Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Neraka Kandao


Namun keberadaannya diketahui oleh seorang tetua sekte yang berhasil menyadarinya , tetua sekte itu langsung menebaskan pedangnya ke arah seorang tetua sekte yang berada di dekatnya hingga tubuhnya terbelah dua.


"Sial! Dia bisa menyadari keberadaanku" rutuk Jingga kembali menampakkan dirinya.


Dua tetua sekte saling melirik dan mengangguk lalu menyerang Jingga dengan cepat.


Dhuar!


Jingga terpental menabrak para murid sekte, ia langsung berkelebat menghindari puluhan lesatan energi yang mengarah kepadanya. Jingga dengan kecepatannya berhasil menghindarinya, namun puluhan murid sekte langsung tewas meledak.


"Gila! Muridnya sendiri dibunuhnya" dengus Jingga langsung menyerang balik kedua tetua sekte dengan langkah bayangannya.


Wuzz!


Wuzz!


Pertarungan kecepatan ditunjukkan ketiganya yang terlihat seperti gumpalan angin yang terus berpindah-pindah posisi ke berbagai arah.


Aura pedang kedua tetua sekte membuat Jingga begitu kesulitan untuk bisa memukul keduanya, ia terus menghindari tebasan keduanya.


"Berpikir, berpikir, berpikir" gumam Jingga sambil terus menghindari tebasan pedang.


Setelah mendapatkan sebuah ide, Jingga kemudian menciptakan rantai energi iblis lalu menyerang kaki salah seorang tetua dan melemparkannya.


Bugh!


Seorang tetua terlempar lalu berkelebat kembali menyerang Jingga.


Mendapatkan momen dua tetua sekte tidak lagi berdampingan posisinya, Jingga sedikit memperlambat gerakannya untuk memposisikan dirinya berada di antara kedua tetua.


Kedua tangannya yang menggenggam rantai terus diputarnya untuk menghadang setiap tebasan yang mengarah padanya.


Setelah berhasil memposisikan diri, Jingga kini menunggu sebuah momentum untuk menerapkan rencananya. Beberapa waktu menunggu, Jingga tidak melihat adanya peluang untuk membuat kedua tetua sekte saling beradu pedang. Ia kemudian sedikit menunduk dan langsung membelit kedua kaki tetua sekte lalu menarik keduanya.


Kedua tetua sekte yang terus mengayunkan pedangnya menebas Jingga sedikit terkejut dengan langkah kaki yang tidak seimbang.


Trang!


Tanpa diduganya, kedua pedang tetua sekte saling beradu. Jingga memanfaatkan momentum satu detik memukul keduanya dengan kepalan tangannya yang teraliri api semesta.


Bugh!


Bugh!


Kedua tetua sekte terlempar dan tubuhnya berubah menjadi serbuk yang beterbangan di udara.


"Akhirnya selesai juga" ucap Jingga merasa lega walau dirinya sedikit kecewa karena tidak sempat memakan jiwa kedua tetua sekte.


Dugh!


Ribuan murid sekte langsung menjatuhkan senjatanya setelah tidak ada lagi tetua yang masih hidup.


Jingga memperhatikan wajah datar dari ribuan murid sekte yang menatapnya.


"Ambillah kembali senjata kalian dan pulanglah" ucap Jingga dengan lantang lalu menghilang di hadapan para murid sekte.


Berada di atas awan, Jingga langsung menghilangkan perisai yang menutupi keberadaan adiknya.


"Sudah selesai, Kak?" Tanya Bai Niu menatapnya.


Jingga membalas tatapannya lalu menganggukinya dengan tersenyum lembut.


Ia kemudian memikirkan sesuatu yang mengganjal hatinya.


Beberapa saat berpikir, Jingga meniup wajah adiknya yang langsung tidak sadarkan diri lalu memasukkannya ke alam jiwa.


Dug!


Suara jatuh dari Bai Niu membuat ketiga pemuda yang masih berkultivasi terpaksa mengakhirinya.


Qianfan, Qianmei dan Du Zhia terkejut mendengar suara jatuh di dekatnya, mereka lebih terkejut lagi menyadari diri ketiganya berada di sebuah tempat yang begitu gelap.


"Tempat apa ini?" Tanya Qianfan langsung menciptakan api dari jarinya, namun api yang diciptakannya langsung padam, begitu pun dengan kedua gadis mencoba menciptakan api dari energi spiritualnya, namun sama saja dengan yang dialami oleh Qianfan.


"Kak Fan'er" panggil Qianmei merasakan takut berada di tempat yang begitu gelap.


"Ya, kakak di sini, kemarilah Mei'er" sahut Qianfan mendengar suara adiknya.


"Zhia'er, kau di mana?" Imbuh Qianfan menanyakannya.


Ketiganya saling meraba-raba sambil mendengarkan suara napas masing-masing untuk saling mendekati.


"Empuk" ucap Qianfan memegang sesuatu yang tidak sengaja ia sentuh.


