
RAtu Kalandiva semakin tersulut emosinya mendengar tawaran Jingga yang dianggapnya hanya sebagai cemoohan semata untuk kaumnya.
“Jangan terlalu meremehkan kami, Sang Penguasa,” ujar sang ratu dengan nada sedikit menekan.
Jingga lalu mengusap dagu memikirkan sesuatu. Wajahnya tampak ceria dengan ukiran senyum yang mengembang di bibirnya.
“Baiklah, kita akan menjalani pertarungan dua area. Di langit, adikku Memimu yang akan bertarung dengan kalian dan di area bawah barulah monsterku Jirex yang akan bertarung. Bagaimana, Nyonya? Menarik, kan?”
Mendengar perkataan Jingga yang sedikit nyeleneh membuat Ratu Kalandiva mengendurkan urat saraf lalu menyunggingkan seutas senyum di bibirnya yang merah. Ia pun berujar memberikan sindiran.
“Baru kali ini aku menemukan seorang penguasa yang tidak memiliki wibawa dan berkarisma. Bahkan, raja-raja kecil pun terlihat sangat berwibawa dan penuh karisma.”
Jingga terkekeh menanggapinya. Sejenak ia akan membalas sindiran sang ratu namun ditahannya karena sang adik lebih cepat melontarkan kata.
“Dan kau pun hanya pandai berceloteh, Nyonya Naga!” Qianmei menyindir balik sang ratu.
“Ha-ha-ha. Kupikir kau ini bisu,” balas sang ratu sambil terkekeh.
Qianmei mendengus pelan lalu mengalirkan energi spiritualnya diteruskan dengan membentuk pola rumit di jemari tangannya. Seketika, daun-daun dari pepohonan di bawahnya beterbangan membentuk ribuan anak panah yang berbaris siap dilesakkan ke langit.
Jingga melebarkan matanya terkagum melihat kemampuan sang adik. Sedangkan sang ratu bersama ribuan beast monster terperangah tidak percaya melihatnya. Keriuhan pun terjadi di antara mereka. Melihat keriuhan dari pasukannya membuat sang ratu begitu kesal.
“Kita harus tenang! Sebanyak apa pun anak panah itu tidak akan bisa melukai kita,” ujar sang ratu sambil melambaikan kedua tangannya berusaha menenangkan para pasukannya.
Ribuan beast monster kembali tenang, namun kini mereka semua dalam keadaan siap-siaga meskipun tak dapat disembunyikan urat saraf yang menegang dari leher-leher para beast monster yang berwujud manusia.
Pandangan mereka silih berganti antara anak panah di bawahnya dan gadis berkulit hitam di hadapannya. Kekhawatiran tampak terlihat di raut wajah mereka. Jingga yang melihatnya tampak begitu senang.
“Kau berhasil memberi sedikit tekanan kepada mereka semua. Sekarang, aku akan memanggil Jirex untuk mengatasi para beast monster di bawah.” Jingga langsung memanggil adik monsternya.
Jirex keluar dari alam jiwa dengan ekspresi datar namun sorot matanya begitu antusias.
“Wow, banyak sekali makanan di sini!” kata Jirex setelah pandangannya menyapu para beast monster di hadapannya.
Jirex terlihat semakin antusias memperhatikan para beast monster yang akan mengenyangkan perutnya.
Jingga menyeringai dingin menatapnya, lalu berkata, “Kau terlihat sangat lapar, Nona. Tapi,” Jingga menunjuk ke bawah, “bagianmu di sana.”
WUZZ!
Tanpa mengulur waktu, Jirex langsung melompat ke bawah dengan sangat cepat dan bertransformasi ke wujud monsternya.
BUGH!
GROAR!
Kehadiran Jirex membuat kawanan beast monster langsung mundur beberapa tombak. Di dalam hutan yang dedaunannya telah berubah menjadi ribuan anak panah sehingga menjadikannya tampak seperti hutan tandus.
Beberapa monster dari kelompok kucing seperti harimau api, singa es, dan jaguar hitam bersiap-siap untuk bertarung. Mereka saling menatap dengan mata tajam, mengukur monster berkepala besar yang memiliki tubuh besar, gigi tajam, dan rahang yang begitu kuat hingga mampu menghancurkan monster mana pun dalam sekali gigit.
Salah satu dari ketiga jenis monster kucing yang paling diperhatikan oleh Jirex adalah kelompok jaguar hitam. Beast jaguar hitam memiliki tubuh yang tinggi dan besar dengan otot yang kuat dan kulit yang keras seperti baja. Mereka memiliki taring yang tajam dan kuat di mulutnya, siap untuk menyerang Jirex kapan saja.
Bukan hanya beast jaguar hitam saja yang paling diperhatikan oleh Jirex sebagai lawannya, keberadaan beast serangga yang memiliki banyak kaki dan sayap, serta ekor yang panjang yang berakhir dengan sebuah toksin beracun yang siap untuk disemburkan dalam serangan pun menjadi perhatiannya. Namun, bukan berarti Jirex meremehkan kelompok beast monster lainnya yang mungkin saja bisa merepotkannya.
