Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 172 : Congratulation, Bro


“Ada apa, Ma?” tanya Pram dengan heran.


“Panggilkan Bayu ke sini! Aku akan membunuhnya sekarang!”


Pram mengerutkan dahi, berusaha memastikan pendengarannya tidak salah.


“Bayu? Apa tidak salah, Ma.” Pram bertanya.


“Ya, di mana dia? Mama akan membunuhnya dengan kedua tangan mama sendiri.”


Deg—


Baik Pram mau pun Kailla saling berpandangan. Tidak paham arah pembicaraan Ibu Citra. Wanita lansia itu datang pagi-pagi buta, membuat kekacauan tanpa ada kejelasan.


“Ya, tapi katakan padaku. Kesalahan apa yang dilakukan Bayu sampai harus membunuhnya dengan tangan mama sendiri. Tidak bisakah aku saja yang membunuhnya?” tanya Pram setengah bercanda.


“Pram! Mama serius, mana asisten tidak tahu diri itu. Aku sudah curiga padanya belakangan ini.”


“Ini juga kesalahanmu. Coba dulu kalau Kinar tidak tinggal terpisah denganku, pasti nasi tidak akan menjadi bubur,” tuding Ibu Citra.


“Ma, aku tahu memang Kinar yang memasak selama ini. Makanya sejak menikah, aku selalu meminta Kailla belajar memasak, setidaknya bisa memasak yang sederhana saja. Kalau tidak, ya begini contoh kecilnya, begitu ditinggalkan Kinar, memasak nasi saja bisa jadi bubur. Apalagi kalau memasak menu yang lainnya,” jawab Pram asal.


Plakkkk!


“Mama serius, Pram!” omel Ibu Citra semakin kesal, memukul kencang lengan putranya.


“Sayang, sudah. Jangan mengoda mama. Nanti darah tinggi mama kumat, siapa yang kena imbasnya,” bisik Kailla, menepuk lengan suaminya.


Setelah melihat wajah mamanya memerah, Pram mengalah.


“Ada apa, Ma? Bayu membuat masalah apa?” tanya laki-laki itu, menautkan jemarinya pada jemari istrinya di atas meja makan. Memainkannya sedemikian rupa sambil berbicara.


“Mama duduk dulu, ceritakan apa yang terjadi,” pinta Kailla setelah melihat napas mertuanya naik turun menahan amarah.


“Kinar hamil.”


Ucapan Ibu Citra sanggup menggetarkan dunia. Baik Pram maupun Kailla saling melempar pandangan. Tentu saja keduanya tidak percaya, bagaimana mungkin Kinar hamil. Pasti Ibu Citra sedang mengada-ada.


“Baguslah, berarti mama langsung mendapatkan tiga cucu sekaligus. Sudah jangan marah-marah. Palingan Kinar masuk angin biasa.” Pram menjawab dengan santai.


“Pram! Mama serius. Sejak tadi mama bicara, kamu menganggap bercanda. Mana si borokokok itu?” Ibu Citra kesal sendiri, melihat Pram bergeming. Bukan menanggapi, putranya sibuk mengelus perut buncit menantunya.


“Sudah, mama sarapan pagi dulu. Nanti baru bicara lagi.” Kailla bangkit dan memanggil Ibu Sari untuk menyiapkan piring bersih.


Tak lama, Ibu Sari muncul dan menyiapkan sarapan untuk orangtua majikannya itu. Melihat Ibu Citra yang sudah siap dengan sendok di tangan, Pram segera menarik panci berisi sayur bening. Membawanya ke hadapan, berusaha menghabiskannya secepat mungkin. Tidak bisa membiarkan mamanya mencicipi masakan istrinya yang bercita rasa tinggi. Kalau tidak hambar, pasti keasinan.


***


Menyelesaikan sarapannya, ketiganya sudah berdiri di teras belakang. Bersiap menginterogasi Bayu. Laki-laki dengan setelan hitam itu, berdiri menunduk tanpa banyak bicara. Dia sudah tahu jelas apa yang terjadi.


