
“Kailla Riadi Dirgantara.” Matt mulai membaca, mengawali dengan namanya.
“Usia 24 tahun. Putri dari Riadi Dirgantara, pemilik RD Group, salah satu properti dan real estate developer terbesar di Jakarta. Memiliki tiga anak perusahaan, PT. RD Jakarta, PT. RD Bandung dan PT. Kailla Riadi Dirgantara.” Matt membaca apa yang tertulis di kertas.
Jeda sejenak, terlihat Matt menghela nafas sebelum melanjutkannya. Sang majikan sedang berbaring di sofa pijatnya, menikmati segelas wine yang baru diisinya kembali. Sembari memejamkan matanya, mendengarkan sang asisten mendongengkan riwayat hidup gadis pemilik senyum terindahnya.
“Ibunya Rania Sari, meninggal kecelakaan lalu lintas, saat itulah Kailla lahir.” Matt terdiam, tidak berani membaca berita selanjutnya.
“Lanjut!” perintah Ditya, saat suara asistennya menghilang.
“Maaf Bos, ibunya.. seorang.. pekerja.. maaf wanita penghibur yang terkenal di zamannya, Rania Sari.” Matt terpaksa memperhalus bahasanya, supaya lebih enak didengar.
“Next!” Ditya seperti tidak terganggu dengan riwayat keturunan Kailla. Tetapi, tiba-tiba dia menyela kembali.
“Bagaimana kamu bisa mendapatkan informasi tentang ibunya. Tutup semua akses itu. Aku tidak mau semua orang mengetahui riwayat pekerjaan ibunya, termasuk orang Halim Group.” perintah Ditya. Matt mengangguk, cukup mengerti maksud dan tujuannya. Atasannya tidak mau gadisnya terlihat buruk di mata keluarganya.
Ditya bukan orang sembarangan, dia putra dari salah satu orang terkaya. Sejak lahir dia sudah mengetahui dengan jelas, dengan siapa dia bisa bergaul, dengan siapa dia tidak bisa bergaul. Dengan siapa dia bisa menikah. Peraturan tidak tertulis, tapi Ditya sudah sangat paham aturan mainnya. Tidak ada perjodohan dalam keluarganya, tetapi dia tahu dengan gadis seperti apa dia bisa mengucap janji sucinya. Gadis seperti apa yang pantas masuk ke keluarga besar Halim Hadinata.
“Ayahnya koma sejak 3,5 tahun yang lalu.” Matt melanjutkan informasinya kembali.
“Cari segala informasi tentang rumah sakitnya, termasuk siapa pemiliknya. Kalau memungkinkan aku akan mengambil alih. Kalau tidak, kamu bisa membeli sebagian saham atau menanam modal disana. Setidaknya aku bisa memiliki kekuasaan untuk melakukan sesuatu.” perintah Ditya lagi.
Matt terkejut.
“Dibawah bendera Halim Group?” tanya Matt memastikan.
Pranggggg!!!
Ditya melempar gelas kristal yang baru saja diteguk habis isinya. Kesal mendengar pertanyaan Matt yang tidak berbobot alias tidak bermutu.
“Pakai uang pribadiku. Kalau memang kekurangan uang, minta pada asistenku di London. Usahaku di sana masih menghasilkan!” omel Ditya.
“Jangan sampai daddy tahu. Aku pusing menjawab semua pertanyaannya,” lanjut Ditya kembali.
“Setelah berhasil menguasai rumah sakit, cari dokter terbaik, dari dalam atau luar negri untuk menangani Riadi.”
Matt tercengang kembali. Terlihat membolak-balik puluhan lembar kertas di tangannya demi melihat dengan jelas gadis yang ditaksir atasannya.
“Biasa saja. Kenapa Bos tergila-gila padanya. Yang mendekati Bos bahkan kecantikannya berkali-kali lipat dari ini,” batin Matt.
“Next! Jangan bertanya kenapa aku menyukainya. Masalah hati tidak ada yang tahu. Bahkan aku sendiri tidak bisa menjawab. Kalau masih penasaran, temui Tuhan, tanyakan padanya,” ucap Ditya, siap menunggu informasi selanjutnya.
