Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 102 : Kembali Ke Indonesia


Cuaca dingin di kota Wina tidak menyurutkn niat Ibu Citra dan Kailla untuk berbelanja. Mengingat beberapa hari lagi mereka akan kembali ke Indonesia, keduanya nekat menerobos suhu dingin dengan keadaan gerimis bersalju. Mendatangi beberapa toko tas dan sepatu bermerek untuk diborong bawa pulang ke Indonesia.


Dengan ditemani Bayu tentunya, pasangan mertua dan menantu itu berkolaborasi mengacak-acak beberapa outlet sembari menghabiskan uang Pram. Di tengah antusian dan kehebohan pasangan kompak itu tiba-tiba ponsel di dalam tas Kailla berdering.


“Pram,” bisik Kailla, menatap heran ke arah Ibu Citra. Tidak biasanya Pram menghubunginya di tengan jam kerja. Pagi tadi Pram sudah memberitahunya sekaligus meminta izin akan pulang malam karena akan meninjau beberapa proyek mereka, sebelum pulang ke Indonesia.


“Ma, aku keluar sebentar,” pamit Kailla, menunjuk ke arah ponselnya. Bergegas berjalan keluar toko supaya bisa mengobrol dengan nyaman, terhindar dari hiruk pikuk pembeli yang mengerubungi beberapa koleksi tas keluaran terbaru.



“Iya Sayang,” sapa Kailla sembari menempelkan gawai mahal itu di telinganya. Dia harus menggunakan payung demi tidak terkena salju yang mulai turun.


“Sayang, kamu dimana?” tanya Pram dengan nada tenang. Berusaha tenang tepatnya.



“Aku sedang menemani mama. Ada apa?” tanya Kailla heran.



“Segera pulang. Beli apa saja yang ingin kalian beli. Aku mempercepat kepulangan kita ke Indonesia. Pulang ke rumah kemasi semua barang-barang kita dan tolong kemasi pakaianku juga,” jelas Pram,


“Ha! Kenapa mendadak sekali. Ada masalah apa?” tanya Kailla. Wajah heran itu berganti panik. Khawatir telah terjadi sesuatu di Indonesia, sampai suaminya memajukan jadwal kepulangan mereka.


“Nanti aku akan menceritakan padamu, Kai. Sekarang tolong segera pulang. Kemasi semua perlengkapan kita,” pinta Pram.



“Aku akan menghubungimu lagi nanti. Aku masih ada sedikit pekerjaan. Aku tidak bisa pulang secepatnya, jadi tolong bantu aku Kai,” lanjut Pram sebelum mematikan ponselnya.


Tuttt.....



Kailla yang mendapat kabar begitu mendadak terlihat kebingungan. Ada banyak pikiran buruk menari di otaknya. Pasti ada hal buruk yang sudah terjadi, dan Pram tidak bercerita padanya. Bergeas masuk kembali ke dalam, menyelesaikan belanja dan pembayarannya kemudian menyeret mama mertuanya pulang ke apartemen.


“Kai, kenapa kita pulang sekarang?” tanya Ibu Citra heran. Dia belum puas berbelanja tetapi menantunya itu menghentikan kesenangannya secara sepihak.


“Kita harus kembali dan bersiap, Ma. Pram tadi menghubungiku. Kita akan kembali ke Indonesia soren ini juga,” jelas Kailla mengajak mama mertuanya keluar menuju parkiran mobil.


***



Pram masih duduk termenung, berusaha tenang mendengar kabar buruk dari David. Kondisi mertuanya memburuk dan kemungkinan Pak Riadi tidak bisa melewatinya saat ini. Begitu yang disampaikan David padanya.


Asistennya itu sedang berada di rumah sakit bersama Donny, tidak diizinkan menjauh sedikit pun dari ruang ICU yang hampir 3,5 tahun ini menjadi kamar tidur Riadi Dirgantara. Lelaki yang terbaring koma, menyambung hidup dengan alat-alat medis yang melekat di tubuhnya.


Bahkan beberapa hari menghuni kamar itu, Pram sudah diminta untuk persetujuannya melepas semua alat medis karena persentase untuk sadar kembali sangat kecil. Hampir tidak ada peluang lagi, bisak dikatakan seperti itu saat mendengar cara bicara dokter dan menangkap arti gelengan kepala sang dokter. Dan Pram terpaksa mengambil keputusan mempertahankan meskipun kemungkinan mertuanya untuk bisa sembuh dan sadar hanya sekian persen. Dan itu dilakukannya demi Kailla.


Dia tidak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi dengan istrinya kalau hal itu terjadi. Sekarang saja dia sedang memikirkan bagaiamana cara terbaik menyampaikan berita buruk ini pada istrinya.


***


Bandara Soekarno Hatta.


Melewati perjalanan udara selama belasan jam, begitu tiba di Indonesia keesokakn harinya. Baik Ibu Citra dan Kailla dalam kondisi yang tidak fit. Selain tidak bisa tidur dengan nyaman, keputusan Pran yang tiba-tiba itu meninggalkan kesan yang tidak baik untuk keduanya. Meskipun begitu, Kailla yang belum mengetahui apa-apa masih bisa bersikap tenang.


