
“Dan kalau pernikahan kita memang suatu kesalahan, mungkin perceraian adalah jawabanya,” lanjut Pram.
Untaian kalimat yang tidak pernah terpikir akan keluar dari bibir suaminya. Kailla tersentak, saat Pram mengucapkannya dengan penuh keyakinan. Bagai petir menyambar tiba-tiba, tanpa hujan apalagi badai, semua begitu mendadak seperti mimpi.
Dia mengenal Pram bukan sehari-dua hari, mereka melewatkan banyak kisah, banyak cerita, banyak rasa yang tidak bisa dibuang begitu saja. Hubungan suami istri mereka mungkin baru terjalin empat tahun ini, tetapi selama 24 tahun, mereka memiliki hubungan yang tidak mungkin dilupakan begitu saja.
Pelukan hangat Kailla dengan kedua tangan mengunci erat di pinggang Pram, membenamkan wajahnya di dalam dada bidang lelaki yang duduk tepat di sisinya. Membuka tiga kancing teratas Pram dan menelusupkan wajahnya disana.
“Apa yang kamu lakukan, Kai?” tanya Pram, heran. Lelaki itu masih berjuang menghabiskan semangkok bakso demi Kailla tidak merajuk padanya, tetapi kelakuan Kailla malah aneh seperti ini. Sibuk mengedus tubuhnya yang panas dan berkeringat karena pedasnya bakso racikan Ibu Ida.
“Sayang, singkirkan wajahmu!” pinta Pram lagi. Kailla tiba-tiba mengecup dan mengusap perlahan dada bidang yang bermandi keringat.
“Aku sedang menikmati aromamu,” bisik Kailla, masih saja enggan menyelesaikan aktivitasnya.
Deg—
Pram terlihat berpikir sesaat. Menjalin kepingan ingatan yang seperti dejavu. Matanya sayu menerawang. Sampai akhirnya, dia membuka suara dengan wajah panik.
“Katakan padaku, kamu sudah mendapatkan menstruasimu bulan ini?” tanya Pram. Teringat bagaimana Kailla melewatkan kehamilan pertamanya yang tidak pernah mau jauh darinya. Hanya mau menikmati aroma tubuhnya seperti yang dilakukan sekarang.
Kailla mengeleng. Pram langsung tersenyum penuh semangat.
“Tadi pagi ada sedikit flek di pakaian dalamku, mungkin sebentar lagi aku akan mendapatkannya,” lanjut Kailla, membuat Pram melemas seketika.
“Baiklah, aku harus kembali ke kantor sekarang,” pamit Pram. Berdiri dan menggeser mundur kursinya setelah melepaskan diri dari belitan erat tangan Kailla.
“Buatkan aku pasta,” pinta Kailla, setengah merengek.
“Aku mau pasta buatanmu,” lanjut Kailla, memohon dengan manjanya.
Pram tersenyum dengan gelengan kepala menyuguhkan sebuah penolakan tegas. “Aku akan membuatnya besok siang. Aku akan mengunjungimu lagi,” ucap Pram.
“Ah.. kenapa tidak tinggal di sini saja! Sebelum menikah pun, kita sering tinggal bersama, sering berbagi kamar bersama. Kenapa sekarang menjaga jarak denganku,” keluh Kailla.
“Dulu juga kamu menciumku. Bukankah sebelum dan setelah menikah hubungan kita sama saja. Ayolah, jangan seperti ini. Aku tidak menyukainya,” pinta Kailla, dengan manjanya.
“Kalaupun suamiku tidak kembali, aku mau Omku tetap ada seperti dulu,” lanjut Kailla, memeluk pinggang Pram dari belakang.
“Kai, sudah. Aku harus ke kantor sekarang,” ucap Pram, memejamkan matanya. Hampir luluh lantah karena ulah Kailla.
“Kamu tidak boleh kemana-mana sebelum menyelesaikan masalah kita,” tegas Kailla.
Pram tertegun, mematung di tempat. Pelukan hangat dan detak jantung Kailla yang menempel di punggungnya terasa jelas. Nyaris lemah akan keputusannya sendiri.
