Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 202 : Ulah Kailla di detik kelahiran baby twins


Menyelesaikan acara mandinya dengan dibantu Pram, Kailla menggerutu saat keluar dari kamar mandi dengan kostum hijau yang disediakan rumah sakit. Sempat protes dengan pembungkus tubuh yang hanya diikat tali di bagian belakang. Apalagi saat Kailla tidak diizinkan mengenakan bra dan dalaman lainnya.


“Aduh!” ucapnya pelan, berjalan merambat di dinding saat sakit perut itu menyapanya lagi.


“Tiduran saja, Sayang. Kamu diminta puasa,” ucap Pram pelan, membantu Kailla naik ke atas brankar.


Tak lama berselang, seorang perawat masuk diikuti Sam dan dua pengasuh baby twins. Tersenyum menyapa majikannya dan memilih duduk di sofa, di pojok ruangan.


“Bu, kita tes alergi obat ya,” ucap sang perawat dengan ramahnya. Meletakan nampan berisi suntikan dan cairan obat.


Bola mata Kailla hampir melompat keluar saat melihat jarum suntik. Hal yang paling ditakutkan di dunia ini selain kartu kredit yang diblokir Pram. Bahkan kalau bisa memilih, Kailla lebih suka menghadapi pelakor dibanding berhadapan dengan jarum suntik.


“Sayang ....” bisik Kailla, menatap suaminya memohon pertolongan.


“Ya, Kai.” Pram buru-buru meraih tangan Kailla dan menggenggamnya erat. Menguatkan Kailla di saat terburuknya. Pram tahu jelas, Kailla punya ketakutan dengan jarum suntik.


“Aku tidak mau disuntik,” pinta Kailla, memelas saat melihat perawat mengeluarkan alat injeksi itu dari dalam kemasannya. Sakit perutnya menghilang, tidak ada artinya saat melihat benda paling mengerikan di dalam hidupnya.


“Tidak apa-apa, ini hanya sakit sedikit,” bujuk Pram dengan sabarnya.


“No, aku tidak mau Sayang. Apa tidak ada cara lain?” tanya Kailla, memohon.


“Kai, jangan begini Sayang. Ini hanya sedikit, seperti digigit semut,” bujuk Pram, mendekap Kailla.


“Terserah kalau mau disuruh menelan jarum suntik, tetapi tidak mau disuntik,” pinta Kailla, sudah siap berontak. Sakit perut yang melandanya sejak tadi sudah tidak dihiraukannya. Ini lebih mengerikan dari sakit perut yang menyerangnya. Suaranya yang melemah, tiba-tiba jadi kencang dengan napas bergemuruh.


Terlihat perawat memasukan cairan ke dalam suntikan, Kailla mengernyit ketakutan di dalam pelukan Pram.


“Aku tidak mau disuntik, Sayang. Aku tidak mau disuntik. Sam!! Tolong aku!” teriak Kailla, meminta bantuan.


Kailla hampir saja meloncat turun dari atas brankar kalau tidak ditahan suaminya. Menggila saat perawat yang semakin mendekat dan mengusap lengannya.


“Aku tidak mau ... aku tidak mau!” Kailla mengibaskan kedua lengannya. Tidak memberi kesempatan sang perawat melakukan tugasnya.


“Pak, bagaimana ini?” tanya perawat, memohon pada Pram. Tidak ada jalan lain, Kailla tidak bisa dijinakan. Memberontak dan tidak mau disuntik.


“Sebentar Sus, aku akan membujuknya.”


Perawat itu mengangguk, masih dengan menggenggam suntikan di tangan kirinya.


“Kai, dengar Sayang. Disuntik sebentar saja. Ini tidak sakit. Jarumnya hanya kecil saja.” Pram membujuk, sambil mendekap Kailla yang masih saja berontak hendak turun dari brankar.


“Aku tidak mau! Itu mengerikan Sayang,” tolak Kailla, bergidik. Pandangannya tidak berpindah sedikit pun dari suntikan yang mengarah padanya.


“Tidak, Sayang. Aku bersumpah itu tidak akan sakit. Lebih sakit malam pertama kita,” bujuk Pram dengan sabar, sudah ingin terbahak saat memberi gambaran pada istrinya.


Perawat yang menatap keduanya, mengulum senyuman.


