Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 62 : Bertukar tempat dengan Sam


“Iya, aku serius. Bukankah aku yang harus menjaga mama, bukan orang lain. Dia mertuaku, mama dari suamiku,” ucap Kailla, melirik ke arah Kinar.


Pram tidak sanggup berkata-kata, segera menghampiri Kailla dan memeluk istrinya. Perasaannya saat ini tidak menentu. Ada haru bercampur bahagia. Tetapi terselip khawatir yang tiba-tiba menyeruak di dadanya. Bagaimana tidak, dia harus melepaskan istrinya di tengah orang-orang yang membenci dan mendendam.


Sebuah kecupan hangat dilabuhkan di kening, lengkap dengan senyuman manis penuh rasa bangga. Apapun alasannya, setidaknya Kailla sudah paham posisinya sebagai istrinya.


“Terimakasih,” ucap Pram, dengan tangan sudah melingkar di pinggang ramping istrinya. Baru saja bibirnya hendak mengecup kembali, tapi Kailla sudah menghentikannya.


“Ada Tante Kinar..,” tolak Kailla berbisik, menahan bibir Pram dengan telapak tangannya.


Kinar, sang wanita yang dimaksud Kailla, hanya berdiri dari kejauhan. Tidak mau mendekat, tepatnya tidak sanggup mendekat. Kakinya seolah terpaku ditempat, kehadirannya tidak dianggap sama sekali oleh keduanya.


Padahal dari semalam sampai tadi pagi hatinya sudah berbunga-bunga. Pram sudah sedikit lebih baik memperlakukannya, mulai melunak dan mau berbincang. Apalagi semalam dia melihat sendiri, lelaki matang yang mengisi hatinya selama hampir 3,5 tahun ini sedang memarahi istrinya.


Deretan kebahagiannya kian bertambah saat pagi tadi bisa merasakan dekapan hangat dan kecupan di pucuk kepala dari seorang Pram yang selama ini bagaikan mimpi.


Mimpi menjadi kenyataan. Rasanya ingin waktu berhenti saja. Sampai sekarang masih berasa dan terbayang-bayang. Seutas senyuman tersungging di bibir Kinar, mengingat kejadian yang dilewatkannya bersama Pram, meskipun lelaki itu dalam keadaan tidak sadar.


Beralih ke Pram, lelaki itu masih saja tersenyum bahagia setelah mendengar pernyataan istri kecilnya.


“Sayang, kamu tidak perlu menjaga mama, aku tidak mengizinkannya.”


Setelah lama berpikir, akhirnya Pram mengeluarkan pendapatnya. Dia memilih tidak memperbolehkan Kailla menjaga mamanya, walau dalam hatinya sangat menginginkan itu terjadi.


“Sayang, aku mohon. Aku tidak rela, Tante itu mengambil alih tugasku,” rengek Kailla, sesekali melirik ke arah Tante yang dimaksudnya.


“Tidak, kamu harus kuliah,” tolak Pram untuk kedua kalinya. Hatinya tidak tenang kalau membiarkan Kailla berada di tengah mamanya dan Kinar.


Sudut bibir istrinya saja belum sembuh benar. Dia tidak mau luka di wajah istrinya bertambah lagi. Kejadian kemarin adalah kelalaiannya dan sekarang dia tidak mau gagal lagi menjadi seorang suami.


“Sayang... “ Rengekan manja Kailla bersamaan dengan rangkulan mesra di leher suaminya, merupakan senjata pamungkas Kailla untuk melunakan hati Pram.


“Tidak, kamu harus kuliah.”


“Bagaimana kalau sepulang kuliah saja?” tawar Kailla.


“Aku janji tidak akan nakal. Tidak akan membuat kekacauan, tidak akan.... ”


Cup! Kecupan dibibir, Kailla berhenti berucap.


“Tetap tidak, ayo pulang sekarang. Pamitan dengan mama,” ucap Pram, menarik tangan istrinya mendekat.


Kailla menurut, tidak mau membantah untuk saat ini. Tapi jangan panggil Kailla kalau tidak bisa mewujudkan apa yang sudah direncanakannya. Apalagi kalau menyangkut wanita yang dianggapnya rubah betina. Dia tidak akan mau mengalah.