“Maaf Bos, aku belum mau mati,” sahut Matt, terdiam.
“Tidak pernah pacaran. Sejak kecil hidupnya dikelilingi bodyguard,” lanjut Matt, memberanikan tersenyum di tengah keseriusan atasannya.
“Senasib denganmu Boss!” celetuknya, terkekeh,
“Selanjutnya!” pinta Ditya.
“Pernah mengalami penculikan sebanyak dua kali. Yang terakhir 3,5 tahun yang lalu berujung dengan keguguran.” Matt jadi ragu saat membaca kata keguguran.
“Keguguran?” Matt mengulang kembali, seolah tidak percaya dengan kata-kata yang tertera di atas kertas.
Ditya tidak kalah terkejut. Langsung menyambar kertas dari tangan asistennya. Tidak sabar kalau harus menunggu asistennya membaca. Terlihat lelaki tampan itu membolak balikan kertas, membaca dengan bibir komat kamit.
Jantungnya hampir copot saat matanya menangkap informasi tentang status Kailla.
“Menikah dengan Reynaldi Pratama,” bacanya berulang-ulang. Seolah takut matanya salah melihat.
“Matt, sepuluh menit. Bawakan semua informasi tentang Reynaldi Pratama. Cari tahu bagaimana Kaillaku bisa menikah dengannya. Cepat!!” Ditya memberi perintah dengan wajah terlihat kesal.
***
Mobil sedan hitam itu sudah membelah jalanan ibukota. Dengan Bayu yang setia di belakang kemudi, membawa kedua majikannya kembali ke kediaman mereka. Hari ini Pram memilih pulang ke rumah, dan tidak kembali ke kantor. Ibu Citra sendiri pulang bersama Sam dan Ibu Ida.
“Kai, katakan padaku. Apa yang terjadi di dalam kamar sebelum aku datang. Dia menyentuhmu?” tanya Pram. Perasaannya tidak tenang, seharusnya dia tidak membiarkan Kailla ke rumah sakit.
“Tidak. Tidak ada yang terjadi.”
“Jujur padaku. Aku tidak akan memarahimu. Ceritakan padaku, apa yang dikatakannya,” pinta Pram, menarik tubuh Kailla bersandar di dadanya seperti biasa.
“Kamu sudah pintar berbohong padaku,” ucap Pram tiba-tiba, membenturkan keningnya pada kening sang istri.
“Aku tidak..”
Cup! Sebuah kecupan ringan mendarat dibibir Kailla. Memotong ucapan Kailla yang berusaha menyanggah pernyataan suaminya.
“Apa yang diinginkannya darimu?” tanya Pram lagi, pandangnnya tertuju pada syal di dalam shopping bag yang diletakan di sampingnya.
“Aku tahu semuanya, Sayang. Berhenti berbohong padaku. Ceritakan apa yang ingin aku ketahui. Aku ingin mendengar langsung dari bibirmu. Aku menunggumu bercerita sekarang.” Pram mengeluarkan kotak perhiasaan yang direbutnya dari Sam tadi.
Dia sudah menguping semua pembicaraan Kailla dengan mamanya, bahkan dia sudah mengambil paksa cincin berlian yang dihadiahkan Ditya pada istrinya dari tangan Sam. Sekaligus memaksa Sam dan Ibu Ida membuka mulut dan bercerita banyak hal yang tidak diketahuinya. Tidak percuma, Pram memilih Ibu Ida tetap untuk menjaga mamanya. Setidaknya bisa menjadi mata untuknya di saat dia bekerja.
Kailla terperanjat, ketika kotak perhiasan beludru itu muncul di tangan suaminya. Dengan santainya, Pram membuka isinya tepat di hadapan istrinya.
“Wow.. cantik bukan?” bisiknya. Memperlihatkan isinya pada sang istri.
“Perhatikan baik-baik, karena sebentar lagi aku akan melempar kembali kepada pemiliknya!” lanjut Pram, menutup kotak perhiasan itu dan melemparnya asal ke dalam shopping bag. Bergabung dengan syal kesayangan mamanya.