“Peluk aku. Kamu boleh menggigitku sekencang-kencangnya kalau itu sakit. Aku tidak akan marah. Boleh memukulku, boleh menjambakku. Boleh membunuhku kalau memang ini sakit.”


“Ayo Sayang. Kalau tidak disuntik jagoan kita tidak bisa keluar. Ayo, menurut, Kai,” pinta Pram, mendekap Kailla dengan erat.


“Janji tidak sakit?” tanya Kailla melunak.


“Ya, Sayang. Kalau tidak disuntik bagaimana buah hati kita bisa keluar,” jelas Pram mengusap punggung Kailla. Dengan sudut matanya, memberi kode pada perawat.


Kailla menurut. Mulai pasrah saat lengannya diusap dengan alkohol. Perlahan tapi pasti, jarum itu mulai menancap di kulit lengannya. Sakit berdenyut itu mulai terasa. Kailla berteriak kecil sebelum akhirnya menggigit kencang pundak Pram. Tangan yang lain menjambak rambut bergelombang suaminya. Ibu hamil itu terlihat kesal, melampiaskan sakitnya kepada sang suami dengan tidak berperasaan.


“Ya Tuhan, kalau bisa diganti, lebih baik aku saja yang melahirkan,” ucap Pram dalam hati, hanya bisa pasrah menghadapi Kailla.


Tepat saat jarum itu keluar dari kulitnya, Kailla berteriak. “Sakittttt!” Memukul pundak Pram dengan kencang. Pelampiasan akan ketakutan dan kesakitannya.


“Aduh Kai. Pundakku lebih sakit lagi,” keluh Pram, mengusap bahu yang baru saja digigit Kailla. Belum lagi kulit kepalanya terasa hampir copot karena jambakan Kailla. Sam yang menonton dari kejauhan, menahan tawa saat melihat Pram jadi bulan-bulanan istrinya.


Perawat yang sudah berhasil melakukan tugasnya terlihat melingkari bekas suntikan itu dengan pena hitam, memberi kode angka yang hanya dipahami oleh petugas medis. Selain itu, perawat juga memasangkan ID band di pergelangan Kailla, gelang yang menunjukan identitas pasien dan nanti akan dipasangkan juga pada kedua bayi kembarnya.


“Saya permisi. Istirahat saja, Bu,” pamit perawat, tersenyum.


Setelah perawat itu berpamitan, drama Kailla masih berlanjut. Setengah jam kemudian, perawat lain masuk membawa suntikan dengan ukuran lebih besar. Kali ini Kailla lebih waspada lagi.


Lenyap sudah rasa sakit di perutnya. Konsentrasi ibu hamil itu teralihkan. “Mau apa lagi, Sus?” tanya Kailla dengan ketus. Meringis menahan perutnya yang melilit.


Pram yang baru saja bisa bernapas lega, kembali dihadapi dengan masalah. Menghela napas, pria itu mengusap kasar wajahnya. Sudah tidak tahu lagi bagaimana harus membujuk Kailla.


“Kai, sedikit lagi, setelah ini sudah tidak ada suntikan, Sayang,” bujuk Pram, berusaha sesabar mungkin.


“Aku tidak mau. Kamu membohongiku. Ini pasti lebih sakit lagi. Jarumnya lebih besar!” omel Kailla, berontak dari genggaman tangan Pram. Meloncat turun dari tempat tidur, berlari ke sudut kamar.


“Kai, jangan lari Sayang. Nanti jatuh, jadi apa anak-anakku di dalam sana,” bujuk Pram, pelan.


“AKU TIDAK MAU!” Kailla mengarahkan telunjuk kirinya ke arah Pram, dengan tangan kanan mengusap perutnya yang kembali melilit.


“Kai, jangan seperti anak kecil!” omel Pram seketika, hilang kesabarannya. Menghela napasnya berulang kali. Meladeni Kailla, lama-lama dia bisa gila.


“Aku tidak mau disuntik. Itu mengerikan! Aku tidak mau.” Kailla berkata lirih. Berjongkok di pojok kamar, sembari meringis.


“Sam, tolong aku!” perintah Pram.


Baru saja asisten itu mendekat, Kailla sudah mengancamnya.