“Temani aku tidur seperti biasa, setelah itu baru aku mengizinkanmu ke kantor. Jangan katakan tidak! Sebagai Omku, kamu sering melakukannya dulu,” pinta Kailla, masih menempel di punggung Pram, mencari kenyamanannya.
“Ayolah. Bukankah kamu mengatakan kalau yang terputus hanya hubungan suami istri kita saja. Hubungan kita sebelumnya akan tetap sama. Mari kita kembali ke hubungan kita sebelum pernikahan,” bujuk Kailla.
“Kai, jangan seperti ini,” pinta Pram.
“Aku tidak mau kehilanganmu, Pak Wakil Direktur,” ucap Kailla, mengingatkan Pram kembali akan jabatannya sebelum menikah.
“Sebelum menikah, kamu juga selalu memperlakukanku sama. Selalu memeluk dan mencium hangat keningku. Akan berlari meninggalkan rapat pentingmu demi putri kesayangan Presdir,” ingat Kailla.
“Kai...”
“Ayo kita tinggal bersama seperti dulu lagi. Bukankah menikah dan tidak menikah, hubungan kita sama saja. Pernikahan hanya membuat kita berbagi kehangatan di atas ranjang saja. Selebihnya sama saja. Bukankah begitu Omku Sayang,” pinta Kailla.
“Kamu tinggal di apartemen, aku juga akan ikut. Aku akan menempati kamarku yang lama,” tegas Kailla.
“Anak keras kepala. Ayo aku akan menemanimu tidur.” Akhirnya Pram mengalah.
Kailla tersenyum di balik punggung kekar, mengeratkan pelukannya untuk merayakan kemenangannya.
“Hubungi David, minta dia melanjutkan pekerjaanmu sekarang!” perintah Kailla.
“Kai!” Pram berbalik menatap Kailla.
“Aku putri pemilik perusahaan. Daddyku koma, jadi sekarang aku yang berhak membuat keputusan. Sebagai wakil direktur, kamu tidak berhak membantah,” tegas Kailla.
“Buatkan aku pasta, setelah itu temani aku tidur!” perintah Kailla.
“Kai, jangan seperti ini.”
“Aku akan meminta Sam dan Ricko membantuku membuat kekacauan seperti sebelumnya kalau kamu bersikeras tetap pergi ke kantor,” ancam Kailla, melepas pelukannya.
Pram menurut kali ini. Tidak membantah sedikit pun. Kailla tidak pernah main-main dengan ancamannya. Bahkan dia bisa menghancurkan rumah dan seisinya disaat seperti ini.
Terlihat Pram berpikir.
Pada akhirnya lelaki itu membuka kancing jasnya dan melemparnya ke kursi. Melepaskan kancing di lengan kemejanya, menggulung tangan kemeja itu sampai sebatas siku.
Disisi lain, Kailla tersenyum menatap punggung suaminya yang sedang membelakanginya. Pram sedang sibuk dengan panci di atas kompor.
“Maafkan aku, Sayang. Kalau kamu sudah menyerah dan berhenti memperjuangkanku dan rumah tangga kita. Berarti ini saatnya aku memperjuangkanmu dan pernikahan kita.”
Bunyi kesibukan di depan kompor terdengar jelas. Suara air kran yang mengucur bercampur dengan suara kobaran api di atas kompor sekaligus mesin penyedot asap. Kailla tersenyum dengan tangan terlipat di dada, bersandar di meja island sembari menikmati pemadangan suaminya yang sedang serius dengan sebuah sendok di tangan. Mengaduk isi panci dengan teratur.
Aktivitas keduanya terganggu saat ponsel di saku jas berdering. Pram dan Kailla menatap ke arah yang sama.
“Biarkan aku saja! Kamu tetap memasak!” perintah Kailla, mengarahkan telunjuknya ke sang suami.
Posisi berdiri yang lebih dekat, membuat Kailla lebih cepat dan mudah meraih ponsel tipis yang bersembunyi di kantong jas. Senyum tipis muncul saat nama David tertera di layar. Tanpa menunggu, Kailla langsung menggeser tombol hijau dan berbicara.
“Dave, aku sedang sibuk dengan suamiku. Tolong urus semua pekerjaannya di kantor!” perintah Kailla tanpa mendengar penjelasan dari David terlebih dulu.