“Ma, aku pamit,” bisik Kailla, meraih tangan mama mertuanya dengan ragu-ragu. Belum sempat Kailla melepas tangan keriput itu, tiba-tiba terdengar bisikan lemah dari bibir Ibu Citra yang masih terpejam.


Ibu Citra terbangun, sadar setelah berjam-jam tertidur.


“Pram....,” ucap Ibu Citra pelan dan tidak bertenaga. Itupun perlu perjuangan supaya suara itu bisa keluar dan terucap di bibir pucatnya.


“Ma...!”


“Ma...!”


Keduanya, Pram dan Kailla memanggil Ibu Citra hampir bersamaan.


“Mama sudah bangun?” tanya Pram memastikan. Berdiri mendekat, sedikit membungkuk supaya bisa leluasa menatap mamanya,


Kinar yang mengetahui, langsung menghampiri. Berdiri di sisi ranjang lainnya.


“Mama sudah bangun,” ucap Kinar tersenyum.


“Pram, kamu datang Nak,” ucap Ibu Citra. Dengan susah payah berusaha menyentuh wajah putranya,


“Iya, aku datang bersama istriku,” sahut Pram. Seolah mengerti dengan keinginan mamanya, dia membantu tangan Ibu Citra dan menempelkan di wajahnya.


“Jangan meninggalkan mama lagi,” bisiknya kembali menangis.


Putranya ternyata masih peduli padanya. Pandangan Ibu Citra beralih pada Kailla. Walau hatinya belum bisa menerima, tapi dia juga tidak bisa menolak.


“Mama haus,” ucap Ibu Citra, berusaha menelan ludah untuk membasahi mulutnya yang kering.


Kinar baru akan bergegas meraih gelas di atas nakas, tapi karena posisinya terlalu jauh, keinginannya sudah dipatahkan Kailla. Istri Pram itu sudah meraih gelas dan sedotan itu terlebih dulu.


“Ini Ma,” ucap Kailla, menyodorkan gelas itu dan membantu mertuanya minum dari sedotan. Dia masih sempat melirik ke arah Kinar. Wanita itu terlihat kesal karena tugasnya diambil alih orang lain.


Ibu Citra menurut. Selain karena dia masih lemas dan tidak bertenaga, dia juga tidak ingin membuat masalah lagi dengan putranya. Kalau saat ini dia harus menerima menantunya, mau tidak mau dia harus melakukannya.


“Sudah,” sahut Ibu Citra, berusaha tersenyum pada menantunya. Dia masih bisa melihat jelas, luka robek di sudut bibir Kailla karena ulahnya.


“Ma, aku dan Kailla harus pulang. Nanti jam makan siang aku mampir sebentar. Pulang kerja aku baru menjaga mama lagi,” pamit Pram.


“Istriku juga harus kuliah,” lanjut Pram lagi.


Pram memeluk dan mengecup kedua pipi mamanya. Dan yang tidak diduga-duga, Kailla melakukan hal yang sama. Mengikuti apa yang dilakukan suaminya. Setelahnya, lagi-lagi dia menatap sinis kepada Kinar.


“Cih, dia pikir hanya dia saja yang bisa mencuri hari wanita tua ini. Aku juga bisa melakukannya,” batin Kailla.


***


Berbeda dengan Kailla yang terus-terusan berceloteh tiada lelah, sembari bersandar manja di pelukan suaminya.


“Sayang, boleh ya. Aku janji tidak akan membuat keributan. Kamu lihat sendiri kan, aku sudah berdamai dengan mama,” bujuk Kailla, masih tidak mau menyerah.


“Tidak! Kamu cukup belajar yang baik tidak perlu mengurusi mama,” jawab Pram.


“Tapi aku kan anak menantunya. Bagaimana bisa kamu mengizinkan rubah betina itu merawat mama,” protes Kailla.


Bayu tersedak saat mendengar Kailla menyebut Kinar sebagai rubah betina.


“Kai, sudah. Kamu tidak perlu mengurusi mama, cukup mengurusi suamimu dengan baik dan benar,” jelas Pram.


“Aku tidak terima. Bagaimana kamu bisa mengizinkan Tante Kinar tapi tidak mengizinkanku.”