“Berani mendekat, aku tidak akan mengizinkanmu pacaran dengan Bin atau Kin!” todong Kailla mengarahkan telunjuknya pada Sam. Matanya menatap tajam penuh amarah. Sontak membuat Sam berhenti melangkah. Ancaman yang membuat asisten itu menciut.


“Sam, bantu aku. Kalau kamu menurut padaku, aku akan menikahkanmu dengan keduanya setelah anakku lahir,” ucap Pram. Sontak membuat Sam berbinar-binar bahagia.


“Maaf Non, tawaran Pak Pram lebih menggiurkan,” ucap Sam, tersenyum bahagia menatap majikannya.


“Ayo Non, disuntik sebentar. Tidak akan sakit, setelah itu bayinya lahir.” Sam ikut membujuk.


“Aku tidak mau, Sayang. Yang tadi saja sakit, apalagi yang ini. Jarumnya lebih besar.” Kailla melunak, saat posisinya terjepit di antara Pram dan Sam.


Pram itu ikut berjongkok di depan Kailla. “Aku berjanji tidak akan sakit, Sayang. Kamu boleh meminta apapun, setelah ini. Ayo!” ajak Pram, merengkuh tangan Kailla supaya kembali ke brankar.


“Aku tidak mau, itu pasti sakit,” lirih Kailla.


“Yang ini saja masih berasa sakitnya,” lanjut Kailla menunjuk lengannya yang belum lama disuntik. Matanya berair, berurai air mata.


“Ya, maafkan aku,” ucap Pram memeluk Kailla dengan erat, mengusap punggung istrinya, perlahan. Kailla akhirnya menurut, setelah hampir sepuluh menit dibujuk dan dirayu dengan segala cara.


Kailla duduk di atas brankar, memeluk suaminya dengan erat.


“Sayang, tahan sedikit saja. Ini tidak akan sakit, aku berjanji. Kasihan jagoan kita kalau mommy berontak terus.”


Kailla menggeleng.


“Cium aku sekarang!” pinta Pram dengan lembut.


“Tidak mau,” tolak Kailla lagi.


“Maafkan aku, Sayang.” Mencium lembut bibir pucat istrinya, Pram berusaha mengalihkan perhatian Kailla. Dia tidak punya cara lain lagi. Kailla biasanya takluk dengan kecupannya.


Memeluk Kailla dengan tangan kirinya, Pram menekan keras lengan Kailla supaya tidak bergerak dengan tangan kanannya. Perawat harus mencari pembuluh darah Kailla untuk memasangkan jarum infus di punggung telapak tangan. Dan itu butuh waktu.


“Tangannya tolong dikepal, ya Bu. Rilex saja,” pinta perawat dengan lembut. Menyentil, menepuk dan mengusap perlahan punggung telapak tangan Kailla. Hawa dingin menyeruak saat terkena usapan alkohol yang ditetes pada kapas.


Tanpa melawan, Kailla menurut. Terbuai dengan kecupan lembut suaminya. Menikmati perlakuan manis suaminya. Akan tetapi, sikap penurut Kailla tidak berlangsung lama. Saat merasakan jarum perlahan menusuk di kulitnya, Kailla menggigit keras bibir Pram. Laki-laki itu hanya bisa menahan, tidak sanggup protes, tidak bisa mengeluh. Hanya pasrah menikmati gigi-gigi Kailla yang melukai bibirnya.


“Sssshhh ... aaah!” Pram meringis kesakitan sesaat setelah melepas ciumannya. Bibirnya sobek, terasa asin karena darah yang keluar.


Berurai air mata, Kailla mendekap erat suaminya saat jarum infus terpasang sempurna. “Aku tidak mau hamil dan melahirkan lagi,” cicit Kailla pelan. Menatap punggung tangannya yang terpasang selang infus.


“Ya, setelah ini tidak perlu hamil dan melahirkan lagi.” Pram mengusap lembut pucuk kepala Kailla.


“Ini sakit, Sayang. Bella tidak disuntik sebanyak ini saat melahirkan. Aku tidak mau lagi,” adu Kailla, mulai tenang berbaring di atas brankar.


“Ya, aku tahu. Kamu masih harus disuntik di tulang belakang saat di kamar operasi.”


Kailla terbelalak dengan mulut menganga.


***


TBC