Pram berbalik, mulai kesal dengan ulah Kailla yang seenaknya. “Kai, jangan begini. Biarkan aku berbicara dengan David. Aku takut ada hal penting yang ingin dibahasnya denganku,” pinta Pram masih dengan nada lembutnya.
“Baiklah, tetapi kamu tetap tidak boleh kemana-mana,” sahut Kailla, menyodorkan ponsel ke tangan Pram.
“Iya, bagaimana Dave?” tanya Pram, setelah Kailla mengizinkannya menerima panggilan.
“Lanjutkan saja. Aku tidak bisa kemana-mana,” jelas Pram, tersenyum saat merasakan tangan Kailla yang tiba-tiba memeluknya. Membelit pinggangnya kembali dari belakang.
“Baiklah, selamat bersenang-senang!” ucap David terkekeh dari seberang.
Sambungan ponsel itu terputus. Kailla meminta kembali telepon gengam milik Pram. Membiarkan suaminya berkonsentrasi dengan pastanya.
“Aih, kamu manis sekali, Sayang,” goda Kailla, kembali menempelkan tubuhnya, bersandar manja pada lelaki yang sedang sibuk di depan kompor.
“Sudah, duduk di meja makan sana. Kamu membuatku susah bergerak, sebentar lagi aku bisa mati kekurangan udara karena belitanmu terlalu kencang,” keluh Pram.
“Perlu nafas buatan?” tawar Kailla, dengan menarik dan menghembuskan nafas kasar.
“Tidak, aku takut khilaf lagi,” sahut Pram, menggelengkan kepala membayangkan apa yang dilakukan Kailla saat ini untuk menahannya.
“Tidak apa-apa. Bukankah kita belum resmi berpisah. Ayo, kita lakukan sekali lagi. Siapa tahu setelah ini kamu berubah pikiran,” ucap Kailla, menggoda Pram. Kembali membuka kancing kemeja Pram yang tersisa.
“Kai, jangan seperti ini!” tolak Pram.
“Ayo, cepat selesaikan pastamu. Aku merindukanmu sekarang,” bisik Kailla pelan, dengan nada mendayu-dayu.
“Tidak, semalam saja aku sudah membuat kesalahan.”
“Ini bukan kesalahan Sayang, tetapi aku serius menginginkannya,” ucap Kailla beralasan, mengusap lembut dada telanjang Pram yang sudah terbuka sempurna.
Segala daya upaya akan dilakukan Kailla untuk membuat Pram mengubah keputusannya. Bahkan kalau pun harus mengalah. Tidak pernah terpikir sedikit pun, Pram akan mengeluarkan kata cerai padanya.
Pernikahan mereka yang baru berumur empat tahun ini, memang tidak dilandaskan cinta. Bahkan sampai detik ini, Kailla masih mencari. Masih belajar memaknai cinta itu sendiri.
“Aku mau mempertahankan pernikahan ini. Aku tidak mau bercerai,” tegas Kailla tiba-tiba.
“Aku belum siap menghadapi daddy kalau sampai dia tahu kita akan berpisah. Bisakah kita tidak bercerai dulu sampai daddy sadar?” tanya Kailla, mulai menangis.
Pram langsung melepaskan sendok di tangannya. Bunyi dentingan sendok yang membentur panci itu membuat suara berisik yang memilukan hati.
“Kalau kamu tidak mau berjuang lagi, aku akan tetap berjuang sampai batas kemampuanku,” bisik Kailla, terisak.
“Bukankah kamu mengatakan padaku cara mempertahankan rumah tangga itu dengan berjuang dan mengalah. Sekarang aku akan berjuang untuk pernikahan kita dan aku akan menunggumu mengalah pada keputusanmu sendiri,” ucap Kailla, mengeratkan pelukannya.
***
“Aku harus ke kantor!” pamit Pram, mengecup kening Kailla sekilas.
Pram bangkit dan mengenakan kemejanya buru-buru, bahkan tidak sempat membersihkan diri setelah pergulatan panasnya dengan Kailla barusan. Keringat masih mengucur basah dengan nafas tersengal-sengal.