“Sayang, jangan marah-marah lagi. Kamu sudah tahu semuanya kan,” bujuk Kailla, mengusap rahang suaminya dengan lembut, menelusuri dengan jemarinya.
“Jangan memancingku, Kai!” Pram menatap tajam.
“Sudah, jangan marah lagi ya. Coba aku hitung kerutanmu bertambah tidak. Ayo tersenyum,” rayu Kailla.
“Kenapa harus tersenyum, hah?” tanya Pram heran, memandang lekat wajah cantik yang berniat menggodanya.
Aku baru bisa menghitung kerutan di wajahmu, kalau kamu tersenyum. Kalau kaku seperti ini terlihat kencang, Sayang,” bujuk Kailla, memutar otak. Mencari cara supaya Pram melupakan kemarahannya, seperti anjuran sang mertua.
“Astaga Kailla! Katakan padaku, dimana kamu menitipkan otakmu? Kita akan mengambilnya sekarang,” ucap Pram tiba-tiba, mengeratkan belitan di pinggang istrinya, sengaja membuat tubuh Kailla kian menempel padanya.
“Maksudmu aku bodoh?” tanyanya cemberut.
“Aku kasihan pada mama, dia tidak tahu semua yang diajarkannya tadi sedikitpun tidak masuk ke dalam otak menantunya.” celetuk Pram. Menyentil pelipis Kailla.
“Aduh!”seru Kailla, mengusap area yang baru saja disentil suaminya.
“Bay, kita ke hotel sekarang!” perintahnya pada Bayu. Lelaki itu sejak tadi tersenyum sendiri menguping pembicaraan penumpang kursi belakangnya. Sesekali mengintip pasangan yang sedang berpelukan itu dari kaca spion.
“Hah?! Untuk apa ke hotel?” tanya Kailla heran. Mengangkat pandangannya pada sang suami yang sedang tersenyum. Senyuman nakal seperti biasanya.
“Lelaki akan melupakan kemarahannya dan menyerah saat di tempat tidur. Bukankah mertuamu sudah mengajarimu. Jadi tunjukan sampai mana kamu menyerap ilmu yang baru saja diajarkan mamaku padamu,” jelas Pram tersenyum kembali.
Terlihat tangannya mengeluarkan ponsel dan menggeser layar, mencari nomor kontak sang mama. Setelah memastikan, segera menyambungkannya dengan Ibu Citra. Pram sengaja menyalakan speaker supaya istrinya bisa ikut mendengar pembicaraan mereka.
“Iya Pram,” suara nyaring Ibu Citra terdengar dari seberang.
“Ma, ada yang mau menantumu tanyakan. Tadi mama sepertinya lupa memberitahunya,” sahut Pram. Kembali seringai itu muncul di bibirnya, membuat Kailla bergidik ngeri.
“Ada apa ya?” tanya Ibu Citra. Nadanya terdengar keheranan. Dia masih dalam perjalanan pulang ke rumah.
“Mama meminta Kailla membuatku menyerah di tempat tidur. Mama ingat kan. Tapi sayang, istriku ini terlalu polos untuk paham maksud mama. Tolong jelaskan padanya apa yang harus dilakukannya untuk meredam kemarahanku sekarang,” jelas Pram dengan santai.
“Mama jangan mengelak, aku mendengar sendiri tadi di luar kamar. Mama mengajarinya banyak hal.”
Kailla diam seribu bahasa. Kondisinya sekarang seperti tersangka sedang tertangkap tangan di tempat kejadian perkara. Ibu Citra pun merasakan hal yang sama, menelan saliva dan mulai ketar ketir, persekongkolannya dengan sang menantu terkuak sudah.
“Sekalian aku mau minta saran. Kira-kira ada hotel yang bagus tidak. Menantumu butuh meredam kemarahan dan membuat menyerah suaminya di tempat tidur,” sindir Pram.
Tut..tut.. Ibu Citra memutuskan panggilannya sepihak.
“Sayang, sepertinya mama tidak bisa menolongmu saat ini. Sebaiknya kamu menggunakan kepintaranmu sendiri,” ucap Pram.
***
Love You all
To be Continued
Maaf terlambat up.
Banyak pekerjaan di dunia nyata.