Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 86 : Teriakan Ibu Citra di pagi hari


“PRAM! Buka pintunya. Mama tidur di tempatmu saja!” pekik Ibu Citra memeluk bantal dan selimut dengan wajah ketakutan di depan pintu kamar putranya.


Pram menyusul turun, meraih celana panjang, memakainya buru-buru. Berlomba dengan bunyi gedoran di pintu yang semakin kencang.


Cukup mendengar bunyi gedorannya, Pram tahu seberapa emosinya si tamu tak diundang yang mengganggu kesenangan mereka.


Pram melirik istrinya sebentar, sebelum membuka pintu kamarnya. Bulir-bulir keringat masih terlihat jelas di dahir dan leher Kailla, lengkap dengan nafas yang naik turun.


Tawa Pram nyaris meledak, melihat kondisinya dan Kailla saat ini, seperti tertangkap basah satpol PP sedang berbuat mesum.


“Jangan meledekku!” gerutu Kailla menghampiri suaminya, meremas kedua sisi bathrobenya supaya tidak terbuka. Dia tidak mengenakan apa-apa di balik itu.


Ceklek! Pintu terbuka.


Ibu Citra terperanjat, melihat anak dan menantunya berdiri bersisian di depan pintu menyambutnya. Yang membuatnya malu sendiri adalah tampilan keduanya yang acak-acakan. Rambut berantakan, pakaian awut-awutan, belum lagi nafas memburu dengan keringatan yang masih terlihat mengkilap di kulit keduanya. Bahkan Pram masih bertelanjang dada, dengan tanda kemerahan di beberapa titik akibat ulah Kailla.


Brak!!


Wanita tua itu menerobos masuk, membuang rasa malu dan sungkannya. Masih memeluk bantal dan selimut dia melewati keduanya.


“Mama tidur disini ya,” ucapnya dengan lancang.


Tetapi langkah Ibu Citra terhenti. Giliran jantungnya yang berdegup kencang saat ini. Lidahnya kelu, kakinya bagai terpaku di tempatnya berdiri.


Bagaimana tidak, kondisi kamar itu tidak layak untuk ditiduri saat ini. Seprei sudah tidak ditempatnya, tertarik di beberapa sisi. Sebagian tersingkap keluar. Bantal dan guling berserakan di lantai lengkap dengan selimut yang teronggok sembarangan. Ditambah kaos tidur Pram yang tergeletak pasrah di dekat kakinya.


“Ma-maaf sepertinya mama datang di saat tidak tepat,” ucap Ibu Citra, merutuki kebodohannya. Tetapi apa daya, semua akal sehatnya tidak bisa berjalan di tempat saat ketakutan menguasai pikirannya.


Berbalik menatap putra dan menantunya yang berdiri bersampingan. Pram terlihat santai, merapikan rambutnya dengan jemarinya. Berbeda dengan Kailla yang tertunduk menahan malu.


“Sayang, aku lupa membereskannya,” bisik Kailla menggigit bibirnya.


Rasanya malu sekali. Dengan melihat kondisi kamar mereka saat ini, siapapun bisa menebak apa yang terjadi sebelumnya.


“Ma, kembali tidur di kamarmu,” pinta Pram, menghampiri mamanya.


“Mama tidak lihat, kamar ini tidak siap untuk ditiduri,” lanjutnya lagi.


Ibu Citra bukannya menurut, malah beralih duduk di sofa kamar. “Mama tidak mau tidur sendirian, Pram,” ucap Ibu Citra bersikeras.


Dengan kesal, Pram memghampiri mamanya. “Ma, aku butuh privacy. Tolong mengerti, Ma. Tidak mungkin mama tidur bersama kami,” tolak Pram, berbisik pelan.


“Apalagi istriku pasti tidak nyaman,” lanjutnya lagi.


“Sudah. Dibawa santai saja. Anggap mama tidak melihat apa-apa,” sahut Ibu Citra dengan santai, melirik menantunya yang masih saja tertunduk malu.


Pandangannya tertuju pada raut wajah putranya yang tidak bersahabat. “Masih belum selesai,” bisiknya pelan.


"Kalau belum tuntas, kamu bisa menyelesaikannya di kamar mandi. Mama akan menutup telinga, pura-pura tidak mendengar," lanjut Ibu Citra dengan egoisnya.


“Ma, jangan begini. Kasihan istriku. Kailla pasti malu sekali,” pinta Pram.


“Mama tidak mau tidur sendirian, Pram. Di kamar mama itu menyeramkan. Mama tidur disini saja, di sofa juga tidak apa-apa,” pintanya dengan wajah memelas. Bersikukuh tidak mau keluar.


Pram menatap istrinya. Di antara keduanya harus ada salah satu yang mengalah. Kalau bukan mamanya berarti istrinya. Kalau bisa memilih, dia ingin tidur berdua dengan istrinya saja.


“Kai...,” panggil Pram, meminta pendapat.


“Ya sudah, aku tidak keberatan,” jawab Kailla pada akhirnya, bergegas merapikan sprei dan tempat tidurnya yang berantakan.