Sedikit kesal dengan ulah Kailla yang memaksanya menumpahkan semua benihnya ke dalam pada saat dia ingin membuangnya keluar.
“Di dalam saja, aku akan mendapatkan menstruasiku. Tidak akan berpengaruh apa-apa,” jelas Kailla
Kailla membuat Pram tidak berkutik dan tidak membantah sama sekali. Menurut seperti kerbau yang dicocok hidungnya.
“Kamu pulang kesini malam ini kan?” tanya Kailla, masih mendekap selimut, menutupi tubuh polosnya.
Pram terdiam, menatap Kailla sesaat. Kemudian lanjut mengancingkan kemeja hitamnya.
“Ayolah, temani aku lagi malam ini,” pinta Kailla. Dia sudah turun dari tempat tidur, dengan tubuh polos tanpa sehelai benang, berjalan dengan gemulai dan tidak tahu malu menuju ke walk in closet, mencari dasi Pram yang tersisa di sana.
“Aku akan menunggumu,” bisik Kailla saat sudah berdiri di depan suaminya, mengalungkan dasi panjang itu dan memasang di leher Pram seperti biasanya.
“Aku belum tahu,” sahut Pram,
Jujur, lelaki itu mulai bimbang dengan keputusannya sendiri setelah penyatuan indah mereka yang baru saja terjadi.
“Kamu terus-terusan memintaku menemanimu di tengah proses perceraian kita, kamu tidak takut hamil.” Pram mengingatkan.
Senyum licik muncul di wajah cantik Kailla yang masih berkeringat. Nafas naik turun pun masih terlihat jelas di dada polos dengan beberapa tanda kemerahan hasil pahatan Pram.
“Kalau aku hamil, kamu tidak akan meninggalkanku. Seberapa kuat alasan perceraian kita, kamu tidak akan menceraikanku kalau aku hamil,” ucap Kailla dengan penuh keyakinan. Wajahnya kemudian tertunduk, menatap kaki telanjangnya.
“Karena aku tahu, kamu sama sepertiku. Kamu tidak akan membiarkan anakmu tumbuh tanpa orang tuanya. Meskipun harus berkorban perasaan seumur hidup. Aku juga akan melakukan hal yang sama. Sebenci apapun aku padamu, aku tidak mungkin membiarkan anakku tumbuh tanpa orang tua lengkap.”
“Kita sama-sama tahu bagaimana sedihnya tumbuh besar tanpa kedua orang tua,” lanjut Kailla, tersenyum.
“Kalau memang tidak mau berpisah sampai mati-matian memintaku menghamilimu sekarang, harusnya kamu tidak mencoba bermain api dengan perasaanmu sendiri sebelumya. Belajarlah, Kai,” ucap Pram.
“Aku mohon pulanglah malam ini. Aku akan menunggumu,” pinta Kailla, meraih tangan Pram dan mengenggamnya.
“Aku lihat dulu. Sebaiknya kita berpisah sementara, supaya kita memiliki ruang untuk merenungi kesalahan kita selama ini. Aku juga banyak bersalah padamu,” ucap Pram.
“Aku mohon,” pinta Kailla penuh harap.
“Aku akan menghubungimu nanti,” sahut Pram, mengecup pipi dan seperti biasa mengacak asal pucuk kepala Kailla.
“Aku mencintaimu,” cegah Kailla. Dia masih sempat menahan langkah kaki Pram, mengecup bibir kaku itu sekilas.
“Kalau kamu tidak mau mencium bibirku lagi, aku yang akan melakukannya untukmu. Aku menunggumu pulang nanti malam,” ucap Kailla sambil menahan tangisnya.
***
Pram baru saja melangkahkan kakinya keluar rumah, tetapi saat akan mendekati mobil sport hitamnya, terdengar ponsel berdering. Mengerutkan dahi saat melihat nomor telepon asing, yang belum tersimpan di kontaknya.
Matanya membulat sempurna saat mendengar informasi yang disampaikan si penelepon dari seberang.
“Aku akan berangkat secepatnya, Tolong urus semuanya untukku!” sahut Pram, segera masuk dan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.
***
To be continued
Love you all
Terima kasih.