Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 167 : Pemakaman


Laki-laki dengan setelan hitam itu melipat kembali kertas menguning dan memasukannya ke dalam amplop coklat. Melipat dua dan menyimpannya di balik saku jas dengan banyak rasa mengumpul di dada, banyak pikiran berterbangan di benaknya.


Mengedar pandangan ke sekeliling, senja sudah berganti malam. Sorot lampu, semburat putih mulai menyorot ke ruang tempat Riadi disemayamkan. Tidak banyak lagi tamu yang berdatangan. Hanya beberapa rekan dan kolega yang sedang mengobrol ditemani keempat asistennya, mengisi meja-meja bundar dengan wajah nestapa. Seolah ikut terbawa suasana duka yang sejak siang tadi mengisi ruangan ini.


Ibu Citra terlihat asyik berbincang dengan Ibu Sari dan Ibu Ida di pojok ruangan. Melangkah pelan mendekat, Pram menyapa sang mama yang sejak tadi tidak bergeser tempat.


“Ma, apa mama tidak mau beristirahat? Ini sudah mulai malam. Apa mama mau pulang, istirahat di rumah?” tawar Pram, menyela obrolan.


“Sebentar lagi, Pram. Di mana Kailla?” tanya Ibu Citra, mengerutkan dahi saat menyadari menantunya tidak tampak dalam pandangannya.


“Kailla sempat tidak sadarkan diri tadi, sedang ditemani Kinar,” sahut Pram, bergegas menuju tempat Kailla beristirahat. Jawaban sang mama memberinya waktu untuk menemani Kailla sejenak.


Masuk ke dalam kamar, Pram melihat Kinar sedang duduk termenung menatap Kailla yang sedang tertidur. Berbekal sekotak makanan dan segelas air mineral, laki-laki itu masuk mendekati istrinya.


“Bagaimana keadaan Kailla?” tanya Pram, berdiri di samping tempat tidur.


“Sempat bangun tadi Mas, tetapi sekarang tertidur lagi,” sahut Kinar.


“Kamu boleh pergi, terimakasih. Tolong pastikan mama baik-baik saja, sepertinya sejak tadi mama sibuk mengobrol sampai tidak sempat makan,” cerita Pram, menjatuhkan tubuhnya, duduk di tepi tempat tidur.


***


Sepeninggalan Kinar, Pram membangunkan istrinya. Bagaimana pun keadaannya, Kailla harus makan. Bayi-bayi mereka tidak bisa dibiarkan kelaparan di dalam sana. Mungkin jiwa dan raga Kailla sedang terluka, tetapi anak-anak mereka tetap butuh asupan.


Tepukan pelan di wajah, sanggup mengusik tidur. Mengerjap beberapa kali, kelopak mata itu pun akhirnya membuka sempurna.


“Sayang ....” Kata pertama yang keluar dari bibir ibu hamil itu, dengan kedua tangan merengkuh leher Pram. Bulir air mata itu jatuh kembali saat ingatannya pulih.


“Daddy ....” Berucap pelan di dalam isaknya.


“Ya, makan sedikit. Nanti kita menemui daddy di depan.”


“Aku tidak lapar. Tadi tante Kinar sudah menyuapiku makan,” ucap Kailla, menunjuk sekotak bubur yang masih tampak utuh. Hanya diacak bagian pinggirannya saja.


“Anak kita itu ada dua di dalam sini. Kalau cuma makan sedikit, mereka tidak punya cukup tenaga untuk bertengkar di dalam rahimmu,” bujuk Pram, mengusap perut besar Kailla.


“Makan sedikit lagi.”


Kailla mengangguk. “Aku makan sendiri saja.” Ibu hamil bergaun hitam itu meraih kotak bubur sisa yang dimakannya tadi. Merapikan posisi duduknya, bersandar di tumpukan bantal yang disusun sebelumnya.


“Kenapa tidak yang ini saja” tanya Pram heran, memandang sekotak nasi campur yang masih utuh belum terjamah. Yang dibawanya khusus untuk makan malam Kailla.


“Untukmu saja, Sayang. Aku tahu, kamu belum makan apapun sejak tadi,” ucap Kailla, memasukan sesendok bubur dingin itu ke dalam mulutnya.


Pram tersenyum dan menurut.


“Aku sedang mengurus pemakaman sesuai permintaan terakhir daddy.” Pram bercerita.


“Hmmm,” gumam Kailla, masih sibuk menghabiskan bubur di dalam kotak makanan.


Saat ini Kailla tidak mau berpikir terlalu jauh, membiarkan Pram mengurus semua untuknya. Perasaannya sedang hancur. Kehilangan daddy adalah pukulan terberat. Kenyataan yang selama empat tahun ini berusaha ditepis jauh dari pikirannya.


“Pengacara daddy tadi sempat ke sini. Dia menitipkan salam untukmu.” Pram kembali bercerita.


Kailla mengangguk. “Sayang ... aku masih belum bisa ikhlas. Rasanya berat. Aku belum membahagiakan daddy. Dia menginginkan cucu, tetapi aku belum bisa memberinya. Bahkan sampai di ujung napasnya, aku belum bisa mengabulkan,” isak Kailla.


“Tidak perlu dipikirkan. Jaga kandunganmu baik-baik. Daddy masih bisa melihatmu dan anak-anak kita dari sana,” ucap Pram, menepuk pelan pucuk kepala istrinya.


“Habiskan makananmu. Aku tidak bisa lama-lama. Aku harus keluar lagi. Kita tidak punya siapa-siapa. Keluarga Riadi Dirgantara hanya kita berdua, tidak enak meninggalkan pelayat dengan para asisten.”