"Kakak!" Balas Qianmei menyingkirkan tangan kakaknya.


"Maaf Mei'er, kakak tidak sengaja" kilahnya merasa bersalah kepada adiknya.


Du Zhia terkekeh mendengarnya lalu menggenggam tangan Qianmei di dekatnya.


Ketiganya lalu berpegangan tangan membentuk segitiga kemudian duduk dalam posisi bermeditasi.


"Kak Fan'er, sebenarnya di mana kita berada?" Tanya Qianmei yang begitu ketakutan berada di tempat gelap.


"Kakak tidak mengetahuinya, sepertinya kita berada di alam yang tidak kita ketahui" jawab Qianfan menebaknya.


Alam Nyata.


Jingga yang masih melayang di udara teringat akan hal yang pernah dilakukan mendiang kakeknya waktu meninggalkan benua Majang. Ia kemudian memutuskan untuk membumi hanguskan seluruh area kota.


Setelah memastikan tidak ada lagi murid sekte yang berada di bawahnya, Jingga langsung meleburkan semua mayat yang berserakan dengan api semestanya.


Debu-debu dari tubuh yang melebur beterbangan ke udara.


"Beristirahatlah dengan tenang" ucap Jingga lalu menutup kedua matanya.


Jingga semakin tinggi melayang ke langit mengukur jarak area kota Lieren Guojia di bawahnya.


Kedua tangannya direntangkan ke atas, Jingga lalu mengalirkan energi api iblis ke telapak tangannya.


Seberkas api iblis berwarna merah kehitaman keluar dari telapak tangannya yang terus membesar berkali-kali lipat ukurannya.


Gelapnya langit malam berubah menjadi terang seiring terus membesarnya bola api yang keluar dari kedua telapak tangannya.


"Hiaa!" Teriak Jingga melemparkan bola api iblis berukuran sangat besar ke arah kota Lieren Guojia di bawahnya.


Boom!


Bola api iblis menyambar seluruh area kota Lieren Guojia dengan sangat cepat, kobaran api yang sangat besar terus membakar habis wilayah kota.


Pekikan teriakan terdengar dari arah istana kerajaan Kandao yang terbakar oleh api iblis yang begitu ganas melahapnya.


Beberapa kultivator yang terjaga langsung menabuhkan tanda peringatan.


Ratusan orang berhamburan menyelamatkan diri ke berbagai arah, namun tidak ada yang menuju ke arah kerajaan Liaokao karena tertutup api.


Ribuan murid sekte yang berjalan pulang ke beberapa kota lainnya di wilayah kerajaan Kandao dan kerajaan Liaokao berbalik diam melihat kobaran api yang membakar kota Lieren Guojia yang ditinggalkannya.


****


Mentari pagi mulai mengintip di ufuk timur, Jingga membuka kedua matanya lalu menjentikkan jarinya memadamkan api iblis yang terus merambat ke area luar kerajaan Kandao.


Jingga membuka kembali petanya, ia melihat nama sebuah kerajaan yang terhubung dengan kerajaan Kandao dan Liaokao, bahkan terlihat seperti sebuah pintu menuju kerajaan terbesar yang mengapitnya yaitu kerajaan Emolian.


"Sheshe" gumamnya memikirkan nama kerajaan yang identik dengan ular.


Dalam peta, Sheshe merupakan kerajaan terkecil yang tergabung dalam aliansi Bintang Selatan.


Setelah menentukan tujuannya, Jingga langsung melayang terbang ke arah kerajaan Sheshe yang menjorok ke barat daya.


Tidak begitu lama Jingga melesat terbang ke lokasi tujuannya.


Berada di belakang gunung yang menjadi patokan keberadaan kerajaan Sheshe, Jingga menyipitkan matanya melihat sungai panjang menyerupai bentuk ular yang memiliki beberapa lekukan di tengah perkotaan yang cukup padat.


"Mungkin namanya di ambil dari bentuk sungai, kenapa aku tidak melihatnya di peta?" Tanya pikirnya penasaran.


Ia kembali membuka petanya dan memperhatikan dengan sangat lekat wilayah kerajaan Sheshe. Tampak ia menemukan sebuah garis tipis dengan bentuk yang sama dengan sungai yang dilihatnya.


Jingga langsung memakai kain menutupi sebagian wajahnya dan tudung bundar seorang nelayan dari cincin spasialnya, sehingga tampilannya seperti seorang pendekar pengembara lalu melesat turun ke area kota.


Jingga berjalan santai memasuki sebuah kedai untuk memesan arak, tidak ada penolakan dari orang-orang di dalam kedai yang dimasukinya walaupun ada sebagian orang yang merasa aneh melihatnya.


Sambil menenggak arak, Jingga mendengarkan percakapan dari beberapa orang yang membahas kebakaran hebat yang terjadi di kerajaan Kandao.


Mereka semua menyebutnya sebagai Neraka Kandao.