Pertarungan yang dinantikan oleh Jirex dimulai ketika para beast jaguar hitam dengan kecepatan yang sangat cepat menyerangnya dengan gigitan tajam menerkam bagian tubuh Jirex. Akan tetapi, seperti biasanya, Jirex membiarkan tubuhnya menjadi santapan empuk para beast jaguar hitam yang berusaha keras mengoyak dan merobek kulit sang predator terkuat dari Sanbuqu Lima tersebut. Hal itu ia lakukan tak lain untuk memamerkan daya tahan tubuhnya dari tekanan taring runcing nan tajam para beast monster yang menggigitnya.
Sementara itu di tempat lainnya di pepohonan, beast serangga mulai menembakkan racun ke arah Jirex. Racun cair berwarna hijau dan lengket itu meluncur cepat ke arah Jirex yang terkunci oleh gigitan para beast jaguar hitam. Setelah cairan hijau itu mengenai tubuhnya, Jirex merasakan sensasi hangat di sekujur tubuhnya. Ia pun merasakan kenyamanan seolah sedang terapi dalam sauna.
Berbeda dengan dirinya yang begitu dimanjakan oleh serangan lawannya, para beast jaguar hitam mulai merasakan sakit di sekujur tubuh oleh racun yang disemburkan beast serangga. Satu per satu dari mereka mulai berjatuhan dengan sendirinya.
Di langit, Jingga yang terus memperhatikannya terlihat bahagia. Bagaimana tidak, Jirex yang hanya berdiri diam saja bisa membuat lawan-lawannya berjatuhan. Bisa dibayangkan jika adik monsternya itu yang memulai pertarungan. Tentunya akan membuat pertarungan lebih cepat selesai.
Sementara di langit, Qianmei mulai tidak sabar akan pertarungannya yang masih tertunda. Entah kenapa Jingga masih belum memberikan instruksi kepadanya. Ia lalu melirik kakak perempuannya, Bai Niu dengan tatapan penuh isyarat.
“Ada apa Mei’er?” tanya Bai Niu merasa curiga melihat tatapan sang adik.
“Bolehkah aku meminta Kakak membuat sebuah badai petir? Aku ingin pertarunganku menjadi dramatis dan tidak membosankan,” pinta Qianmei.
Bai Niu tersenyum lalu mengangkat pedangnya tinggi ke langit. Tiba-tiba, langit menjadi gelap dan petir saling bersahutan menggelegar di atas semua kepala makhluk-makhluk di lokasi pertarungan.
Qianmei tersenyum bahagia lalu mengalihkan pandangan ke arah Jingga yang masih fokus menyaksikan pertarungan di bawah.
“Jangan menunda lagi, beri mereka pertarungan yang menarik,” kata Jingga tanpa melirik adiknya.
“Dengan senang hati, kakakku sayang,” balas Qianmei lalu mengangkat kedua tangannya ke atas.
WUZZ!
Ribuan anak panah dari dedaunan yang diciptakannya melesat cepat ke arah sang ratu dan pasukannya.
Para beast naga yang berada di belakang sang ratu langsung menciptakan perisai berlapis untuk menahannya.
DUAR! DUAR! DUAR!
Ledakan keras terjadi ketika ribuan anak panah membentur lapisan perisai dan menciptakan lapisan baru berwarna hijau pekat menutupi seluruh area perisai.
Sang ratu dan pasukannya yang berada di dalam perisai mulai cemas dengan apa yang terjadi berikutnya. Perisai yang melindunginya langsung gelap tertutupi oleh dedaunan.
Qianmei menyeringai dingin melihat rencananya berhasil. Ia lalu mengeluarkan pedang kayu hitam kemudian melesak cepat menuju lingkaran perisai dan mengayunkan pedangnya secara vertikal.
BOOM!
Perisai hancur berkeping-keping terkena tebasan yang dilayangkan oleh Qianmei. Para beast monster bersama sang ratu terpelanting berhamburan dengan kondisi tubuh nyaris tanpa energi. Mereka pun berjatuhan ke tanah dengan begitu kerasnya hingga memuntahkan banyak darah dari mulut para beast monster yang didominasi oleh ras naga.
“Seandainya tidak ada badai petir yang diciptakan oleh Kak Niu’er. Tentunya ini akan menjadi sangat membosankan,” keluh Qianmei lalu berbalik melayang menghampiri kedua kakaknya.
Dari arah kejauhan, Jingga dan Bai Niu terperangah tidak percaya melihat kemampuan Qianmei yang hanya melayangkan satu serangan, berhasil mengalahkan semua barisan sang ratu termasuk sang ratu sendiri tanpa adanya perlawanan.
“Kenapa Kalian termenung seperti itu?” tegur Qianmei yang telah sampai di dekat keduanya.
Jingga dan Bai Niu mengerjapkan mata tersadar mendengar teguran dari adik bungsunya.
“Kau sangat hebat, Memimu,” kata Jingga memujinya.
“Betul, aku tidak memercayainya tapi ini sungguh dirimu yang sekarang. Selamat, adikku,” sambung Bai Niu lalu meluruh memeluk adiknya.
Di area hutan di bawah ketiganya, Jirex masih belum menyerang balik lawan-lawannya. Ia tampak menikmati terapi yang diberikan oleh beast jaguar hitam yang bergilir menerkamnya dengan berbagai upaya yang dilancarkan.