Plakkk! Tamparan keras mendarat di wajah Bayu. Ibu Citra menamparnya tanpa perasaan. Usia boleh tua, tetapi tenaga setara kuda. Terbukti, dari ekspresi Bayu yang menahan sakit.


“Ma, bisa dibicarakan baik-baik. Tidak perlu main tangan.” Pram mengingatkan.


“Dengan laki-laki kurang ajar seperti ini, tidak perlu bersikap baik. Sikapnya sendiri seperti maling kesiangan.” Kembali Ibu Citra mengomel tidak berkesudahan.


“Maaf, Bos.”


Sepatah kata yang keluar dari mulut Bayu cukup membuat ketiganya heran.


“Apa yang terjadi, Bay! Mamaku ke sini marah-marah padamu. Ceritakan padaku.”


Kailla yang menyimak sejak tadi hanya berdiri sembari merangkul mesra lengan suaminya. Bersandar manja pada Pram.


Para asisten yang lain, memilih menyingkir, tidak ingin terlibat lebih jauh. Takut terkena getahnya.


“Borokokok ini yang menghamili Kinar. Ayo cepat mengaku!” tuding Ibu Citra,


“Ma, jangan menuduh seperti itu. Kita belum tahu jelas persoalannya.” Pram menengahi.


“Maaf Bos, eh ... aku dan Kinar sudah menikah. Kinar sedang hamil sekarang,” jelas Bayu, sontak membuat Ibu Citra melemas.


“Hah ... coba kamu dengar sendiri, Pram. Dia pikir putriku kucing, main kawin saja. Tidak ada pembicaraan sama sekali,” omel Ibu Citra tidak berkesudahan.


Kembali wanita tua itu memukul Bayu, beruntun dan tanpa jeda. Asisten kesayangan Pram itu hanya bisa menahan, tidak berani membalas. Pukulan bertubi-tubi di wajah, sampai Pram menghentikan.


“Sudahlah, Ma. Nasi sudah menjadi bubur. Mau diapakan lagi.” Pram masih berusaha menenangkan.


“Aku harus bicara serius dengan Bayu,” lanjut Pram lagi, tersenyum genit memandang istrinya.


Kailla menurut, segera membawa masuk mama mertuanya. Pram memberi perintah, artinya ada hal penting yang ingin dibicarakan suaminya berdua dengan sang asisten. Tidak boleh didengarnya.


“Ikut aku ke ruang kerja!” perintah Pram, melangkah masuk ke dalam rumah. Dia merasa perlu bicara serius dengan Bayu, tidak bisa membahasnya di tempat terbuka yang bisa didengar para asisten lainnya.


“Hamil berapa bulan?” tanya Pram, menatap lekat Bayu yang tertunduk. Keduanya sudah berada di ruang kerja Pram.


“Baru sebulan, Bos,” sahut Bayu, duduk di seberang meja kerja.


“Panggil aku, Pram saja. Kamu sudah menikah dengan Kinar. Artinya kamu adik iparku.”


“Sejak kapan menikah?” tanya Pram lagi.


“Sewaktu Kinar tinggal sendirian, aku memutuskan menikahinya. Aku tidak tega melihatnya tinggal sendiri. Maaf, aku tidak memberitahu, saat itu Non Kailla sedang menghilang, Bos dan Ibu Citra sedang banyak pikiran. Kami putuskan untuk menikah daripada menjadi omongan orang-orang.”


“Sejak kapan dekat dengan Kinar? Bagaimana aku sampai tidak tahu,” tanya Pram lagi.


“Malam di mana Bos mengusir dan mempermalukan Kinar di sini. Bos ingat, memintaku mengantar Kinar pulang. Kami berbincang banyak hal. Kami mulai dekat sejak saat itu,” jelas Bayu, berterus terang.