Kailla masih saja membujuk dan beralasan. Saat ini jiwa kompetisinya sedang bergejolak. Sisi tidak mau mengalahnya sedang terpancing keluar. Dan itulah Kailla, dia tidak pernah mau dikalahkan atau pun miliknya diganggu. Dia akan melakukan segala cara untuk mempertahankannya.


“Sudahlah Kai. Apa kamu tidak lelah mengoceh sejak tadi?” tanya Pram. Sudah meraih tubuh istrinya dan mendekapnya erat.


“Sayang...,” rengek Kailla.


“Diamlah Sayang, aku lelah mendengar ocehanmu. Kalau masih membantah, aku akan menutup mulutmu denga bibirku, Kai.” Pram mengeluarkan ancaman.


“Huh!” dengus Kailla, tapi dia tetap menurut.


***


Kailla sudah berlari masuk ke dalam rumah, meninggalkan Pram yang masih betah duduk di kursi penumpang.


“Bay! Kamu tahu kesalahanmu?” tanya Pram tiba-tiba.


Bayu menunduk, mencengkeram kemudi. Sejak tadi dia sudah siap menerima kemarahan atasannya. Dia memang salah karena melanggar perintah. Tetapi kesalahan terbesarnya adalah berani menghabiskan malam berdua dengan istri Pram, majikannya sendiri.


“Maaf Bos,” ujar Bayu. Saat ini hanya kata maaf saja yang bisa keluar dari bibirnya.


“Apa yang semalam kamu lakukan dengan istriku? Beraninya menyentuh istriku!!”


“Maaf Bos.”


"Sekali lagi, aku pastikan akan membunuhmu!” ancam Pram.


“Aku tidak mengizinkan lelaki manapun melihat istriku di saat tidur, apalagi hanya berduaan. Termasuk kamu, Bay!”


“Baik Bos. Maafkan aku,” ucap Bayu kembali tertunduk.


Pram terlihat menghela nafas, membuang pandangannya ke arah taman. Menatap tukang kebun yang sedang membersihakn rumput yang mulai meninggi.


“Baiklah. Hari ini bertukar tempat dengan Sam. Kamu yang akan mengantar Kailla ke kampus. Sam yang akan mengantarku ke kantor,” perintah Pram.


Nada suaranya sudah terdengar biasa. Tidak semenyeramkan sebelumnya.


“Kalau Kailla memaksa ke rumah sakit, ikuti saja kemauannya. Tapi pastikan kamu tidak meninggalkannya sendirian di dalam kamar mamaku,” lanjut Pram.


“Memang Non Kailla akan ke rumah sakit?” tanya Bayu heran.


“Iya, dia pasti akan membantah semua ucapanku,” jelas Pram.


“Dan.. kalau Kinar menyakitinya, aku mengizinkanmu memukul Kinar,” ucap Pram tiba-tiba.


Bayu terkejut, hampir tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Pram memintanya memukul seorang perempuan yang jelas-jelas tidak sepadan dengannya.


“Istriku sedang cemburu. Dan aku tidak yakin apa yang akan dilakukannya pada Kinar. Tapi senakal-nakalnya Kailla, dia tidak akan memulai pertengkaran kalau lawannya tidak memancingnya duluan.”


“Dan kalau Kinar berani memyentuh atau memukul istriku, jangan biarkan Kailla membalasnya. Aku mau kamu yang memberi pelajaran pada Kinar.


“Jangan biarkan istriku menggunakan tangannya untuk memukul seseorang. Itu artinya kamu yang harus melakukan untuknya.”


“Hah? Tidak salah Bos?” tanya Bayu.


“Iya, kalau ada yang berani memukulnya, berarti kamu harus turun tangan memberi orang itu pelajaran.”


“Dan kalau kamu tidak mau memukul seseorang karena istriku, kamu harus pastikan tidak ada seorang pun menyentuh istriku.”


“Jadi....!?”


“Intinya aku tidak mau ada seorang pun menyakiti Kailla! Termasuk mamaku,” ucap Pram menepuk pundak Bayu.


“Dia sengaja memintaku bertukar dengan Sam karena ini,” batin Bayu.


"Oh ya, tadi pagi aku tidak sengaja memeluk Kinar, pastikan wanita itu tidak menggunakannya untuk memancing emosi istriku," ucap Pram.


To be continued


Love You All


Terima kasih.