***


Tadinya makam Anna bukan di sini, tetapi saat memutuskan di tempat inilah yang akan menjadi rumah abadinya, Riadi memindahkan makam istrinya, agar nanti mereka bisa tetap bersama.


Riadi memang sudah mempersiapkan makam untuknya dan Anna jauh-jauh hari. Bahkan saat masih bernapas, Riadi sendiri yang memilih tempat yang akan menjadi peristirahatan terakhirnya. Meski pun begitu, Pram merasa perlu mengabari pihak keluarga Anna, sekedar meminta izin. Prosesi pemakaman Riadi otomatis akan membuat makan yang lama sedikit terganggu.


Kailla terlihat jauh lebih tegar dibanding dua hari yang lalu. Ibu hamil itu sudah mulai bisa menerima kenyataan. Dengan kacamata hitam senada dengan gaun yang dikenakannya, Kailla berusaha menyembunyikan mata sembabnya.


Turun dari mobil dengan memeluk pigura Riadi Dirgantara, Kailla dan Pram sudah disambut ramainya suasana di area pemakaman mewah tempat peristirahatan terakhir Riadi Dirgantara. Terlihat Pram mengerutkan dahi, mengedarkan pandangan pada titik di mana tenda putih terpasang dengan deretan kursi yang sudah dipenuhi para pelayat yang ikut mengantar Riadi Dirgantara.


Di salah satu deretan kursi, terlihat Bara dan istrinya sedang duduk berbincang dengan pakaian serba hitamnya.



Kailla hanya tersenyum sekilas menyapa keduanya, dan memilih duduk di kursi terdepan, sambil memeluk bingkai foto daddynya. Sesekali ibu hamil itu mengusap air mata yang terjatuh di pipinya dengan tisu yang sudah menggumpal.


Pram yang sejak tadi menemani Kailla, menjatuhkan tubuh duduk tepat di samping Kailla. Menatap pemandangan lubang persegi yang masih kosong menunggu pemiliknya menempati.


“Sayang ....” isak Kailla terdengar kembali, bersandar di pundak Pram. Ibu hamil itu tidak kuasa menahan tangisnya ketika peti jenazah daddynya di tempatkan tepat di atas lubang persegi. Masih menunggu waktu untuk diturunkan.


“Ya, Sayang.” Pram memeluk pundak Kailla, menepuk pelan untuk menguatkan. Laki-laki itu juga menyimpan kesedihan yang sama. Matanya mengembun, tersembunyi di balik kaca mata hitamnya.


Saat keduanya saling berbagi duka, saling menguatkan tiba-tiba muncul sosok laki-laki asing menemui Kailla.



“Hai, Kailla,” sapanya. Laki-laki yang wajahnya tidak asing, tetapi sudah lama sekali Kailla tidak melihatnya.


“I’m so sorry for your loss,” ucapnya tersenyum kaku.


“Long time no see. Masih ingat denganku? Aku Dennis Wijaya,” ucapnya mengulurkan tangan di depan Kailla dan Pram. Namun, pandangan lelaki itu lebih terfokus pada Kailla.


Pram yang duduk di sisi istrinya hanya bisa menahan kesal dengan mengepalkan tangannya . Pertemuan mereka beberapa kali, empat tahun silam cukup memberi kesan buruk pada keduanya. Bahkan Pram sempat terlibat perkelahian dengan Dennis saat Kailla masih berstatus tunangannya.


“Terimakasih.” Pram menyambut uluran tangan Dennis yang sedang menunggu sambutan dari Kailla.


“Oh, kamu yang menghubungiku kemarin, bukan?” tanya Dennis memastikan.


“Aku merasa perlu datang, mewakili papaku Andi Wijaya, yang baru saja meninggal dunia beberapa bulan yang lalu,” jelas Dennis, menunggu reaksi Pram.


“Terimakasih.” Pram hanya menjawab singkat.


Kailla sejak tadi hanya diam, tidak meladeni obrolan keduanya, tetapi wanita hamil itu langsung mengangkat pandangannya saat Dennis mengucapkan kalimat yang membuatnya terkejut.


“Tidak masalah. Meskipun hubungan keluarga kita memburuk, tetapi aku tidak bisa menyangkal kenyataan yang ada. Riadi Dirgantara adalah suamiku tanteku, Anna Wijaya. Aku tidak bisa menolak kalau memang Riadi ingin dimakamkan di samping istrinya.”


Deg—


Kailla terperanjat. Selama ini dia memang sering mendengar cerita Andi Wijaya tetapi tidak dengan nama Anna Wijaya. Dia juga tidak penasaran untuk mencari tahu hubungan keluarga Wijaya ini dengan daddynya. Yang dia tahu, Andi Wijaya memintanya memanggil Om, mengaku adik ipar daddy yang Kailla tidak tahu jelas hubungan itu seperti apa. Ada banyak kisah buruk, perebutan harta dan banyak kisah kelam terselimut di dalamnya, membuat Kailla menarik diri dan tidak mau ambil pusing dengan keluarga Wijaya.


Wanita hamil itu mengedar pandangan, matanya tertuju pada nisan yang sudah terbaring di rerumputan tepat di samping lubang yang dipersiapkan untuk daddynya. Memicingkan mata yang tertutup kacamata hitam dan mencari tahu kebenaran cerita yang baru diungkapkan Dennis.


Ibu hamil itu segera melepas kacamata. Netranya membulat saat melihat nama Anna Wijaya terukir dengan tinta keemasan di batu nisan.


“TIDAK!” tegas Kailla.


“Istri daddy hanya mamaku!” lanjut Kailla, menolak menerima kenyataan.


***


TBC