Di luar pintu kedatangan, terlihat Sam dan Ricko sudah berdiri menunggu majikan kesayangan. Rasanya rindu juga, apalagi dia sudah tidak sabar mendengar cerita tentang Mitha. Gadis pujaannya yang sampai sekarang masih berstatus mengambang.


“Ma, nanti Sam yang akan mengantar mama pulang ke rumah. Aku dan Kailla bersama Bayu langsung pulang ke tempat kami,” jelas Pram, masih berusaha menyembunyikan semua fakta.


Barulah sampai di mobil, ketika di perjalanan menuju rumah sakit, Pram menceritakan semuanya.


“Maksudnya Bos?” tanya Bayu memastikan lagi.


“Ke tempat mertuaku,” jelas Pram.


Pandangannya beralih pada Kailla, istrinya itu sedang menikmati pemandangan lalu lalang mobil dan motor yang saling berebut mendahului. Sempat terkejut, tetapi setelahnya dia bersikap tenang kembali. Bukankah hal biasa mereka mengunjungi daddy di rumah sakit. Bahkan dia memiliki jadwal rutin membesu daddynya setiap minggu.


“Daddy tidak dalam kondisi baik-baik saja sekarang. Sejak kemarin David dan Donny menunggu di rumah sakit. Tidak diizinkan pergi sedetik pun,” cerita Pram, sembari memeluk Kailla. Tidak membiarkan istrinya terguncang.


Deg—


Kailla terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menangis tanpa suara. Tubuhnya bergetar hebat, mencerna kata demi kata yang diucapkan suaminya. Berharap itu hanya ucapan yang salah dan tidak benar adanya.


“Kalau daddy harus pergi, cobalah ikhlas. Ini yang terbaik. Kasihan daddy sudah berjuang selama ini,” bisik Pram di tengah pelukan dan dekapannya.


“Aku tidak mau. Daddy pasti sembuh!” tolak Kailla dengan berlinangan air mata.


“Aku tidak mau ke rumah sakit!” tolak Kailla.


“Mau tidak mau, kita harus kesana. Kalaupun kamu menolak, aku tetap harus menemui daddy,” jelas Pram.


“Aku tidak mau setelah melihatku, daddy berhenti berjuang. Aku tidak mau setelah melihatku, daddy malah menyerah. Aku hanya memiliki daddy, aku tidak mau daddy pergi,” ucap Kailla, menghapus kasar air matanya. Menghentikan tangisnya, dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.


“Aku mau pulang ke rumah,” pinta Kailla. Lebih terdengar rengekan. Tetapi suara itu bergetar, penuh ketakutan dan ketidak relaan disana. Kailla sedang menerima kenyataaan tersulit di dalam hidupnya.


“Aku belum hamil, aku belum memberinya cucu, aku belum memberinya gelar sarjanaku. Daddy masih harus menungguku,” ucap Kailla lagi.


“Iya, daddy akan menunggu untuk itu semua. Tolong temui daddy kali ini. Kalau memang terjadi sesuatu yang....” Kalimat Pram terhenti. Sebenarnya tidak sanggup melanjutkannya lagi. Raut wajah Kailla begitu menyedihkan. Bahkah istrinya itu sedang bersusah payah menahan tangis.


“Kalau terjadi sesuatu yang buruk, kita tidak menyesal. Setidaknya kita mengantarnya untuk terakhir kali. Kita menyaksikan saat daddy menarik nafas terakhirnya. Daddy pasti senang kalau kamu menemaninya, disampingnya saat itu terjadi.”


Kalimat Pram membuat air mata tertahan itu mengucur deras tanpa bisa dibendung. Isak tangis yang membuat Kailla tidak sanggup bersuara. Hanya memeluk dan menangis hebat di dada Pram.


Bayu yang mendengar tangisan memilukan Kailla ikut teriris. Tangisan menyedihkan, sampai si pemilik tangis itu susah bernafas normal.


Mata bengkak dengan tubuh lemas, kebanyakan menangis dan belum siap menerima kenyataan itu, harus menumpang di tubuh suaminya saat turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah sakit.


Jantungnya berdegup kencang, dengan air mata berurai kembali saat melihat petugas rumah sakit yang mengenakan seragam putih.


“Daddy pasti baik-baik saja kan?” tanya Kailla meminta kekuatan dari Pram.


“Iya.”


“Daddy tidak akan meninggal kan?” tanya Kailla lagi.


“Iya,” sahut Pram singkat, sembari memeluk pundak Kailla.


Langkah keduanya terhenti saat beberapa langkah lagi mencapai ruang ICU. Terlihat David dan Donny sedang duduk menunggu di kursi stainles dengan raut wajah datar dan kelelahan yang tidak menyadari kehadiran mereka.


Tatapan Pram membeku saat matanya menangkap sosok asing yang berdiri tidak jauh dari kedua asistennya. Pram bahkan harus mengerjap beberapa kali demi memastikan punggung kekar dalam balutan jas kerja hitam yang sedang mematung membelakanginya dan Kailla.


“Semoga saja aku salah,” bisik Pram, menatap punggung lelaki itu tanpa berkedip.


***


To be continued


Love You all


Terima kasih.