Terdengar suara helaan napas, Pram tidak bisa berkata-kata. Hanya menatap Bayu, dengan senyum terkulum. Jemarinya sedang mengetuk di atas meja jati.


“Panggil Pram saja. Oh ya, selama ini Kinar memegang kartu milikku ... dan aku akan menariknya kembali.” Pram berkata.


“Baik.”


“Aku rasa, kamu mengerti apa yang aku maksud. Sekarang Kinar menjadi tanggung jawabmu. Jadi aku akan melepaskan semua tanggungjawabku terhadap Kinar padamu,” jelas Pram.


“Baik.”


“Aku akan menaikan gajimu dua kali lipat dari sebelumnya dan memberimu tunjangan. Semua biaya berobat dan rumah sakit termasuk selama kehamilan Kinar dan kelahirannya, aku akan menanggung semuanya.”


“Terimakasih.”


“Tinggalkan rumah yang sekarang kalian tempati. Kembali ke rumah mamaku. Aku akan meminta notaris memindahkan kepemilikannya atas namamu. Anggap itu hadiah pernikahanmu,” jelas Pram.


“Terimakasih.” Bayu hanya menjawab singkat tanpa embel-embel Bos.


“Untuk sementara mama akan tinggal bersamamu, sampai aku berhasil bernegosiasi dengan pemilik rumah sebelah.”


Bayu mengangkat pandangannya. “Mak ... sudnya, kami tinggal berdua saja nanti? Ibu Citra akan tinggal bersamamu?” tanya Bayu memastikan.


“Panggil mama, dia sekarang mama mertuamu. Aku titip mamaku sementara ini.”


Bayu mengangguk.


“Mama akan tinggal sendiri, bukan tinggal denganku. Aku berencana membeli rumah sebelah untuk mama. Kamu tahu sendiri sifat Kailla seperti apa, apalagi saat anak-anakku lahir. Pasti akan ada masalah baru lagi, perdebatan baru lagi mengenai cucu. Aku ingin keduanya merasa nyaman dan tetap berhubungan baik seperti sekarang. Tinggal terpisah adalah solusinya. Kalau di sebelah, aku dan Kailla bisa mengawasi mama setiap saat.”


“Baik.”


“Oh ya, Bay. Mulai sekarang. Kamu akan kembali menjadi asisten Kailla, mengantikan Ricko. Ricko akan bersamaku untuk selanjutnya. Donny akan menjaga mamaku.”


“Dengan menjadi asisten Kailla, waktu kerjamu lebih sedikit. Jadi kamu bisa meluangkan waktu untuk Kinar.”


“Baik.”


“Carikan asisten tambahan untuk anak-anakku nanti. Belum sekarang, tetapi saat Kailla melahirkan, aku mau sudah siap. Kali ini aku akan menyeleksi sendiri, kirimkan orangnya ke kantor.”


“Baik Bos ... eh ... Pram.”


Pram sudah berdiri, bersiap membuka pintu ruangannya, tetapi laki-laki itu berbalik. “Bay, ajak Kinar ke showroom besok. Stella akan membuat janji untuk kalian. Pilih saja mobil yang kamu butuhkan untuk keluarga kecilmu.”


“Congratulation, Bro. Selamat datang di keluarga Pratama.” Pram memeluk Bayu, menepuk punggung asistennya.


Tangan Pram sudah mengayun gagang pintu ruang kerjanya, bermaksud mempersilakan Bayu keluar. Akan tetapi baru saja pintu itu terbuka, muncul Kailla di depan pintu. Ibu hamil itu hampir terjatuh mengikuti pergerakan daun pintu. Terlalu serius menguping, sampai tidak menyadari Pram sudah di depan mata.


“Kailla! Apa yang kamu lakukan?” tanya Pram, melihat Kailla yang tersenyum salah tingkah.


Pandangan Pram tertuju pada Ibu Citra, wanita tua itu ikut mengendap-endap di belakang menantunya.


***


TBC