeluk perutnya yang semakin membesar.
“Kai..lla,” ucap Pram pelan. Namun suara itu masih sempat terdengar.
Sontak Kailla menoleh. Aura sedih yang tadi menghiasi wajah Kailla berganti aura ketakutan, seperti maling yang tertangkap tangan oleh massa.
“Sa.. yang..” Kailla berucap dengan wajah kakunya. Padahal dia sudah memastikan dan mewanti-wanti Donny untuk tidak mengabari Pram, tetapi asisten daddy itu ternyata sudah tidak mau mendengar perintahnya lagi. Memilih setia pada suaminya.
Kailla baru saja hendak bangkit dari duduknya, tetapi Pram sudah lebih dulu menahan tubuhnya dengan kedua tangan. “Maafkan aku,” ucap Pram pertama kali.
Entah maaf untuk apa, tetapi Pram merasa perlu menggunakan kalimat itu untuk menenangkan Kailla yang merasa terancam. Lelaki itu langsung bersimpuh di kedua kaki Kailla, memohon istrinya untuk mendengar penjelasannya.
“Sayang dengarkan aku. Aku minta maaf kalau sudah menyakitimu, tetapi kamu harusnya mendengar dulu apa yang akan aku jelaskan.”
Kedua tangannya masih mengenggam erat tangan Kailla. Bulir air mata yang mengalir deras di pipi istrunya membuatnya semakin menyesal.
“Aku mencintaimu. Harusnya kamu tahu seberapa besar perasaanku padamu. Harusnya kamu bisa melihat isi hatiku. Aku rela melakukan apapun untukmu, termasuk melupakan masa laluku untuk tetap bersamamu.”
“Aku tidak gila. Aku tidak mungkin tega menyakitimu dan anak kita. Bayi-bayi ini juga bayi-bayiku, darah dagingku. Tidakkah kamu berpikir, kalau aku tidak mungkin menyakiti kalian,” jelas Pram, dengan suara bergetar menahan tangis.
Tangannya masih mengusap perut Kailla yang jauh lebih membesar dari sebelumnya. Sebulan mereka berpisah, bayi-bayinya sudah bertambah besar sekarang. Namun Kailla jauh lebih kurus, wajahnya sedikit pucat dan tirus.
“Kamu tidak makan dengan baik?” tanya Pram, mendongak. Dari posisinya bersimpuh, dia bisa melihat jelas wajah menangis Kailla.
“Hmmm??” tanya Pram dalam gumamannya, mendapati Kailla yang tidak mau menjawabnya.
Ibu Sam yang duduk di sebelah Kailla akhirnya membuka suara. “Maaf Pak, Non Kailla tinggal bersama kami sebulan ini,” sahutnya. Dengan ragu memberitahu. Takut majikannya itu akan memarahinya dan sang suami karena sudah berani menyembunyikan Kailla.
“Iya, Bu. Terimakasih,” sahut Pram. Memilih tidak memperpanjang masalah di saat seperti ini, tetapi dia harus menginterogasi Sam setelah semuanya beres.
Perasaan Pram semakin hancur tak berbentuk mendengar jawaban Ibu Sam. Membayangkan sebulan ini, hari-hari yang dilewatkan Kailla dan bayi-bayinya. Tidur di tempat yang sempit, panas sangat jauh dengan kamar nyaman mereka di rumah. Makan seadanya, tidak tahu nutrisinya tercukupi atau tidak. Apalagi Kailla hamil bayi kembar, yang artinya membutuhkan dua kali lipat lebih banyak asupan dibanding ibu hamil normalnya dan bisa dipastikan Kailla tidak meminum susu apalagi vitaminnya. Mengingat semua itu, nyeri di jantung Pram bertambah berkali-kali lipat.
Tangan yang tadi digunakan mengusap perut tempat dimana bayi-bayinya tertidur, berganti menangkup wajah tirus yang terlihat sederhana tanpa sapuan bedak. Membingkai sembari mengecup pelan kening Kailla.
“Aku merindukanmu, Kai. Kenapa tidak mau bicara denganku?” tanya Pram, setelah sekian lama,hanya bicara sendirian.
“Aku tidak mau pulang,” sahut Kailla pelan pada akhirnya.
“Kamu tidak percaya padaku? Aku harus bagaimana baru bisa percaya?” tanya Pram, terlihat tenang. Tidak sedikit pun terlihat emosi. Disaat seperti ini, bicara sedikit keras saja Kailla akan mencurigainya dan semakin tidak percaya padanya.
“Yang kamu dengar di ruang ICU itu tidak benar, Kai. Tidak seperti itu,” jelas Pram, memilih duduk di sisi kursi yang kosong. Mengabaikan keberadaan Ibu Sam, yang pasti ikut mendengar percakapan mereka. Tetapi dia tidak bisa mengusir Ibu Sam, khawatir Kailla merasa tidak nyaman
“Aku..aku.. sebenarnya hanya ingin membuat daddy bangun secepatnya. Tidak memiliki tujuan apa-apa. Apalagi sampai menyakitimu. Sedikitpun tidak terlihat, Sayang,” cerita Pram.
Dengan tangan kanannya, merengkuh pundak Kailla, supaya bersandar padanya. Tangan kirinya menggengam erat tangan istrinya, seolah ingin menyalurkan perasaan tulusnya.
“Kita pulang sekarang ya. Kita pulang ke rumah. Para asistenmu sudah sangat merindukanmu.”
Kailla menggelengkan kepala. “Aku tidak mau pulang,” ucapnya pelan.
“Ya sudah. Kita ke dokter kandungan kalau begitu. Aku merindukan bayi kita dan ingin memastikan kalau mereka sudah bertambah pintar di dalam sini,” bujuk Pram lagi.
“Iya..” Kali ini Kailla setuju. Sebenarnya dia ingin ke dokter untuk memastikan kalau bayinya baik-baik saja. Belakangan keduanya menjadi tidak rewel, Kailla jadi takut sendiri kalau terjadi sesuatu pada kandungannya.
“Mereka nakal?” tanya Pram pelan.
Kailla menggeleng.
Pram hanya bisa tersenyum. Istrinya jadi pelit bicara. Kalau tidak mengangguk, pasti menggeleng. Air matanya pun belum mau berhenti mengucur.
“Kenapa masih menangis?” tanya Pram lagi. Memperbaiki posisi duduknya, menghadap ke arah istrinya. Memberanikan diri menyapu cairan bening itu dengan ujung telunjuk.
“Aku mohon jangan pernah tanda tangan surat dari dokter. Aku tidak mau daddy pergi,” pinta Kailla, dengan nada memilukan. Begitu menginjakan kaki ke ruangan daddynya, dia langsung dipanggil dokter, menceritakan semua permasalahan daddynya. Kailla tentu saja shock, sampai saat ini masih belum bisa menerima kenyataan.
Kalau bisa, dia ingin pergi sejauh-jauhnya dari Pram. Kepercayaannya pada suaminya itu masih belum sepenuhnya kembali. Namun keadaan daddy lebih membutuhkan perhatian serius. Kalau dia terus-terusan bersembunyi, dia tidak akan memiliki kesempatan menemui daddy dengan bebas.
“Iya, aku tidak akan menandatanganinya. Sudah?” tanya Pram.
“Kamu apalagi?” lanjut Pram.
TBC
***
Hai..hai, berhubung dalam waktu dekat aku ada rencana menamatkan salah satu novelku, aku sudah menulis novel baru ya. Dengan judul Tatap Aku, Suamiku
Silahkan mampir ya. Sudah ada 4 bab.
Terimakasih.