Dan begitulah akhirnya, Pram dan Kailla mengalah. Merelakan Ibu Citra ikut bergabung di kamar mereka.


Ibu Citra berbagi ranjang dengan menantunya. Sedangkan Pram, lelaki itu memilih tidur di sofa. Keduanya, baik Ibu Citra dan Kailla tidak mengizinkannya keluar kamar. Menantu dan mertua itu sama penakutnya.


***


“Sayang, kita pindah ke sebelah,” bisik Pram pelan. Menyelipkan tangannya ke balik punggung istrinya dan menggendong Kailla yang masih tertidur lelap.


Kailla yang sempat membuka mata, hanya berguman dan mengalungkan kedua tangannya di leher Pram.


“Aku masih mengantuk, Sayang,” gumam Kailla.


“Iya, kita tidur di sebelah,” Pram melangkah keluar dengan perlahan.


Begitu masuk ke kamar yang harusnya di tempati mamanya, Pram dengan sengaja menjatuhkan tubuh istrinya dengan kasar. Membuat Kailla berguncang dan terjaga seketika. Baru saja di akan menjerit, tetapi Pram sudah membungkam bibirnya.


“Kita lanjutkan apa yang tertunda,” bisiknya pelan, dengan tatapan siap menerkam.


“Ah.. aku masih mengantuk,” protes Kailla, menutup mulutnya yang sedang menguap lebar. Suaminya sendiri sedang sibuk membuka pakaian tidurnya dan melemparnya asal.


Bak singa kelaparan menuntaskan apa yang belum terselesaikan semalam. Bersusah payah dia menahan hasratnya yang memuncak. Mencari kesempatan untuk menculik istrinya, supaya bisa melanjutkan misi mereka bersama.


Pada akhirnya, keduanya terlelap setelah menyelesaikan kerjasama proyek mencetak generasi penerus bangsa.


“Sayang, nanti bangunkan aku ya,” pinta Kailla dengan nafas naik turun. Dia sudah tidka memiliki tenaga lebih lagi. Hanya pasrah dengan tubuh polos di dalam pelukan Pram.


“Hmmmm,” gumam Pram. Dia bisa tidur nyenyak, setelah semalaman tidak bisa memejamkan mata. Mamanya benar-benar membuatnya kesal, tetapi dia tidak bisa mengomel. Hanya bisa menatap dua perempuan yang disayanginya tertidur pulas di ranjang.


***


Di sisi lain, Ibu Citra yang mulai terjaga dan tidak mendapati putra dan menantunya di kamar segera bangkit dari tidurnya. Menatap jam di dinding, waktu sudah menunjukan pukul 07.00 pagi.


“Kenapa mereka tidak membangunkanku?” gerutunya kesal. Menatap jendela, cahaya matahari mulai memancarkan semburatnya.


Sesampai di dapur, terlihat Bayu sedang menikmati secangkir kopi panas. Tidak ada siapa-siapa lagi. Baik putra dan menantunya tidak nampak sama sekali.


“Bay, kamu melihat Pram?” tanyanya penasaran, masih dengan daster batik kesukaannya.


Bayu menggeleng. “Sejak tadi belum terlihat Pak Pram dan Non Kailla bangun, Bu,” sahutnya, kembali menyesap kopi hitamnya.


Mendengar jawaban Bayu, Ibu Citra terlihat semakin kesal. Seperti diterlantarkan sendirian.


“Mereka kemana ya? Kenapa tidak membangunkanku?” Kembali menggerutu.


“Mungkin masih di kamar, Bu.”


“Tidak ada Bay. Aku tidur bersama mereka.”


Jawaban polos Ibu Citra, sontak membuat Bayu tersedak. Berusaha menahan tawanya yang hampir pecah. Tidak bisa dibayangkan bagaimana Pram melewatkan malam harus dikawal oleh mamanya sendiri.


Setelah tidak mendapatkan jawaban apapun dari asisten putranya itu, Ibu Citra memilih ke kamar. Sebaiknya bersiap dan membersihkan diri, sembari menunggu Kailla yang entah dimana rimbanya itu menyiapkan sarapan pagi untuknya.


Tanpa berpikiran buruk sedikitpun, wanita tua itu bergegas menuju kamar tidurnya. Tempat dimana koper dan pakaian gantinya tersimpan. Tetapi entah ini keberuntungan atau kesialan untuknya.


Saat pintu kamarnya terbuka dia sudah disuguhkan pemandangan yang tidak layak dipandang. Kamarnya berhamburan seperti habis perang dunia. Kedua orang yang masuk daftar DPOnya sejak tadi, sedang tertidur pulas saling berpelukan tanpa pakaian. Bergelung di balik selimut tebal.


“Pram!!!!” teriaknya kesal.


Putra dan menantunya meniduri ranjang miliknya tanpa permisi. Bukan hanya sekedar tidur tetapi mengacak-acak dan membuat kamarnya berantakan.


“PRAM!!!”


***


To be continued


Love You All


Terima kasih.